Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
perjalanan kedua


__ADS_3

Malam sudah menjemput, ketika bus yang mereka tumpangi mulai melaju perlahan dan berhenti di sebuah restauran. Queen sudah mulai hapal dengan rutinitas bus yang mereka tumpangi.


Jika kemarin Queen tertidur saat perjalanan, berbeda dengan kali ini. Queen masih setia memandangi keindahan selama dalam perjalanan. Menikmati bagaimana indahnya ketika senja menjemput, dan awan berganti dengan gelap.


Keindahan kota Semarang, saat terlihat dari kejauhan, rumah yang bertumpuk layaknya sebuah bukit. Pemandangan itu baru kali ini Queen lihat, dan itu sukses membuat hatinya mulai tenang. Tanpa mengingat apa yang tadi lelakinya ucapkan.


Pegangan tangan Aska tak pernah terlepas selama Queen masih terjaga. Sesekali Aska menawarkan Queen cemilan ringan untuknya. Dan Aska selalu yang membuka bungkusan camilan atau botol untuk Queen.


"Ayok Ra.. Waktunya makan" Dengan antusias Aska mengajak gadisnya turun.


"Pas banget dah" Jawab Queen yang tak kalah antusias.


Aska berjalan lebih dulu di depan Queen, masih setia membimbing kekasihnya. Queen sudah mulai tau apa yang harus ia lakukan. Ia sudah melakukannya kemarin. Jadi Queen tidak kikuk lagi seperti saat pertama dirinya makan gratis kemarin.


Queen dan Aska duduk saling berhadapan. Meja panjang itu penuh dengan orang-orang yang Queen temui dalam satu bus dengannya.


"Mas.." Sapa Queen pertama kali, masih dengan acara makan mereka.


"hmm?" Aska melirikan matanya ke arah wajah Queen, dengan mulut penuh makanan.


"Kata orang, mas kawin itu nggak harus mahal dan mewah"


"Terus?"


"Aku nggak masalah kalo cuma di kasih seperangkat alat shalat" Queen berbicara dengan santai, tapi mampu membuat orang disekitar meliriknya dan Aska secara bergantian.


Begitu pula dengan Aska yang tersedak karena mendengar ucapan santai Queen.


Lelaki itu meminum teh hangat miliknya, mencoba memaksa turun sisa makanan dalam mulutnya.


"Apa sih Ra.." Aska sedikit bingung dengan pernyataan Queen tadi.


"Maksud aku, aku nggak minta pesta mewah, aku juga nggak butuh mas kawin yang banyak. Yang penting cowoknya kamu." Ekspresi Queen yang begitu santai saat mengucapkannya, bahkan ia masih bisa makan dengan tenang, membuat Aska semakin bingung harus menjawab apa.


"Makan aja dulu, nggak usah mikirin yang aneh-aneh." Jawab Aska sambil melirik orang-orang di sebelahnya.


"Atau.." Queen mendekatkan wajahnya ke arah Aska secara tiba-tiba. "Kita tunangan aja dulu, gimana?"


Lelakinya itu selalu terkejut dengan setiap perkataan yang keluar dari mulut Queen.


"Iya, makan aja dulu ya Ra" Aska menyodorkan minuman milik Queen.


"Jadi aku disuruh makan atau minum nih?" Ucap Queen gemas, karena jawaban yang di terimanya tak sesuai dengan harapan.


Aska tak lagi menjawabnya, dia hanya memperlihatkan senyuman manisnya kepada Queen. Dan wajah gadisnya itu sontak berubah seperti tak suka.


***


Mereka telah selesai dengan acara makan, bangun dari duduknya, mendekat ke arah bus yang mereka tumpangi. Tapi Aska belum mau masuk kedalamnya. Ia mengajak Queen duduk di pinggiran sisi restoran tersebut, bersama penumpang lainnya.


Queen melingkarkan tangannya di lengan Aska, mendekatkan wajahnya ke arah Aska.


"Mas.." Rengeknya.


"Apa?" Aska tak masalah dengan sikap manja Queen, ia malah merapikan rambut Queen yang sedikit berantakan karena angin, dan menyelipkannya di balik telinga Queen.


"Gimana?"

__ADS_1


"Apanya?"


"Ck.. Soal nikah tadi mas.."


Aska tersenyum sambil menatap Queen, "Santai aja sayang.. Biar saya aja yang pikirin semuanya"


"Santai gimana sih mas? emang kamu mau ka Agung deketin aku terus?"


Aska tertawa ringan.


"Saya udah biasa liat kamu deket sama cowok lain" Jawab Aska santai. Queen melepaskan lingkaran tangannya, sedikit duduk menjauh dari Aska.


"Nggak papa cantik, masih banyak waktu" Tutur Aska, tak ingin gadisnya lebih marah.


"Banyak waktu gimana sih mas? Siapa yang tau tentang hari kematian kita?" Queen masih merajuk.


"Apa banget sih Ra.. Jangan ngomong yang aneh-aneh deh." Aska mendadak kesal mendengar Queen.


"Iyalah.. Mas santai banget ngomong banyak waktu, siapa yang tau yang bakal terjadi sama kita nanti"


"Tapi nggak usah jauh gitu ngomongnya, kamu kan lagi bahas soal pernikahan tadi kan? kok nyambungnya ke kematian segala." Aska mencoba bersikap tenang kembali, berbicara sambil mengusap rambut Queen.


"Terserahlah, aku mau jajan dulu" Queen bangun dari duduknya, berjalan cepat kearah penjual makanan di belakangnya tadi, tak jauh dari tempat ia duduk.


"Pacar nya ya?" seorang bapak yang lebih dari setengah baya menyapa Aska, Aska menoleh dan tersenyum simpul.


"Insyaallah pak, calon" Jawab Aska sopan.


"Oh, cakep banget ya pacarnya" Jawab bapak tua itu lagi.


"Ya Alhamdulillah pak,"


"Ya, begitulah pak" Aska menjawab sopan tapi santai.


"Emang, kebanyakan cewek bilangnya kalo pacaran sama lelaki ganteng, cuma makan ati. Padahal pacaran sama cewek cantik lebih nyakitin. Saya dulu gitu, punya bini cantik, bukannya nyenengin, malah kebanyakan sakit atinya" Ucap sang bapak serius.


"Oh, kenapa pak?" Aska tak kalah serius.


"Iya, namanya saya orang susah, nggak bisa mencukupi kemauannya, eh.. dia malah pergi sama mantannya waktu muda dulu, yang lebih kaya katanya. heuh.." sang bapak menggelengkan kepalanya.


"Belom lagi kalau dia lagi digodain sama cowok lain, atau main mata sama tetangga sendiri. Rasanya.. kalau saya nggak sabar sabar, udah berantem mulu mungkin saya" Sambungnya, dan Aska mendengarkannya serius.


"Mas.." sapa Queen, dan duduk disebelah Aska.


"Udah?" Tanya Aska.


"Udah. Mahal-mahal banget ya mas.. Harganya beda jauh deh sama warung deket kampus" Tutur Queen. Aska tersenyum menanggapinya.


"Naik yuk, udah mau berangkat bisnya." Ajak Aska.


"Mari pak, kita naik duluan." Pamit Aska kepada sang bapak yang tadi mengajaknya ngobrol.


"Oh iya silahkan" Jawab sang bapak dengan senyumnya.


Queen juga tersenyum pertanda pamit kepada lelaki yang hampir sepuh itu.


Queen sudah duduk di bangkunya, dengan memegang susu kotak yang tadi ia beli.

__ADS_1


"Ngobrol apa mas sama bapak tadi?" Tanya Queen penasaran.


"Enggak, saya cuma dengerin dia lagi curhat" Jawab Aska.


"Ha? Curhat? Bapak-bapak juga bisa curhat ya mas?"


"Ya bisalah, dia kan juga manusia Ra. Malah


biasanya, orang yang hampir tua itu cenderung lebih terbuka, dari pada kita yang muda" Jelas Aska.


"Oh.. Terus kapan kita nikah?"


"Ya ampun.." Aska membuang nafasnya berat. Duduk menghadap Queen dan tatapannya serius.


"Dengerin saya Ra. Bukannya saya nggak mau, atau bukan juga masalah uang. Gimanapun keadaan keuangan saya, tapi kehormatan dan kebahagian kamu harus saya utamain Ra" Aska mengambil satu tangan Queen dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.


"Yang jadi masalah disini, masih banyak sikap dan sifat saya yang kamu belum tau. Saya nggak mau nanti kalau kita memaksa nikah cepat cuma karena tetangga baru kita itu, terus ada satu sikap atau sifat saya yang kamu nggak suka, terus kamu jadi ilfeel sama saya, terus hubungan kita jadi kacau. Saya nggak mau begitu Ra." Aska memberi jeda, membiarkan gadisnya mencerna kata-katanya dulu.


"Pernikahan itu sakral Ra, bukan main-main, yang suka terus nikah, nggak suka terus cerai. Saya mau itu terjadi sekali dalam seumur hidup saya. Dan saya cuma mau itu kamu." Sambungnya.


"Tapi itu kan bisa kita bahas setelah kita nikah nanti mas. Daripada salah satu diantara kita nanti khilaf, terus pergi sama pacar barunya."


Aska menggelengkan kepala.


"Nggak bisa begitu sayang, akan beda suasananya nanti. Kita harus hapal dulu setiap kelakuan dari kita. Dan lagi, kalau yang kamu maksud nanti saya yang khilaf, kamu bebas ngelakuin apa aja yang kamu mau terhadap saya nantinya. Andai saya sampe tergoda sama cewek lain, kamu tetap satu-satunya wanita yang akan nemenin sisa hidup saya nantinya. Saya janji Ra"


Aska berbicara dengan pelan, tidak ingin mengganggu penumpang lainnya. Karena saat ini lampu dalm bus sudah di matikan. Queen hanya diam mendengarkan.


"Mas.." Jawabnya tanpa bergeming.


"Apa?"


"Orang di sebelah kamu dari tadi ngeliatin kita tau." Mata Queen melirik Aska dan penumpang di kursi lain sebelah Aska.


Aska tertawa ringan, ia tak perduli. Lelaki itu malah mengambil selimut yang disediakan, dan membungkusnya menutupi tubuh Queen.


"Udah abis kan susunya, udah tidur. Dari tadi kamu belum tidur kan?"


Queen mengangguk, kotak susu itu sudah diambil Aska untuk di masukkan dalam plastik bersama sampah lainnya. Queen menaikkan kakinya, untuk ikut diselimuti.


"Dingin nggak, saya tutup ya AC nya"


"Nggak usah mas, aku suka yang dingin-dingin." Jawab Queen. Lantas Aska melingkarkan tangannya, membawa Queen dalam pelukannya, agar gadis itu tetap merasa hangat dalam selimut juga dekapannya.


Queen tersenyum puas. Begitu juga Aska, bibirnya ikut mengulas senyum, dan sesekali matanya terpejam, merasakan gemas dihatinya terhadap gadis manja dalam pelukannya kini.


"Mas, jangan-jangan penumpang lain yang di depan sama belakang kita ikut nguping lagi." Queen mengangkat wajahnya mencari sorot mata Aska.


Cup.. Aska mengecup bibir Queen sebentar. Tak tahan rasanya berdekatan dengan bibir ranum Queen.


"Biarin. Udah tidur, biar cepet sampe."


"Mas tau nggak...." Aska menarik dagu Queen dan melumat bibir Queen sebentar. Membuat detak jantung gadis itu serasa berhenti sebentar.


"Bisa diem nggak, atau tunggu saya gigit bibir kamu?" Titah Aska.


Queen yang masih punya malu mendengar perkataan Aska, langsung mengangguk dengan cepat, dan menelusupkan wajahnya di atas dada bidang Aska.

__ADS_1


**mas aska woy, apa rasanya pacaran didalam bis. please deh jangan lebay. nggak malu sama tetangga disekitaran**


๐Ÿ™ƒ๐Ÿ™ƒminta like and komen nya yups.. Biar mas aska nggak ngoceh panjang lebar lagi.


__ADS_2