
Jadi seperti ini rasanya, kalau wanita sudah asik pada perasaanya. Kita harus menebak apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sedang ia rasakan.
Aska mencoba mengingat rentetan peristiwa yang tadi lewati bersama Queen. Mencoba mengingat setiap kalimat dalam obrolannya.
Rasanya tidak ada yang menyinggung hati gadisnya, lalu kenapa Queen menjadi diam seribu bahasa?
Ya Tuhan.. cobaan apalagi yang akan Aska terima saat ini dalam hubungan mereka. Bagaimana cara menyelesaikan nya jika Queen saja enggan untuk bercerita. Setidaknya berikan sedikit petunjuk bagi Aska. Supaya dirinya tau harus berbuat apa.
Selama sisa perjalanan Queen benar-benar diam, tak ingin bicara, tak mau di ajak bicara. Aska yang semula tadi menantangnya turun di tengah jalan, hanya mendapat tatapan tajam mata Queen. Dan kemudian, gadis itu malah berbalik menantangnya.
Jejak mobil Aska perlahan memasuki halaman parkir dalam kontrakan mereka. Queen masih enggan menunjukkan tanda-tanda alasan sikap diamnya.
Aska sudah tidak ingin berkomentar lagi. Tidak ingin mengganggu keasikan Queen dengan fikirannya.
Aska hanya melongok tak percaya, melihat Queen yang membuka pintu mobilnya sendiri, dan berlari menerobos guyuran hujan.
Bagaimanapun Queen pernah marah dulu, tapi ia tidak pernah Sampai membuka pintu mobilnya sendiri.
Sekali lagi, Aska mengusap wajahnya kasar seraya membuang nafas frustasi. Gelengan kecil di kepalanya pertanda tak mengerti dengan sikap dan kelakuan Queen yang penuh misteri kali ini.
Aska mencoba memberikan ruang bagi Queen, tidak ingin mengganggunya yang sedang bergelut dengan hati juga fikirannya di dalam kamarnya sendiri.
Aska lebih memilih masuk ke dalam kamar, mengamati Queen dari ponselnya. Bagaimana caranya mengamati Queen dalam ponselnya? Ya melihat dari status setiap aplikasi sosmed milik Queen. Mungkin saja ada petunjuk nantinya.
Aska duduk di sofa depan tv, masih fokus berselancar pada layar ponsel miliknya. Membuka setiap jaringan sosmed milik Queen. Masih tak ada petunjuk. Aska putus asa. Baiklah, mungkin ini karena masa periode wanita, seperti bulan sebelumnya.
Satu aplikasi terakhir yang belum Aska lihat, jika ini juga tidak ada petunjuk, berarti benar, Queen memang sedang ingin sendiri.
Aska membuka status milik Queen dalam aplikasi WhatsApp. "Cowok emang nggak pernah peka" tulis Queen.
Aska terpana, hatinya serasa ter-tikam sesuatu yang tajam tapi tak berdarah.
Apalagi kali ini, kesalahan apalagi yang sudah ia lakukan. Aska kembali mengingat ucapannya.
Oh.. mungkinkah karena Queen tidak suka Aska menjemputnya? Lho? Bukannya setiap wanita selalu ingin di perhatikan. Kenapa Queen nya malah tidak senang di perlakukan bak putri.
Mungkin juga karena Queen merasa Aska tidak menghargai usahanya? Ah.. berat rasanya kepala Aska memikirkan sikap konyol Queen yang tak ada henti-hentinya.
__ADS_1
"Ayok bicara baik-baik. Saya minta maaf kalo sikap saya nggak peka menurut kamu. Tapi saya bener-bener nggak bisa baca isi hati kamu." Aska membalas status milik Queen.
Tak lama, chatnya mendapat jawaban dari Queen.
"Kayaknya kita perlu pikirin ulang deh tentang pernikahan kita."
What????? Demi apapun God? Ada apa dengan Queen, masalahnya semakin menjadi serius jika sudah menyangkut tentang pernikahan. Aska sudah tak ingin ambil resiko lagi.
Ia bergegas menuju kamar Queen yang tak lain letaknya ada di sebelah kamarnya sendiri. Ya, bagusnya jarak mereka sangat dekat, andai kata tidak begitu, entah bagaimana Aska akan membawa laju kendaraannya agar sampai cepat di depan kamar Queen.
Nasib bagus masih Aska miliki, kebiasaan sikap Queen yang selalu lupa untuk mengunci pintu, membuat Aska leluasa masuk tanpa perlu mendobrak daun pintu penghalangnya kini.
"Ira.." Seru Aska. Tidak lagi ada kelembutan, tidak lagi ada toleransi. Ini sudah kelewat batas. Aska tidak tau apa yang terjadi, tiba-tiba di bilang tidak peka, juga dengan gampangnya Queen meminta menunda pernikahan mereka, yang bahkan tinggal tiga hari lagi.
Salah satu kebiasaan Aska yang juga sangat bertentangan dengan Queen adalah, ia selalu mengunci pintu dimana pin itu, jika ia sedang menyelesaikan masalah bersama Queen.
"Kamu kenapa sih? Hng?" Tegas Aska.
Queen yang terkejut sedang bersandar pada kepala ranjang kasurnya, segera menegakkan tubuhnya mengahadapi amarah Aska.
Aska duduk di hadapannya. Mengunci pergerakan Queen. "Kenapa? Saya salah apa? Coba ngomong yang jelas." Pinta Aska. Suaranya masih tidak menunjukan kelembutan.
Lelakinya yang berbicara tegas dengan wajah serius. Queen sangat tertarik, selalu ingin melihatnya lagi dan lagi. Tapi tak semudah itu, Aska sangat tidak ingin menunjukan marahnya pada Queen.
"Ngomong sekarang." Pinta Aska sekali lagi dengan lebih serius.
"Aku ragu sama perasaan mas Aska." Kalimat telak yang entah Queen dapatkan dari mana pemikirannya. Kenapa tiba-tiba ia ragu. Aska tak habis pikir. Gadisnya kali ini benar-benar memberinya banyak sekali kejutan. Lebih tepatnya seperti syok therapy.
Aska diam. Ia ingin tertawa, ia juga ingin marah, ia juga ingin ******* habis bibir ranum yang pandai membuat hatinya bergejolak.
"Ragu kenapa?" Aska melembut. Akhirnya ia dapatkan isi pemikiran gadisnya.
"Mas Aska kayak nggak tulus sama aku."
"Nggak tulus gimana sih Ra? Ya ampun.." Aska putus asa. Tangannya mengepal menahan rasa gemas yang sudah menjalar di dalam tubuhnya.
"Ya mas Aska nggak pernah peka sama sikap aku."
__ADS_1
"Bagian mana? Di mananya coba kasih tau saya, Ya saya kan emang bukan magician yang bisa nebak isi kepala kamu." Aska menyentuhkan jari telunjuknya pada kening Queen. Ia benar-benar sudah gemas dengan kekonyolan Queen saat ini.
Aska merapatkan duduknya, lebih dekat dengan Queen. Menatap manik mata gadis manja di depannya itu.
"Begini ya Ira sayang.. maksud kamu saya nggak peka karena nggak bisa tau mau kamu? tadi juga kamu bilang kamu ragu sama perasaan saya. Karena saya nggak pernah tunjukin sayang saya sama kamu? Atau karena saya yang jarang ngucapin kalimat sayang sama kamu? Yang mana yang bener?"
"Aku nggak perduli sama ucapan kayak gitu." Jawab Queen.
"Ya terus kenapa sih? Saya mah makin bingung deh."
"Tau ah.." Lagi, kalimat itu keluar lagi dari mulut Queen. Aska sudah menahannya sejak kemarin. Tidak ingin mendengar ucapan seperti itu.
"Ra, kamu pikir pernikahan itu main-main ya Ra? Kita udah maju sidang, seluruh anggota polisi yang bertugas disana tau, kalo saya bentar lagi mau nikah. Undangan juga udah di sebar. Bukan cuma kita, tapi orang tua kita Ra.. Kamu nggak takut bikin mama kamu kecewa lagi? Jadi please, jangan ngomong sembarangan tentang pernikahan ya Ra.."
"Kenapa? Emangnya aku salah? Wajar dong aku minta buat fikirin lagi acara itu, apalagi aku ragu sama perasaan pasangan aku." Jawab Queen enteng.
Aska menggeleng frustasi.
"Oke. Kamu mulai diem waktu kita ada di mobil kan? Karena saya jemput kamu tanpa kasih tau kamu? Tapi itu itungannya bukan karena nggak peka dong? Saya sayang sama kamu, makanya saya jemput kamu karena nggak mau kamu kenapa-kenapa."
"Kamu tau nggak mas?" Aska terdiam penasaran. "Kamu yang sekarang bawel. Aku nggak suka."
Demi apa Tuhan? Seluruh emosi Aska tadi, yang sudah memanas sampai ke ubun-ubun. Yang sudah membakar hatinya. Seketika luntur dan ambyar hilang jatuh berserakan bercampur dengan sisa becekan karena hujan.
Tubuh Aska lemas seketika. Mendengar pernyataan Queen lagi dan lagi.
Ia mengusap belakang tengkuknya, mencoba mengalihkan rasa gemas yang benar-benar sudah bersarang di hatinya.
Tanpa pikir lagi, Aska menarik dagu Queen, memaksanya mendekat dan ******* bibir manis Queen. Bibir yang sedari tadi dengan gamblangnya mengucapkan kata-kata yang tak terduga bagi Aska.
Lumatan itu dalam sedikit memaksa. Queen yang tak siap, hampir saja kehabisan nafas, jika saja Aska tak segera melepaskan pangutannya.
"Coba kamu fikirin lagi, dimana yang saya nggak peka? Seberapa jauh keraguan kamu sama saya." Aska laku beranjak pergi, meninggalkan Queen yang terpaku dengan perlakuan Aska.
Tak lama satu pesan Queen terima setelah kepergian Aska dari kamarnya. "Saya tugas malam."
Kali ini Queen yang syok. Berati malam ini Queen harus tidur sendiri, setelah Aska meninggalkan jejak hangat di bibirnya.
__ADS_1
Inikah yang Queen mau? Ada perasaan senang saat Aska melakukannya. Kenapa Aska harus bertugas malam, saat Queen tau apa yang sedang di inginkannya.
Karma di bayar tunai.