
Sekat hati tak menahan jua
lelah aku pada setiaku
Mengapa kau datang, memberiku cinta
oh inikah indah mendua
haruskah.. ku hempas..
Jangan kau tanya, kan cinta untukmu
disini yang ada dirimu
adakah benarnya, janji di atas ingkar
disana yang ada ragu..
Oh inikah indah mendua
pergi saja pergi, bawa jauh cintamu
ku tau ini tak adil untukmu
sesalkan adanya..
Jangan kau tanya, kan cinta untukmu
disini yang ada dirimu
adakah benarnya, janji di atas ingkar
disana yang ada ragu..
Bukankah kita mengerti
dan kita sadari janji
kan hindari cinta..
jangan kau tanyakan cinta..
Sebait lagu milik Audy item dengan judul janji di atas ingkar. Awal yang menyenangkan bagi Queen saat bermain-main dalam hubungannya bersama Aska dulu. Queen sadar, sejak pertama ia merasakan ada sesuatu diantara Aska dan dirinya, harusnya Queen paham dengan konsekuensi yang akan dirinya terima nanti, kelak karma pasti akan datang.
Tapi sayangnya, rasa haus kasih sayang Queen, di tambah kenyamanan yang Aska tawarkan membuat Queen seperti terjerat dan tak bisa menolak apapun tentang Aska.
Semua hal yang mereka lalui, tak ubahnya seperti menyayat luka yang tak terlihat di hati Arya, yang kala itu masih menjadi kekasihnya. Queen sadar, janji apapun atau semua ucapan manis yang Queen berikan mungkin tak sepenuhnya akan diterima oleh Aska begitu saja. Pasti, suatu saat, meskipun sudah larut dalam kurun waktu yang lama, kelak akan ter-ungkit kembali. Dan ketika waktu itu tiba, kejujuran sudah tidak bisa menyelamatkannya. Hanya rasa saling percaya yang harus mereka junjung tinggi dalam hati mereka masing-masing.
Meskipun Aska selalu berfikir jauh lebih dewasa dari dirinya, tapi Aska adalah lelaki biasa yang tak luput dari amarah dan khilaf.
Queen berharap, dan selalu berharap, lelaki yang sudah menjadi suaminya kini, tidak akan pernah berubah. Terutama tentang rasa kasih dan kenyamanan yang Queen rasakan sejak dulu.
Jika saja itu semua terjadi. Andai kata Aska dan Queen mulai memiliki konflik internal yang dalam. Haruskah Queen menyerah, atau diam di tempat membiarkan hingga masalahnya hilang seiring waktu, atau Queen harus mundur satu langkah demi tiga langkah kedepan, yang artinya Queen harus mengalah pada keputusan yang di ambil Aska, demi kenyamanan, kejujuran dan kepercayaan yang akan Queen terima lagi.
Semoga saja semua itu tidak pernah terjadi. Dan jangan sampai pernah terjadi. Semua mengharapkan yang terbaik.
Disinilah Queen sekarang, setelah rasa penyesalan bersarang di hati juga benaknya. Entah rasa bersalah apa yang paling besar ia rasakan.
Merasa salah karena menerima hadiah dari Arya, dan takut membuat Aska marah?
Merasa salah karena menduakan Arya, yang sudah siap dengan rencana kedepan mereka?
Merasa salah karena bertindak terlalu gegabah dalam mengambil setiap keputusan?
Sialnya Queen yang selalu mengulangi kesalahannya lagi dan lagi. Padahal Queen sudah berusaha agar dirinya tidak terjebak dalam masalah dari setiap keputusan yang ia ambil sepihak. Tapi Queen adalah Queen. Ia benar-benar selalu ssndyiri, hingga tak ada tempat yang ia jadikan sandaran hatinya saat dalam masalah, kecuali Rindi. Ya Rindi.. tapi sahabatnya itu juga tengah mempersiapkan dirinya untuk masa depannya kelak.
Queen sekarang punya mama. Benar ada mama.. Queen bisa menceritakan segalanya kepada mama, tapi bagaimana reaksi mama nanti, jika sampai Queen menelfon nya, bercerita panjang lebar sambil menangis. Akankah mama Queen mengira Aska telah menyakiti putri yang sudah ia titipkan padanya.
Queen tidak bisa menceritakan pada mamanya. Itu terlalu beresiko.
Sebenarnya Queen masih punya satu Tante yang tinggal di rumah eyangnya, sayangnya Queen tidak ada waktu untuk kesana sekarang.
Ponsel Queen terus berbunyi dengan panggilan dari husband. Queen bingung, sebentar lagi ojek Yang ia tumpangi akan sampai di kontrakannya. Apa yang Queen harus lakukan pada Aska tentang cincin pemberian Arya.
Haruskah Queen merahasiakannya, atau berbicara jujur padanya? Tapi Aska sedang dalam sikap yang aneh sekarang. Queen tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dan apa yang akan Aska lakukan.
Semua ini begitu membuat Queen menjadi cemas.
__ADS_1
Apalagi melihat Aska yang sudah menunggu kedatangannya di depan pintu, semakin membuat Queen mengeluarkan keringat dingin. Ia takut. Sangat takut. Tapi apapun masalahnya, Queen harus tetap hadapi. Kita tidak akan pernah tau hasilnya, jika kita tidak melihatnya sampai akhir.
"Hai mas.." Sapa Queen. Tangan Aska sudah bertengger di atas pinggangnya, tatapan tajam Aska menyorot manik mata Queen. Semakin membuat Queen salah tingkah.
"Kamu dari mana aja sih, telat banget pulangnya." Selidik Aska. Meski suaranya rendah, tapi intonasinya tinggi. Queen sedikit hawatir untuk bercerita.
"Ya ampun mas.. namanya juga murid, ya nggak bisa seenak dosen lah yang bisa atur pulang cepet atau di lambatin. Kayak aku tadi. Waktunya udah selesai, tapi karena lagi kuis, jadi agak molor dikit deh.." Queen menunjukan deretan gigi putihnya pada Aska.
"Masuk yuk mas.." Ajak Queen. Tanpa ada jawaban atau anggukan, Aska mengekori Queen dari belakang, berperan sebagai penutup pintu.
"Kamu lama banget sih Ra.. saya udah nungguin dari tadi tau." Ulang Aska, ia masih tampak kesal.
"Iya maaf maaf.. emang mau ngapain nunggu aku?" Queen membalas pandangan Aska, setelah meletakkan tasnya di atas meja rias di kamarnya.
"Lho, kok kamu tanya kenapa? Emangnya salah kalo suami nungguin istrinya. Apalagi istrinya pulang lebih lama dari janjinya." Sindir Aska.
"Iya iya deh, aku salah lagi, salah lagi.." Queen mengulangi.
Tatapan Aska masih tajam melihat Queen, hingga membuat Queen enggan membalas tatapannya. Queen berusaha mengedarkan pandanganya. Mengabsen setiap benda yang ada pada kamar Aska.
Aska semakin mendekat, jarak tubuh mereka saling berdekatan, dan Queen mulai gugup. Aska menarik dagu Queen ke atas, memaksanya membalas tatapan tajam Aska. Dan..cup. Satu kecupan Queen terima.
cup.. lagi, Queen merasakan bibirnya basah karena Aska.
"Mas.." Cicit Queen. Ia sudah memutuskan untuk memberi tau kebenarannya pada Aska. Tidak ingin ada kesalahpahaman kelak.
Tapi sayangnya, Aska tak menginginkan Queen menginterupsi keinginannya.
Aska melahap rakus bibir Queen. Memangut nya dengan dalam dan penuh hasrat. Queen fikir ini adalah alarm palsu yang Aska berikan padanya, sama seperti kemaren dan tadi pagi. Queen hanya menikmatinya.
Tapi gerakannya kali ini terasa berbeda. Tak sama dengan alarm palsu sebelumnya.
Queen merasakan Aska seperti sedang memastikan miliknya. Ia meraup dengan sembarang bibir Queen. Dengan tangan Aska yang menangkup pipi Queen. Membuat Queen mau tidak mau harus menerima hukuman yang Aska berikan.
Tunggu.. Apa? Hukuman?
Kenapa Queen merasa Aska sedang menghukumnya. Kejadian ini sama saat Aska sedang cemburu dulu karena Agung. Ketika Queen melewatkan malam pergantian tahun baru bersama Agung, Aska melihatnya berada satu mobil dengan Agung, dan saat itu pula, saat Queen sampai di rumah, Aska juga sampai, padahal Aska tengah bertugas mengamankan kondisi lalu lintas, di bawah guyuran hujan. Tapi Aska menyempatkan datang, demi melihat tubuh miliknya.
Kejadian ini seperti De Javu bagi Queen. Mengingat Aska yang menelfon Queen saat Queen tengah bersama Arya, dan Aska yang sudah berkacak pinggang di depan rumah menanti kedatangan Queen, lengkap sudah. Kini semuanya menjadi jelas untuk Queen.
Apa yang harus Queen lakukan sekarang? Queen tidak bisa memberontak. Tubuh Aska terlalu berat, jika Queen harus melawan cekalannya.
Yasudah, kepalang basah. Lebih baik Queen menikmati yang Aska berikan padanya. Membuat lelakinya lebih berbangga diri dulu, demi membuat emosinya padam. Baru lah Queen menceritakan kejadian yang sebenarnya nanti.
Queen berusaha aktif kali ini, ia tidak ingin Aska berlama-lama dengan bibir dan pangutannya. Tangan Queen bergerak masuk kedalam kaos yang Aska kenakan. Mengusap bagian perut Abs Aska dengan seduktif. Sayangnya Aska menolak sentuhan Queen. Ia meraih tangan Queen. Mendorong tubuh Queen hingga jatuh ke atas kasur. Masih dengan bibir yang saling menyatu.
Aska mengunci tangan Queen dengan genggamannya yang kuat di atas kepala Queen. Membuat Queen semakin tak berkutik. Cecapan demi cecapan yang terdengar dari suara bibir Aska, yang mencium Queen dengan rakusnya. Memang, saat ini tak ada yang bisa menghalanginya lagi. Hasratnya tak perlu Aska tahan. Mereka sudah melakukannya dua kali. Jadi Queen tak punya harapan bisa bebas dari jeratan Aska.
Aska membuka paksa kemeja yang Queen kenakan. Hingga beberapa kancing baju Queen seperti ingin copot. Lelaki ini benar-benar seperti kesetanan. Tangan Aska masih mencekal dua tangan Queen menjadi satu. Satu tangannya bergerak menghempaskan segala penghalang tubuh Queen. Aska juga masih menyumpal mulut Queen dengan bibirnya.
Ya ampun.. semoga Aska masih ingat melakukannya dengan lembut.
Setelah semua penghalang bagian atas tubuh Queen mulai tanggal. Aska menurunkan kecupannya, lidahnya bergerak meluncur ke bawah, menuruni pipi Queen, hingga ke tengkuk leher Queen. Ia sempat menggigit kecil di area itu. Membuat Queen melenguh. Tak cukup sampai di situ, Queen juga mengecup lembut tulang selangka Queen. Mendengar suara lenguhan mendesah Queen. Aska kembali menggigit-gigit kecil setiap area leher Queen. Entah si sengaja atau tidak, Aska sudah meninggalkan bekas kepemilikannya.
Dirasa sudah penuh Aska berganti menikmati dua gundukan di atas dada Queen. Aska tau, leher dan bagian kecil menonjol di atas dada Queen adalah area sensitif Queen.
Ia ingin menghukum gadisnya dengan berlama-lama menikmati tubuhnya.
Aska melepaskan cekalan tangannya, berganti memijat satu gunung milik Queen, dan benjolan kecil di sebelahnya menjadi mainan menyenangkan bagi lidah Aska.
"Aaahmmpf.." Queen berusaauh menahan desahannya agar tak keluar. Saat satu jemari Aska bermain di antara perpotongan inti tubuhnya.
Astaga.. Queen menggila. Baru beberapa saat Aska bermain, tapi Queen sudah hampir sampai di puncaknya.
Aska merasakan dada Queen yang berdetak lebih cepat, mata Queen juga sudah terpejam siap menikmati sensasi itu. Tak urung membuat Aska semakin bergerak lebih cepat.
Lidahnya menyusuri lekukan benjolan di atas gunung. Menyesapnya dengan kencang. Sambil memijat bagian di sebelahnya. Andai saja Queen bisa mengatakan, "Lebih cepet mas.." Sayang nya Queen tidak berani.
Merasakan sentuhan yang Aska berikan pada tempat yang tepat. Satu jari Aska bergerak naik turun mengusap bibir bawahnya dengan seduktif. "Sedikit lagi mas.." Dalam hati Queen.
Saat sesapan di dadanya makin kuat Aska berikan. Jari Aska bergerilya lincah si bawah sana. Saat itu lah dada Queen membusung, tubuh Queen bergerak ke kanan ke kiri, merasakan sensasi ledakan dalam inti tubuhnya.
Aska mengangkat pandangannya, menatap wajah Queen dengan sorot mata penuh arti. Aska kemudian bergerak turun, melepaskan celana bagian dalam yang menutupi inti tubuhnya.
"Ira.. jangan pernah pergi kemanapun pakai rok tanpa saya. Denger?" Dari suara Aska, Queen tau, lelakinya tengah marah.
Belum sirna Queen merasakan sensasi ledakannya tadi. Inti tubuh Queen masih berdenyut-denyut. Tapi lidah Aska sudah turun dan bermain disana.
__ADS_1
Queen kembali, ini pertama kalinya Aska berani memainkan lidahnya di inti tubuh Queen. Ini juga pertama kali Queen rasakan. Sentuhan lembut yang berbeda jika di bandingkan dengan jari Aska dan put*ng yang Aska putar pelan. Membuat Queen kembali membusungkan dadanya. Mata Queen terpejam merasakan sensasi itu lagi. Dan Aahhh.. Queen kembali sampai di puncaknya.
Thanks God. Pelepasan terenak yang pernah Queen rasakan sejak bersama Aska.
Lelaki ini benar-benar ingin menunjukkan kebolehannya, dalam membuat Queen merasa puas.
"Masih mau lagi Ra?" Tanya Aska, Queen diam melihat wajah Aska. Aska yang tak kunjung dapat jawaban kemudian berdiri, hendak membuka sabuknya.
"Mas.." Queen memelas. Ia mengaku ia salah. Dan ia sudah cukup (enak) dengan hukuman yang Aska berikan.
Aska yang raut wajahnya masih terlihat emosi, mulai menatap wajah Queen dengan lembut.
"Aku udah capek mas Aska.." Bagaimana tidak, Queen baru saja pulang dan sudah di beri hukuman. Hanya dalam hitungan kurang dari Tiga puluh menit, terhitung sejak Aska mulai mengecupnya, Queen sudah dua kali sampai pada klimaksnya.
Aska mengusap wajahnya kasar. Ia mendekat ke arah Queen, mengangkat tubuh wanitanya, membenarkan posisi tidurnya, kali ini dengan bantal di bawah kepalanya.
Aska juga yang membersihkan sisa sisa milik Queen. Queen yang lemas dan hampir terpejam sempat mendengar suara seperti hidung yang menarik sesuatu di dalamnya. Mungkinkah Aska pilek?
Queen sedikit membuka matanya, terlihat Aska yang seperti menyeka air bening di ujung ekor matanya. Lelaki itu kemudian pergi ke arah belakang. Mungkin untuk membuang tisu kotor yang ia gunakan tadi.
Dengan sisa sisa tenaga di kakinya, Queen bergerak, bangun mengikuti arah suaminya. Aska sedang berdiri di depan wastafel. Dengan wajah menunduk dan tubuh yang bergetar. Ia seperti menahan tangisnya.
Queen berjalan semakin mendekat. Menghampiri lelakinya dan memeluknya dari belakang.
"Maafin aku mas.." Isak Queen. Wajahnya menempel pada punggung tegap Aska.
"Aku selalu bikin kamu sakit.." Cicit Queen lagi.
Aska segera berbalik. Memeluk tubuh Queen lebih erat lagi. Ia masih berusaha menahan tangisnya, meski dengan tubuh yang bergetar hebat di pelukan Queen.
Queen mengiba, ia mencoba menenangkan Aska. Dengan tepukan pelan pada punggung belakangnya.
"Saya yang harusnya minta maaf Ra..saya yang salah sama kamu dan Arya. Saya udah ngehancurin kebahagiaan kalian.. Saya minta maaf.." Tutur Aska. Sungguh sesuatu yang jauh dari pemikiran Queen. Lelakinya sedang kalut karena masa lalu mereka.
"Enggak ada yang salah mas.. disini aku juga salah kalau ikut cerita kamu. Tapi Tuhan selalu punya jalannya." Queen berusaha menenangkan Aska. "It's okay for you to cry honey.." Bisik Queen lembut. Dan tangis Aska pun pecah.
Benar dugaan Queen, Aska pasti hendak menjemputnya saat melihat Queen bersama dengan Arya tadi. Apa mungkin Aska juga mendengar pengakuan tentang cincin tadi?
Seberapa dekat jarak Aska saat itu. Sampai ia bisa mengetahui semuanya. Tapi semuanya sudah menjadi masa lalu. Dan biarkan berlalu.
"Saya harus gimana buat nebusnya Ra? Saya nggak tau cara bikin kamu bahagia."
Okey stop! Queen tidak suka mendengarnya.
Queen melepaskan pelukannya. Ia menangkup pipi Aska, tsan menyeka air matanya dengan ibu jari.
"Sama kamu disini, sekarang, aku udah bahagia banget mas.. kamu selalu bisa bikin aku bahagia dengan cara kamu. Apapun yang kamu lakuin untuk aku, itu udah lebih dari cukup, untuk kata yang kamu bilang bahagia."
Darimana datangnya kedewasaan kata-kata Queen, pasti menular karena selalu bersama Aska.
Aska sudah selesai dengan tangisnya, ia mengangkat tubuh Queen masuk kedalam, kembali berbaring di atas tempat tidur. Aska masih ingat Queen bilang ia sudah lelah tadi.
Tadinya Aska juga ingin ikut berbaring di bawah selimut bersama Queen. Tapi Aska masih penasaran dengan cincin pemberian Arya tadi. Maka itu Aska meminta izin pada Queen untuk melihat hadiah pemberian dari mantan wanitanya tadi.
Setelah mendapat persetujuan dari Queen, Aska membuka tas Queen untuk melihatnya.
Ia mengamati setiap detil dari lekukan cincin itu. Tak terkecuali berlian yang ada di tengah-tengahnya. Juga nama Queen yang terukur di bagian dalam cincin itu.
Sungguh, sesuatu yang tak bisa Aska berikan pada Queen dengan gajinya.
"Ini pasti mahal banget ya Ra.." Telisik Aska. Masih fokus pada benda yang ia pegang.
"Kalo dia bisa kasih cincin semahal ini buat kamu, pasti dia bisa kasih apapun yang kamu mau." Kali ini pandangan Aska mengarah pada Queen.
"Pastinya. Dia nggak akan nolak apapun permintaan aku." Jawab Queen.
"Kamu nyesel sekarang sama saya?"
"Sekarang sih nggak, nggak tau deh kalau nanti aku liat Arya udah punya debay sama pasangannya. Sedangkan aku, masih nunggu selesai kuliah dulu. Demi patuh sama ucapan suami, aku rela deh ngubur impian terdalam aku." Queen meledek Aska.
Bukannya Aska tidak tau itu hanya drama Queen. Tapi mendengar bagian akhir dari kalimatnya, membuat Aska terenyuh. Bukankah selama ini karir yang Queen ingini. Berkeliling dunia dengan bahasa yang ia mumpuni. Kenapa sekarang ia seolah menyudutkannya dengan kata mengubur impiannya demi patuh ucapan suami. Dasar.
"Pasti Arya juga rela ngasih aku sedikit gen nya kalo aku udah kepengen banget punya debay, tapi suami aku nggak ngijinin." Entah karena raut wajah Queen seperti mengharap, atau karena kalimat Queen. Aska langsung meletakkan kembali benda yang tadi ia pegang. Merangkak naik dan masuk kedalam selimut dekat Queen.
"Ayok kita bikin debay yang kamu suka sebanyak-banyaknya." Aska langsung membuka semua kain yang menutupi bagian tubuhnya.
🙃🙃😉
__ADS_1