Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
boomerang


__ADS_3

"Kamu tau kan Ra, kenapa aku nggak mau kamu hamil lagi?".


Lagi, obrolan sebelum tidur kali ini lagi-lagi terdengar serius dan berat, Queen merasa malas untuk melanjutkannya, tapi ia sadar, lelakinya sedang serius.


"Aku tau mas.. kamu udah nggak sayang lagi kan sama aku?" Ira mengucapkan dengan suara malas dan mata yang di buat sayu, seolah mengantuk.


"Kok ngomongnya gitu?" Mata sayu Queen tak membuat Aska menghentikan tatapan tajamnya. Tidak setuju sama sekali dengan jawaban atau pertanyaan dari istri tersayangnya. "Aku serius Ra."


"Aku juga serius, aku ngantuk." Ira membalik tubuhnya, miring menghadap tembok, mengabaikan tangan suaminya yang melingkar di atas perut Queen.


"Emang kamu nggak sayang sama perut kamu yang langsing gini?" Aska mengucapkan lembut, menghempaskan semua rasa egois dan marah yang tadi sempat singgah di hatinya.


"Enggak," Jawab Queen singkat.


Aska menghembuskan nafasnya kasar di tengkuk Queen.


"Jangan ngegoda kalo nggak mau tanggung jawab." Sindir Queen.


Pastinya ucapan tiba-tiba Queen, membuat Aska sedikit mengerutkan dahi. Ia bingung, dengan maksud perkataan istrinya.


"Awas ah, aku gerah." Tangan Queen melepaskan tangan Aska yang masih memeluknya dengan sedikit longgar. Tapi, lelaki itu tau suasana hati istri cantiknya sedang tidak baik, dengan itu ia kembali menempatkan tangannya di perut datar Queen, melingkari pinggang.


"Pake AC gini masih ngerasa gerah. Yang bagusan dikit kalo mau bohong." Aska mengecup tengkuk Queen sebentar.


Tak ada jawaban dari Queen, Aska menelusupkan tangannya ke dalam piyama Queen, mengusapnya dengan lembut.


"Aku suka Ra, waktu perut kamu buncit, itu lucu. Aku juga suka waktu kamu minta ya aneh-aneh, itu tandanya aku berguna untuk kamu. Kalau kamu lagi hamil, kamu makin manja, kayak... gimana ya Ra, aku jadi tambah sayang sama kamu." Lagi, Aska meninggalkan jejak bibirnya di atas kulit leher Queen yang mulus.


Suara kecupan itu, Queen suka. Tapi ia masih enggan mengucapakan kalimat sebagai tanda ia belum tidur, ia masih mendengarkan setiap kalimat suaminya dengan serius. Tapi, hati Queen masih kecewa.


"Aku cuma nggak mau kejadian yang kemarin keulang lagi Ra." Suara Aska pelan, jelas sekali ada aura kesedihan. Queen juga merasakan hangat tengkuknya karena hembusan berat suaminya. Seperti melepas beban berat.

__ADS_1


"Tapi itu udah tujuh tahun yang lalu mas..." Queen membalik tubuhnya, memaksakan dirinya menatap wajah suaminya dalam remang cahaya redup di kamarnya. "Lagian juga, belum tentu aku bakal ngerasain sakit yang sama." Bantah Queen, suaranya tegas.


Cup.


Aska mengecup bibir Queen, suaranya yang agak tinggi tadi harus segera di redam, agar tidak membangunkan si kecil Gita yang mulai meninggi kini.


"Setiap orang lahiran itu, pasti ngalamin sakit sayang..."


"Iya, itu wajar bagi anak pertama, tapi kalo udah yang kedua itu sakitnya berkurang."


"Kata siapa?"


"Kata ibu-ibu temen sekolahnya Gita. mereka bilang wajar buat anak pertama, tapi anak kedua nggak akan sama mas.. nggak akan sesakit itu." Queen mulai merengek.


"Ya, tetep aja Ra, ada sakitnya."


"Oke. Kalo gitu, aku caesar aja gimana?"


"Kamu itu ya.. aku yang lahiran, aku yang ngalamin, aku yang ngerasain sakitnya, tapi kamu sok tau."


Lagi, Queen kesal. Kesal dengan segala alasan suaminya yang mungkin masuk akal, tapi tetap saja, obrolan ini membosankan.


Sudah dua tahun sejak suaminya mengatakan, kalau mereka bakal menambah satu anggota keluarga baru, tapi nyatanya, Aska mengeluarkannya di luar. Setiap kali melakukannya, Queen selalu merasa jengkel.


Dari yang kebanyakan ia dengar, katanya, rasanya berbeda. Tapi kenapa suaminya masih saja keukeuh melakukan itu, membuat hati Queen jengkel.


"Gini aja deh mas. Kamu tuh sebenar sayang nggak sih sama aku?" Selidik Queen.


"Kapan sih Ra aku nggak sayang sama kamu? Aku udah semakin tua, tapi sayangnya aku sama kamu masih sama Ra kayak waktu kita ketemu."


"Oh.. jadi sayang kamu masih sama? Cuma masih sama?Jadi nggak ada lagi gitu yang bisa bikin kamu tambah sayang sama aku?"

__ADS_1


"Yaelah..." Aska memutar bola matanya malas.


Kenapa jadi ke arah lain sih obrolan mereka.


"Kamu tau nggak Ra,-"


"Enggak."


Aska terkejut, ia diam sesaat.


"Makanya dengerin aku ngomong dulu,"


"Yaudah ngomong."


Aska membuang nafasnya berat. Entah sudah berapa kali ia mencoba menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sebenarnya berapa berat beban yang ada di hatinya, sampai ia berulang-ulang melakukan hal yang sama dalam satu jam terakhir.


"Rasanya baru kemarin, kita pelukan gini." Queen berbaring miring dengan memunggungi Aska. "Baru kemarin kamu ngambek kayak gini, karena kamu kira saya nggak serius sama kamu. Karena kamu masih punya Arya, karena kamu bilang saya punya cewek lain selain kamu." Mata Aska terpejam, menerawang lebih jauh kembali ke masa lalu.


"Rasanya masih sama Ra, rasa takut di hati saya sekarang. Takut setiap kali kamu lagi ngambek, takut kamu marah, takut kamu nggak beneran sayang sama saya, takut kamu...." Aska terdiam sesaat, membuat Queen menajamkan pendengarannya. "Takut kamu ninggalin saya." Suaranya lirih.


"Satu anak nggak akan cukup buat nahan aku selamanya sama kamu!" Ucap Queen sebelum ia benar-benar memilih tidur.


Wanita itu sudah enggan mendengar apapun lagi kalimat sumbang dari suara lelakinya. Hatinya yang kecewa semakin tambah kecewa. Cuma karena keinginan mereka yang berbeda, membuat jarak yang jelas terlihat di antara mereka.


Rasanya Queen sudah menyerah, ia berjanji dalam hatinya diam-diam, enggan meminta itu lagi pada Aska. Mungkin itu memang harapan semu satu-satunya yang tidak akan pernah Aska berikan untuknya. Queen juga tidak ingin mereka berjarak kian jauh.


Aska yang mendengarnya, tentu saja terkejut. Seakan terhipnotis, lelaki itu tidak dapat mencerna dengan cepat ucapan istri imut tersayangnya. Wanita cantik, manja namun manis itu, yang sudah menemani hidupnya selama delapan tahun mengatakan tentang 'pergi'.


Kepalanya kosong, Aska tidak bisa berfikir. Dengan kasar, Aska menelan salivanya, susah. Jantungnya terpompa lebih cepat dan semakin berdebar. Tanpa sadar, pelukan tangannya semakin erat melingkar di perut rata Queen. Semakin dalam kecupan bibir Aska di tengkuk Queen. Matanya semakin menutup rapat, seiring rasa takut kehilangan yang besar.


Benarkah semudah itu Queen memutuskan untuk pergi? Segampang itu Queen mengambil keputusan? Padahal semua itu Aska lakukan karena Aska yang tak ingin melihat raut kesakitan dari istri tersayangnya. Tapi itu malah menjadi boomerang dalam kehidupannya.

__ADS_1


🙃🙃😉


__ADS_2