Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
enam belas


__ADS_3

"Bunda" Cicit Gita pelan. Satu tangannya menopang kepalanya dengan siku yang berpangku pada sandaran kursi. Dirinya tengah duduk santai bersama ayah juga bunda nya diruang tengah.


"Bunda pernah nggak ngerasain sakit hati?" Sambungnya. Pikirannya tengah melayang pada satu sosok lelaki yang sudah menemani harinya sejak kecil.


Ketika menjemputnya tadi ia sempat meminta ijin padanya untuk pergi bersama wanita terpopuler di sekolah mereka. Bukannya Farhan sudah punya pacar? Kenapa ia pergi dengan wanita lain? Ayolah.. Lelaki itu masih bocil. Bocah lebih kecil dari usia Gita, tapi sudah berani bermain dengan banyak perempuan. Padahal ia belum genap satu tahun masuk di sekolah yang sama.


"Kayaknya aku lagi ngerasain sakit hati deh bun..."


Pelan, tapi jelas Aska mendengarnya.


"Jangan ngawur ya Git. Masih kecil udah ngomongin sakit hati aja." Aska menyentil pelan kening anak semata wayangnya.


"Sakit ayah.." Rengek Gita, seraya mengusap keningnya sendiri. "Bunda.. ayah kok galak."


"Bukan galak sayang..." Senyum Queen meredam emosi sesaat Aska. "Tapi ayah kamu emang kolot." Mata Queen memicing menatap suaminya.


"Maaf ya mas, tapi tolong.. menurut aku tuh Gita agak terlambat deh ngerasain sakit hati gini. Dia itu udah mau lulus SMA, udah cukup umur sih menurut aku." Queen nampak biasa saja saat mengatakannya, tanpa menyadari perubahan wajah suaminya itu.


"Iya kan bun... ayah kolot."


"Ira.. jangan ajarin anak nya yang aneh aneh ya.." Aska memperingati. Dari nada bicaranya, Queen tau, suaminya sudah tidak bisa di ajak bercanda lagi.


"Ayah geser sanaan deh. Atau masuk ke kamar aja duluan, aku mau ngobrol dulu sama anak tersayang aku..." Queen menempelkan pipi nya dengan pipi Gita.


"Enggak ya Ra."


"Maass..." Kini Queen menyentuh telapak tangan Aska yang saling merapat. "Gita tuh lagi proses menuju kedewasaannya, jadi dia butuh tempat buat cerita." Tatapan mereka melekat.


Aska tau tatapan itu, Queen nya sedang serius kali ini.


"Jangan ceritain yang aneh aneh ya sama Gita."


"Iya mas ku tersayang..." Queen mengedip manja pada Aska. Lelaki itu lalu beranjak setelah mencium kening Gita, lalu berpindah mencium pipi Queen kemudian. "Aku tunggu di kamar" bisiknya pelan.


Setelah Aska pergi masuk ke kamar, Queen lalu mengalihkan atensi penuhnya pada Gita.


"Coba cerita sama bunda, apa yang lagi kamu alamin sekarang."


Awalnya Gita ragu. Tapi masalah hatinya kali ini menyangkut pada lelaki yang selama ini selalu di jodohkan oleh bunda dan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Farhan tuh kayak calon playboy deh bun.." Gita memulai.


"Dia belum satu tahun masuk sekolah, tapi udah banyak banget cewek yang deket sama dia. Malam ini aja dia lagi jalan sama cewek the most wanted di sekolah aku, angkatan aku lho bun..." Gita meluapkan emosinya.


"Kamu cemburu?"


"Bukan cemburu bun... tapi kesel aja gitu lho ngedengernya."


"Kamu tau dari mana?"


"Dia sendiri bun yang cerita sama aku tadi sore. Nggak peka banget deh jadi cowok. Nggak tau apa dia gimana perasaan aku. Nggak jelas!" Gita meluapkan emosinya, ia menyandarkan tubuhnya dengan keras pada sandaran sofa.


Sementara Queen hanya tersenyum melihat tingkah anaknya itu.


Dengan cepat, Gita mendekatkan tubuhnya kembali dengan Queen. Memaksa mata mereka untuk saling menatap.


"Bunda pernah nggak sih sakit hati? Atau di selingkuhin sama mantan pacar bunda pas lagi sayang sayangnya.." Gita diam sejenak "Atau.. ayah pernah nggak nyelingkuhin bunda waktu pacaran dulu? Bunda sama ayah belum pernah cerita soal masa muda kalian."


Pertanyaan Gita sebenarnya sederhana. Sangat biasa bagi orang yang sedang dalam sesi curhat. Ia akan bertanya tentang hal yang terjadi dengan dirinya, untuk mencari jawaban bagi masalahnya. Tapi sayangnya.. Fikiran Queen melayang pada kejadian di masa lalu. Saat dirinya dengan tega membuka hatinya untuk lelaki lain, padahal ia tengah menjalin hubungan dengan lelaki lainnya.


Apa kabarnya mantan terindah nya itu?


"Bentar bun.." Gita melihat layar ponselnya, saat nama Farhan terlihat, langsung saja ia menjawab panggilannya.


"Apaan?" Gita menjawab sinis.


"udah jam sepuluh, kenapa belum tidur?" Suara Farhan tegas.


"Ngapain nanya, sendirinya aja masih keliaran di luar."


"Aku lelaki Gita. Besok juga masih sekolah.. inget ya, jadwal belajar kamu makin padat!"


"Nggak usah sok ngatur ya, aku lebih tua dari kamu."


"Iya iya tau yang udah tua. Lagi ngapain?" Farhan mengalah, nada bicaranya sudah kembali melembut.


"Lagi ngobrol sama bunda."


"Yah... lagi ngobrolin aku pasti." Farhan mendesah resah. "Jangan ngadu yang enggak enggak ya Gita sayang.. aku enggak nakal kok. Cuma numpang lewat di surga nya dunia, mampir sebentar terus pulang. Beneran deh, aku nggak macem macem." Jelas nya panjang lebar.

__ADS_1


"Takut di marahin bunda nih pasti.." Gita melirik bunda nya dengan senyuman jahil di bibirnya.


"Aku nggak mau ya, di pecat dari menantu kesayangannya bunda."


"Ya bodo amat.." Gita bangkit dari duduknya, mencium pipi Queen singkat sambil berucap tanpa suara, hanya gerakan bibirnya saja. "Aku masuk kamar dulu ya bun.. night."


Queen hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Kalo nggak mau aku ngadu yang macem macem, harus jadi goodboy nya aku lah.." Kalimat terakhir Gita yang Queen dengar, lalu menutup pintu kamarnya.


Sedangkan Queen masih diam di tempat, pikirannya tiba tiba saja melayang ke beberapa tahun yang lalu. Seolah perkataan Gita sudah membawa kembali ingatannya yang telah ia lupakan.


Queen masih terjebak dalam ingatan masa lalunya, ia terpana, terdiam tanpa perduli dengan keadaan di sekitarnya saat ini. Dirinya juga tidak mengetahui kedatangan Aska yang kini sudah berada, duduk di sebelahnya.


"Ira.." Panggilnya lembut. Tangannya mengusap rambut depan Queen. Seakan menarik fokusnya kembali.


"Mikirin apaan sih, serius bener." Aska menatap langsung pada manik hitam istrinya.


"Eh, mas.."Queen tersenyum sebentar "Enggak mikirin apa apa kok." sambungnya.


"Tidur yuk. Udah malem."


Aska bangun lebih dulu, tangannya menarik lembut tangan kanan Queen, mengajaknya untuk segera bangun dari duduknya. Tapi Queen menahan gerakan Aska. Tanpa memutus kontak mata itu Queen berucap. "Mas.. Arya apa kabar ya?"


"Kenapa emang?"


"Aku kangen."


Perkataan singkat Queen, membuat Aska terdiam sebentar. Hanya sebentar Aska terdiam, setelahnya tanpa aba aba atau persetujuan Queen, ia lalu menangkup kedua pipi Queen, lalu mengecupnya singkat. Beberapa kali Aska memberikan kecupan kecupan singkat, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memperdalam kecupan itu, berganti dengan ******* yang dalam dan sedikit menuntut. Seolah ia menyalurkan sebuah rasa di dalam ******* nya.


Queen tidak tau apa yang terjadi dengan suaminya, ia tidak siap dengan ciuman itu, perubahan sikap suaminya membuat ia kewalahan dengan perlakuan Aska.


Sampai Aska merasa Queen kewalahan dalam bernafas, barulah ia menghentikan gerakannya.


"Jangan bilang kangen untuk laki laki lain. Sekalipun itu Arya. Itu menyakiti hati saya." Gumamnya lirih. Wajahnya tegas hanya beberapa senti dari wajah Queen. Istri kecilnya hanya mengangguk pelan seketika.


Aska kembali mengecup bibir Queen singkat, sebelum menggendong Queen ala bridal. Membawa nya masuk ke dalam kamar mereka.


🙃🙃🙃

__ADS_1


__ADS_2