
Minggu pagi, Aska bangun lebih dulu. Matanya mengerjap pelan, menyadari wanitanya masih tertidur pulas di sampingnya. Meski tubuhnya memunggungi Aska, setidaknya saat Aska bangun, ia masih bisa melihat sosok itu berada tepat di dekatnya. Perlahan ia bergerak, takut-takut membangunkan Queen.
Ia mengusap rambut gadisnya sebentar. Barulah Aska bangun dan bergegas pindah ke kamarnya. Seingat dirinya, hari ini adalah hari pernikahan bang Is. Sayangnya, ibu Aska tidak bisa hadir di hari pernikahan yang bisa di bilang sudah seperti bagian keluarga mereka.
Aska memilih membersihkan tubuhnya lebih dulu, barulah ia akan membangunkan istrinya. Namun, belum selesai Aska dengan mandinya, Queen sudah datang, memanggilnya dengan tidak sabar.
"Mas.. mas Aska.." Teriak Queen.
Aska membuka pintu kamar mandi, meski sebagian sabun di wajahnya belum hilang semua.
"Kenapa Ra?" Mata Aska terbuka sedikit, seperti di paksa untuk melihat wanitanya namun perih untuk terbuka.
"Cepetan mandinya, aku mau cerita."
"Iya iya.. tunggu di kamar aja, sekalian siapin baju aku." Titah Aska.
"Nggak mau, aku mau tunggu disini aja ah.."
"Yaudah, terserah." Aska menutup pintunya kembali.
Queen mendengar suara guyuran berulang. Ia yakin Aska pasti dengan cepat menyelesaikan kegiatannya.
"Cepetan maass..." Teriak Queen.
Tak lama Aska keluar. Handuk kecil melilit di bagian setengah tubuh ke bawah. Dengan rambutnya yang masih basah, ia mengacak-acak rambutnya sendiri. Alhasil tetesan air, sedikit mengenai wajah Queen. Membuat wanitanya merasa geram.
"Mas Aska. Ih. apa banget sih kamu! Basah nih." Geram Queen.
"Hehe.. iya maaf maaf ya Ra.." Queen mencium pipi Queen, menempelkan sisa sisa air dari wajahnya kepada Queen.
"Iihh.. kamu mah.."
"Makanya mandi sana. Masih bau iler udah teriak-teriak. Kenapa sih? Ha?"
"Ih mas. Aku berasa horor deh."
"Kenapa?" Aska melangkah masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Queen yang masih bersemangat untuk cerita.
"Masa ya mas, semalam aku tidur sendirian kan?" Mendengar ucapan Queen, Aska langsung tersentak, terpaku mendengarnya. "Masa ya, aku berasa ada yang nemenin gitu, kayak ada orang di sebelah aku. Emang udah berapa lama sih mas, kamar aku nggak di tempatin?"
Aska berbalik, meneliti mimik wajah ketakutan Queen. Rasanya ingin sekali ia tertawa sekencang-kencangnya saat itu juga, tapi ia takut. Aska takut nantinya Queen akan marah dan merusak mood nya. Jangan sampai ia melakukan kesalahan kali ini. Jika itu terjadi. Bisa-bisa Aska tidak akan berangkat bareng bersamanya saat menghadiri acara pernikahan bang Is nanti.
Alasan apa nanti yang harus ia katakan pada keluarga bang Is, jika Queen tidak ada bersamanya. Apalagi ada Nisa, wanita yang membuat Queen cemburu. Jangan sampai terjadi deh..
__ADS_1
"Maaass..." Teriak Queen, tepat di samping kuping Aska. Membuat telinga lelaki itu terasa pengeng.
"Apaan sih Ra? Sakit tau.."
"Lagian kamu, dari kemaren bengong melulu." Queen menjeda sebentar, menelisik wajah suaminya secara lebih dekat. "Jangan-jangan.. kamu ya mas, yang bawa setan itu ke kamar aku? Kan kamu yang pertama masuk ke dalam kamar aku!"
"Jangan mikir yang aneh-aneh ya Ra. Lagi hamil kamu itu, nanti malah jagoan aku ngikutin kamu lagi gedenya." Aska kembali menuju lemari pakaiannya, mencari-cari baju yang akan mereka kenakan. "Pake ini ya Ra? Batik couple."
Queen mengangguk sebentar, menjawab pertanyaan Aska. "Mas, aku kan udah bilang, anak kita itu perempuan. Angle.."
"Iya iya.. terserah kamu, yang penting anak aku tetap jagoan yang sehat."
"Dih.. anak kita itu_"
"Udh mandi sana. Keburu siang. Udah mau jam tujuh ini tuh, akadnya mulai jam delapan tau. Entar kita ketinggalan."
"Enggak ah.. aku tunggu kamu selesai pake baju aja. Aku takut mas.." Lirih Queen manja.
"Nggak ada apa-apa Ra.. itu cuma halusinasi kamu doang."
"Iih.. mas Aska.. itu beneran tau, aku tuh berasa banget. Kayak ada yang peluk aku gitu. Iihh.. sereemm..." Queen mengusap-usap telapak tangannya pada kedua lengannya secara menyilang.
"Udah udah.. anggep aja yang peluk kamu itu aku.." Aska seraya mengenakan celana bahan warna hitam.
"Enggak ah.. aku kan nggak tau, siapa tau setannya lebih serem dari pada kamu?"
"Apa? Emang aku salah? Aku kan bilang, setannya lebih serem dari pada kamu."
"Emang aku serem Ra?"
"Iya. Kamu serem kalo lagi marah. Wee.." Queen menjulurkan lidahnya, ia berbalik menuju kamar mandi.
Aska menggeleng tak berdaya. Memang kadang sikap Queen benar-benar terlihat seperti anak kecil. Tapi malah itu yang membuat Aska gemas. membuat hatinya tak pernah lelah memandang kepolosan tingkah Queen.
"Mas Askaaa...." Teriak Queen dari kamar mandi. Aska yang hendak mengenakan pakaiannya, urung ia lakukan. Ia tersenyum, sambil menarik nafasnya dalam. Tak habis-habis tingkah Queen pagi ini.
Mau tak mau, Aska menghampiri Queen yang terus menerus meneriaki namanya. "Apa sih Ira sayaang?.."
"Temenin aku disini." Pintu kamar mandi Queen buka sedikit. Dan Aska berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi.
"Di tutup dong Ra. Keluar semua itu airnya." Titah Aska tegas.
"Aku takut mas.." Kepala Queen menoleh ke luar pintu. "Ntar kalo setannya tiba-tiba nongol gimana?"
__ADS_1
"Nggak ada setan pagi-pagi gini Ra. Hadoh!" Aska mengusap wajahnya kasar. "Setannya itu ngikutin aku, kalo aku disini ya setannya ada disini, kalo aku di kamar, setannya ikut aku di kamar.. ngerti?"
"Enggak. Pokoknya kamu diem disitu, sampe aku selesai mandi, titik." Aska kembali memasukkan kepalanya, bersembunyi di balik pintu.
"Yaudah tutup pintunya. Banjir tuh.. airnya keluar semua."
"Yaudah, kalo gitu kamu masuk aja, biar aku bisa tutup pintunya." Tawar Queen.
"Ya aku jadi basah semua dong. Aku kan udah mandi..."
"Siapa suruh kamu mandi duluan."
"Udah mandi buruan, aku tungguin disini." Tak lama terdengar guyuran air di dalam kamar mandi.
"Mas Aska?" Panggil Queen.
"Iya. Aku masih disini."
Begitulah terus, sampe Queen menyelesaikan mandinya. Pintu kamar mandi yang terbuka, membuat Aska menatap ke arah pintu dengan waspada.
"Jangan keluar dulu." Suara Aska mengejutkan Queen. Sontak membuat langkah Queen terhenti. "Kamu udah selesai?"
"Udah." Queen dengan wajah polosnya. "Kenapa?"
"Banjir semua nih." Aska maju, mengambil kain pel yang tergantung dekat pintu kamar mandi. "Bentar. Aku beresin ini dulu." Queen menarik nafas lega. Ia fikir ada apa tadi.
"Makanya, tutup pintunya. Kalo kamu kepeleset gimana? Udah nih." Aska mengulurkan tangannya, memegangi tangan Queen, agar wanitanya tidak terpeleset saat keluar dari kamar mandi.
"Besok gimana Ra, kalo aku kerja nanti?" Aska menggeleng saat memikirkannya.
"Ya aku nggak mandi sampe kamu pulang."
"Ya ampun.. aku kan mau nya istri aku udah cantik plus wangi kalo aku udah pulang kerja nanti."
"Yaudah, suruh kak Rendi aja yang nemenin aku. Kan biasanya kamu selalu ngandelin dia buat bantuin urusan kamu." Aska memicing menatap Queen.
"Enak aja. Nggak akan ya, jangan harap. Untuk yang satu itu, aku nggak bakal minta bantuan sama dia." Aska berdecih. "Mending kamu mandi pas aku udah pulang, jadi kita bisa mandi berdua. Dari pada kamu udah cantik, tapi orang lain duluan yang liat."
"Haha... Yaudah yuk lah buruan."
Queen dan Aska segera mengenakan pakaian mereka masing-masing. Tapi Queen tetap membutuhkan bantuan Aska saat menaikan resleting di balik punggungnya.
"Cantik banget sih kamu."
__ADS_1
Cup! Aska mengecup punggung Queen yang terbuka.
🙃🙃😉