
"Mas..." Panggil Queen dengan suara lembutnya. Ia duduk tepat di sebelah Aska, merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya seraya dipeluk.
"Kenapa?" Aska yang tadinya fokus pada layar tv, kini oandangannya beralih, menatap ke bawah, mencari manik mata gadisnya. Suara Queen yang tadi memanggil, tak kunjung juga melanjutkan apa yang ingin ia katakan.
Hanya jemarinya yang bermain di atad dada bidang Aska, menuliskan kata-kata tanpa bisa Aska baca.
Aska tau, ada sesuatu yang bermasalah disini. Ia lalu mengangkat wajah Queen,memaksa wanita itu untuk beradu tatap.
"Kenapa?" Suara Aska lembut. Wajah Queen sendu, ia kembali menyandarkan wajahnya pada tubuh Aska. Membuat lelakinya penasaran.
"Kamu tuh jahat banget sih mas." Suara Queen lemah, meski tak menangis tapi Aska merasa wanitanya tengah terluka.
Ia lalu menegakkan tubuh Queen, duduk dengan posisi yang benar, menatap ke arahnya.
"Aku jahat? Kenapa?" Pandangan Aska lekat dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Kamu kok mau-maunya sih di pegang gitu tadi tangannya sama adiknya bang Is." Wajah Queen sendi, dengan suara lemah seperti merengek manja, Queen mencoba mengutarakan isi hatinya. Yang mana malah membuat Aska merasa ingin tertawa.
Wajah yang awalnya merasa takut dengan apa yang tidak ia sadari, kini harus bersusah payah menahan tawanya agar tidak keluar.
"Maksud kamu, kamu lagi cemburu sekarang?" Aska mencari manik mata Queen yang tertunduk tidak ingin menatapnya.
"Ra..." Aska mengangkat dagu Queen. "Dengerin saya deh.. dia itu cuma adiknya abang Is, bukan siapa-siapa.."
"Iya, tapi itu mantan calon istri kamu." Queen cemberut.
Meskipun hati Queen menghangat, tetap saja ada kerikil yang mengganjal dalam hatinya.
Ya.. acara yang tadi mereka hadiri, terpaksa membuat Queen harus bertemu dan berbaur dengan keluarga calon mantan istri suaminya, yang tak lain adalah keluarga bang Is. Queen agak ragu, saat Aska memintanya untuk bertemu dan bertegur sapa dengan keluarga, yang sudah seperti orang tua angkat Aska.
Alasan Aska adalah demi kesopanan, juga ia ingin menunjukkan kehamilan Queen di depan keluarga itu, tapi, tidak sadarkah Aska, disana juga ada Nisya. Wanita yang mampu membuat kecemburuan Queen tersulut. Terlebih saat wanita yang sudah bersuami itu memegang tangan suami Queen. Tentu saja membuat Queen meradang diam-diam. Dan sialnya, Aska tidak menolak ataupun menghempaskan tangan wanita yang berpenampilan alim itu dari bagian tubuhnya. Bagian tubuh yang sudah menjadi milik Queen.
__ADS_1
"Nggak usah di pikirin Ra.. itu bukan hal penting!" Aska mempertegas ucapannya, membawa tubuh wanitanya ke dalam pelukan, kemudian mengangkatnya, membawa ke dalam kamar. Ia rebahkan tubuh wanita kesayangannya itu perlahan di atas ranjang kasur.
Dengan sayang, Aska menciumi wajah Queen. Mulai dari kening sebentar berganti ke dua pipi kiri kanannya. Queen yang di pandang lekat oleh Aska tentu saja memberikan senyum termanisnya tanpa perlu di paksa.
"Di manapun aku berdiri, cuma kamu doang yang bisa aku lihat Ra.." Ibu jari Aska bergerak mengusap pipi Queen lembut. Bibirnya tersenyum mendapati wajah Queen yang kian merona.
Tak perlu nunggu lama lagi bagi Aska, rasa di hatinya kian menggelitik, menginginkan dirinya untuk menyatu dengan wanita terkasihnya. Ia lantas mulai menciumi wajah Queen kembali, sebentar dan berpindah-pindah. Sampai akhirnya pangutannya berhenti tepat di atas bibir Queen. Melumatnya dengan halus secara perahan berusaha menahan nafsu yang kian bergejolak.
Seingin apapun dirinya saat ini, Aska masih mengingat perut buncit Queen. Karena itu ia benar-benar berhati-hati dalam melakukannya. Di imbangi dengan cinta yang menggebu Aska bergerak perlahan, menyusuri setiap inci tubuh wanitanya, menyesap halus kulit mulus Queen pelan, hingga menyisakan warna merah yang tercetak jelas di area perpotongan leher Queen.
Aska mengangkat pandangnya, menatap lurus ruam merah itu, dengan bangga ia tersenyum lalu mengusapnya. "Yah.. maaf ya Ra nggak sengaja." Bisiknya halus. Queen yang mendengarnya seketika memutar bola matanya jengah.
gimana bisa sih nggak sengaja??
Setelah mengecup pelan bekas merah itu Aska kembali melanjutkan keinginannya. Bergerak perlahan hingga turun dan memulai semuanya dengan rasa sayang.
__ADS_1
***