Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
kejutan dari alam


__ADS_3

Seberapa dalam cinta Aska kepada Queen, dan seberapa besar rasa berharap Queen kepada Aska hanya mereka berdua yang tau.


Aska pernah mendengar dari Rindi, bagaimana besarnya ambisi mama Queen kepada uang. Ia juga pernah melihatnya sendiri, ketika menemani Queen saat ayahnya meninggal.


Meskipun mereka sudah bercerai, tapi mama Queen tidak sekalipun datang melihat mantan suaminya untuk yang terakhir kali. Wanita karir itu benar-benar sangat menghargai waktunya untuk uang.


Mungkin, hal inilah tang membuat Queen enggan berada dekat-dekat dengan ibu kandungnya sendiri. Padahal Queen remaja seharusnya berada dalam pengawasan beliau. Bukannya malah tinggal seorang diri, hanya Rindi yang mampu mengusir sepinya. Bahkan uang yang selalu di kirim dari kedua orangtuanya, tidak mampu membuat Queen tersenyum seperti hari ini.


Ya. Hari ini.. Aska menemani Queen pergi ke salah satu mall baru di daerah Bintaro. Setelah Aska selesai mandi tadi pagi, tanpa perduli dengan rasa lelah dan ngantuknya ia mengiyakan keinginan dari gadisnya.


Memang, sebelum berangkat tadi, Aska sedikit memaksa Queen agar mau sarapan terlebih dahulu. Dengan mata yang fokus ke layar ponsel, melihat Drakor favoritnya saat itu, Aska berbagi suapan dengannya. Tentu bukan hal yang aneh untuk mereka berdua, mengingat hal apa saja yang sudah dan hampir mereka perbuat.


Hah.. Terkadang Queen seperti anak kecil baginya, yang selalu ingin di manja dan di perhatikan secar khusus.


Terkadang Queen seperti seorang adik perempuan, yang selalu butuh pengawasan dan bimbingan.


Tapi yang paling Aska suka, saat Queen terlihat seperti gadis dewasa, menggodanya dengan senyum dan kerlipan matanya. Terlebih saat Queen mampu membalas setiap apa yang Aska lakukan kepadanya karena sebuah hasrat.


Sungguh gadis yang menarik. Jangan sampai terlepas. Apalagi ibu dan adik perempuan Aska sudah terlanjur menyukai Queen.


***


"Mas, kalo ini bagus nggak?" Queen menunjuk sebuah jam tangan branded, didalam etalase dari toko yang sudah memiliki nama besar.


"Lho, itu kan untuk cowok?" Aska tak paham.


"Emang cowok kok yang ulang tahun." Queen menegaskan.


Aska membuang nafasnya jengah, merasa konyol karena tidak bertanya sejak awal. Dan ia hanya mengangguk setuju dengan ringan.


Hai gadis konyol, dimana ada sih lelaki yang mau membelikan pacarnya kado untuk lelaki lain. Jangankan ngebayarin, di ajak milih aja udah ogah duluan. Ngerentek rasanya pas ngebayanginnya.


"Kenapa mas?" Queen bingung melihat perubahan Aska, yang sedikit menjauh dari dirinya.


"Enggak. Udah milih aja dulu. Nanti kalo udah selesai panggil saya, saya mau lihat-lihat dulu." Aska berkata lalu berbalik pergi.


Queen mengedikkan bahunya santai, ia masih tidak memahami perubahan sikap Aska karena dirinya.


Saat Queen sudah memilih, Queen langsung membawanya ke kasir.


"Ini saja kak?" Tanya pegawai kasir dengan sopan.


"Iya mbak." Queen melihat Aska yang masih sibuk memilih di antara deretan gantungan baju.

__ADS_1


"Itu kakak cowoknya hebat banget ya ka. Jarang lho yang mau nemenin adiknya belanja." Sang penjaga kasir mulai bergosip, Queen melirik kearahnya dengan tatapan tak suka.


"Dia itu pacar saya mba, bukan kakak saya." Queen menjawabnya dengan sopan. Berusaha menahan rasa jengkelnya.


Setelah mendapat respon keterkejutan dari penjaga kasir dan membayar belanjaannya, Queen menghampiri Aska.


melingkarkan tangannya pada lengan Aska dan kepala yang bersandar di bahu Aska.


Aska bingung mendapat sikap manjanya Queen yang begitu mendadak.


"Kamu kenapa Ra?" Tanya Aska. Mereka masih berada di dalam toko


"Sih mbaknya merhatiin kita terus tau mas. Cium kening aku dong biar keliatan mesra dikit." Queen berbisik memberi penjelasan.


Tapi bukannya Aska melakukan apa yang di inginkan gadisnya. Dia malah melihat kearah kasir dan tersenyum kepada si penggosip tadi.


Di luar toko, Queen merasa jengkel, sangat jengkel dengan lelakinya itu. Queen berjalan cepat meninggalkan Aska di belakangnya. Tidak perduli suara Aska yang terus memanggilnya, Queen tetap melangkahkan kakinya menuju tempat parkir.


Anehnya, bukankah Aska lelaki dengan postur tubuh yang lebih tinggi dari Queen, apalagi status pekerjaan nya yang seorang abdi negara, harusnya mampu menyusul langkah kaki Queen yang lebih kecil darinya. Kenapa malah sampai bisa tertinggal.


Aska malah berjalan santai, sambil sesekali memanggil Queen, sampai ia menemuinya sudah berada di dekat mobil Aska, menunggu lelaki itu membukakan kunci mobilnya.


Aska terkekeh melihat wajah cemberut Queen. Seberapa cepat ia sampai lebih dulu, tetap saja Queen tidak bisa masuk kedalam karena pintunya di kunci.


"Masuk Ra.." Aska membukakan pintu penumpang di depan untuk Queen. Menunggu sampai gadisnya masuk.


Aska memasukkan sebagian tubuhnya, guna memainkan sabuk pengaman Queen. Menatap matanya sebentar kemudian mencium kening gadisnya.


"Udah kan?" Tutur Aska dengan senyum kecil.


Queen mendesis kesal. "Aku pengennya tadi. Tadi di depan si mbak kasirnya itu." Queen meledak, sedangkan aska hanya tersenyum santai sambil menatap gadisnya.


"Kamu nggak tau sih mas, aku tuh di bilang adik kamu. Bukan pacar kamu. Berati kan kita nggak keliatan lagi pacaran kan mas? Kenapa? Karena kamu yang terlalu cuek sama aku!" Oceh Queen, dengan nada tingginya, tapi tidak membuat Aska berhenti tersenyum.


"Kamu denger aku nggak sih. Kamu tuh.. lama-lama nyebelin tau nggak!!" Queen menoleh, membuat tatapan mereka terputus.


Dirasa sudah keluar semua isi hati Queen, Aska tertunduk dengan tawa kecilnya. Lalu menarik dagu Queen kembali menatapnya.


Sedikit lumatan kecil Aska lakukan di bibir Queen. Membuat wajah gadis itu merona.


"Nggak pa-pa sayang, yang penting semua orang terdekat kamu tau, kalo saya sayang banget sama kamu." Akhirnya Aska bersuara.


"Tapi aku kadang pengen pamer juga lah mas, kayak cewek-cewek lain. Biar mereka iri sama aku." Wajah Queen mencebik. Kali ini dengan nada yang rendah.

__ADS_1


"Iya. Nanti setelah ini, kita bikin mereka tau, seberapa berharganya kamu buat saya. Oke?" Tatapan Aska meyakinkan. Queen masih enggan menjawabnya, terlihat masih tidak terima dengan ucapan mbak kasir tadi.


"Apa kamu mau kita kesana lagi? terus saya cium bibir panjang kamu ini yang kayak bebek di depan dia? Atau kita pelukan di depan dia? Kamu mau yang mana?" Aska mengangkat kedua alisnya, menunggu jawaban Queen.


"Nggak makasih, aku masih waras. Ayolah jalan. Kesel aku kalo disini terus. Aska tertawa sambil mengangguk tanda setuju. Memutari bagian depan kap mobilnya, lalu masuk kedalam di balik stir kemudi.


"Kita cari makan dulu ya, sekalian pamer kemesraan sama orang-orang. Biar mereka tau kita pacaran. Mau nggak?" Setengah meledek, Aska mengulangi perkataan Queen tadi. Dan dengan cepat Queen mencubit lengan Aska kesal.


***


Mereka sampai di kontrakan, masuk kedalam kamar Aska seperti biasanya. Queen menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan keras, seraya menghilangkan jengkel yang masih bersarang di dada.


"Kamu berangkat jam berapa?" Aska bertanya, ikut duduk di sebelah Queen, dengan tubuh yang menghadap ke arah Queen.


"Tunggu Rindi jemput aja." Queen kembali fokus pada ponsel. "Ayok mas, katanya mau temenin aku nonton lagi." Rengek Queen.


"Iya. Di dalem aja yuk, sambil tiduran." Ajak Aska menarik tangan Queen ke dalam.


Dalam hati Queen senang, Aska seperti memberinya kode. Queen berharap akan ada kejadian seperti kemarin. Saat mereka melihat adegan mesra dalam drama, dan hasrat Aska akan terpancing. Kemudian melakukannya bersama Queen.


Heum.. sungguh kenikmatan yang tidak pernah Queen dustakan. Sejak kemarin, keinginan Queen untuk menonton Drakor sendiri sudah di tahannya. Tidak ingin melihatnya sendiri, karena hanya akan menyiksa batinnya sendiri. Tapi kali ini dia sudah punya Aska.


Lelaki yang selalu memberinya kehangatan dan kasih sayang. Lelaki normal yang juga mudah terpancing oleh rengekan Queen, tapi selalu bisa menahan hasrat besarnya sebagai seorang lelaki.


Sengaja Queen memilih drama dengan genre romantis yang sudah pernah ia lihat. Adegan yang waktu itu membuat hatinya tercubit saat menontonnya sendirian. Untuk apa Queen iri dengan pasangan palsu dalam drama, kalau kenyataannya mas Aska nya ini bisa melakukan hal yang lebih ekstrem di ruang publik. Tanpa takut pandangan orang lain, kalau dirinya sudah ingin.


"Lho, Ra. Bukannya ini beda dari yang kemarin?" Aska menatap layar ponsel Queen sambil berbaring di sebelah gadisnya.


"Iya. Ini film favorit aku, yang kemarin kurang seru." Queen beralasan. Aska mengangguk setuju. Sebenarnya Aska tidak terlalu suka. Ia hanya memenuhi janjinya kepada Queen.


Beberapa saat drama itu berjalan, sampailah mereka pada bagian favorit Queen. Dimana sang aktor pria sedang marah karna cemburu kepada si wanitanya, lalu menciumnya dengan rakus, seperti ingin mengambil semuanya yang ada pada si wanita.


Queen merona, detak jantungnya berdebar kencang, terlebih saat tangan Aska melingkar di atas perutnya. Queen semakin tak terkendali. Deru nafas Aska terasa jelas di ceruk leher Queen. Beberapa detik Queen memejamkan matanya, mengharapkan sesuatu yang lebih dari Aska. Tapi tak kunjung ada perubahan, Queen mengintip. Melirik pada wajah kekasihnya itu.


Siapa yang tau, siapa yang bakal terkejut oleh kejutan alam. Aska tertidur, saat adegan yang oalipng Queen tunggu tiba.


Apakah Queen harus malu? Ataukah ia kesal? Mungkin Queen juga harus pergi? Yang mana saja, yang jelas sekarang Queen tau, lelakinya ini sedang kelelahan.


Rasanya tidak mungkin membangunkannya hanya untuk melakukan adegan dalam drama tersebut. Terdengar konyol.


Lebih baik, Queen ikut memejamkan matanya setelah mencium bibir Aska sebentar.


"Selamat istirahat mas.. makasih udah mau temenin aku di antara lelah kamu."

__ADS_1


**seperti biasa. boleh minta like nya. komen juga kalo sempet. Jangan bosen dulu sampe mereka kasih kejutan buat kita.**


🙃🙃😉


__ADS_2