Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
tujuh belas


__ADS_3

Ngurus anak perempuan, ya emang susah susah gampang. Apalagi anak semata wayang yang udah terlanjur di manjain dari kecil. Bukan cuma satu orang aja, bahkan orang sekitaran ayahnya pun ikut manjain anak perempuan ini.


Tapi tetap aja, kalau dia udah dewasa mah, yang di cari kalo lagi patah hati ya.. tetep bundanya. Apapun masalahnya, sentuhan tangan bunda, pelukannya, serta ucapannya adalah penenang yang paling mujarab.


Tadi, saat sedang menikmati waktu kebersamaan, tiba tiba saja perempuan remaja yang sedang dalam fase pertumbuhan menjadi dewasa, mengucapkan kata kata yang tidak tentu arah. Hampir saja membuat sang ayah kelimpungan karena kesal. Nasib baik, bundanya memiliki pengalaman yang sama dengan masalah yang di hadapinya, jadi dia tau apa yang harus di lakukan dan bagaimana cara menyikapinya. Meskipun pada akhirnya, dirinya harus rela mendapat hukuman manis nan nikmat dari sang suami yang tersulit emosi karena salah ucapannya sendiri.


"Selamat pagi Ira.." Aska melingkarkan tangannya pada tubuh kecil nan ramping. Memeluknya dari belakang dan menumpu dagunya di atas pundak wanita kesayangannya.


Sebenarnya perlakuan kecil di pagi hari ini sangat mengganggu pergerakan istrinya yang tengah memasak. Tentu saja ruang gerak Queen terbatas dengan pelukan posesif dari Aska.


"Selamat pagi mas Aska ku sayang.." Jawab Queen.


Dengar itu, hanya beberapa kalimat tapi mampu membuat Aska tersenyum bahagia dalam mata nya yang terpejam.


Ia mengecup pipi Queen sebentar lalu kembali meletakkan dagunya di atas pundak Queen.


"Hari ini aku libur.. kita jalan yuk,"


"Mandi dulu sana. Aku masih sibuk nih.." Queen meronta pelan. Gerakannya sungguh sangat terbatas karena tangan yang melingkari pinggangnya, memaksa Queen hanya bisa berdiam diri di tempat.


"Sebentar aja." Jawab Aska.

__ADS_1


"Nanti kalo masakannya enggak enak jangan protes ya.."


"Aku kapan pernah protes sih Ra kalau soal masakan kamu."


Aska masih menjawab setiap ucapan Queen dengan mata yang terpejam.


Queen yang mendengarnya, berhenti dari gerakannya sebentar, lalu mematikan kompor yang sedari gadi masih menyala. Dengan sengaja ia melepas tangan yang memeluknya lalu memutar menghadap Aska.


Aska yang tak siap dengan gerakan kasar istrinya itu tentu saja membuat matanya terbuka sepenuhnya. Dengan wajah bingung ia membalas tatapan amarah Queen.


"Oooh... jadi gitu... jadi selama ini masakan aku tuh enggak enak iya? Jadi selama ini mas terpaksa gitu makannya?"


"Ha? Kapan aku pernah bilang masakan kamu nggak enak?" Seketika Aska menyadari, bahwa memang ada yang salah dari ucapannya tadi.


***


"Apa sih bun.. masih pagi udah ngomel aja?" Suara Gita yang baru saja bangun menghentikan ocehan Queen yang sedari tadi menggumam sendirian.


"Tuh ayah kamu. Masih pagi udah ngeselin. Tadi aja baik baikin pas baru bangun, peluk bunda lah, coum lah, ngucapin selamat pagi lah. Heuh, sok romantis banget, tapi ujung ujungnya nggak ngenakin banget."


Segera, setelah ocehan panjangnya, ia menghabiskan satu gelas air putih yang ia bawa dari dapur. Berusaha menenangkan hatinya yang kini masih dilanda emosi. Queen memilih duduk di depan tv.

__ADS_1


Gita ikut duduk di sebelahnya, mencoba mendengarkan uneg uneg bundanya di pagi hari.


"Emang ayah ngomong apa?"


"Masa ya ayah kamu bilang masakan bunda tuh nggak enak. Tapi dia diem nggak berani bilang sama bunda. Coba Git, umur kamu berapa sekarang?" Tanya Queen antusias dengan emosinya.


"Emm.. delapan belas."


"Tuh kan!" Jawaban cepat Queen mengejutkan Gita. "Udah segitu lamanya Git, dan bunda baru tau kalau selama ini masakan bunda tuh nggak enak. Terus kenapa ayah kamu diem aja coba. Harusnya tuh dia ngomong gitu lho. Bilang sama bunda kalau ada rasa yang kurang, atau ada rasa yang berlebihan atau apa lah .. bukan cuma diem aja, makan lahap, bekel habis terus.. atau jangan jangan bekel buatan bunda tuh di buang ya, terus ayah kamu malah makan di warung. Oh... pantesan aja ayah kamu tuh kalau pulang selalu bawa makanan, ternyata.. itu toh alasannya."


"Jangan menduga duga bun.. gak baik. Ayah pulang bawa makanan kan karena bunda yang minta sendiri kadang."


Gita bangkit dari duduknya, ia mengecup pipi Queen sebentar lalu berjalan kedalam menuju dapur.


Sudah menjadi hal yang di wajibkan bagi Aska dan Gita, mencium pipi Queen bagi Gita dan kening Queen untuk Aska. Itu adalah hal yang tidak boleh terlewat dalam aturan di rumah tersebut yang di titahkan oleh sang kepala keluarga. Dirinya ingin Queen selalu merasa di cintai dan disayangi sampai kapan pun itu.


"Bun.. belum masak ya?" Gita kembali ke sisi Queen yang masih setia duduk sambil cemberut.


"Bunda udah masak. Tapi belum mateng, bunda nggak mau nerusin lagi. Buat apa masak kalau ternyata enggak enak. Kalau kamu laper beli nasi uduk aja sana. Atau minum tuh air seteko,"


"Itu mah bukannya kenyang yang ada kembung bun.. Oh iya, ayah panggil panggil tuh bun.. katanya lupa bawa handuk." Gita lalu kembali masuk ke kamarnya. Dari pada dirinya harus keluar di pagi hari. Lebih baik menganggu goodboy nya yang pasti masih tertidur lelap.

__ADS_1


🙃🙃😉


__ADS_2