
Hy.. balik lagi ya, semoga ceritanya nggak ngecewain.
Mencintai dengan sepenuh hati adalah anugrah dadi Tuhan yang paling indah. Tak semua orang dapat melakukannya. Terkadang, mereka menyerah, sebelum mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Hanya karena tak ingin luka lebih dalam, mereka meninggalkan harapannya dengan sia-sia.
Selain itu, hal yang sulit dilakukan oleh kebanyakan orang adalah, ketika melakukannya dengan ikhlas dan tulus. Tak jarang, apa yang mereka perbuat, selalu ada niatan di dalamnya. Ada hasil yang ingin di peroleh secara egois. Karena dari itu, dua hal tadi adalah hal murni yang tak banyak orang mampu memilikinya.
Entah apa yang di rasakan Rendi dan bagaimana pola pikirnya saat ini. Meski dirinya kesal dengan sikap Aska yang tak tentu ingin pergi kemana, karena selalu berubah tempat setiap kali mobil yang Rendi kemudikan hendak sampai di tujuannya. Dari rumah, Aska ingin di antar menuju rumah sakit terdekat, ia tak ingin Queen berada terus dalam pengawasan Arya. Namun saat Mereka baru saja masuk ke dalam mobil, Aska meminta Rendi membawanya ke supermarket.
Rendi masih tak masalah dengan itu. Ia hanya mengurung rasa jengkelnya dalam hati. Menebaknya sendiri tanpa ingin mengatakannya langsung pada orangnya. Hingga saat plang tanda supermarket itu sudah terlihat jelas, Aska kembali mengganti arah tujuannya ke mall besar. Sungguh, jika bukan karena Rendi yang mengingat tentang kehamilan Queen, maka dengan senang hati Rendi akan menurunkan temannya itu di tempat yang paling sunyi, meninggalkannya, di mana tidak ada satupun kendaraan yang bisa ia temui. Dengan begitu, Rendi tidak akan mendengar suaranya yang menggelitik gendang telinganya.
Rendi memejamkan matanya, menggenggam kemudi di tangannya erat-erat, seraya menahan segala kalimat yang mungkin saja akan keluar dari mulutnya dengan sangat kasar.
Tenang Ren.. mungkin ini bawaan bayi..
Rendi mencoba menenangkan dirinya sendiri. Memberikan pikiran positif pada otaknya, agar tidak terpancing amarah.
Lelaki itu melirik kebelakang dari kaca kecil di atas kepalanya. "Jadi fix nya kemana nih?" Hanya kalimat itu yang akhirnya Rendi ucapkan.
"Ke mall aja. Gua pengen beliin baju daster buat bini gua." Sahut Aska. Ia juga menatap Rendi melalui cermin kecil itu. Sambil satu tangannya memeluk tubuh Queen dadi samping.
"Berasa lu doang ya As yang punya bini. Liat ntar, kalo gua udah bisa nemuin cewek yang pas buat gua, yang lebih cantik dari bini lu, gua pamerin ama lu tiap hari. Biar lu juga ngerasain apa yang gua rasain sekarang." Rutuk Rendi kesal. Meski suaranya pelan, namun cukup terdengar oleh Aska dan Queen yang berada di bangku penumpang belakangnya.
Sedangkan orang yang di maksud, hanya mengangkat sudut bibirnya sambil membuang arah pandangnya ke jendela samping, seperti mengejek.
Perlahan ban mobil itu akhirnya berhenti dengan aman di area parkir yang di sediakan oleh pengembang mall tersebut. Letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka, namun mall ini termasuk mall besar yang belum lama launching pembukaannya.
"Akhirnya sampe juga. Turun lah.." Rendi menarik tuas rem tangan. Memastikan mobilnya terparkir dengan aman. Setelahnya barulah ia turun. Namun Aska sudah lebih dulu turun. Ia berdiri di samping pintu yang terbuka, menunggu Queen yang masih sibuk mengenakan tas kecilnya.
"Sini aku bawa." Aska mengambil tas wanitanya, lalu menggenggam jemari Queen, membimbingnya keluar dari mobil. Rendi yang melihatnya hanya berdecak malas sambil membuang arah pandangnya. Baginya, mengikuti undangan Aska untuk datang kerumahnya adalah kesalahan fatal, entah sudah berapa kali pandangannya terkontaminasi oleh kemesraan Aska yang benar-benar seperti ABG telat dewasa.
__ADS_1
Mau tidak mau Rendi harus mengekori dua orang yang sudah sangat akrab baginya, mengelilingi isi dalam mall tersebut. Ini juga hal baru bagi lelaki itu, karena tidak sekalipun ia pernah menemani gadis yang ia kencani untuk berbelanja ke dalam mall. Itu adalah hal yang paling membosankan dan menyita waktu. Rendi lebih tertarik menghabiskan sisa waktu mereka di dalam ruangan, yang mana hanya ada dirinya dan wanita yang kencani saja. Tanpa adanya pengganggu.
Sampai pada saat mereka mulai menjelajah lantai dua. Rendi rasanya sudah jengah mengikuti pasangan sejoli ini, meski keberadaannya kerap tidak di anggap, tapi Rendi tetap setia mengikuti tiap langkah kemana kaki Queen berjalan.
"As, ayolah.. dari tadi banyak tuh toko baju yang jual barang yang lu cari. Ngapain sih masih ribet-ribet nyari lagi." Gerutu Rendi, yang tentu saja terdengar oleh Queen.
"Sebentar dong kak, aku belum nemuin yang pas sama hati aku. Kayak kak Rendi yang belum pas nemuin sama maunya hati kakak." Sindir Queen tanpa melihat ke arah Rendi.
"Yaelah Queen. Jodoh sama baju beda kali.. Kenapa bisa lu sama-samain sih."
"Sama lah kak.. Sama-sama pake hati milihnya." Queen semakin sinis, sedangkan Aska hanya tersenyum sambil mengamati.
Aska menepuk pundak bahunya yang berada di sebelahnya. Sambil berbisik ia berujar " Sabar Ren.. anggap aja latihan buat lu ngadepin istri lu nanti kalo lagi hamil."
Bisikan yang entah seperti motivasi atau ejekan di telinga Rendi. Ia hanya tersenyum getir menanggapinya. Aska dan Queen benar-benar merendahkannya tentang jodoh.
"Mas.. bagusan yang mana?" Queen mengambil dua pakaian yang di gantung dengan motif bunga dan menunjukkannya pada Aska.
"Jangan yang ini Ra, anak kita kan laki-laki." Dengan santainya Aska menggantungkan kembali pakaian yang Queen tunjukkan tadi, dan menggantinya dengan pakaian bermotif gambar animasi kereta api.
"Enggak mas, anak kita perempuan. Kan aku ibu nya, jadi aku yang paling tahu!"
"Saya ayahnya Ra. Saya yang buat, jadi saya tau benar kalau anak kita laki-laki." Mereka saling merebut pakaian yang di pegang oleh yang lainnya dan menggantungkannya kembali, lalu mengambil pakaian dengan motif yang mereka suka.
Rendi tang awalnya hanya mengamati mulai merasa kesal dengan perdebatan konyol suami istri yang tak jelas ini. Maklum saja, dua orang ini memiliki keinginan yang berbeda. Queen menginginkan anak perempuan karena akan sangat membantunya untuk mengurus pekerjaan rumahnya kelak, menemaninya bercerita, berbelanja juga anak perempuan lebih mudah untuk di kutak-katik, di banding anak laki-laki yang menurutnya monoton.
Sedangkan Aska menginginkan anak laki-laki, karena ia harus menjadi pelindung keluarganya kelak. Anak pertama harus anak laki-laki, prinsipnya. Mereka harus mampu menjadi tiang atau sandaran bagi ibu juga adik-adiknya nanti.
"Udahlah nggak usah ngeributin pepesan kosong. Malu juga diliatin sama orang. Tuh liatin pegawainya pada ngeliatin kita." Rendi menunjuknya dengan arah pandangnya. Berusaha menyadarkan dua orang yang semakin menarik perhatian orang di sekitarnya.
__ADS_1
Queen yang tercengang, dirinya tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rendi. "Mana ada pepesan kosong sih kak, kita tuh lagi milihin baju untuk calon anak kita!" Tegas Queen.
"Kita??" Rendi menunjuk dirinya sendiri dengan jarinya, sambil mengulangi kata terakhir yang Queen sebutkan.
"Bukan.. bukan.." Queen menggerakkan telapak tangannya ke kiri dan ke kanan di depan wajahnya. "Maksud aku, aku sama mas Aska." Queen lalu memeluk lengan Aska seraya menyembunyikan wajahnya di balik pundak Aska. Ia malu dengan ucapan Rendi tadi.
Lagi-lagi Aska hanya tersenyum, sambil mengusap rambut Queen. Ia gemas dengan tingkah wanitanya yang seperti anak kecil.
"Maksud aku pepesan kosong itu, kalian berdebat untuk alasan yang nggak penting tau nggak!"
"Penting lah Ren.. emang lu mau ngeliat anak gua nggak make baju." Aska mulai berkomentar.
"Nggak masalah. Anak lu kan, bukan anak gua yang nggak make baju." Rendi berujar seraya melangkah dari posisinya.
"Sialan lu emang." Aska memukul Rendi dengan tas Queen yang Aska pegang tadi.
"Queen.. harusnya kamu kayak sih mbak ini." Rendi menepuk pundak wanita disebelahnya yang sedang memilih pakaian balita juga. "Dia milihnya santai. Dateng sendiri emang lebih enak ya mbak?" Rendi mengarahkan pandangannya di depan wajah wanita itu.
"Sorry ya mbak, sendirian aja nih belanjanya.. anaknya usia berapa mbak? Laki-laki atau perempuan? Biar saya bantuin milihnya!"
Mata wanita itu memicing tajam ke arah Rendi. Bagaimana ada orang yang begitu percaya dirinya berbicara dan menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi pada orang yang belum ia kenal. Mereka bahkan baru pertama kali bertemu.
"Maaf ya mas, saya kira anda supir tadi, karna saya liat anda di parkiran, ternyata anda juga pegawai toko di sini ya?"
WHAT???
apa yang terjadi selanjutnya????
🙃🙃😉
__ADS_1