
Meski jam tugasnya sudah selesai sejak dua jam lalu, tapi Aska belum ingin pulang. Ia masih setia menanti kedatangan Fiki dari patrolinya.
"Kemana sih nih orang. Tidur kali nih bocah." Aska gemas, kesabarannya mulai menipis untuk Fiki.
Memang wajar jika Aska kesal, pasalnya, anggota lain yang tergabung dalam tim Fiki sudah sampai sejak tadi, bahkan beberapa diantara mereka sudah memilih untuk pulang.
Lalu kenapa bocah yang fikirannya tak jauh berbeda dengan Rendi itu tak kunjung datang. Aska menanti kedatangannya karena kotak bekal miliknya yang di bawa Fiki.
Queen sudah berulang kali mengirim chat kepada Aska. Queen bahkan sempat menghubunginya via video call, mencari tau kebenaran yang di katakan oleh suaminya.
"Masih lama nggak sih mas? Aku mau berangkat kuliah ini." Queen yang sudah tak sabar menunggu Aska pulang. Hatinya kian kesal dengan jawaban Aska yang terus saja mengatakan masih menunggu Fiki.
"Yaudah, tungguin aja sih Fiki di situ sampe mataharinya tenggelem lagi. Aku mau berangkat kuliah sekarang." Queen memutuskan panggilannya sepihak, membuat Aska geram, sedikit frustasi.
Aska bukannya hanya diam diri terus menunggu Fiki. Lelaki itu sudah berusaha menghubungi ponsel Fiki berulang kali. Tapi Fiki tidak juga mengangkatnya.
Baiklah, habis sudah kesabaran Aska saat ini. Ia sudah tahan lagi, Queen jiga sudah terlanjur marah, jadi lebih baik pulang dan berterus terang saja nanti.
Toh, cepat atau lambat mulut lemes Fiki akan memberi tau kebenarannya pada Queen. Dari pada Queen marah dua sesi, jadi mending ia bilang sekarang. Tapi, tunggu setelah Aska berada di dalam kamar. Agar dirinya masih bisa masuk walau Queen marah.
Aska beranjak, masuk ke dalam mobil pribadinya dan melajukannya ke arah pulang. Selama perjalanan pulangnya Aska berusaha memikirkan cara yang tepat agar Queen tidak marah dengan serius.
Satu setengah jam perjalanan Aska tempuh, hingga dirinya sampai pada lahan parkir kontrakan mereka.
Dengan hati yang berdegup, Aska berusaha santai seolah tidak terjadi apapun. Ia berjalan dengan tegap dan wajah yang tegas. Sesekali senyumnya mengembang, ketika ada tetangga yang menyapa nya.
Aska mengetuk daun pintu kamarnya beberapa kali, menunggu beberapa saat namun tak kunjung mendapat jawaban.
Aska mulai takut, mungkinkah Queen merajuk dengan sama yang seperti temannya katakan semalam?
"Mba Queen nya pergi tadi pak.." Salah seorang Ibu yang tadi menyapa Aska memberi tau nya.
"Oh iya bu. Saya lupa, tadi dia pamit berangkat kuliah." Itulah kenyataan dalam hati Aska. Ia seperti berkata pada dirinya sendiri.
Betapa cerobohnya Aska saat ini. Entah berapa banyak pikiran dalam kepalanya hingga membuat dirinya menjadi tidak fokus.
Aska menarik gagang pintunya, dan ternyata tidak di kunci. Aska benar-benar merutuki dirinya sendiri. Sungguh, hampir saja ia membuat orang berfikiran buruk tentang istrinya sendiri. Aska sendiri malah sudah berfikiran buruk pada Queen.
__ADS_1
Ah.. nasib Aska masih bagus. Queen tidak ada di rumah sekarang, setidaknya Aska masih punya waktu untuk merehatkan tubuhnya.
Aska bergegas ke arah bagian paling belakang dari kamarnya. Namun saat ia melewati meja makan dekat dapurnya, Aska melihat Queen sudah menyiapkan makanan untuknya.
Queen benar-benar memikirkan tentang Aska setelah mereka resmi bersama. Bukan lagi hanya bisa bersikap manja dan marah-marah. Queen sudah tau apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang istri.
Aska begitu terharu, meski hanya nasi uduk yang Queen beli di luar sana, tapi setidaknya Queen sudah berusaha. Dan Aska sangat menghargai itu.
Aska bergegas membersihkan tubuhnya yang sudah terasa gerah. Kemarin habis hujan, tapi kenapa udara malah menjadi gerah. Angin seperti menghilang entah kemana.
Tapi cuaca seperti ini sangat di sukai para kaum hawa. Mereka hanya berfikir agar cucian mereka cepat kering.
Cucian? Mungkin Aska bisa merayu agar Queen tidak marah nanti, dengan membersihkan baju kotor. Semoga saja Queen belum sempat mencuci.
Setelah ia selesai membersihkan tubuhnya, terasa segar dan nyaman. Belum sempat ia mengenakan atasan, Dan handuk yang masih mengalung di lehernya, Aska mengambil piring dan membuka bungkusan nasi uduk yang tadi ia lihat tadi.
"Thanks my wife.." Ucapnya sendiri. Dengan setengah telanjang, Aska memakan sarapan yang di sediakan oleh Queen. Ia duduk di bangku depan tv.
Ketenangan yang sejak.semalam hilang dari dirinya, kini dapat ia rasakan kembali. Rencananya juga sudah tersusun apik. Pokoknya begitu Queen pulang nanti, semua pekerjaan rumah sudah selesai ia kerjakan.
Siapa sangka, jika ketenangan itu hanya dapat sebentar ia rasakan. Saat daun pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan wajah Queen perlahan menyembul dari balik pintu.
"Engga ah, kalo aku berangkat kuliah, berati hari ini kita nggak ketemu." Queen masih bersikap manis seperti biasanya.
"Ya ampun Ra.. maafin saya ya, tadi pulangnya kesiangan." Aska mengecup pipi Queen sebentar lalu mengunci pintu kamarnya.
Akan ada ledakan yang kekuatannya tidak terduga nanti, dan Aska tidak ingin dampaknya meluas keluar. Maka ia cepat-cepat mengantisipasinya. Segera ia cabut kunci itu dan menaruhnya di bagian atas lemari pakaiannya. Queen tidak akan sampai.
"Ada apaan nih, make di kunci segala." Tebak Queen, ia meletakkan kembali tas yang ia bawa untuk kuliah tadi.
"Ehm.. engga ada apa-apa sih Ra.. cuma pengen berduaan aja ama kamu." Alibi Aska. "Tiduran yuk, ada yang mau saya obrolin sama kamu." Aska menarik tangan Queen sampai di atas kasur.
Entah karena Queen yang peka sebagai seorang istri akan perubahan sikap suaminya. Atau Queen yang sudah sangat mengenal jelas sikap Aska. Tapi Queen sangat yakin, ada sesuatu yang di sembunyikan Aska.
'Tunggu, ini pasti masalah makan semalam' Batin Queen.
Aska menyempatkan dirinya menenggak satu gelas air putih dalam gelas panjang. Dadanya tak kunjung tenang. Detaknya masih memburu, di liputi rasa khawatir dengan jawaban dari Queen nanti.
__ADS_1
"Kamu udah mandi Ra?" Tanya Aska, sambil beranjak masuk ke dalam selimut, berbaring dengan posisi miring menghadap Queen.
"Udah lah. Ada apaan sih mas? ngomong ajalah nggak usah bertele-tele." Queen mulai tak sabar.
"Ehm.. sebenernya..bekel semalem, bukan saya yang makan." Aska terbata, ia sambil mengantisipasi perubahan dalam raut wajah Queen.
Queen diam, matanya memicing menatap manik mata Aska.
"Jahat banget kamu mas, aku udah siapin, tapi kamu malah kasih ke orang lain. Nggak ngehargain perjuangan aku banget sih mas kamu." Queen tidak menangis, tapi emosinya begitu ingin meledak di hatinya.
"Maaf Ra.. tapi bukan saya yang kasih, itu si Fiki yang main serobot ambil bekel saya. Saya juga udah berusaha ngejar dia. Tapi dia curang, udah naik mobil baru kasih tau saya. Jadi saya nggak sempet ngambil balik. Maaf ya Ra.. kita masak lagi aja yuk sama-sama."
Queen kesal, sangat kesal. Tapi anehnya ia tidak bisa meledak. Hanya rasa kecewa dalam hatinya yang ia rasakan. Queen juga tidak bisa menangis, tidak bisa meluapkan emosinya. dengan kata-kata. Queen hanya bisa diam, mendengar penjelasan suaminya. Hanya diam merasakan kecewa menguasai hatinya.
Queen berbalik memunggungi tubuh Aska. Dirinya sampai tidak tau harus berbuat serta berkata apapun. Ia tidak ingin dekat dan mendengar suara Aska.
"Ra.." Cicit Aska. Lelaki itu berusaha memeluk tubuh Queen dari belakang, tapi Queen menolaknya.
"Minta maaf banget Ra.. nanti biar saya yang kasih balesan buat si Fiki nanti." Aska begitu kesal saat menyebut nama Fiki.
"Mungkin masakan aku nggak enak, nggak usah nyalahin orang lain, ngomong aja yang jujur." Queen memejamkan matanya. Tak ingin lagi meneruskan penjelasan Aska.
Queen beranjak bangun dari tidurannya.
"Mau kemana kamu Ra?" Aska mulai khawatir.
"Aku mau ke kamar aku, aku lagi males sama kamu."
Aska mulai risau. "Nggak usah begitu Ra, disini aja, saya aja yang ngalah, saya pindah ke depan tv, kamu tiduran aja disini." Bukankah Aska paling takut berpisah dengan Queen, laku kenapa dirinya yang menawarkan dirinya menjauh dari Queen.
Queen kembali merebahkan dirinya membelakangi Aska. Satu kecupan yang Aska akan berikan di hindari oleh Queen.
Sedikit rasa sesak di dadanya.
"Marahnya jangan lama-lama ya Ra.. kalo ada yang kamu mau ngomong aja sama saya, saya bakal turutin, asal kamu nggak marah lagi sama saya."
Aska beranjak meninggalkan kasur tempat Queen berbaring. Bergerak berjalan ke arah depan tv meninggalkan wanitanya dengan waktunya.
__ADS_1
🙃🙃😉