
Waktu terus berjalan. Sudah sebulan berlalu, semenjak hari itu, saat Queen mengetahui isi hati Aska yang tengah di rundung kerisauan tentang hubungan mereka.
Tidak banyak yang berubah, mungkin hampir tidak ada yang berubah dalam keseharian Aska dan Queen, hanya saja, Aska tidak pernah lagi menjanjikan tentang apapun pada gadisnya.
Ia berusaha untuk menjaga hati Queen agar tidak terluka dan jatuh sakit seperti saat itu. Jadi, sesibuk apapun jam tugas Aska, ia akan berusaha untuk membaginya dengan gadis kesayangannya.
Hari ini, seperti biasa, Queen menghabiskan waktuku bersama lelakinya di dalam kamar Aska. Karena Aska yang sedang dalam waktu senggang dan Queen yang libur dari jam mata kuliahnya.
Begitulah keseharian mereka saat sama sama dalam waktu senggang, menghabiskan waktu bersama. Meski hanya sekedar berbaring di atas pangkuan Aska, bercerita tentang hari yang Queen lalui atau bergumam menyanyikan lagu bersama, ketika memutar musik.
Tak ada hal lain yang mereka lakukan, sentuhan lembut Aska pada rambut dan juga pipi Queen, hanya akan berlanjut pada sebatas ciuman. Tidak lagi ada gerakan yang lebih. Karena Aska yang telah berjanji pada dirinya tak ingin melakukan kesalahan yang sama.
Hari mulai petang, rintik hujan turun dari langit berawan gelap. Queen yang sedang berbaring di atas pangkuan Aska, sambil menonton film korea dari ponselnya, harus di kejutkan oleh daun pintu kamar Aska yang dibuka tanpa permisi.
Aska juga tak kalah terkejut. Melihat beberapa orang lelaki tengah berdiri di ambang pintu. Menatap mereka lekat dengan penuh kecurigaan.
Aska hanya tersenyum kecut, tanpa beranjak dari posisinya, menghadapi suasana yang tidak menyenangkan.
"Hayo, ngapain lu berduaan di dalem kamar, pake ditutup segala lagi pintunya!" Tutur seorang lelaki yang Aska kenal dan cukup ia segani.
"Tau lo, ujan ujan gini berduaan aja. Ntar ada setan dateng aja" Celetuk salah seorang dari mereka. Sambil berjalan masuk, dan duduk tanpa di persilahkan oleh sang empunya tuan rumah.
"Iya, setannya dateng banyak banget." Jawab Aska.
Queen yang tadi terkejut, hendak pergi pulang ke kamarnya. Karna merasa tak nyaman berada di tengah-tengah teman sesama Anggota kekasihnya.
Namun, dengan cepat Aska menyadarinya dan memegang tangan Queen.
"Mau kemana?" Tanya Aska, Queen gugup. Ia tersenyum kepada para tamu di hadapannya.
"Mau pulang dulu, ga enak takut ganggu." Aska enggan untuk melepaskan pegangannya. Ia menggeleng pelan tanda tak menyetujui.
Queen semakin kikuk, saat mereka menertawai.
"Oh.. ini pacarnya Aska ya? Cakep gini, pantes Aska galau nggak mau ditinggalin." Aska yang mendengar Rendi mulai buka suara, hanya diam tanpa menjawab.
"Sini aja Queen, nggak pa-pa ikut gabung. Cuma mau ngerayain Aska yang besok mulai pindah tempat tugas" Abang Is menjelaskan.
Aska tertunduk, membuang nafasnya pelan. Entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas ada rasa putus asa mendengar komandannya berbicara di depan Queen tadi.
Queen melirik, mencoba mencari penjelasan dari Aska, tetapi yang ada ia malah melepaskan pegangan tangannya.
"Queen kenalan dulu lah, saya Rendi.." Rendi mengulurkan tangan ke arah Queen. Queen beranjak, menghampiri dan menerima jabatan tangan Rendi, yang duduk paling pinggir dekat pintu.
Disusul oleh empat orang lainnya, termasuk atasan Aska.
"Saya Dimas"
__ADS_1
"Saya Rudi"
"Haris"
"Saya-" Belum sempat abang Is berucap, Queen sudah memotong ucapannya lebih dulu. "Pacarnya Rindi" dengan senyuman manis.
Mereka semua tertawa, tetapi tidak dengan Rendi dan Aska. Keduanya masih terpukau melihat senyuman manis yang Queen perlihatkan tadi.
"Ka, ada makanan apa ni? ayolah keluarin" Seru Dimas, yang katanya anggota paling muda.
"Nggak ada apa-apa. Nggak bilang juga mau kemari, jadi nggak nyiapin." Jawab Aska santai.
"Yaudah beli bakso sono. Cuaca begini enaknya makan yang seger seger.." Abang Id menimpali.
"Sekalian beli minumannya yang banyak, aus banget gua. Elo mah enak udah nyusu, gua mah baru balik patroli" Seru Rudi. Dan disusul tawa riuh seluruhnya. Pipi Queen bersemu mendengarnya.
"Masih banyak noh susunya di kulkas kalo lu mau" Tawar Aska sedikit meledek.
"Gila, lo persiapan buat besok ya Ka, sampe di simpen di kulkas gitu" Celetuk Dimas.
"Anak kecil mah diem aja" Aska melempar bantal kecil kearah Dimas. Dan membuat suasana menjadi ramai.
Aska bangun dari duduknya, berjalan kedalam mengambil kunci mobil. Karena di luar gerimis, meski tak banyak, tapi Aska menghindarinya.
"Ayo Ra ikut." Ajak Aska.
"Ck, engga. Ninggalin dia ama lu mah sama aja nyediain makanan buat buaya" Tegas Aska sambil berjalan melaluinya.
"Yaelah Ka.. berbagi dikit mah bolehlah.."
"Kaga. Yang ini mah gua pengen nikmatin sendiri"
Entah ucapan mereka serius atau sekedar candaan, Queen tidak perduli. Tapi satu hal yang membuat hati Queen berdesir ngilu. Saat mendengar ucapan terakhir Aska.
Aska membukakan pintu mobil penumpang di depan, menunggu Queen masuk dan menutupnya. Berjalan santai memutari bagian depan kap mobil, dan duduk di balik kemudi sebelah Queen.
"Kenapa bawa mobil sih mas, kan naik motor lebih cepet?" Queen merasa bingung melihat kekasihnya berjalan santai di bawah gerimis.
"Kalo nggak ngajak kamu juga saya bawa motor" Queen langsung mengerti maksud dari Aska.
Namun, dirinya kembali terusik saat Aska menutup pintu mobilnya dengan keras saat ia masuk tadi.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Queen, mobil sudah berjalan pelan, meninggalkan lahan parkir.
"Kesel aja"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Banyak pengganggu dateng." Aska masih fokus ke arah depan.
"Lah.. bukannya mereka dateng karena perduli sama kamu? Aku kira kamu orang yang mentingin pertemanan"
"Emang." Aska membuang nafasnya pelan, "Tapi semalem kan udah kumpul juga, kenapa masih dateng ke rumah. Ganggu aja" Aska mendengus.
"Semalem? Oh, jadi kamu pulang malem karena kumpul sama mereka, dan kamu nggak kasih kabar ke aku?" Queen mulai meninggi.
"Saya sengaja ajak mereka kumpul malem, soalnya saya nggak mau di ganggu hari ini. Malah masih dateng juga. Dasar, emang sengaja tuh mereka mau ganggu kita" Aska yang menyadari kekasihnya mulai emosi, menjelaskan dengan lembut dan sedikit alasan, yang kiranya bisa membuat hati Queen luluh.
Tapi, wanita tetap wanita dengan segala harga diri yang meliputinya. Tidak sampai disitu, karena sudah terlanjur emosi maka, Queen mulai mengutarakan segala isi hatinya.
"Terus, yang kamu bilang sama Rendi tadi apa?" Queen melipat tangannya di depan dada.
"Apa? Emang saya bilang apa?" Aska tak mengerti.
"Tadi kamu bilang, kali ini mau nikmatin aku sendiri. Maksudnya apa?" Queen masih emosi.
"Oh, itu mah cuma ngasal, biar dia cepet diem"
"Alah bohong aja, aku yakin, pasti kamu sama dia sering berbagi cewek kan? Hayo ngaku!"
"Apaan sih Ra, saya nggak kayak gitu!" Aska masih mencoba tetap tenang.
"Kamu ama dia kayak sama. Pasti udah sering tuh main sama dia"
"Enggak sayang.. kamu kan tau, mantan saya cuma nisya doang.." Aska mencoba menenangkan.
"Aku nggak tau, karena kamu nggak mau cerita." Queen membuang arah pandangnya, yang tadi menatap Aska intens, kini berganti ke arah luar jendela di sampingnya.
"Kamu tau nggak Ra? Kamu begini kayak istri lagi cemburu.." Aska tertawa pelan.
"Aku nggak cemburu, maaf aja ya, cemburuin kamu. Enggak banget"
"Jujur aja Ra, saya suka kok kamu cemburu" Perlahan mobil Aska memasuki halaman warung bakso yang tak jauh dari rumah mereka.
Awalnya, Aska ingin ke tempat warung bakso yang lebih jauh. Tapi entah kenapa, kemarin disini adalah warung bakso terdekat, tapi sekarang jaraknya terasa jauh karena Queen yang sedang emosi. Aska tak ingin lebih panjang.
"Aku nggak cemburu mas Aska Prayoga!!"
"Iya iya saya tau kamu nggak cemburu. Tapi ini kedua kalinya lho kamu cemburu."
"Aku nggak. Ngerti nggak sih?" Entah Queen yang benar emosi atau malu karena ketauan cemburu.
"Ngerti. Ayok turun" Ajak Aska, masih dengan suara pelan dan tenang.
Aska sama sekali tak menyalahkan emosi Queen. Ini semua karena mereka yang datang tanpa di undang.
__ADS_1
Sia-sia Aska mengajak kumpul tadi malam. Ia harus merelakan waktunya bersama Queen, juga harus mentraktir dua kali. Dasar.. para buaya yang nyari gratisan.