Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
taktik Queen


__ADS_3

Di dalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu.. kau genggam hatiku dan kau tuliskan namamu, kau tulis namamu..


Hari hampir siang, Aska semakin merasa cemas dengan sikap Queen jika melihat isi dalam ponselnya.


"Gara-gara si Rendi nih, awas aja kalo si Ira ampe salah paham." Rutuk Aska.


Entah berapa kali ia terus mengumpat nama temannya, tetapi sama sekali tidak bisa menghilangkan kegelisahan dalam hati.


Ketika berpatroli pun Aska masih tidak bisa berkonsentrasi, kepalanya terus berfikir mencari alasan yang terbaik dan masuk akal sebagai tamengnya nanti.


"As, lu nggak balik?" Fiki yang sudah bersiap-siap untuk pulang, melihat Aska masih termenung di depan meja piket kantor.


"Ntar, duluan aja." Sahut Aska tanpa menoleh ke arah Fiki.


"Tumben amat! Biasanya juga lu paling duluan kalo pulang." Bukannya berjalan pulang, Fiki malah tertarik mengorek info pribadi Aska. Jarang-jarang melihat temannya yang satu itu tengah melamun.


"Coba cerita ke gua. Ada apaan ama hidup lu?" Aska menghela nafasnya berat, melepaskan rasa sesak di dada.


"Kalo gua balik sekarang, sama aja ngebahayain hubungan gua sama pacar." Sekali lagi Aska menghela.


"Haha.. masalah pacar ya mas bro.. gua sih belom lama kenal lu, tapi gua yakin lu bukan orang menye-menye yang suka baper urusan cewek, ya kan?" Fiki menatap Aska lekat sambil tersenyum menyeringai.


"Tau dah.." Aska nampak frustasi.


"Itu sih pendapat gua, setelah ngeliat lu yang cuek sama dede-dede polwan manis yang baru lulus. haha.." Sepertinya Fiki tak jauh berbeda dengan Rendi. Kenapa di setiap penjuru alam, selalu saja ada makhluk seperti mereka. "Oiya gua lupa, pacar lu lebih manis imut sih ya. Jadi cinta lu udah kepentok sama yang segitu?" Aska menoleh sinis.


"Sama yang segitu? Apanya yang segitu? Emang cewek lu kayak apaan?" Aska berkata tak suka. Tapi temannya itu malah tertawa lebar.


"Tau dah gua.. yang udah kepentok mah beda. Haha.." Fiki terus menggoda Aska. "Coba lu ceritain ke gua. Kenapa sama dede manis lu itu?" Fiki memainkan kedua alisnya.


"Gara-gara tim gua waktu di Serpong, dia sering pinjem hp gua buat naro nomer cewek, dan dodolnya gua malah nggak gua hapus." Aska menghela. "Mana banyak film begituannya lagi." Mengingatnya membuat Aska semakin frustasi.


Ia mengacak-acak rambutnya yang tak berpenghalang topi. Saat Aska baru saja mengeluarkan isi hatinya. Ponsel Queen yang berada pada Aska berbunyi. Tertera nama pacar di layarnya.


Fiki melirik ponsel yang kini berada dekat telinga Aska, sesaat ia tertegun, namun kemudian sekuat tenaga Fiki berusaha menahan tawanya agar tidak pecah. Aska yang menyadarinya segera bangun dengan mata melotot, hampir keluar.


"Iya, ini saya udah mau jalan pulang!" Aska berbicara sambil mengepalkan tangannya ke arah Fiki. Menyuruhnya agar tidak tertawa.


"Ya udah ya." Aska mengakhiri sambungan teleponnya, seketika tawa Fiki meledak. Tawanya terbahak bahak. Fiki sendiri bahkan sudah tidak kuat dengan tawanya yang tidak berhenti. Ia memegangi perutnya, mulai sakit karena rasa geli melihat cowok setegas Aska memakai ponsel yang ada dua telinga kelinci.


"Ini punya cewek gua. Berenti nggak lu." Aska kesal, ia kembali duduk di sebelah Fiki. Beberapa senior mereka yang mendengar suara Fiki tadi, malah ikut menghampiri mereka.


"Rame amat, ada berita apa?" Tanya seorang senior lelaki, merangkul pundak Aska. Aska tertunduk. Hancur sudah reputasi cowok paling cool dan misterius yang melekat pada dirinya.


"Ada playboy yang lagi ngungkapin jati dirinya" Jawab Fiki dengan tawa kembali pecah.


Aska mengusap wajahnya kasar, bangkit dari duduknya bersiap untuk pergi.


"Mau kemana As?" Tanya senior.


"Mau kerumah temen dulu ndan."


"Lah, tadi bukannya lu bilang mau pulang sama calon ibu negara?" Fiki setengah meledek.


"Ck, berisik lu. Duluan ndan." Pamit Aska, berjalan keluar Polsek menunggu ojek onlinenya datang.


***


Jika Aska tengah berjuang mencari tameng untuk dirinya dari serangan amarah Queen, di kamar, Queen malah cekikikan membaca chat WhatsApp kekasihnya dengan sesama anggota.


Jauh dari perkiraan Aska, bahwa Queen akan meneror karena melihat isi ponselnya, Queen malah ingin sedikit bermain dengan Aska. Biar lelakinya saja yang berbicara duluan nanti, Queen hanya perlu memulai sedikit, dan Aska pasti akan berbicara lebih banyak. Taktik Queen.


Queen tau, isi kontak dan chat Aska, tapi Queen tak sampai hati mengacak-acak ponsel Aska, meski Aska adalah lelakinya. Bagi Queen mengungkit masalah nomor perempuan sudah cukup membuat lelakinya kalang kabut nanti.


***


Hampir masuk waktu Maghrib, Aska baru pulang. Karena Aska tidak membawa kendaraan pribadi, jadi Queen tidak bisa tau.


Queen yang mulai curiga lelakinya tak kunjung datang, kembali menghubungi Aska.


"Dimana mas?" Tanya Queen saat mereka terhubung.


"Udah di rumah." Jawab Aska. Queen langsung mematikan sambungannya dan bergegas ke kamar Aska.


Begitu terkejutnya Queen saat melihat Rendi juga berada di kamar Aska.


"Hai kak Rendi.." Sapa Queen. Senyum manisnya sengaja ia tunjukan pada Rendi di depan Aska. Queen tau itu akan semakin menyulut api di hati Aska.

__ADS_1


"Hai juga Queen.. manis banget sih.." Jawab Rendi. Seorang playboy sangat tau bagaimana caranya menyenangkan hati gadis muda.


"Udah lama kak?" Queen memilih duduk di pinggiran sofa tunggal dekat Rendi, di banding duduk dekat Aska di sofa panjang. Tak ayal itu semakin membuat hati Aska semakin geram.


"Baru aja kok, di jemput Aska tadi." Rendi sudah terpesona rupanya dengan Queen.


"Oh.. gitu, emang mau pada jalan kemana? Aku nggak di ajak nih." Tidak adakah yang menghentikan pertanyaan menjebak dari Queen.


"Nggak kemana-mana yank, cuma ngobrol santai aja di rumah." Aska cepat menjawab, entah bagaimana kalau Rendi yang jawab.


"Yah, padahal aku mau ajak makan di luar, tapi mas Aska maunya di rumah. Kalo kak Rendi gimana?" Queen memandang Rendi.


Di tatap semanis itu oleh Queen, ia mulai sadar bahwa dirinya sedang dijadikan pelampiasan. Tapi tak masalah pikirnya, Queen cantik gini. Siapa yang nggak mau jalan sama dia.


Rendi memandang Aska, meminta pendapat, Aska menggeleng pelan, mengisyaratkan tidak setuju.


"Kalo Queen yang ajak mah. Kak Rendi siaap.." Jawaban yang sangat berbeda dengan harapan Aska. Aska membuang nafasnya kasar. Ini Rendi, lelaki pemain, kenapa Aska memberinya jawaban tadi. Aska memutar bola matanya jengah.


"Oke deh, yuk jalan.." Queen bangun, begitu juga dengan Rendi.


"Ra.." Aska mencekal tangan Queen. "Apaan sih kamu?" Aska mulai tak sabar.


"Apanya yang apa? Aku cuma minta di temenin makan sama kak Rendi." Queen menjawab santai. " Oh iya mas, hp aku mana? Aku mau minta nomor kak Rendi. Boleh nggak kak?" Tanya Queen kepada Rendi.


"Bo-" Baru saja Rendi akan menjawab, mulutnya sudah di bekap Aska, didesak keluar pintu oleh Aska.


"Makasih ya bro, udah nganterin gua pulang. Bye.." Aska mendorong Rendi keluar pintu kemudian menutupnya, tak lupa Aska juga mencabut kunci kamar nya.


"Woy, As kacang lupa kulitnya lo.." Rendi berteriak dari luar. Rendi sama sekali tak dendam, ia malah tertawa kecil melihat tingkah kedua sejoli tadi.


Tadi, Aska sendiri yang datang ketempat Rendi, memintanya untuk di temani pulang, siapa yang tau kalau Queen sangat tau kelemahan hati Aska juga seorang playboy seperti Rendi. Kini, ia bergegas pulang sebelum Aska keluar dan menyeretnya masuk lagi.


***


"Kasar banget sih kamu sama temen sendiri." Queen sedikit tak suka dengan sikap Aska tadi.


"Nggak pa-pa Ra, tenang aja, dia nggak bakal marah kok." Aska kembali lembut di depan Queen. "Kamu mau makan apa? Ganti celana kamu dulu, baru kita keluar." Titah Aska.


"Nggak, aku tadi mau keluarnya sama kak Rendi bukan sama mas Aska." Queen merebahkan tubuhnya di atas ranjang kasur Aska. "Mas, sini deh, aku punya permainan seru." Aska tau, itu tidak baik bagi dirinya.


"Jangan yang aneh-aneh ya Ra.." Aska menelan salivanya kasar.


"Enggak tenang aja. Sini duduk sebelah aku, biar kamu bisa denger." Aska semakin panik, melihat Queen yang seperti menelfon seseorang dari kontaknya.


"Halo.." Jawab seorang wanita yang Queen telfon. Queen memberikan telfonnya pada Aska dengan loud speaker.


"Ha..halo." Jawab Aska kaku. Mulanya Aska tak ingin, tetapi Queen terus menyodorkan ponsel di hadapannya.


"Kenapa kak telfon aku?" Wanita yang terdengar muda dari suaranya, di tambah seperti bahagia mendapat panggilan dari Aska.


"Emh. Enggak ada apa-apa kok. Aduh dududuh.." Aska kesakitan perutnya di cubit Queen.


"Kenapa kak? Kakak sakit?" Cewek itu tampak panik.


"Enggak, ini, di cubit sama temen. ups.." Aska melihat Queen melotot, nampaknya ia salah bicara lagi. "Pacar.." Sergah Aska buru-buru.


"Apaan sih kak aku nggak ngerti deh." Queen masih memaksa Aska bicara sampai Queen mendapat jawaban yang membuatnya puas.


"Ini ada yang salah paham sama kamu." Aska terus berkata ambigu, ia juga tidak ingin sampai salah bicara.


"Oh, gitu.." Entah apa yang dia kira, tetapi ia terdengar senang.


"Maaf ya Ra.." Queen melotot mendengar ucapan Aska. "Apa? nama dia Zahra." Aska berusaha membela diri.


"Iya, tapi cuma kakak yang biasa panggil aku Rara. Cuma pengen kakak tau, aku suka banget di panggil gitu." Si cewek tertawa.


Melihat Queen yang semakin menggila di raut wajahnya, Aska langsung menyambar ponsel dari tangan Queen.


"Ehm, udah dulu ya." Ucap Aska.


"Sebentar banget kak.." Rengek si cewek.


"Nanti lagi. Da.." Aska mematikan sambungan tanpa menunggu jawaban dari seberang.


Queen menghela. "Oh.. jadi itu kebiasaan kamu?" Queen mulai bersuara.


"Enggak. Saya nggak pernah.." Aska mulai panik.

__ADS_1


"Apanya yang nggak pernah?" Queen memicing.


"Bukan saya yang sering telfon, tapi dia. Saya mah cuma bersikap sopan doang, tapi kalo sibuk saya nggak angkat kok." Aska terus berceloteh. "Itu si Rendi yang save nomornya Ra.. bukan saya."


"Oh.. jadi kak Aska sering telfonan sama Rara.." Queen meniru panggilan mereka. "Padahal aku mau tanya soal lain tadi."


"Dih.. makannya kamu kalo nanya yang bener." Aska salah tingkah.


"Jadi salah aku nih, salah aku yang tau hubungan kalian, salah aku yang namanya mirip sama dia." Queen terlihat santai, tapi itu malah membuat Aska semakin bingung.


"Bukan gitu Ra. Ck, bingung deh saya." Aska frustasi. Aska berdiri. "Saya panggil si Rendi aja deh biar jelasin ke kamu." Berusaha menelfon Rendi.


"Kalo mau telfon kak Rendi pake hp Queen aja. Sekalian biar Queen tau nomor kak Rendi." Aska menoleh, menghentikan gerakan tangannya.


"Iya saya tau saya salah.. saya minta maaf" Aska menghela nafasnya berat. Merangkul tubuh Queen dari samping. "Hapus aja nomor kontak yang nggak kamu suka." Cicit Aska memelas.


"Enggak!" Queen melepaskan rengkuhan Aska. Ia berdiri sambil membawa ponsel miliknya, berjalan keluar.


"Pintunya saya kunci Ra." Queen berbalik.


"Jangan panggil aku kayak gitu lagi." Teriak Queen. "Aku nggak suka di samain sama mereka." Aska menghampiri.


"Siapa yang bilang kamu sama kayak mereka. Kamu beda, kamu spesial buat saya." Suara Aska lembut. Berusaha menyentuh rambut gadisnya, namun di tepis kasar oleh Queen.


"Kita bicarain baik-baik ya sayang.. mereka tuh, cuma anak SMA, nggak pantes jadi alasan ngerusak hubungan kita." Aska masih berusaha menyentuh gadisnya.


"Kelas berapa?" Queen bertanya.


"Kelas tiga."


"Dimana?"


"Di daerah Pamulang."


"Oh.. tau banget kamu ya mas.." Queen tertunduk. Aska baru menyadari, ia menutup mulutnya dengan satu tangan di pinggang. Memejamkan mata demi menetralkan kebodohannya.


"Saya cuma berusaha jujur sama kamu Ra." Aska terduduk di sofa dengan menopang kedua wajahnya.


Queen tidak ingin larut dalam emosinya, harus kembali ke rencana awal. Ia ikut duduk di sebelah Aska dengan tangan berlipat di depan dada.


"Okeh, jadi baiknya kita gimana?" Tanya Queen.


"Apanya yang gimana?" Aska tidak ingin terjebak dengan pertanyaan Aska lagi.


"Tadi kata kamu anak SMA itu nggak pantes ngerusak hubungan kita, terus kita mau gimana? Aku udah kecewa sama kamu mas.." Aska mengangkat kepalanya, menghadap Queen.


"Saya janji, nggak akan ada yang di tutupin lagi sama kamu." Rengek Aska.


"Aku nggak butuh janji."


"Oke.. apapun itu saya bakal ikutin, asal kamu percaya sama saya."


"Bener?"


"Iya." Aska meyakinkan.


"Oke. Aku laper, aku mau makan." Aska tersenyum. Bersyukur gadisnya sudah tidak marah lagi.


"Ayok sayang.. mau makan apa? Apapun saya beliin buat kamu." Janji Aska menyombongkan diri.


"Mau makan nasi goreng."


"Mau nasi goreng? Oke, ayok kita beli. Udah nggak usah ganti baju kita naik mobil, kamu nggak usah turun, biar saya aja yang ngantri." Manisnya ucapan Aska.


"Oke, tapi aku maunya nasi goreng yang di Bandung kemaren ya.. aku kepikiran terus deh, harum banget masakannya." Aska tertegun, senyumnya yang tadi ceria langsung luntur seketika.


"Ira.." Suara Aska lemas. "Jangan gini Ra.."


"Sst.. aku udah bilang nggak mau di panggil kayak gitu lagi." Queen menatap tajam wajah Aska.


"Iya sayang.. tolong, kita baru nyampe tadi pagi. Masa harus balik lagi, saya masih capek. Belum istirahat Queeneira sayang.." Aska memelas.


ahh.. maaph banget ya, lagi nggak menjiwai. Kesiangan banget.


Tapi boleh minta like ama point nya nggak?


ini tuh dari tadi pagi udah di up. tapi ga lolos mulu. jadi visualnya aku hapus

__ADS_1


__ADS_2