Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
dua puluh dua


__ADS_3

"Aku manggil nya apa ya mas?"


Maulana hanya terdiam mendengar pertanyaan aneh Gita. Dirinya langsung terdiam, melirik wajah Gita sebentar, kemudian menunduk lagi.


Bukannya tidak ingin menjawab, tapi.. bukankah Gita sudah mendapat jawaban nya sendiri atas pertanyaan yang ia lontarkan tadi. Maulana jadi bingung harus bagaimana menjawabnya.


"Mas.. harusnya kalo nggak mau pergi sama aku tuh ngomong, jangan malah cuekin aku gini."


Nah lho.. jadi ngambek anak orang.


Gita lebih memilih masuk ke dalam toko pakaian yang ada di hadapannya kini. Ya.. tadi entah bagaimana caranya, dan drama apa yang terjadi pada bundanya, hingga membuat Gita dan satu manusia ciptaan Tuhan, yang maaf, sangat menjengkelkan untuk Gita.


Tidak ada pertanyaan yang keluar dari mulut lelaki satu ini. Sepanjang perjalanan juga, Gita seakan bicara dengan angin. Mungkin, dirinya memang mendapat jawaban atas beberapa pertanyaan dari dirinya, tapi hanya gumaman atau sekedar kata iya dan tidak.


Makasih banget ya ayah... udah bikin Gita nyesel nggak ajak Farhan.


"Mas... Lana sini." Lelaki itu mendongak cepat, tersadar dari lamunannya.


Meskipun sudah sering di abaikan menurutnya tapi Gita masih santai dan masih saja mengajaknya bicara.


"Yang ini bagus deh kayanya untuk mas Lana.."


Gita menunjukan sarung yang ia perhatikan sejak tadi, motifnya Gita suka, bahan katun dengan gambar batik di padu warna emas dan coklat, terlihat elegan meski harganya termasuk standar.


Tanpa jawaban, lelaki itu hanya menggeleng dan dan kembali melipat sarung itu. Tanda ia tidak menginginkannya.


"Tapi itu bagus tau mas.. cocok deh, beli ya untuk lebaran nanti."


"Lebaran?" Gita sukses mendapat responnya.


"Iya lebaran lah.. kalo di pake untuk sehari hari terlalu mencolok nggak sih? Ya kan mbak?"


"Iya." Mbak penjaga toko mengangguk antusias. Lidah nya sedari tadi agak sulit menjelaskan dengan Gita memakai bahasa indonesia, sesekali logat jawa nya masih bercampur saat berbicara dengan Gita.


"Coba mas tanyain harganya." Gita mengalah.

__ADS_1


"Niki pinten mba.."


Gita terdiam. Bukan, bukan karena bahasa yang di gunakan dua makhluk yang sedang bercakap itu. Tapi Gita fokus pada suara si lelaki yang terdengar lembut terkesan ramah. Kenapa sejak tadi dirinya tidak mendapat respon seperti itu.


Hal itu justru membuat Gita sedikit kesal. Bukan hanya hatinya saja yang mengkel, tapi fikirannya mulai berspekulasi buruk tentang si lelaki itu.


Melihat Maulana mengeluarkan beberapa lembar uang, menambah daftar list buruk tentangnya.


"Aku cuma tanya harga ya mas. Bukan minta di bayarin. Sebutin aja berapa harganya." Gita membuka resleting tas kecil yang sejak semalam masih menggantung di sisi tubuhnya.


"Ini uang ayah kamu."


Beberapa kata saja, tapi terkesan jahat? Kurang tepat, cuek? Hmm.. Entah, tapi Gita sedikit merasakan ada sayatan di antara nada bicara lelaki itu.


"Matur suwon njih."


Gita hanya senyum sopan, ketika si penjaga toko memberikan bungkusan plastik berisi beberapa daster lengan panjang untuk bundanya.


"Aku nggak mau pulang sama mas, mas pulang sendiri aja deh." Ya.. Gita si manja, terbiasa di manja oleh sebagian orang dewasa di lingkungannya, apalagi jika dengan Farhan.


"Saya mau kesitu dulu." Maulana menunjuk kedai bakso yang terkesan sederhana.


Gita melongo.


Tanpa menoleh Gita, ia melangkah menuju kedai bakso dengan santai nya.


Sampai Maulana masuk ke dalamnya Gita masih saja terdiam di tempat, bingung dengan situasinya kini. Setelah melihat lelaki itu duduk dan memesan, barulah Gita melangkahkan kakinya menyusul Lana yang sudah duduk tenang di dalam menunggu pesanannya.


Ia memilih duduk di hadapan Lana, ketimbang di sebelahnya.


"Aku mau..."


Rasa malu Gita sudah ia telan bulat bulat. Rasanya, sejak tadi percuma ia dengan rasa gengsinya. Gita seakan kalah dengan lelaki ini. Ia tidak mendapatkan apa yang biasa ia rasakan ketika di kediamannya. Dengan lelaki ini, semuanya seakan terbalik.


Mendengar suara lemah menahan rasa malu Gita saja, Lana tidak menjawab atau tersenyum. Ia hanya mengangguk sebentar lalu beranjak memesan untuk Gita.

__ADS_1


Menyerah dengan keadaan saat ini, entah kenapa ia langsung merasakan kerinduan untuk si bocah lelaki yang biasa menemani kesehariannya.


Gita mencari cari ponsel pintarnya, tapi seketika ia teringat, kalau tadi terakhir ia gunakan untuk menonton bersama sepupu kecilnya.


Rasanya...


Gita membuang nafas lelahnya. Berat, hari berat yang ia hadapi hari ini. Tolong ingatkan dia nanti, untuk selalu bersama Farhan kemanapun ia pergi.


"Makan dulu."


Gita sadar dari lamunannya. Dihadapannya sudah ada semangkuk bakso telur dengan kuah nya yang sudah bercampur dengan sambal juga saosnya.


Apa ini? Lana sudah membantunya menambahkan kedua toping itu, bahkan sudah membantu Gita mencampurnya.


Apa jangan janangan di campur sesuatu?


Gita melirik Lana sebentar, kemudian melirik mangkok bakso nya secara bergantian. Tapi lelaki itu maaih asik mengaduk kuah yang baru saja di campur sambal juga sausnya.


"Jangan lupa baca doa nya"


Sekali lagi Gita terkejut, dengan suara tanpa nada ramah itu.


Setelah melakukan yang di minta Lana, baru ia perlahan mencicipi kuah bakso itu sedikit. Merasakan apakah rasanya pas dengan lidahnya.


Dan.. voila.. ini enak, bahkan ada rasa kecap di dalam kuah itu. Sangat favorit Gita. Pedas manis yang pas.


Gita tersenyum lebar, matanya sampai menyipit karena nya.


"Enak banget. Makasih mas Lana."


"Manis."


Jawaban Lana.


Gita enggan perduli lagi dengan ucapan lelaki itu, dia lebih memilih menikmati bakso yang kini menambah daftar kesukaannya.

__ADS_1


__ADS_2