
Baiklah. Siapa yang tau bagaimana perasaan Aska kali ini. Semua rasa bercampur jadi satu dalam hatinya sekarang. Rasa bersalah, takut, kecewa, dan entah ada rasa bahagia di dalamnya atau tidak. Yang jelas perasaan kalutnya lebih banyak melingkupi sebagian besar dalam hatinya.
Bagaimana bisa hanya dalam waktu yang singkat ia bisa kecolongan. Wanita yang selalu ia jaga selama berhari-hari yang lalu, kini harus terbaring lemah tanpa suara karena kecerobohannya saat meninggalkan wanitanya sendirian dalam rumah, padahal sang ibu sudah memperingati untuk terus berada di sisi Queen, jangan pernah meninggalkannya seorang diri.
Nasib baik, Aini pulang lebih awal dari biasanya, jadi ia bisa menemukan Queen yang sudah mengerang menahan sakit. Keringat dingin malah sudah membanjiri seluruh tubuh Queen. Aini panik, ia bingung harus bagaimana. Lebih beruntung lagi Aini sempat bertemu dengan abangnya saat di perjalanan, jadi ia tau di mana abang nya itu berada. Dengan cepat dan rasa panik, Aini berlari menyusul sang abang. Ia takut, tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada. Tak ingin hal yang tak di inginkan terjadi.
Bayi mungil sudah berhasil di keluarkan dengan selamat. Bayi wanita yang putih dan cantik, imut seperti ibunya, benar-benar mirip dengan wajah seorang Queeneira Wijaya. Yah.. siapa saja tau, wajah seorang bayi kecil masih bisa berubah-ubah. Tapi kali ini, di mata Aska anak pertamanya itu benar-benar titisan dari bundanya.
"Ra, anak kita perempuan.. cantik kayak kamu." Wanita itu masih terlelap dalam mimpinya, masih sulit untuk membuka mata.
Queen bukan melahirkan di rumah sakit, terlalu membutuhkan waktu lama, jika seandainya mereka harus menuju rumah sakit, jadi, hanya membawanya ke bidan terdekat.
Aska masih setia berada di sisi Queen, berjam-jam saat wanitanya tertidur, ia terus memandangi Queen juga anak pertamanya, bergantian. Hatinya juga masih berharap cemas. Takut-takut nanti ada sesuatu yang terjadi lagi pada Queen. Tapi anak perempuan nya itu menguatkan hati Aska. Apapun yang terjadi nanti, Aska masih memiliki Queen dalam hatinya.
***
Ibu manapun tau, ASI adalah hal penting yang harus di dapatkan bagi anak yang baru lahir, namun bagaimana ia bisa mendapatkan, jika bundanya masih tergolek lemah, menutup matanya dengan rapat.
__ADS_1
"Ira.." Bisik Aska di telinga Queen, air matanya terkadang menetes membasahi pipi Queen yang berada di bawah wajah Aska. Tak habis pikir, kenapa wanitanya itu masih enggan untuk terbangun. Jika keadaanya masih begini terus, terpaksa Queen harus di bawa ke rumah sakit.
Namun baru saja Aska memikirkannya, perlahan mata Queen mulai mengerjap. Membuat perasaan Aska membuncah.
"Ra.. " Jemari Aska mengusap pipi Queen. Bahagia mulai melingkupi.
"Mas Aska.." Suara Queen pelan, tertatih.
"Iya sayang.. aku disini." Aska terus mengecupi punggung tangan Queen.
"Aku mau pipis.."
"Kita harus pake selang ya mba.." Bu bidan mulai mengerti, sebenarnya ia sedikit bingung, karna sesudah melahirkan tadi, ia merasa di bagian perut Queen masih mengeras. Siapa sangka itu ternyata air pipis yang sulit di keluarkan oleh Queen. Mungkin akibat Queen sering menahan pipisnya semasa hamil, atau entah. Bidan tak mengatakan apapun pada Queen maupun Aska.
Mau tau rasanya di selang untuk mengeluarkan air dalam kantung kemih itu? Rasanya lebih menyakitkan dari saat melahirkan. Jika lubang untuk melahirkan bisa melebar dengan elastis, berbeda dengan lubang untuk pipis. Itu sama sekali tidak elastis dan lebih kecil. Rasa sakit saat pertama di masukan, Queen meronta tidak kuat. Aska yang melihatnya, bahkan mulai berubah raut wajahnya.
Kenapa Queen harus merasakan rasa sakit yang berulang, hanya demi mendapatkan buah hati idamannya. Apa yang bisa ia lakukan demi membantu menahan rasa sakit istrinya? Lelaki itu hanya bisa mendampingi Queen, menggenggam tangannya sambil mengusap wajah Queen lembut. Mencoba mengalihkan rasa sakit itu, hingga selang berhasil terpasang.
__ADS_1
"Kamu tau Ra, anak kita perempuan.." Bisik Aska lagi.
Queen hanya tersenyum, mencoba menahan rasa sakit itu. Perlahan rasa di dalam perutnya mulai lega. Tak lagi tegang seperti sebelumnya.
"Kalo gitu, anak kedua kita harus laki-laki ya mas, biar sama yang kayak kamu mau."
Wajah Aska terkejut. Matanya mengerjap berulang kali. Salahkah pendengarannya? Bagaimana bisa perempuannya berujar demikian, ia bahkan barusan mengalami rasa sakit pasca melahirkan. Kenapa masih berfikir untuk melahirkan lagi? Dimana isi otak perempuan ini?
Aska hanya bisa tersenyum kecut. Dalam hatinya, tidak akan ada kesekian kalinya lagi. Cukup satu, sama seperti istrinya. Hanya satu anak perempuan yang semata wayang. Tidak mau lagi melihat Queen merasakan sakit itu.
Yang terpenting baginya, ia sudah memberikan apa yang Queen mau. Seorang anak perempuan. Sudah cukup. Jika Queen menginginkan suasana rumah yang ramai dan hangat. Aska yang akan memenuhinya. Berjanji selalu ada saat wanitanya membutuhkannya. Memberikan rasa nyaman dan aman dengan sepenuh hatinya tanpa mau melihat wajah muram Queen.
Hati Aska sudah terlalu bahagia dengan memiliki dua bidadari dalam hidupnya. Apapun, apapun yang kedua bidadarinya itu inginkan, tapi tetap tegas jika itu tidak baik.
"Kamu tau Ra. Aku udah bersyukur banget dengan apa yang Tuhan kasih untuk kita." Queen membalas tatapan Aska. "Aku bener kan Ra. Aku selalu bisa kasih apa yang kamu mau. Jangan takut kesepian lagi. Aku bakalan selalu ada buat kamu." Kecupan sayang Aska berikan pada kening Queen. Dalam dan hangat.
**End**
__ADS_1
🙃🙃😉