
Hari-hari berikutnya benar-benar di lalui Aska dengan berat, membuat mereka menjadi sulit untuk bertemu. Aska yang harus berangkat ketika matahari belum muncul dan pulang setelah matahari akan tenggelam.
Sesangkan Queen yang saat ini tengah kecanduan drama Korea. Setiap ia ada waktu senggang, maka ia akan melewatinya dengan fokus pada layar ponsel. Mengahabiskan waktu berjam-jam, demi menuntaskan rasa oenasaran oada satu judul drama. Dan berganti dengan drama drama lainnya.
Tak jarang Queen bahkan mengabaikan panggilan masuk atau chat pribadi kekasihnya, hanya agar tidak terganggu saat drama berada dalam benang merah.
Sesekali Queen ingin menyambut Aska saat ia tau kekasihnya itu sudah sampai dirumah. Tetapi, yang Queen lihat adalah lelaki yang sedang berbaring di atas sofa dengan satu tangan di atas kening dan mata yang terpejam.
Aska benar-benar terlihat lelah. Tenaganya seperti sudah terkuras habis. Queen tidak tega untuk mengganggunya. Maka yang ia lakukan hanyalah mengantarkan makanan dan meeltakkannya di atas meja depan lelaki itu membaringkan tubuhnya.
Aska bukannya tidak rindu dengan Queen. Pernah ia mencoba datang ke kamar Queen saat Aska terbangun dari tidurnya. Namun, kali ini Queen sudah mendengarkan perintah Aska, untuk mengunci pintu kamarnya sebelum ia tertidur. Dan entah kenapa, ia seolah menyesali perintahnya tersebut.
Sudah lewat beberapa hari semenjak oertemuan terakhir mereka. Aska rindu akan gadis manjanya. Gadis yang selalu membuat suasana hatinya jungkir balik. Gadis yang selalu bergelayut manja dalam pelukan atau pangkuannya.
Kemana gadis itu meghilang, padahal tempat tinggalnya ada di sebelah kamarnya. Kenapa sukit sekali menemuinya kali ini. Bahkan, hanya sekedar mendengar suaranya pun tidak bisa ia lakukan setiap hari. Ira nya benar-benar telah berubah.
Aska yang hari ini tengah bebas karena jam tugasnya yang berganti dengan patroli malam, memutuskan untuk memberi sedikit kejutan intuk Queen, gadisnya yang kemarin sempat hilang.
Ia memilih duduk di sofa dengan pintu yang terbuka lebar. Sedetikpun ia tidak mengalihkan oandangan dan telinganya dari arah luar kamarnya. Berharap dapat melihat senyum senang Queen saat tau bahwa ada yang menunggunya.
Tapi terkadang, haraoan hanyalah haraoan. Sesutau yang kita inginkan tidak sesuai dnegan kenyataan yang ada. Takdir Tuhan selalu tidak bisa di tebak. Begitu juga dengan harapan Aska yang perlahn hilang, seiring berjalannya waktu.
Gadisnya tak kunjung lewat. Padahal ia yakin, bahwa hari ini Queen ada jadwal pagi. Beberapa kali Aska mulai melirik jam di atas dinding. Rasa gelisah, gemas dan putus asa mulai membaur dalam hatinya.
'Apa dia udah jalan?' Aska mulai tak sabar.
Seandainya Queen sudah berangkat, Aska akan menjemputnya nnati di kampus. Tapi jika Queen masih ada di kamar, pastinya ia sudah terlambat di jam oertama kuliahnya.
Tidak ingin berspekulasi. Aska memutuskan untuk menghampiri Queen, mengetuk pintu kamarnya, dengan masih berharap melihat senyum Queen atas kejutan kecil darinya.
Beberapa kali Aska mengetuk, masih tidak terdengar suara dari dalam. Ia lalu memutuskan untuk menelfon. Ketika panggilan itu baru saja terhubung, pintu di hadapan Aska terbuka.
Dan bukannya Queen yang terkejut karena Aska yang muncul di hadapannya. Melainkan Aska yang harus terpana dengan Queen yang berada di depannya.
Aska benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gadis yang biasanya selalu tampil cantik dengan hiasan naturaal. Kini tampak layu bagaikan seorang zombie. Kantung madi bawah matanya sangat jelas telihat. Wajahnya kusut, benar benar seperti orang yang tidak tidur. Aska sangat geram di buatnya.
Ia sangat yakin, kalau Queen pasti tiidak tidur karena drama yang tengah ia gandrungi. Seperti perkataan Rindi sebelumnya. Queen selalu antusias menceritakan setiap kejadian drama dalam film tersebut.
Tapi bukan Aska namanya, jika tidak bisa mengendalikan emosi marahnya ketika di depan Queen.
"Kamu nggak kuliah Ra?" Queen memang sedikit terkejut dengan siapa yang dilihatnya.
"Eh mas Aska. Enggak. Mas Aska nggak berangkat?" Queen mencoba mengalihkan perhatian Aska.
"Saya nanti tugas malam." Jika saja tidak ada orang di sekitar mereka saat ini, rasanya Aska ingin sekali menubruk Queen masuk kedalam dan mengintrogasi dengan berbagai macam oertanyaan yang sudah melayang layang di kepalanya.
Ingatkah jika keadaan sekitar kontrakan mereka hanya ramia saat pagi hari dan juga sore hari.
"Oh, mau masuk mas?" Tanya Queen sopan.
"Enggak usah nanti aja. Saya cuma penasaran kenapa kamu belum berangkat kuliah. Ini udah hampir siang." Mata Aska tajam mencari jaeaban dari gadisnya.
__ADS_1
"Aku udah minta di absenin sama temen tadi. Kepala aku pusing berat banget." Suara Queen merengek.
Tidak ingin semakin larut dalam mencari jaeaban dari pernyataan Queen, Aska memutuskan pamit. dan masuk kedalam kamarnya.
Aska membaringkan tubuhnya di atas kasur. Rasa kesal di hatinya harus segera ia hilangkan, jika tidak ingin berakibat pada hubungannya.
Kepalanya terasa berat, memikirkan Queen yang sudah sangat kecanduaan drama Korea. Tidak taukah dia, bahwa hiduonya sendiri saja sudah seperti drama yang sangat ia puja itu.
"Heuh.." Aska membuang nafasnya berat. Rasanya ia sudah tidak tau bagaimana cara menghadapi kelakuan Queen yang satu ini. Cara apa yang paling jitu untuk menghilangkan kecanduan Queen.
Aska memutuskan untuk menelfon teman terdekatnya, yang tak lain adalah pacaar dari sahabat Queen.
"Halo mas.." Sapa Aska saat panghilan terhubung.
"Iya. Kenapa?" Jawab bang Is disana.
"Nanti sore ada waktu nggak? Saya mau ketemu mas sama Rindi." Aska tidak ingin bertele-tele.
"Iya bisa sih kalo nanti sore. Rindi juga ada waktu kayaknya. Kenapa? Masalah pacarmu?" Tanya bang Is.
"He'em.." Suara singkat Aska nampak putus asa.
"Kenapa lagi toh dia? Ada aja caranya bikin kamu kelimpungan kayak gini." Bang Is gemas.
"Nanti aja saya ceritanya. Sedikit rumit kalo di jelasin di telfon."
"Ya udah, nanti ketemu diluar. Saya kabarin Rindi dulu."
Sekali lagi Aska membuang nafasnya kasar, menciba melegakan dadanya yang begitu terasa sesak. Sambil memijat pangkal hidungnya Aska berusaha untuk setenang mungkin. Yakinnya ini hanyalah masalah sepele. Tapi jika dibiarkan berlarut larut. Maka dampaknya akan terasa jelas di dalam hubungan mereka yang sedikit merenggang.
Aska memasang telinganya. Mencoba meneliti suara-suara di luar. Setelah di rasa sudah tenang. Ibu ibu itu sudah kembali ke dalam kamarnya masing-masing, Aska mencoba menelfon Queen.
Cukup lama sampai Queen mau menjawab panggilannya.
"Kenapa mas?" Suara Queen parau. Sangat parau, bahkan hampir tak terdengar.
"Kemari." Singkat Aska sambil menahan emosinya karena mendengar suara Queen.
"Aku ngantuk mas. Nanti aja." Tolak Queen.
"Kemari Ira." Aska sedikit menekan kata kata nya.
"Nanti aja."
"Ira." Apa yang bisa Queen lakukan saat Aska sudah memberikan titahnya.
"Iya bawel." Queen jengkel. Mematikan sambungan telfonnya.
Queen benar benar layaknya zombie. Aska yang melihat Queen berjalan dengan sedikit sempoyongan, merasa kepalanya terasa panas kembali.
Aska bangkit, bergerak menutup pintu kamarnya, lalu duduk di atas sofa sebelah Queen.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya Aska tegas.
"Ngantuk aku tuh. Malah disuruh kemari." Queen kesal.
"Semalem kemana?" Tatapan Aska benar benar lekat menatap Queen.
"Enggak kemana mana" Queen merebahkan kepalnya di atas pangkuan Aska. Tetapi Aska malah menolaknya. Memaksa Queen kembali menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Enggak kemana mana. Kenapa jam segini bisa ngantuk?"
"Tugas lagi banyak."
"Tugas apa?" Queen mengangkat kepalanya, membalas tatapan Aska tak kalah tajam.
"Tugas kuliahlah.. kamu tuh kenapa sih mas? Nanya nya gitu banget." Lalu menyandarkan kembali. Tidak bisakah Aska membiarkan dirinya tidur dulu untuk saat ini.
"Tugas kuliah yang mana? Saya bisa konfirmasi sama si Agung."
"Buat apa?"
"Biar tau kamu bohong atau enggak!" Aska masih tidak memalingkan tatapannya dari Queen.
"Ck. Nggak percaya gitu sama aku." Queen mulai merasa tak tenang.
"Untu kali ini saya bener bener nggak percaya sama jawaban kamu." Aska semakin terdengar emosi.
"Ya udah, terus ngapain nanya kalo nggak percaya?" Queen mulai memejamkan matanya.
"Mending kamu jawab jujur aja Ra, biar cepet." Aska mulai tak tega melihat Queen.
"Terserah aja lah mas. Lagian kenapa kamu libur nggak kasih tau aku dulu sih?" Suara Queen melemah.
Sudah hilang entah kemana emosi yang menjalar di kepala Aska tadi. Dirinya tak kuasa untuk menanyakan lebih kepada Queen.
Kemudia Aska merebahkan kepal Queen di atas pangkuannya. Queen bergerak sedikit, mencari posisi yang nyaman. Kemudian satu senyum yang sedari tadi ingin Aska lihat pun terukir.
Aska yersenyum miris, menyadari suasana yang tidak oernah ia bayangkan sebelumnya.
Kejutan untuk Queen sudah gagal, malah dirinya sendiri yang terkejut melihat Queen seperti zombie.
Apkah ini yang selalu terjadi pada gadis manjanya, selama tidak dalam pengawasan Aska.
Memang, setelah kejadian tempo hari lalu, Queen tidak lagi ingin tidur di kamar Aska. Aska pkkir, Queen sedang rindu kamarnya. Ternyata..
Jika ini yang selalu terjadi pada gadisnya setiap malam. Maka, Queen harus bersiap menerima konsekuensinya nanti.
Tak akan lama, dan tak butuh waktu lama bagi Aska. Karena Aska tidak suka menyimpan masalah dalam hubungannya.
Tunggu saja, setelah gadisnya itu bangun, mimpi Cinderella nya akan segera berakhir.
**jangan marah sama Queen ya.. ini jalan menuju yang kalian inginkan**
__ADS_1
oiya, aku mah nggak masalah sama peringkat di point, karena masih banyak cerita yang lebih menarik dari pada kekonyolan Queen muda. Tapi aku selalu minta like dan komen nya untuk cerita ini. setiap habis baca. bolehkan?? 🙃🙃😉