Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
kelakuan Queen


__ADS_3

sedih..


ku tau kini perasaan mu, kepadaku..


sedih..


saat engkau tak yakin kepadaku, akan cintaku


jalan berliku takkan membuatku menyerah akan cinta kita


tatap mataku dan kau akan tau,


semuanya yang ku rasakan..


Aku bertahan..


karna ku yakin cintaku kepadamu


sesering kau coba tuk mematikan hatiku


takkan terjadi, yang aku tau, kau hanya untuk ku..


Aku bertahan..


kuakan tetap pada pendirianku,


sekeras kau coba tuk membunuh cintaku


yang aku tau kau hanya untuk ku..


***


Tidak ada yang pernah tau, apa yang akan terjadi pada diri kita di detik berikutnya. Senyuman bisa hilang kapanpun, dengan kabar yang tak pernah di harapkan kedatangannya.


Queen berusaha melupakan semua yang ia dengar dan apa yang ia lihat dalam jeda waktu singkat. Tapi menyembuhkan luka hati seseorang tak semudah membalut plester dikulit yang terluka. Itu sakit, lebih sakit karena tak berdarah. Tapi Queen masih enggan kehilangan sosok lelaki yang selalu memberi kenyamanan semenjak mereka bertemu.


Selama sisa hari itu, jangankan membuka pintu kamarnya, memasukan kunci ke dalam lubangnya pun Aska enggan. Ia tak mau mengambil resiko atas keteledorannya lagi. Dimatanya, Queen seolah sudah bersiap siaga jika nanti Aska lengah akan pengawasannya.


Lelaki itu masih sangat takut kehilangan Queen. Ia tidak akan sanggup memikul beban rasa menyesal yang dalam jika ia kehilangan wanitanya. Bukan hanya wanitanya, tetapi juga calon anak yang sedang Queen kandung.


Maka, dari pada Aska harus keluar membeli makanan untuk mereka makan malam. Aska lebih memilih memesannya melalui aplikasi.


"Mau makan apa Ra?" Aska duduk di lantai, bersandar pada pintu lemari pakaian. Memandangi Queen yang tengah berbaring di atas kasur, meski wanita itu memunggunginya.


"Nggak mau." Jawab Queen sinis.


"Makan dulu lah,"


"Enggak mau."


"Ck, biar kamu ada tenaga buat berantem lagi sama aku.." Bujuk Aska.


Aska yakin, Queen pasti masih marah karena dirinya tadi, yang seolah mempermainkannya, tapi itu semua demi keutuhan rumah tangganya.


Queen bergerak, membalikkan tubuhnya menghadap Aska. "Emang kamu masih mau berantem mas? Kamu nggak capek?"


"Bukan aku yang pengen berantem Ra. Tapi ngeliat kamu ngediemin aku terus dari tadi, bikin aku nggak tenang tau nggak." Nada Aska lemah,


"Mana ada orang yang ngomong sama orang yang di benci?"


"Maksudnya? Kamu benci gitu sama saya? Saya suami kamu lho Ra?" Aska tak percaya, kalimat itu terlontar dari mulut Queen.


"Suami tukang selingkuh."


"Dih mulutnya, kalo ngomong."


"Bisa diem nggak sih mas? Perut aku sakit tau."


Mendengarnya, Aska langsung berdiri dengan cepat. Ingin menghampiri Queen. "Kenapa?"


"Ya mana aku tau!"


Aska baru saja hendak melangkahkan kakinya, tapi suara Queen sudah tegas menolak.

__ADS_1


"Jangan deket-deket, kalo kamu deket-deket aku telfon mama nih." Ancam Queen, yang membuat nyali Aska menciut dan duduk kembali.


"Sakit banget nih mas. Bantuin kek."


"Ya aku harus gimana, kita ke dokter ya?" Aska mulai panik.


"Nggak usah. Rindi bilang diusapin aja."


"Yaudah coba kamu usap-usap. Kalo makin sakit kita ke dokter."


"Kok aku? Kamu kan ayahnya!" Sungut Queen.


"Ya aku ngusapnya gimana Ra? Jangankan nyentuh kamu yang di pojokan kasur, megang pinggiran kasur aja aku nggak nyampe."


"Ya usaha dong. Gimana kek. Jadi laki nggak ada tanggungjawab nya banget sih. Jangan mau enaknya doang dong."


"Ya kan kamu yang mau."


"Terus? Aku lagi gitu yang salah. Aku sakit karena kamu selingkuh, masih aku juga yang salah? Iya?"


"Bukan.. bukan kamu yang salah, emang aku yang salah."


"Ooo.. jadi sekarang kamu ngakuin, kalo kamu selingkuh?" Queen semakin tak terkendali.


"Astaga!!" Aska mengusap-usap dadanya sendiri. "Sabaar.. sabaar.." Lirihnya.


"Terus aku ini gimana???"


"Ya makanya Ira sayang.. jangan marah-marah terus, kasian dedek nya di dalem." Aska terdiam sesaat. "Ya udah kamu madep tembok lagi aja sambil tutup mata kamu."


"Mau ngapain?"


"Ya udah ikutin aja dulu."


Setelah melihat Queen mengikuti instruksinya, barulah Aska perlahan menghampiri Queen, Ia duduk di pinggiran kasur, mencoba mengusap perut Queen dari belakang. "Begini enak nggak?"


"Iya, lumayan."


"Ra?" Bisik Aska lembut.


"Hem?"


"Aku pesenin bubur ya, mungkin kamu laper.."


"Aku sakit tuh karena kamu mas."


"Iya iya.. aku salah, meskipun aku enggak selingkuh, tapi aku udah bohong sama kamu. Jadi jangan marah-marah lagi ya.. aku masih sayang sama kamu kok." Aska berkata perlahan, agar Queen dapat mencerna setiap kata-katanya.


"aku mulai bingung sama ucapan kamu, yang mana yang harus aku percaya."


Jawaban Queen sangat menusuk hati Aska. Bagaimana bisa ia membuat wanitanya menjadi bingung karena kehilangan rasa percaya. Apa yang terjadi lagi kemudian, jika rasa kepercayaan hilang dalam sebuah hubungan.


"Nggak perlu kamu pikirin Ra, cukup kamu rasain aja setiap hal nya, saya janji, saya nggak bakalan bohongin kamu lagi. Ini bener-bener janji saya sebagai suami juga ayah anak kita."


Queen diam tidak menjawab, mungkin ia juga sudah lelah terus-terusan bertengkar dengan suaminya. Queen merasakan Aska mengecup pundaknya yang polos, tak tertutup kain.


Aska bangkit ia melepaskan tangannya, mencoba mengambil ponselnya yang masih tergeletak di bawah. Baru saja Aska mengangkat tangannya dari perut buncit Queen, istrinya itu langsung memegang tangan Aska.


"Mau kemana? Kok berenti?"


"Mau ambil hp dulu, di bawah situ tu." Aska menunjuk dengan pandangannya. Barulah Queen melepaskan pegangannya.


Tidak perlu waktu lama bagi Queen kehilangan sentuhan Aska, karena hanya beberapa detik, Aska sudah mengusapnya kembali, sambil duduk, satu tangannya mengusap Queen, satu tangannya memijat-mijat layar ponselnya seraya memesan makanan.


Tidak lama makanan mereka sampai, Aska kembali mengunci pintu kamarnya setelah mengambil pesanan. Queen tidak ingin beranjak dari kasurnya, ia hanya ingin makan jika Aska mengijinkan ia makan sambil duduk di atas ranjang kasur.


"Nggak masalah lah mas, di fil korea juga banyak kok yang makan sambil duduk di atas kasur."


"Yaudah, tapi aku suapin ya, biar nggak berantakan."


"Emang aku anak kecil apa, makan masih berantakan." Lirih Queen, Aska mendengarnya, namun ia hanya memandang Queen sambil tersenyum tipis. Entah apa arti senyumannya.


"Lho kok bubur ayam. Kan aku pengennya bubur kacang ijo." Aska terperangah.

__ADS_1


"Tadi kamu nggak bilang apa-apa pas aku mau mesen."


"Kamu kok sekarang nyalahin aku terus sih mas. Aku bilang aku pengennya bubur kacang." Queen kembali nyolot.


"Oke. Sekarang kamu makan ini dulu, baru aku pesenin bubur kacangnya ya.." Bujuk Aska.


"Kamu pesen dulu, baru aku makan ini buburnya."


"Oke oke.. nih aku pesenin.. Bubur kacang doang atau ama apa lagi? Sekalian aja mesennya, kasian abang ojeknya bolak-balik mulu kemari."


"Biarin, biar tetangga pada liat kalo kamu sayang sama aku!"


What? masuk akal kah pemikiran Queen yang satu ini?


"Iya nanti aku ketuk pintu mereka satu persatu sambil bilang aku sayang kamu. Oke? Sekarang makan dulu."


Satu per satu, Aska menyuapkan makanan ke dalam mulut Queen dengan sabar dan perlahan. Hingga satu mangkok bubur ayam itu habis sampai tak bersisa.


Tak lama, pesanan bubur kacang ijo Queen datang. Aska kembali menyuapi Queen yang tengah senyum kegirangan.


Namun, baru suapan ke dua, Queen sudah menolak suapan berikutnya.


"Kenapa?" Tanya Aska.


"Kenyang."


"Oh, aku taro di dalem kulkas ya, jadi bisa di lanjut nanti." Queen mengangguk.


Dalam hati Aska, ia merasa senang karena rumah tangganya kembali damai seperti sedia kala, Queen sudah bisa tersenyum di hadapannya dan bukan air mata kesakitan lagi yang Aska lihat di raut wajah Queen.


Ia fikir, Queen tidak ingin mendengar penjelasan yang detail. Ia hanya ingin mendengar bahwa Aska mengakui kebohongannya, dan menyatakan tidak berselingkuh.


Ia berharap hari ini akan menjadi hari terakhir pertengkaran hebat mereka. Aska sangat tidak ingin menyakiti hati Queen kesekian kalinya, meski tanpa di sengaja.


Setelah menemani Queen melihat drama korea favoritnya, ia mengajak Queen tidur. Hari sudah semakin larut, Aska juga masih bertugas pagi besok, dan yang terpenting adalah kesehatan Queen juga calon buah hati mereka.


Aska memeluk tubuh Queen dengan senyum merekah di bibirnya.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Queen.


"Ya mau tidur lah."


"Mas Aska tidur di bawah, aku masih nggak mau deket-deket kamu."


'Ha? Masih nggak mau deket-deket, tapi mau kalo di peluk? Ini gimana sih?' Lirih Aska dalam hati.


"Pake bedcover, di gelar di bawah. Nih aku kasih guling sama bantalnya ya.."


Queen melemparkan dua bantal yang biasa Aska gunakan saat tidur. Ya, Aska tak berfikir banyak. Biar saja ia turuti keinginan Queen saat ini, asalkan amarahnya menghilang.


"Mas.."


"Apalagi?"


"Usap-usap dong.."


"Ya susah lah Ra, kamu di atas aku di bawah."


Queen mendekatkan tubuhnya ke pinggiran ranjang, megarahkan perut buncitnya menghadap Aska.


"Kenapa nggak nyuruh aku pindah ke atas aja sih Ra. Kan jadi enak kamunya." Sambil mengusap-usap perut Queen.


"Enggak perlu. Aku nggak mau deket-deket tukang selingkuh."


"Ra.. udah deh, aku kan u_"


"Sstt.. udah diem, aku mau tidur."


Satu tangan Aska mengusap perut Queen. Satu lagi tangannya mengusap wajahnya sendiri.


Aska kembali berfikir. Perjalanannya masih sangat panjang untuk menetralkan kembali perasaan Queen.


🙃🙃😉.

__ADS_1


__ADS_2