
Sebenarnya aku nggak enak sama keluarga kecil Aska, yang rumah tangganya slalu aku usik. Haha.. Tapi gimana ya, karena kemesraan dan keharmonisan yang mereka miliki tuh, bikin hati aku menghangat, di rasanya pengen selalu ngumbar ke yang lain. Bawaannya tuh pengen kasih tau ke orang-orang di luar sana, kalau kasih sayang tuh penting dalam membina rumah tangga.
Jangan hanya karena egois semata, jadi rusak sampe ke bawah-bawahnya. Sayang banget.. apalagi kalau anak yang jadi korban. Enggak banget deh! Masa depan juga masih ada buat mereka yang tenggelam dalam kesendirian. Kasih sayang tuh masih ada untuk mereka yang merasa putus asa.
Sama kayak sekarang. Queen nggak mau anaknya ngalamin hal yang serupa. Ibu muda itu selalu berusaha memberikan terbaik yang bisa ia dan suaminya berikan. Tapi Aska yang notabennya adalah kepala keluarga, setidaknya harus memiliki sikap tegas dalam pendiriannya. Aska nggak segampang itu ngasih persetujuan tentang keinginan Queen. Kadang, Queen harus lebih berjuang ekstra keras cuma biar dapetin anggukkan dari sang suami tercinta.
"Mas.. tadi tuh Gita di sekolah pinter banget deh. Dia tuh lebih bisa nangkep pelajaran dari pada temen-temennya di sekolah.." Queen tersenyum dengan menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya, girang. "Aku bangga tau mas..."
Pemandangan seperti ini, sebelum matanya terpejam menerima rasa kantuk dan lelah, tentu saja membuat hati Aska berdesir hangat.
"Aku juga bangga Ra.." Sambil saling berbaring, Aska mengecup sayang kening istri kesayangannya.
"Kayaknya kita perlu kasih Gita hadiah deh mas.." Aska mengernyit, menatap wajah istrinya dengan tatapan mata bingung.
"Biar apa?" Tanya Aska.
"Biar dia lebih rajin lagi belajarnya.."
"Nanti." Aska kembali membenarkan posisinya, berbaring lurus menghadap langit-langit kamarnya.
Queen yang sedari tadi sudah sangat bahagia, mendengar jawaban Aska, seketika memanyunkan bibirnya tanda kecewa.
"Gitu banget deh. Nggak sayang sama anaknya sendiri." Queen menepuk pundak suaminya dari samping, lalu ikut membalikkan tubuhnya menghadap ke dinding kamarnya.
__ADS_1
"Bukan berati aku nggak sayang Gita Ra.. cuma, kalau hal kecil terus langsung kita kasih hadiah, nanti dia jadi kebiasaan sampe gedenya." Aska mengusap lembut rambut istrinya sayang. Berusaha berbicara selembut mungkin agar istrinya mau mengerti.
"Apaan? Itu namanya kamu pelit mas. Kita kasih dia hadiah itu biar dia semangat."
"Ya tapi nggak baik juga lah, dia juga belum ngerti bener apa maksud kamu. Dia baru anak Tk Ra, yang taunya cuma main-main sama nyanyi-nyanyi doang di sekolah."
Queen berbalik cepat, "Main-main gimana sih mas? Dia tuh belajar di sekolah, dia nulis, dia patuh di kelas, dia tuh nyimak banget sama ucapan guru nya di kelas." Setengah emosi Queen menjabarkan apa yang di lakukan putri semata wayangnya di sekolah.
"Yaiyalah Ra, namanya juga di sekolah, pasti belajar."
"Terus, kenapa tadi mas bilang dia cuma main-main di sekolah?"
"Heuh.." Aska menghempaskan nafasnya berat. "Iya aku salah ngomong.. maaf ya sayang.." Sekali lagi Aska mengecup sayang kening istrinya.
"Apanya?"
"Gimana soal hadiah?"
Oke. Ternyata Queen belum lupa yang menjadi inti pembicaraan mereka sebelum tidur saat ini. Padahal Aska sudah berusaha mengalihkan topik pembahasan mereka saat ini.
"Iya. Nanti, kalo Gita ulang tahun, kita kasih hadiah. Terserah kamu deh, mau kasih dia hadiah apa." Aska membawa Queen dalam dekapannya. "Asal jangan yang mahal-mahal ya sayang.. duit aku nggak sebanyak mama kamu." Suara itu lirih terdengar halus di telinga Queen.
Jika sudah menyangkut kelemahan suaminya, rasa bersalah yang selalu Aska rasakan karena kekurangannya yang satu itu, Membuat hati Queen melunak. Ia tidak sampai hati untuk menuntut sesuatu yang di luar batas kemampuan suaminya.
__ADS_1
"Gita tuh nggak butuh barang branded mas, dia tuh butuh kasih sayang dalam pertumbuhannya." Queen membalas pelukan hangat suaminya.
Diam-diam, dari balik tubuh istrinya, Aska tersenyum penuh kemenangan. Ini jugalah yang menjadi titik kelemahan istri imutnya. Selama beberapa saat posisi mereka yang saling memeluk, membuat Aska hampir saja memejamkan matanya, ia mengira pembahasan mereka selesai saat ini. Tapi ternyata..
"Ulang tahun Gita itu masih enam bulan lagi, aku pengen kasih hadiahnya sekarang." Queen melepaskan pelukannya, menatap mata suaminya dengan penuh binar harapan.
"Sekarang itu udah malam sayang.. besok kita beliin boneka pororo kesukaan Gita. Oke?"
"No no no.." Queen menggeleng lemah. "Bukan itu yang mau aku kasih. Kalau itu dia udah punya banyak."
"Terus?"
"Aku mau.. kasih dia..." Queen membelai dada bidang suaminya yang tidak tertutup apapun. "adik." Satu kata berbarengan dengan tatapan matanya yang menuntut, seketika membuat tubuh Aska lemas.
Ia menelan salivanya, terasa sulit dan berat. Pandangannya ia alihkan. Entah kenapa, Queen sangat suka menggoda suaminya. Semenjak mereka baru kenal, sampai kini sudah memiliki buah hati, tetap saja dia tidak berubah. Kecil kecil Queen menyematkan kecupan di bibir tebal Aska. Berusaha menarik perhatian suaminya, agar kembali fokus pada wajah cantiknya.
Merasa kalah, Aska menempatkan telunjuknya di bibir sang istri. "Oke oke.. aku kalah." Aska mengangkat tubuhnya, melayang di atas tubuh menggoda Queen, menahannya dengan tangan yang menyangga di antara kanan kiri kepala Queen. "Satu hadiah adik kecil untuk Gita dalam perjalanan." Lalu menyumbat bibir Queen, agar tidak menjawab apapun lagi. Sebelum dirinya berubah pikiran.
Sekali lagi. Apapun untuk keluarga kecilnya.
Bukannya itu seperti simbiosis mutualisme. Sama-sama menguntungkan. Queen senang, Gita senang, Aska enak.
Ea ea ea... hahaha....
__ADS_1
🙃🙃😉