
"Kenapa sih lu As, nafas di buangin mulu. Abis ntar.." Tutur Fiki, yang satu mobil dalam patroli bersama Aska.
Ia menyadari temannya yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya itu, sudah tidak fokus selama kedatangannya. Pasti fikirannya masih tertinggal di rumah. Pasti ada sesuatu di dalam hubungan mereka.
Fiki masih mencermati raut wajah temannya itu. Aska masih tidak ingin menjawab setiap pertanyaannya sejak tadi.
"Mending lu pulang aja dah As, selesaiin buru-buru masalah lu, sebelum jadi tambah ribet, terus sih Queen nya kabur." Ucapan Fiki sukses membuat Aska menajamkan tatapannya.
"Elu ama dia, kalo ngomong sama. Sama-sama nggak di pikir." Ketus Aska. Fiki malah tertawa seperti meledek. Sikap Aska yang seperti ini sungguh lucu. Bagaimana cara Queen mendapatkan hati Aska. Jika godaan polwan single cantik di pos mereka, selalu mental dengan sikap dingin Aska.
Tapi Queen, gadis yang baru beranjak dewasa itu, benar-benar membuat pikiran Aska terpatri hanya untuknya.
Ajian macam apa yang Queen gunakan, sungguh Fiki ingin tau.
"Terus elu kenapa emang? Sedih gue di cuekin mulu sama lu?" Fiki berlagak seperti ingin menangis.
Namun sikap menghibur Fiki tak lantas membuat hati Aska mengiba, dan kembali pada letaknya.
"Bingung gua." Tutur Aska. Pandangannya masih tertuju pada benda kotak di tangannya, menanti pesan dari Queen. Sudah hampir larut malam, Queen masih tidak juga menghubungi Aska. Aska juga enggan menghubungi Queen lebih dulu. Aska ingin Queen mengerti tentang keberadaannya.
"Kenapa? Si Queen enggak jadi mau nikah? Dia mau ngundurin atau mau batalin?" Tebak Fiki.
Aska memicing, tak percaya.
"Kok lu bisa tau?" Heran Aska.
"Yailah As.." Fiki mulai menyombongkan diri. "Cuma lu doang lelaki yang masih kaku yang gua kenal." Aska berdecak, mulai melas dengan kalimat Fiki selanjutnya.
"Harusnya ya, lu tuh coblos duluan, sebelum lu nyatain kata pernikahan. Gua jamin, cewek manapun nggak bakal nolak atau ngundurin diri pas mau haairi nya." Benar saja, kalimat yang tak masuk akal dan tabu buat Aska lakukan. Fiki dan Rendi benar-benar seperti pinang di belah dua.
Atau kah lelaki memang demikian. Selalu memandang rendah tentang malam pertama. Tidakkah mereka berfikir sedikit lebih waras.
__ADS_1
"Nggak usah ngomong lu lah, tambah pusing gua ngedengerin nya." Aska menutup matanya sebentar. Merasakan denyut nyeri di kepala juga hatinya.
"Santai aja mas bro.. punya cewek cantik emang musingin. Kalo lu nggak sanggup, lambaikan tangan aja ke gua, gua siap ngegantiin lu pas ijab Qabul nanti."
"Ah.. ngomong aja lu sama toa" Jawab Aska kesal.
"Begini ya mas Aska. Wanita itu memang seperti itu, itu wajar. Mereka selalu butuh lebih dari yang pernah lu kasih sebelumnya." Aska tak mengerti, tapi ia mulai tertarik dengan ucapan Fiki. Dari mana bocah ini tau banyak tentang wanita. Padahal parasnya masih jauh jika di bandingkan dengan Aska.
"Maksud lu gimana?"
Fiki menggelengkan pelan dengan seringaian di bibirnya. "Belom cukup otak lu buat nikah, apalagi kawin. Udahlah kasih Queen aja buat gua. Lu nggak bakal sanggup." Fiki tertawa dengan ucapannya sendiri.
Aska mengangguk mengerti. Ia mengarahkan duduknya setengah menghadap Fiki.
"Begini ya Iptu Fiki.. Anda tau kan saya sedang di promosikan sekarang. Anda tau apa yang bisa saya perbuat seandainya saya berhasil mendapati jabatan itu. Saya nggak akan segan-segan mutasi kamu ke tempat dimana peradaban manusia apalagi wanita-wanita cantik masih jarang di temui." Aska mengangguk lagi, membenarkan posisi duduknya seperti semula. "Kamu denger itu." Ancam Aska.
Fiki mengkerut, mulutnya seketika terbuka lebar. Tak percaya dengan ucapan Aska.
"Yailah mas bro.. cuma becanda gua juga. Nggak usah di ambil hati lah." Fiki cepat-cepat mencairkan suasana.
"Mas bro.. gua rasa si Queen lagi stress, di butuh sentuhan elu kayaknya, dia butuh lu manjain lebih dari biasanya. Intinya dia lagi tertekan mas bro.."
"Gua nggak neken dia kok. Gua yang handle semua urusan pernikahan, dia sama sekali nggak gua kasih pusing soal begituan." Aska tak terima.
"Bukan soal itu doang pak Aska.. ck.. cewek juga butuh ruang pribadi. Tekanan bukan dari pusingnya ngurusin keperluan nikah, bukan.. tapi juga tekanan hatinya. Itu wajar kok. Asal mas Aska nya aja yang lebih sabar." Tutur Fiki panjang lebar.
Aska mulai paham dan mengerti dengan penuturan Fiki yang sangat sederhana.
"Oke.. jadi ratu gua marah karena gua yang nggak peka gitu maksudnya?" Ulang Aska.
"Bisa jadi seperti itu. Emang apa aja yang udah mas bro lakuin tadi pas ratu lu ngambek?" Fiki penasaran
__ADS_1
"Ehm. Gua desek terus sampe dia mau ngomong kenapa dia nyuekin gua. Gua juga sempet marah tadi, waktu dia minta buat fikirin ulang pernikahan." Aska santai, berbeda dengan sikap Fiki yang sedikit tertegun dengan pernyataan Aska.
"Gila.. gila.. emang gila lu mas bro.. besok-besok kalo ada apa-apa sama sikap mendadak ratu lu, mending kasih tau gua dulu lah."
"Kenapa emang?"
"Yaiyalah, untungnya sih Queen masih santai selow nggak nelfon nyokapnya sambil nangis-nangis minta di batalin nikahnya. Galak gitu ternyata mas bro kita." Fiki lagi-lagi menggeleng tak percaya.
"Emang gua salah? Gua kan cuma mau cepet kelar masalahnya."
"Salah mas bro.. enggak semua masalah harus di selesaikan waktu itu juga. Yang harus lo ingat sampai nanti. Cewek itu wanita yang selalu benar. Jarang ada wanita yang mau ngalah, mereka juga selalu butuh waktu untuk dirinya juga hatinya. Jadi, mas Aska harus bersikap selalu tenang dan kasih jarak dalam setiap masalah." Tutur Fiki.
Sungguh pemikiran Fiki juga pengetahuannya soal perempuan sangat banyak dan dalam di banding Aska. Wajar saja Aska baru dua kali menjalin hubungan dengan wanita.
Yang pertama itu juga karena di jodohkan. Jadi ia tidak betul-betul berusaha bermain dalam perasaannya.
Berbeda dengan Queen kali ini. susah payah lelaki itu mendapatkan hati Queen, ia juga butuh perjuangan berat sampai bisa dalam tahap sekarang. Aska tidak ingin kehilangan Queen begitu saja. Karena itu, ia mencermati betul petunjuk yang Fiki berikan.
***
Aska sadar akan kesalahannya. Dengan cepat ia berusaha memperbaiki sikapnya pada Queen.
Mungkin yang Queen maksud tentang fikir kembali adalah, bagaimana mereka mengatur waktu untuk menjaga jarak sebentar. Bukan maksud untuk menghentikan rencana pernikahan mereka.
Subuh hampir menjelang. Begitu juga dengan jam tugas Aska yang hampir selesai. Acara penting mereka tinggal lusa, Aska masih yakin semuanya berjalan lancar dan sesuai rencana.
Karena itu, ia memutuskan untuk menjauh sebentar, demi memberi jarak bagi gadisnya. Aska memilih menginap di rumah Fiki, sampai pada malam dimana mereka akan bertemu pagi harinya.
"Saya tunggu kehadiran kamu di hari berbahagia kita nanti." Chat terakhir yang Aska berikan, Queen terima saat matanya terbuka setelah tertidur semalam.
ada rasa haru yang menjalar dalam hai Queen. Aska memang lelaki yang bisa di andalkan.
__ADS_1
Dia selalu bisa mencari tau kesalahannya sendiri, dan memperbaiki sebelum semuanya menjadi semakin kacau.
"Love you mas Aska.." Ucap Queen lirih, sambil mengecup layar ponsel yang terpampang wajah Aska dengan dirinya.