Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
karma?


__ADS_3

Queen membuka pintu kontrakannya dengan hati hampa. Dalam pandangannya, beberapa saat ia tidak melihat ada orang di dalamnya. Begitu juga dengan indera pendengaran dan penciumannya. Queen benar-benar layaknya orang yang tengah mati rasa. Luka hati yang baru saja tergores akibat informasi yang di bawa oleh tetangganya, seakan menghancurkan seluruh kebahagiaan di dalam hati. Semua sirna tak berbekas. Queen juga tak ingin lagi mengingat apapun hal manis yang sudah ia lalui bersama Aska, suami nya. Wanita muda itu tak tau harus berbuat apa. Ia tak mengerti dengan situasi yang tengah ia hadapi kini. Jika saja lengan Aska merangkul tubuh Queen, mungkin wanita ini akan terus berjalan tanpa menghiraukan lelakinya yang tadi sudah duduk di sofa.


"Ra.." Bisiknya lembut. Queen tidak terkejut sama sekali, meskipun ia sedang tak fokus. "Mau kemana? Makanan kamu udah aku siapin nih."


"Makanan apa?" Tanya Queen masih mencoba bersabar.


"Hari ini aku bawa bakso. Emang nggak kecium wanginya sama kamu?" Aska memutar tubuh Queen, memaksanya menghadap dan saling menatap. "Kamu kenapa sih? Hm?"


"Aku nggak pa-pa." Queen melepaskan pelukan suaminya, memilih duduk di pinggiran ranjang tepat di sebelahnya. "Aku kenyang, tadi udah makan bareng Rindi."


Senyum itu masih terpampang di wajahnya. Queen berusaha setabah mungkin, ia ingin mendengar pengakuan dari mulut Aska sendiri, tanpa mau bertanya lebih dulu. Biar ia bisa mengukur, sejauh mana kejujuran suami yang sangat ia hormati dan sayangi itu.


"Makan apa? Aku nggak liat ada bekas makanan?"


"Yah.. nggak tau tadi Rindi buangnya dimana."


"Em.. terus bakso yang aku beli gimana? Biasanya itu makanan kesukaan kamu." Aska ikut duduk di sebelah Queen. "Yah, walaupun belinya bukan di tempat yang biasa, tapi kata temen aku, itu rasanya enak." Puji Aska dengan bangga.


"Mas Aska udah nyobain?"


"Udah."


"Sama temennya?"


"Iya."


"Temen kamu yang mana?"


"Em.." Ada sedikit jeda dari jawaban Aska. "Itu si Dimas, kamu inget nggak? Dia udah beberapa kali kesini sebelum kita nikah."


"Oh.. temen kamu cowok. Aku kirain perempuan."


Percayalah, menyembunyikan luka yang tergores karena penghianatan atau kebohongan itu sangatlah sulit. Tidak semua orang mampu memainkan triknya dengan sempurna. Layaknya Queen kali ini. Luka itu masih baru, masih basah meski tak berdarah. Tapi kebohongan yang meluncur langsung dari bibir Aska yang biasanya manis, sama seperti memberi perasan jeruk di atas luka hatinya kini.


Queen rasanya sudah tidak sanggup lagi bersandiwara. Sebisa mungkin ia menampilkan senyum, meski terasa getir. Tapi toh, suaminya tidak bisa merasakan apa yang sedang ia rasakan kini.


"Ra.." Aska menarik dagu Queen, mengarahkan wajahnya menatap Aska. "Kamu kenapa sih, ngelamun terus. Mending makan aja yuk, biar kamu sama baby kita kuat."


"Aku rasanya capek deh mas, aku mau tidur sebentar."


"Makan dulu, aku belum liat kamu makan."


"Kamu udah makan kan? Aku nggak selera makan sendirian. Aku mau tidur dulu, nanti kalo kamu udah laper, baru bangunin aku." Aska tak dapat menahan lagi, karena Queen sudah lebih dulu naik ke atas kasur dan bersembunyi di balik selimut tebalnya.


Suara Adzan maghrib berkumandang, Aska yang tadi pasrah dan menyerah, kini kembali menghampiri Queen.


"Ra. Nanti duku tidurnya, ini lagi adzan. Orang hamil nggak boleh tidur waktu magh_"


"Aku ngantuk! Capek! Ngerti nggak sih?!" Belum sempat Aska menyelesaikan kalimatnya, tapi Queen sudah memotongnya dengan nada tinggi yang sarkas.


Aska yang terkejut, sampai melompat mundur ke belakang, agak menjauh dari selimut yang tadi ia coba untuk buka.


"Iya, kamu boleh tidur, tapi nanti, tunggu abis maghrib ya.." Aska masih bersuara lembut, mungkin saja ia belum menyadari dengan sikap aneh Queen, ia hanya mengira, kelakuannya ini adalah sifat ibu hamil.


Aska naik ke atas kasur, mengambil bantal dan disandarkan pada dinding. "Nyender disini dulu kalo kamu capek. Nanti selesai aku shalat baru kamu boleh tiduran ya sayang."


Queen mengikuti anjuran suaminya, menyandarkan tubuhnya pada bantal yang juga bersandar di dinding.

__ADS_1


"Jangan marah-marah ya bunda, kasian jagoan ayah di dalem perutnya." Usapan lembut tangan Aska di perut Queen yang membuncit, membuat Queen hampir menepisnya. Sesungguhnya Queen sedang ingin sendiri. Merasakan kesedihan itu tanpa ada yang mengganggu.


Entah kenapa Queen masih tidak bereaksi. Dirinya terlalu terkejut dengan luka yang tiba-tiba datang di hatinya. Dalam hatinya, Queen tidak ingin marah, tidak ingin berteriak, tidak ingin menangis. Tetapi ia juga tidak sanggup menahan luka ini lebih dalam lagi.


"Aku mandi dulu ya Ra.." Pamit Aska, seraya hendak pergi dari samping Queen.


"Mas.." Queen mencekal lengan Aska. Inikah yang membuat Queen tidak bisa marah? Ia terlalu takut kehilangan lelakinya secepat itu.


"Kenapa?"


"... Aku mau baksonya deh" Queen tertunduk pasrah, ucapannya keluar begitu saja.


"Tapi udah dingin Ra,"


"Nggak pa-palah mas, sayang juga udah di beli."


"Yaudah bentar." Aska bangkit dari posisinya, bergerak kedepan mengambil mangkok bakso yang tadi Aska beli dan tuang sendiri saat Queen tengah berjalan dari arah gerbang.


Sebelum memberikannya pada Queen, Aska mencicipi dulu kuah bakso itu, merasakan apakah rasanya masih enak atau tidak. Setelah ia yakin, barulah ia memberikan pada Queen.


"Suapin atau makan sendiri?"


"Aku sendiri aja, kamu kan mau mandi."


"Em, ya udah, aku ambilin minum dulu ya."


Setelah Aska pergi dari sisinya, Queen menatap nanar pada isi dalam mangkok yang ia pegang. Tak ada yang salah dengan makanannya ataupun perut Queen, yang jadi masalah adalah ucapan tetangga tadi, kemungkinan adalah Aska membelinya setelah makan bersama wanita yang tengah dekat dengan suaminya. Hati Queen kembali teriris, membayangkannya saja, Queen sudah tidak sanggup. Apalagi jika nanti ia mendengar kenyataannya langsung dari Aska. Entah bagaimana rasanya nanti.


Satu air mata Queen lolos meluncur, turun membasahi pipinya. Tangisnya mulai terisak, tapi sebisa mungkin Queen menahannya.


Aska terkejut, dengan cepat ia mengambil gelas lalu mengisinya dengan air putih. Menghampiri Queen dengan setengah berlari, agar cepat sampai pada wanita yang sangat terlihat sedih.


"Kamu kenapa Ra? Nggak usah di makan kalo nggak enak." Aska merebut mangkok itu, ganti mengangsurkan gelas berisi air untuk Queen.


"Nggak usah di paksain sayang, aku lebih sayang kamu di bandingin bakso ini."


Tatapan Queen nanar menatap manik mata Aska.


"Bener mas, kamu masih sayang aku?"


"Ya iyalah Ra. Nggak usah mikir yang aneh-aneh deh." belaian tangan Aska di rambut Queen sangat menenangkan, tapi sebagian hatinya juga terluka.


"Aku mau tidur mas,"


"Oke. Kayaknya kamu capek banget." Aska meletakkan mangkok juga gelasnya di atas nakas samping tempat tidur. Lelaki itu juga membantu menyelimuti istrinya.


"Aku temenin sebentar." Aska ikut berbaring di luar selimut Queen, memeluk Queen beserta selimut yang membalut tubuh Queen.


"Mas.." Queen yang memunggungi Aska, mulai membuka suara.


"Hem?"


"Kamu percaya karma?"


" Karma selalu ada, meskipun itu perbuatan kecil Ra."


"Aku takut mas.."

__ADS_1


"Takut apa?"


"Soal karma itu."


"Nggak ada yang perlu di takutin Ra, ada aku disini."


"Tapi tiba-tiba aku kepikiran Arya sekarang."


Aska mengangkat sebagian tubuhnya, mencari wajah Queen yang terhalang selimut, lalu meminta Queen berbalik menghadapnya.


"Jangan pikirin cowok lain, ada ataupun nggak ada saya. Oke?" Nada diktator itu keluar lagi. Itu sedikit menenangkan Queen. Tapi tidakkah ia ingin menjelaskan apapun pada wanitanya kini?


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Queen tertidur. Aska menatap wajah wanitanya yang terlihat lebih kusut dari biasanya. Aska sebenarnya merasakan ada yang berbeda dengan Queen, tapi ia belum tau tentang apa. Ia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya.


***


Malam semakin larut, hampir lewat tengah malam saat Queen terbangun dari tidurnya.


"Mas.." Suara Queen parau, hampir tak terdengar oleh Aska yang masih memainkan ponsel sambil berbaring di sebelah Queen.


"Kamu bangun? Kamu laper Ra?" Aska kini fokus pada Queen di sebelahnya, melupakan ponselnya yang ia letakkan begitu saja di atas kasur di antara keduanya.


"Aku haus." Jawab Queen lirih.


"Oke. Aku ambilin sebentar ya."


Queen mengangguk. Tak lama Aska kembali dengan segelas air putih, dan Queen hanya meminumnya sedikit.


"Kamu laper nggak? Mau aku beliin nasi goreng, atau ada yang kamu mau?"


Belum sempat Queen menjawab, tapi suara panggilan di ponsel Queen menginterupsi keduanya.


"Sebentar ya Ra." Aska sedikit menyingkir dari Queen saat menjawab panggilannya. Meski hanya sebentar tapi cukup membuat Queen kembali terluka.


"Siapa mas?" Tanya Queen, saat Aska kembali di sebelahnya.


"Itu, si Dimas."


"Ngapain malem-malem telfon?"


"Ehm nggak ada apa-apa, cuma tadi aku lagi bahas satu masalah, tapi kamu bangun, jadi aku nggak bales pesannya dia, dia kira aku udah tidur." Jawaban Aska lebih lugas, di bandingkan saat Queen bertanya tentang nama.


"Oh iya Ra, besok aku mungkin pulang agak larut ya, ada acara sama Rendi juga Dimas"


"Aku nggak di ajak?"


"Kamu lagi hamil sayang, aku nggak ijinin kamu keluar lewat waktu maghrib. Oke? Sekarang kita tidur yuk, aku ngantuk."


Tanpa menunggu jawaban Queen, Aska sudah mengusapkan tangannya di atas perut Queen. Lalu memeluknya sambil memejamkan mata.


Andai saja Queen tidak mendengar cerita itu, mungkin Queen adalah wanita yang paling bahagia kini. Tapi, hanya rasa sakit yang kini Queen rasakan. Meskipun itu adalah hal manis yang Aska berikan.


Wanita muda ini terlalu bingung untuk mengambil sikap. Ia terluka, ingin berlari. Tapi hati Queen belum siap jika harus kehilangan Aska dari sisinya. Ia juga belum mempunyai bukti yang kuat, jika harus membahas masalah ini. Mana yang harus Queen lakukan?


Kini, fikiran dan hati Queen, benar-benar seperti sedang terpenjara.


🙃🙃😉

__ADS_1


__ADS_2