
**Tentang cinta yang datang perlahan, membuatku takut kehilangan..
Ku titipkan cahaya terang, tak padam di dera goda dan masa..
Dapatkah selamanya kita bersama, menyatukan perasaan kau dan aku..
Semoga cinta kita kekal abadi, sesampainya akhir nanti selamanya**..
Hanya hening yang terjadi saat Aska dan Queen berada di dalam mobil. Lelakinya itu sama sekali tidak bersuara semenjak keluar dari kamar hotel tadi. Queen tau, ada sesuatu di dalam hati dan pikiran Aska, hanya saja Queen memilih untuk diam.
Melewati jalan di tengah alun-alun kota Bandung di malam hari, membuat Aska sedikit tergoda menikmati waktu berdua dengan kekasihnya.
"Mumpung ada di Bandung, kita mampir sebentar ya Ra." Aska menoleh sesaat, kemudian kembali fokus ke arah jalan.
"Oke." Queen mengangguk setuju sambil tersenyum.
Mobil Aska memasuki salah satu parkiran motel tak jauh dari alun-alun. Memesan satu kamar dengan dua kasur single, untuk mereka beristirahat.
Queen baru saja merebahkan tubuhnya di salah satu kasur, saat lelakinya kembali mengajaknya keluar dengan berjalan kaki. Merasakan perubahan dalam sikap Aska, lagi-lagi Queen hanya bisa mengikutinya.
"Kenapa mesti jalan kaki sih mas?" Tanya Queen. Berjalan di trotoar menyusuri jalanan kota Bandung yang sedikit di lalui dengan kendaraan bermotor. Jauh lebih sepi di banding dengan jalanan di alun-alun yang mereka lalui tadi.
"Kita nikmatin malam ini Ra.. berduaan malem-malem.." Jawabnya dengan kekehan kecil. Semakin kuat Queen merasakan keanehan pada lelakinya.
Tak ada yang Aska ucapkan selama berjalan sambil menggenggam tangan Queen. Dirinya bahkan berjalan tak tentu arah, hanya mengikuti langkah kakinya berjalan.
"Kamu ingetin jalannya ya Ra." Titah Aska.
Aska menyempatkan diri mampir ke minimarket 24jam yang mereka lalui. Dan parahnya, Aska hanya membeli satu kaleng minuman dengan rasa nanas bersoda.
Queen tak ingin ambil pusing, meski dalam hatinya jelas terasa kesal karena dirinya tidak sama sekali dibelikan makanan atau minuman.
Langkah kaki Aska berhenti tepat di depan ruko yang sudah tutup. Aska mengajak Queen duduk lesehan di halaman parkir ruko tersebut.
"Kenapa disini sih mas?" Queen bingung.
"Sekali sekali nggak pa-pa kan kamu duduk di pinggir jalan begini?" Aska menenggak minuman kaleng yang tadi ia beli.
Jarak mereka duduk tak sedekat biasanya. Aska sedikit menjaga jaraknya dari Queen.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih mas?" Rasanya habis sudah kesabaran Queen melihat sikap Aska.
"Hm.. saya nggak papa, cuma lagi butuh udara aja." Sekali lagi Aska menenggak minumannya yang hampir habis. Rasa asam yang tercetak jelas di wajahnya, membuat Aska mengerjap beberapa kali.
Queen jengah, ia memandang jalanan yang berada lurus didepannya. Memperhatikan beberapa komunitas motor melewati jalanan yang semakin sepi itu. Hanya ada satu gerobak nasi goreng, letaknya juga di sebrang jalan.
Aska mendekat, perlahan menyentuh jemari Queen, menyelipkan jari-jari tangannya di antara jemari Queen.
"Perasaan kamu ke saya gimana sih Ra?" Pandangan Aska yang lekat, tepat di hadapan wajah Queen.
"Ya aku sayang kamu lah mas.." Aska melepaskan jemarinya, berganti bermain di atas rambut Queen. Di pandangi rambut hitam panjang gadisnya itu.
"Saya nyesel Ra, nggak bisa dapet restu mama kamu malam ini." Suara Aska parau, lemah hampir tidak terdengar. Padahal Aska berucap di dekat telinga Queen.
Entah kenapa Queen merasa gelenyar di tubuhnya, hatinya ikut merasakan kegalauan dari Aska.
"Nggak masalah mas, masih ada kesempatan lain.." Queen berusaha menenangkan.
"Restu kedua belah pihak itu syarat mutlak untuk pernikahan kita Ra." Aska menjatuhkan keningnya di atas bahu Queen.
Sesaat hanya hening yang terjadi. Queen tidak tau apa yang harus dia ucapkan agar hati lelakinya itu bisa tenang.
Aska merangkul bahu Queen, menempelkan kening mereka berdua setelah Aska menenggak habis minumannya.
Aska terkekeh. "Itu non alkohol Ra.." Seru Queen. Meski Queen sudah membacanya, tapi rasanya ia masih tidak percaya. Pasalnya, kelakuan Aska menjadi semakin aneh.
Memang Aska pernah hampir melakukan hal yang belum seharusnya, tetapi sikap Aska pada tubuh Queen kali ini benar-benar seperti menuntut, posesif bahwa tubuhnya Queen adalah miliknya.
Memeluk tubuh Queen se erat mungkin, mencium wajah Queen beberapa kali dengan mata yang terpejam. Queen jelas-jelas tak suka dengan kelakuan Aska. Queen bahkan menolak saat lelakinya ingin mencium bibirnya. Ia mengira lelakinya tengah di bawah pengaruh alkohol.
"Saya nggak minum alkohol Ra.." Sekali lagi Aska meyakinkan gadisnya. Menarik dagu Queen, memaksanya mau menerima bibir Aska.
Satu kecupan Queen terima, namun kembali Queen menolak saat Aska ingin melakukannya lagi.
Aska menempelkan keningnya di atas telinga Queen, masih memeluk tubuh Queen dengan erat.
"Saya butuh kamu malam ini Ra.." desahan nafasnya seiring kata yang Aska ucapkan terasa menggelitik hati juga telinganya.
Queen sudah tidak bisa menolak lagi keinginan Aska untuk melumat bibirnya. Queen juga membiarkan lidah Aska bergerak menuntut rongga mulutnya.
__ADS_1
Setiap orang yang melewati dan melihat mereka pasti akan bersorak seru. Siapa yang tidak tahan dengan mulutnya, saat melihat dua orang yang sedang bercumbu di pinggir jalan.
"Mas.." Queen melepaskan pangutannya, berusaha meraup udara sebanyak mungkin. Aska malah tersenyum melihat Queen yang sedang terengah.
"Tunggu dulu mas.." Queen menahan dada Aska.
"Kenapa?" Aska mengusap rambut Queen.
"Ini di pinggir jalan mas, malu diliatin banyak orang."
"Bukannya ini yang kamu mau.." Aska tersenyum, tangannya mengusap pipi Queen.
"Satu kali lagi ya Ra.. please.." Queen tertunduk, tapi dagunya malah terangkat, tanpa perlu jawaban Queen Aska kembali memangut bibir lembut Queen, melumatnya dengan menuntut.
Berapa lama yang Aska maksud dalam katanya 'satu kali lagi', sudah hampir habis rasanya udara di dalam dada Queen. Tapi Aska semakin sulit di lepaskan. Sebisa mungkin Queen bernafas dalam lumatan posesif Aska.
Sampai akhirnya Aska sendiri yang melepaskannya. Nafas mereka sama terengah, menyudahi ciuman yang terasa bergairah tadi. Mungkin bagi Aska sendiri.
Meskipun tidak ada hal lain yang Aska lakukan kepada gadisnya, tapi sikap anehnya saja sudah tak bisa Queen lupakan.
Baru kali ini Queen melihat sikap Aska yang seperti berada di titik terendah.
Setelah pangutan paksaan tadi berakhir, Aska tak lagi melakukan hal-hal aneh. Sikapnya kembali lembut, hanya saja kali ini pandangan lelaki itu tak junjung lepas dari wajah Queen.
Aska memaksa Queen bercerita tentang apa saja hal yang menurutnya lucu yang terjadi di hidupnya.
Queen bercerita beberapa hal lucu yang sudah terjadi. Sedangkan Aska hanya tersenyum menatapnya sambil menggenggam tangan Queen. Mendengarkan dengan serius sambil mengamatinya.
"Kamu dingin nggak Ra?" Tanyanya, melihat Queen yang mengusap usap lengannya sendiri.
"Menurut kamu, jam dua malam di pinggir jalan kota Bandung dingin apa nggak mas?" Queen balik bertanya.
"Dingin ya sayang.." Aska tertawa kecil, kemudian mengajaknya berdiri, menggandeng tangannya lalu berjalan ke arah motel tempat mereka menyewa kamar.
jangan takut jangan layu pada semua cobaan yang menerpa mu.. dan jangan layu..
kami slalu bersamamu dalam derap dalam lelah mimpi indah, dan jangan layu..
**maaf ya ini cuma setengah. ntar malem lanjutannya.**
__ADS_1
sedang sedih point nya turun banget.
🙃🙃😉