Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
bukti nyata rasa


__ADS_3

"Kenapa sih Queen? Dulu mama sama papa kamu nggak begitu deh.." Wanita paruh baya yang masih tampak cantik dan anggun itu mengernyit bingung, saat ia mendapatkan jawaban yang tak sesuai dengan apa yang ia perkirakan.


Ya.. tepat dua hari, setelah Aska membuka pesan di handphone Queen tengah malam itu, kini ibu kandung dari Queen datang. Sesuai dengan apa yang ia ucapkan. Kedatangannya saat ini adalah untuk menjemput anak semata wayangnya yang tengah hamil.


Namun, alih-alih raut atau nada antusias yang ia dapatkan dari anaknya, ia malah mendapat penolakan. Meski secara halus dan selembut mungkin nada yang Queen lontarkan, tetap saja itu tidak membuat hatinya puas.


Yang mama Queen inginkan adalah, anaknya mengikuti apa yang ia perintahkan. Lupakah dia, kalau anaknya itu sudah memiliki pelindungnya sendiri, tanpa perlu merepotkan dirinya untuk campur tangan.


"Maaf banget mah.. tapi aku cuma ikutin apa yang suami Queen bilang. Mas Aska nggak kasih aku ijin kalo buat pergi lama-lama.." Kedua tangan Queen menggenggam tangan mamanya. Berusaha memberikan pengertian, ia sungguh tidak ingin ada kesalahpahaman lagi diantara ibu dan anak ini.


Pagi tadi, Aska sudah berpesan. Setinggi apapun nada suara mamanya, Queen harus tetap menjawabnya dengan lembut. Jangan sampai terpancing emosi. Apalagi sampai bertengkar lagi. Aska sangat mewanti-wanti wanitanya itu.


"Iya tapi kenapa? Mama nggak habis pikir deh Queen. Nggak ngerti mama sama jalan pikiran kamu. Sampe sekarang aja mama masih nggak tau alasan kamu milih dia, sekarang malah mama liat kamu nurut banget sama dia. Emang kamu nggak sayang sama mama lagi, Queen?" Sedikit ada penekanan di hampir setiap kata yang wanita paruh baya itu ucapkan. Hanya dalam satu tarikan nafas, menjadi begitu panjang kalimat yang terucap.


"Lho.." Queen melepas genggamannya. "Aku fikir mama ngerestuin aku karena mama tau kalo mas Aska itu yang terbaik untuk aku. Kok sekarang mama malah ngomongnya gitu sih?" Queen mulai tak sabar.


"Yaa.. waktu itu mama kasih restu karena janji mama sama dia. Mama juga waktu itu seneng banget karena kita udah berdamai. Tapi mama masih belom liat, apa yang bisa bikin kamu sampe segininya sama dia."


"Aku nggak bisa jelasin semua yang aku rasain mah. Yang jelas mas Aska itu lelaki paling sabar yang pernah aku temuin. Aku tuh nyaman mah sama dia."


"Oh.. jadi karena kamu takut di tinggalin sama dia, makanya kamu nggak mau ikut mama? Iya? Begitu?"


"Hadoh.. mama ini.." Queen menghirup nafasnya dalam-dalam. Mencoba menetralkan rasa kesal yang mulai melanda hatinya.


Ia sandarkan punggungnya pada sofa. Rasanya perut buncitnya sudah mulai sesak. Obrolan yang mulai membuatnya tak nyaman, akhirnya Queen mencoba menghubungi suaminya. Ia benar-benar membutuhkan penyegaran hati juga fikiran. Dan satu-satunya yang bisa ia andalkan adalah kata-kata dari suaminya yang kini tengah bekerja.


'Tetap sabar ya sayang.. aku juga penasaran deh, kenapa kamu mau sama aku. Hehe..'


Pesan masuk dari Aska, yang ia fikir bisa membuat hatinya tenang malah semakin membuatnya gerah. Tanpa sadar ia lantas menghubungi nomor suaminya. Dan tanpa jeda sedetik pun, Queen langsung menyentak suaranya saat panggilannya tersambung.


"Maksud kamu apa mas ngomongnya kayak gitu? Ha? Kamu juga ikut-ikutan nggak percaya sama aku? Emang kenapa sih sama aku? Kenapa juga sama kamu? emang ada yang salah kalo aku suka sama kamu tanpa alasan? Aku nggak ngerti deh sama jalan pikiran kalian. Kok bisa-bisanya sih.. Kenapa harus ada alasan? Emang kalian pikir kita lagi ujian apa? Sampe harus ada jawabannya.."


Kalimat yang begitu panjang, membuat nafas Queen sedikit tersengal. Untung saja ia berbicara sembari duduk. Jadi tenaganya tidak terlalu terporsir.


Mama Queen yang melihat anaknya tengah emosi, langsung menyodorkan minumannya tanpa pikir panjang.


"Minum dulu Queen.." Ia meminumnya. Sambil mendengar jawaban dari suaminya, suaranya sedikit tercekat tadi.


"Udah ngomongnya? Kurang panjang, aku masih ada waktu kok buat ngedengerinnya." Jawab Aska santai.


"Aku serius ya mas.. aku nggak lagi becanda!"


"Aku juga serius Ra.. selalu ada waktu buat ngedengerin suara kamu. Aku suka." Aska terkekeh sebentar di akhir kalimatnya.


"Mas Aska!" Sentak Queen.


"Oke oke.. maaf oke?" Aska menjeda sebentar. "Sekarang gantian kamu yang dengerin aku ya Ira sayang.." Samar-samar mama Queen bisa mendengarnya. Ia ikut menyunggingkan senyumnya mendengar nada manis dari menantunya. "Aku tuh tau banget kuatnya perasaan kamu sama aku. Nggak bisa di raguin lagi, gimana tulusnya hati kamu. Aku yang paling tau Ra.. aku tuh cuma bercanda tadi. Ya.. kali aja aku beruntung, bisa denger kamu ngucap manis sama aku.."


'alah.. mas Aska lebay.. haha.. lebay banget dah lu As..'. Queen mendengar suara pelan itu. Pasti suara Fiki yang tengah meledek lelaki kesayangannya itu. Tak lama, Queen juga mendengarnya mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Kamu tuh ya mas..." Queen menggeram menahan rasa gemas dalam hati.


Sedangkan mama Queen yang melihat raut wajah dari anak semata wayangnya, mulai merasakan kehangatan dalam hati. 'Ah.. tiba-tiba dia jadi ingin memiliki teman hidup.'


Oke. Sampai sini ia mengerti, hubungan seperti apa yang tengah di jalani oleh Queen juga Aska. Berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan dulu, saat menjalani biduk rumah tangga bersama papa kandung Queen yang kini sudah terbaring damai dalam peristirahatan terakhirnya.


"Maa.. mama.." Queen menepuk punggung tangan mamanya. Lamunannya seketika buyar. Ia tak menyangka dan sangat bersyukur jika anaknya kini sudah menemui kehidupan rumah tangga yang indah. Mungkin memang tidak semua lelaki bersikap egois. Dan poin itu adalah penting. Sifat dan sikap seseorang tidak bisa di pukul rata. Itulah sebagian seninya kehidupan. Perbedaan.


"Are you oke mom?" Queen sedikit khawatir.


"I'm oke honey.." Mama Queen tersenyum tipis. Dan Queen mengangguk mengerti. "Mama seneng deh, ngeliat anak mama bisa sebahagia ini. Semoga kalian selalu seperti ini ya sayang."


Senyum itu. Ya senyum itu. Queen menelan salivanya kasar. Sedikit tercekat karena doa dari sang mama. Ia bahagia. Merasa sangat bahagia mendengar ucapan itu. Tapi.. ingatannya sepintas mengarah pada beberapa waktu silam. Saat hatinya terluka karena perlakuan suaminya itu. Sakit yang ia beri tanpa ia sadari kesalahannya. Konyol memang. Sekonyol setiap tingkah lakunya di rumah, ketika mereka tengah menghabiskan waktu berdua.


***


Sama seperti malam-malam yang lalu. Queen dan Aska menyempatkan waktu untuk berbincang sebentar sebelum mata mereka terpejam. Entah kenapa, itu seperti kegiatan yang wajib di lakukan. Padahal, mereka sudah berinteraksi saat Aska datang.


Queen masih berseluncur pada sosial medianya dari ponsel yang menjadi fokusnya kini. Meski pun mata Aska menatap lekat ke arahnya sambil berbaring miring.


"Lagi ngeliatin apaan sih Ra? Serius amat?" Suara Aska datar. Jarinya lembut mengusap wajah Queen, terkadang ia membenarkan rambut-rambut halus Queen yang menutupi pandangannya.


"Kepo deh mas Aska.." Ledek Queen.


"Kamu nggak mau cerita apa yang tadi kalian obrolin?"


"Haha.. udah ngerti kok aku. Kamunya sibuk sendiri sih. Aku di kacangin."


"Yaudah, kalo mas ngantuk, tidur aja duluan. Aku sebentar lagi."


"Bener ya? Aku tidur beneran nih?"


"Iya. Cerewet." Aska sedikit terperangah mendengar kata dari Queen. Benarkah Aska cerewet?


Tak lama setelah Aska memutuskan untuk berbaring menatap langit-langit sebentar. Kemudian memejamkan matanya. Hari ini lumayan melelahkan untuk Aska. Setelah jam dinasnya, ia masih harus bermain futsal dengan beberapa sesama anggota. Apalagi di tambah Queen yang enggan mengajaknya bicara, menambah rasa kantuk yang begitu mendamba.


"Mas Aska." Queen membuka suaranya.


Aska yang baru saja terpejam, harus membuka satu matanya, mengintip ke arah Queen.


"Mas Aska tau nggak?" Queen antusias.


"Enggak."


"Ih.. kamu nggak peka banget sih mas. Sebel deh."


Suara dengusan Aska seraya membuka ke dua matanya. "Kenapa sih jelek?" Aska kembali pada posisinya menghadap Queen.


"Ihh, enak aja. Aku cantik ya, asal aja kalo ngomong."

__ADS_1


"Iya iya. Cah ayu.."


"Aku cantik mas Aska."


"Iya. Cah ayu itu cantik ira.." Aska mulai merasa gemas. Perlahan, ngantuknya menghilang.


"Ooh.. iya, aku tau kok."


"Yaudah, terus tadi kamu mau ngomong apa?"


"Yang mana ya?" Fokus Queen kembali ke layar ponselnya.


"Yang tadi kamu nanya aku Ra, tadi kan kamu nanya, aku tau apa enggak."


"Terus mas Aska tau nggak?"


"Ya enggaklah Ra.. mana aku tau kamu mau ngomong apa."


"Yaudah, kalo nggak tau mah. Tidur lagi aja." Santai sekali sih Queen.


"Dih!" Aska terkjeut. Benar-benar tidak bisa menahannya lagi kini. "Ra.. kamu capek nggak? Mau ngerasain rasanya olah raga malem nggak Ra?"


Queen menoleh. "Olah raga malem?"


"He'em.." Siapa tau nanti menghasilkan adek bayi lagi sebelum yang ini keluar." Aska mengusap perut buncit Queen.


Sambil menatap arah tangan suaminya yang berada di atas perut buncitnya, Queen menyadari bahwa itu mungkin hanya istilah..


"Aah.. tapi aku sekarang lagi capek banget mas.. tadi abis main futsal soalnya."


"Apa?" Aska menjeda. "Dimana ada orang lagi hamil main futsal. Yang ada tadi itu aku yang main kan? Harusnya aku dong yang capek."


"Ya tapi kan mas.. kita kan satu hati, jadi.. kalo kamu capek, aku juga ikutan capek. Aku mau tidur ajah ya..?" Queen tersenyum lebar. Menunjukkan deretan giginya.


"Yaudah.. kalo gitu..." Aska menarik ponsel dari genggaman Queen, menyimpannya di dalam nakas dekat ranjang kasur. "Kita tidurnya sama-sama aja ya.. udah malem. nggak boleh main hp te? rus..."


Melihat wajah wanitanya yang mencebik, dengan bibir mengerucut. Aska akhirnya tak bisa menahan rasa gemasnya lagi. Ia lantas mengecup kening juga pipi Queen dengan kecupan kupu-kupu. Barulah ia menyudahinya setelah ******* sebentar bibir ranum Queen.


"Aahh.. jadi mau.." Rengek Queen. "Dikit banget sih mas. Pelit."


"Tidur aja, udah malem." Aska memeluk wanitanya. Tak lupa ia juga menarik selimut sebatas dada. Meskipun Queen tak suka panas. Tapi ruangan ber AC tentunya tidak baik bagi ibu hamil, jika tidur tanpa selimut.


Selamat malam.


🙃🙃😉


Aku tuh nulis ini dari jam dua malam. Tapi karena sambil nonton video exo dan kaisoo, jadi baru selesai jam setengah tujuh. Astagaa.. 🙉🙉


~

__ADS_1


__ADS_2