
Perlahan, mobil yang Aska kemudikan mulai memasuki sebuah halaman rumah. Setelah sebelumnya Zaki turun dadi mobil dan membuka slot kunci dari pagar kayu yang berjajar membentengi rumah sederhana di belakangnya.
Hati Queen semakin berdebar kencang. Dirinya sangat gugup, takut, akan penolakan yang mungkin akan ia dapati. Atau mungkin, sebuah uluran tangan yang akan menghangatkannya. Queen masih tidak tau apa yang akan terjadi beberapa detik selanjutnya.
"Ayok Ra... Turun." Ajak Aska. Tetapi, kaki Queen seolah terasa berat melangkah. Zaki sudah menarik gagang koper miliknya, mendekati pintu utama rumah tersebut, Aska juga sudah menunggu dirinya di sebelah Zaki.
Perlahan, dengan segenap keberanian yang ia kumpulkan, Queen mulai melangkahkan kakinya turun, berjalan santai menghampiri mereka. Kekasihnya mengusap lembut pucuk kepala Queen, berusaha memberikan ketenangan untuk gadisnya.
"Nggak papa Ra... Keluarga kamu aja bisa terima saya, apalagi keluarga saya yang nggak ada apa-apa nya di banding uang receh kamu." Tutur Aska yang langsung mendapat pukulan di lengan kanan nya.
"Apaan sih mas.. kok ngomongnya gitu." Sorot mata Queen memandang Aska penuh kekecewaan.
Zaki mengetuk daun pintu di hadapannya yang terbuat dari kayu. Dua daun pintu yang tertutup rapat, dengan ukiran bermotif bunga meliuk daun pintu rumah tersebut. Rumah Aska masih sangat sederhana, masih tradisional khas adat daerah setempat.
berbentuk melebar, dengan genteng yang masih menjadi atap rumah itu. Meskipun terlihat sudah lama, tapi sangat klasik, membuat hati Queen menghangat.
Zaki kembali mengetuk daun pintu rumah di hadapannya dengan tak lupa di iringi ucapan salam.
Perlahan mulai terdengar suara seorang wanita yang menyahut dari dalam.
"sebentar.." suaranya meninggi. Tak lama suara kunci di putar terdengar, juga suara seperti kayu yang bersentuhan dengan kayu lainnya.
"sebentar ya..." ucapnya lagi menenangkan.
Begitu daun pintu itu di buka, kaki Queen semakin terasa berat. Rasanya ia ingin berbalik masuk kedalam mobil. Pandangan matanya juga tak berani menatap mata wanita muda di depannya.
"Mas Zaki.. Eh.. Mas Aska pulang..." serunya antusias senang. Queen memang sudah menggeser kakinya, hingga tubuhnya kini berada di belakang dua lelaki yang badannya lebih tinggi darinya. Berharap wanita itu tidak menemukannya.
Diliriknya gadis itu menyalami dua lelaki di hadapannya. Mencium punggung tangan mereka secara bergantian.
"Ibu mana?" tanya Aska. Mendengarnya membuat Queen mengeratkan genggaman jarinya pada kaos yang Aska kenakan. Aska tak ambil perduli dengan sikap Queen. Tapi Aska masih enggan masuk kedalam rumah tersebut, berbeda dengan Zaki yang langsung masuk melalui daun pintu yang terbuka satu.
"Ada di dalam." Jawab gadis itu.
"Panggil." Titah Aska.
"Ibu.... Mas Aska pulang..." gadis itu beranjak masuk. Tak lama seorang wanita paruh baya keluar dengan mengenakan sehelai sarung sedikit lusuh melingkari setengah tubuhnya ke bawah.
__ADS_1
"uwis muleh tah nang..." (udah pulang ya nang-sebutan untuk anak laki-laki-) Ucapnya, Aska segera mencium punggung tangan wanita yang ia panggil ibu tersebut.
Ibu sempat melirik seseorang yang berada di belakang Aska, membuat ia mengerti. Aska menarik lembut jemari Queen yang semula terus memegangi kaosnya.
"Ini ada tamu bu.. Dari jauh.." Tutur Aska. Siap tidak siap Queen harus keluar dari persembunyiannya. Menampakan wajahnya, mengangkat arah pandangnya bertemu dengan sorot mata yang terlihat begitu lelah milik ibu Aska.
"Assalamualaikum..." Tutur Queen sedikit terbata karena gugup. Selanjutnya Queen mengikuti Aska dengan mencium punggung tangan wanita itu.
"Wa'alaikumsalam... Oh.. Cah ayu.... " (anak cantik.....) Jawab ibu Aska. Senyumnya terlihat mengembang.
"Ini yang kamu ceritakan mas?" Tatapan mata ibu Aska meminta jawaban pada anak sulungnya.
"Enggeh bu." (iya bu).
"Oh.. Cantiknya..." tutur ibu Aska.
"Mana bu?" Wanita muda yang tadi sudah masuk kedalam, sedikit berlari keluar, nampak penasaran.
"Oh.. Mbak Queen ya?" Gadis muda itu memastikan.
"Iya.." Jawab Queen sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya samar.
"Sudah-sudah.. Ayok masuk. Dingin cuacanya, kasian cah ayu kedinginan" Ajak ibu Aska memeluk pundak Queen, membawanya masuk ke dalam.
Mendapat perlakuan seperti itu, Queen melirik ke arah Aska dengan senyum penuh kelegaan dalam hatinya. Aska juga memberikan senyum simpulnya.
see?? semua akan terjawab seiring berjalannya waktu. Dalam pikiran Aska.
Queen sudah duduk lebih dulu di atas kursi yang terbuat dari kayu, dengan anyaman plastik sebagai alasnya.
Aska duduk di sebelah Queen, menemaninya mengusir ketegangan yang masih Queen rasakan.
Tiga gelas teh hangat sudah berada di atas meja di hadapan mereka.
"Yang ini punya mbak Queen. Ada gulanya. Yang lainnya enggak pake gula" jelas adik Aska.
"Kok aku nggak pake gula Ni?" Celetuk Zaki.
__ADS_1
"Kata mas Aska mbak Queen cuma mau minum minuman manis" Tutur gadis cilik yang bernama lengkap Nur Aini.
Queen melirik ke arah Aska. Dirinya tak percaya, adik kandung Aska bahkan sudah tau kebiasaan Queen, hingga minuman favoritnya.
Tapi Aska hanya senyum sebagai jawaban.
Ibu Aska duduk di kursi tunggal dekat Aska. Melihat interaksi mereka.
"Zaki kalau mau pake gula tambahin sendiri di dalam. biasanya juga bikin sendiri." Imbuh ibu Aska. Selalu ada senyum yang menghiasi wajahnya dalam setiap tutur kata.
"Jauh ya ndo' perjalanannya?" Tanya ibu Aska memulai percakapan.
"Iya bu.. " Jawab Queen kaku.
"Siapa namamu ndo'?"
"Queeneira bu..."
"Siapa?" Tanya ibu lagi memastikan.
"Ira bu.. panggil aja Ira."Aska yang menjawab kini.
"Maklum Ra.. Orang tua disini agak kaku sama bahasa nama kamu." Lanjut Aska pada Queen.
"Maaf ya cah ayu... " Ibu Aska menanggapinya dengan tawa.
"Engga pa-pa bu.. Mas Aska juga panggil aku begitu"
"Kok mau sih mba sama mas Aska, dia kan biasa aja" tanya Zaki kini membuka suara.
Queen menjawabnya dengan tawa.
"Dari pada mas Zaki, ganteng tapi playboy." Aini membela.
"Mbak kok bisa cantik gini sih.. kulitnya kayak pake plastik. Putih bening gitu." lanjut Aini.
"Emangnya kamu. Mandinya pake air kali, makanya kulitnya lumutan" Sahut Zaki.
__ADS_1
"Huh.." Aini mendengus.
Kehangatan yang Queen rasakan kini seolah seperti sedang bermimpi. Rasanya hilang sudah semua keraguan dan ketakutan yang Queen rasakan sebelumnya. Ketakutan dengan alasan yang tak jelas. Alasan yang hanya ada dalam pikiran dan hati Queen. Semuanya tidak akan tau hasilnya jika kita belum mencoba.