Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
bertemu


__ADS_3

mencintai itu menyakitkan bukan? Meskipun demikian, masih saja selalu ada orang yang selalu tergila-gila karena cinta. Bahkan sampai ada sebutan khusus tentang itu. "Budak cinta".


Semoga yang terjadi pada kasus dua sejoli ini bukanlah akhir kisah cinta yang menyakitkan. Tapi cinta tetap akan terselip rasa sakit dalam kebahagiaannya.


***


Queen merasa dua orang lelaki yang berteman itu sudah bersekongkol. Sikap mereka benar-benar membuat Queen hampir gila dan putus asa.


Mungkin mereka sengaja membuat Queen menyerah, lalu setuju berpisah dengan Aska. Dan Queen sangat tidak ingin itu terjadi, dia tidak akan rela.


Dari pada Queen terus menerus mendesak dan merepotkan Rendi, lebih baik Queen menyusul Aska ke Bandung. Dia harus menemukan kenyataan yang sebenarnya. Harapannya masih ada, walau hanya setitik.


Pergi ke kota Bandung bukanlah hal yang sulit, banyak cara mode transportasi yang Queen tau untuk sampai disana. Salah satunya dengan naik bus, itu paling mudah dan tanpa jadwal. Biar bagaimanapun caranya Queen harus sampai disana.


Perjalanan Queen kali ini ke kota Paris Van Java itu sangat berbeda dengan sebelumnya. Saat itu, Aska yang membawanya kesana, ada rasa aman dan nyaman yang Queen tidak dapat saat ia pergi sendiri.


Kalau kemarin Queen kesana karena di ajak Aska, kali ini Queen pergi karena ingin menemui Aska. Semoga saja bukan kekecewaan yang Queen dapatkan.


***


Sesampainya Queen disana, dia benar-benar bingung, keadaan lingkungan saat siang sangat berbeda dengan malam. Queen tidak tau harus kemana, dan dimana lelakinya berada.


Banyak orang yang menghampiri Queen dan bertanya soal tujuan, tapi Queen benar-benar tidak tau harus kemana. Maka, yang ia dapat sebut dengan lancar hanyalah alun-alun kota Bandung.


Queen segera di arahkan ketempat yang di tuju. Duduk diam sambil kebingungan tanpa tau harus berbuat apa, Queen hanya menunggu malam segera datang. Rasa lelah dan penat di tubuh tak lagi Queen perdulikan.


Meskipun Queen belum sempat sarapan, perutnya sama sekali tidak bisa merasakan lapar. Hanya Aska yang ada di dalam ingatannya.


Sore menjelang, Queen masih duduk diam di atas bangku kota tanpa bergerak sedikitpun. Queen yakin, Aska akan mencari dan menjemputnya. Lelaki yang Queen kenal itu tak akan pernah membiarkannya seorang diri di luar tengah malam. Karena itu, yang perlu Queen lakukan hanyalah menunggu malam datang, dan Aska juga akan datang.


Queen terus memandangi jalanan di hadapannya. Beberapa pedagang mulai merasa aneh dengan kehadiran Queen. Gadis itu tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.


Saat Queen mendengar adzan maghrib mulai berkumandang, Queen memejamkan matanya, memanjatkan doa-doa di dalam hati.


Keyakinannya penuh bahwa Aska akan datang. Pasti akan berhasil menemuinya. Dengan cara seorang Aska.


Bersamaan dengan doa yang terus Queen panjatkan, ponselnya berdering. Rendi menelfon.


"Halo, Queen.. kamu dimana?" Tanya Rendi panik. "Aku cari kamu di rumah kok nggak ada, katanya kamu pergi dari pagi. Kemana?" Serentetan pertanyaan Rendi ajukan tanpa menunggu jawaban Queen satu persatu.


Queen tertunduk, tersenyum getir. Pertanyaan Rendi yang seperti itu, harusnya Aska yang mengucapkannya. Air mata Queen mulai menggenang. Lamunan yang sedari tadi penuh dengan keyakinan mulai memudar. Queen tak ingin Rendi yang menjemputnya nanti.


"Aku di Bandung." Jawab Queen. Semoga saja jawabannya sampai pada Aska.


"Ngapain kamu disana? Kan aku udah bilang, tunggu diem-diem di rumah Queen.." Rendi yang sekarang mulai frustasi. Ia memijit pangkal hidungnya dengan satu tangan bertengger di pinggang. "Posisi kamu dimana?" Lanjut Rendi.


"Aku nggak yakin, yang jelas aku duduk di bangku dekat lapangan luas." Queen masih tak mau Rendi yang menjemputnya.


"Queen!!" Sentak Rendi. "Kamu tuh udah hampir sarjana, sadar nggak sih, masa dimana posisi kamu aja kamu nggak tau. Jangan bercanda lah.." Kenapa Rendi menjadi sangat perduli?


Sekali lagi Queen tersenyum getir. Gadis itu tertunduk dan menggeleng perlahan. Air matanya mulai menetes tanpa permisi. "Aku cuma butuh mas Aska kak.." Lirih Queen.


Rendi mengiba. Hatinya berdesir mendengar suara Queen yang begitu lirih. Memang menurut Rendi, Aska sedikit tak masuk akal. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan Queen sendirian tanpa kabar.


"Makanya, aku udah bilang di rumah aja. Ntar juga Aska pulang. Malah ngeluyur, jauh banget lagi." Oceh Rendi. "Yaudah diem di tempat. Jangan kemana-mana." Queen mengakhiri telfonnya.


Queen masih berfikir bahwa Rendi yang akan menjemputnya. Maka yang Queen lakukan adalah mematikan ponsel, tanpa ingin di temui keberadaannya.


Rendi berusaha menghubungi nomor Queen lagi, tapi sudah tidak bisa. Lelaki itu mulai panik. Bagaimana ini, tanggung jawab yang Aska berikan padanya tidak bisa ia jalankan dengan benar. Queen benar-benar gadis yang merepotkan.


Tak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi, Rendi menghubungi Aska. Entah sudah dimana biang masalah ini berada.


"Woy As.." Seru Rendi saat Aska mengangkatnya dengan cukup lama.


"Apa? Gua baru selesai nganter nyokap naek kereta." Jelas Aska sebelum Rendi merutukinya.


"Cewek lu bener-bener dah."


"Kenapa?" Aska masih santai menanggapi.


"Dia nggak ada di rumahnya mas bro. Dari pagi dia pergi." Adu Rendi.

__ADS_1


"Kemana?" Aska mulai panik, langkahnya terhenti, fokus kepada penjelasan Rendi.


"Barusan gua telfon katanya di Bandung. Terus gua telfon lagi nomornya udah nggak aktif. Bingung gua ama tuh cewek." Rendi sedikit kesal. Ada rasa bersalah dalam dirinya, karena tak bisa menjaga amanat dari Aska.


"Elu. Jaga satu cewek aja nggak bisa." Aska nampak emosi.


"Weist, sorry ya mas bro, jaga satu cewek emang nggak bisa. Tapi kalo lu ngasih banyak gua bisa.." Rendi mulai bersikap santai, menenangkan Aska.


"Dimana dia bilang posisinya. Bandung luas Ren." Aska masih gusar.


"Katanya mah duduk di bangku, deket lapangan luas. Ah.. gua juga bingung, dia nggak nyebutin nama tempat apapun." Aska menggeleng. Iya langsung mematikan sambungan telfonnya.


Berlari keluar dari stasiun tempatnya berdiri tadi. Sambil menimang-nimang dimana tempat yang Queen maksud.


Aska semakin gusar, saat melihat awan mulai gelap. Dari pagi gadisnya pergi, sampai sekarang ia tidak tau keberadaannya. Dimana tempat yang seperti itu.


Ia ingat, Queen pernah berdecak kagum dengan pemandangan di alun-alun saat mereka melewatinya tengah malam lalu. Mungkinkah Queen disana, menunggu malam datang. Semoga saja ia benar.


Tanpa ragu lagi, Aska meluncur ke tempat yang ia yakini, dengan taxi. Harapannya penuh. Aska tau. Meskipun Queen sangat manja, tapi Queen patuh pada apapun perintah Aska.


Sesampainya Aska, setelah lelah mengitari lapangan di alun-alun yang begitu luas, Aska menjatuhkan tubuhnya, duduk di atas bangku. Rasa lelah sama sekali tak ia hiraukan. Pencariannya sudah cukup bagi Aska. Gadis ini harus di hukum, karena tidak patuh lagi.


Queen menoleh, menyadari seseorang duduk di sebelahnya. Awalnya ia tampak kesal, tak ingin siapapun mengganggu waktunya.


Sampai ia terkejut melihat sosok dalam fikirannya, menjadi nyata kini. Mungkinkah Queen berhalusinasi karena dehidrasi. Queen masih tak percaya.


"Mas Aska?" Ucapnya lirih. Lelaki itu hanya diam mematung menatap ke arah Queen. Pasti ia salah, pikir Queen.


Queen tertunduk, rasa getir di hatinya mulai menyeruak. Seberapa dalam rasa sayang Queen kepada Aska, sampai ia mampu berhalusinasi seperti itu.


Queen mengaktifkan kembali telfonnya. Ia ingin menghubungi Aska, tetapi urung ia lakukan.


Hanya rekaman suara yang akan Queen lakukan. Aska harus tau perasaan Queen saat ini.


**Aku hanya bisa terdiam


melihat kau pergi dari sisiku, dari sampingku.


yang pernah terjadi, tak lagi kau rasa..


Masih adakah tentang aku di hatimu


yang kau rasakan, coba kau rasakan.


Mudah kah bagimu untuk hapuskan semua kenangan, bersama denganku..


Tak pernah aku bayangkan, betapa hebatnya cinta tang kau tanamkan.


Hingga waktu beranjak pergi, tak mampu hancurkan hatiku.


Ada yang hilang dari perasaanku,


yang terlanjur sudah ku berikan padamu..


Ternyata aku tak berarti tanpamu,


Berharap kau tetap disini


Berharap dan berharap lagi**..


Queen lemas. Air matanya sudah mengalir begitu banyak. Rekaman itu tak mampu Queen kirim. Kalau saja tidak ada orang di sebelahnya, Queen pasti akan menangis terisak. Tapi ini bukan kawasannya. Queen tidak ingin mengundang kejahatan bagi dirinya.


"Gimana cara saya kasih hukuman buat kamu?" Queen mendengar suara itu, ia terkejut, kembali menoleh pada lelaki di sebelahnya.


Kening Queen mengernyit, masih tak percaya dengan penglihatannya. Malam hari, dengan cahaya yang temaram, di tambah ia belum makan satu apapun, mungkinkah benar Aska yang ia lihat?


"Ini hari valentine, tapi kamu malah nangis di kota orang. Sebenarnya siapa yang salah?" Queen kenal dengan suara itu. Kali ini Queen benar-benar yakin, bahwa lelaki di hadapannya adalah Aska -lelakinya- yang ia cari.


"Ma Aska!" Ucap Queen yakin.


Aska tersenyum, membentangkan kedua tangannya, memberikan akses Queen untuk memeluknya.

__ADS_1


Queen menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Aska. Lelaki yang ia tunggu sejak tadi, lelaki yang ia cari selama beberapa hari, akhirnya muncul dengan senyuman yang Queen rindukan.


Queen tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya lagi. Tak perduli dengan orang di sekitar yang menatap, Queen benar-benar sudah jatuh dalam pesona seorang Aska.


Tak ada yang terucap dari mulut Queen, hanya suara tangis dan suara tarikan di hidungnya.


Queen benar-benar terisak, menangis sampai tersedu. Badannya bergetar seiring suara tangis yang semakin kencang.


Apa yang bisa Aska lakukan untuk membuat Queen diam? Tak ada. Aska hanya membiarkan gadisnya menumpahkan segala emosi di hati yang ia pendam sejak tadi.


Rasa sakit yang tak berdarah, sudah Queen rasakan berhari-hari. Aska dapat merasakan sakitnya. Aska tau, Queen bukan gadis kuat dan tegar. Tapi bagi Aska saat ini, Queen sudah jauh lebih dewasa.


Queen berani dan bisa menghadapi kenyataan yang begitu pahit. Kehilangan orang yang di sayang lebih dari satu kali, pasti sangat menyakitkan.


Aska mengusap lembut punggung belakang Queen. Mencoba membuat gadisnya tenang.


"Maafin saya Ira.." Lirih Aska. Air mata Aska sudah lolos, tapi segera ia seka.


Queen mengangguk dengan pasti. Ia sudah berjanji, bahwa dirinya akan menjadi lebih baik dari sebelumnya, jika Tuhan mau mengembalikan Aska nya lagi.


Aska terharu. Memeluk Queen lebih erat lagi, agar gadisnya bisa lebih tenang dan hangat. Aska tak mau gadisnya jatuh sakit.


Sakit?


Aska melepaskan pelukannya, mengangkat wajah Queen agar dapat ia lihat. "Kamu udah makan belum?" Tanya Aska. Wajahnya kembali gusar.


Queen menggeleng. Ya Tuhan.. kesalahan Aska benar-benar fatal kali ini. Aska segera menyeka air mata di pipi Queen. Mengajaknya beranjak dari bangku yang sudah ia singgahi berjam-jam lamanya.


"Aduh duh.. duh.. pelan-pelan mas, kaki aku keram." Queen baru merasakan seluruh syaraf masih berfungsi di tubuhnya. Setelah ia mengabaikannya sejak tadi.


Aska berdecak kesal, kesal pada dirinya sendiri. Kenap ia menjadi begitu bodoh. Membiarkan gadisnya merasakan sakit karena ulahnya. Pantas saja Arya sangat marah waktu itu.


Aska memapah Queen, jalannya pelan, sampai pada satu warung terdekat dengan mereka.


Apapun makanan yang dijual oleh pedagang itu, Queen tidak boleh menolaknya. Aska juga tak ingin memberikan pilihan, karena akan membuang-buang waktu saja nantinya.


"Aku pengennya nasi goreng mas.." Rengek Queen,


"Nggak usah nyebut yang macem-macem, makan aja dulu yang ada." Tegas Aska.


Queen sadar, jika sikap Aska kali ini sudah tidak bisa di bantah. Queen hanya diam tertunduk dengan bibir yang mengerucut.


Satu porsi sate dengan lontong juga nasi sudah siap di hadapan Queen dan Aska.


"Makan. Harus habis!" Titah Aska. Menyodorkan semua pesanan mereka pada Queen.


"Yang bener ajalah. Emang aku karung apa? Udah ada lontongnya pake nasi segala. Mas Aska. Aneh banget sih." Oceh Queen. Kemana larinya janji-janji Queen tadi. Baru di sodorin makanan yang bukan keinginannya saat ini saja, sudah kumat manjanya.


"Bukan karung, tapi kamu masih dalam tahap pertumbuhan." Jawab Aska serius. "Makan, abis itu kita cari penginapan." Tak ada celah bagi Queen kali ini.


Lelakinya benar-benar tegas, wajahnya serius tanpa ampun. Queen berdecak kesal. Sedangkan Aska mulai tersenyum diam-diam melihat gadisnya harus terpaksa mengikuti perintahnya.


"Ini pacarnya ya a'?" Tanya si pemilik warung makan sate itu.


Aska mengangguk dengan senyum. "Calon pak.." Jawabnya sopan. Queen tidak terkejut dengan ucapan Aska. Baginya sudah sering ia mendengar Aska menyebutnya demikian, tapi entah kapan kata 'Calon' akan berganti dengan 'Istri'.


"Oh.. berarti dari tadi teh, si Eneng nya duduk di situ nungguin aa' nya dateng?" Aska melongok mendengar penuturan si bapak tukang sate.


"Dari kapan dia duduk di situ pak?" Aska nampak serius.


"Saya sih baru buka, tapi kata yang laen dari siang si eneng nya nggak bangun bangun duduk di situ terus." Jawab si bapak, sebelum ngeluyur pergi karena ada pembeli datang.


Kepala Aska mulai memanas. Menatap Queen dengan serius. "Dari kita ketemu tadi pagi, kamu pasti belum makan apapun?" Tebak Aska.


Queen tertunduk, menyeruput es teh manis pesanannya.


Rasa takut akan tatapan Aska mampu membuat Queen menghabiskan satu gelas tes teh manis. Bahkan dalam bumbu sate Queen, Aska melarangnya di beri sambal meski hanya seujung sendok.


"Makan, jangan bangun kalo belom habis. Saya mau keluar sebentar." Sekali lagi, titah Aska yang sudah tiba Queen tolak.


Aska beranjak keluar, setelah memesankan satu minuman teh hangat untuk Queen, pada pemilik kedai.

__ADS_1


__ADS_2