Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
pandangan baru


__ADS_3

Rendi dengan kesadarannya yang baru pulih karena kejutan dari Aska, seketika menginjak pedal gas mobilnya. Buru-buru agar cepat sampai di kontrakan Queen. Tanpa mencuci muka, atau pun minum barang seteguk, Rendi tak memikirkan apapun lagi selain hubungan temannya yang mungkin akan kandas karena perjanjian konyol mereka.


Sesampainya Rendi disana, dadanya berdegup kencang, ia gugup. Bagaimana jika istri teman baiknya yang menyimpan sejuta rahasia tentang dirinya tidak sempat untuk ia cegah kepergiannya.


Dan tanpa bertele-tele Rendi segera mengetuk pintu kamar kontrakan Queen. Dengan harapan ada orang yang di dalam.


"Queen.. Queen" Panggil Rendi tak sabar sambil terus mengetuk sekeras mungkin.


"Queen.. lu ada di dalem kaga?" Rendi terus memanggil nama Queen sekencang mungkin. Bisa saja Queen tidak mendengar.


"Queen.." Panggilan kencang dari Rendi, tidak hanya terdengar di satu pintu. Tapi pintu-pintu kamar yang lain, justru malah terbuka dengan cepat, serentak menoleh ke arah Rendi, yang nampak tak perduli dengan apapun selain sosok Queen saat ini.


"Kenapa mas?" Salah seorang tetangga mencoba menyapa Rendi.


"Si Queen ada di dalam nggak ya bu?"


"Kayaknya mah dari tadi saya belum liat dia keluar sih mas. Mungkin lagi tidur kali di dalem.."


"Masa? Udah tengah hari masih tidur aja."


"Ya namanya juga orang hamil mas. Bawaannya kan capek mulu. Apalagi saya denger suaminya lagi main gila sama cewek lain." Rendi merasa kesal dengan mulut bocor tetangga Queen yang satu ini. Ia menghampiri wanita itu, dengan ekspresi marah, sedikit menekan setiap kalimatnya.


"Siapa yang bilang Aska main gila sama cewek lain? Cewek itu adek saya. Saya yang minta dia nemenin adek saya kalo saya lagi tugas. Siapa yang nyebar-nyebarin berita nggak jelas kayak gitu."


Wanita yang usianya tak jauh berbeda dengan Queen itu, seraya menurunkan arah pandangnya, tak berani menatap Rendi.


"Berani banget ngegosipin anaknya yang punya kontrakan." Celetuk Rendi sebelum meninggalkan wanita itu, dan kembali menghampiri kamar Queen.


"Queen. Kalo kaga di buka gua dobrak nih." Habis sudah kesabaran Rendi sekarang. Omongan nyinyir tetangga Queen benar-benar merusak syaraf kesabaran Rendi.


Baru saja Rendi akan menghitung untung mendobrak pintu kamar Queen, sosok yang ia tunggu-tunggu sejak tadi akhirnya muncul di depan wajahnya.


"Kenapa sih kak? Aku di kamar mandi tadi." Queen muncul dalam balutan baju handuk dan rambut basah yang tergulung handuk kecil.


Rendi terbelalak.


'Sial, bikin jantung orang mau copot aja nih cewek.'


"Lama banget lu bukain pintu. Gua kira lu udah kabur." Setelah menetralkan deru nafasnya, barulah Rendi kembali membuka suara.

__ADS_1


"Tadi aku udah teriak dari kamar mandi, mungkin nggak kedengeran kali ya.."


"Ck. Yaudah. Make baju dulu sono, gua tungguin disini."


"Ada perlu apa emang kak?"


"Nggak ada perlu apa-apa. Si Aska nyuruh gua jadi satpam disini, biar lu nggak kemana-mana." Rendi memutar tubuhnya, membuang arah pandangnya dari pesona tubuh Queen.


"Oh.. pasti mas Aska udah cerita sama kak Rendi ya, dasar tuh orang. Nggak bisa jaga rahasia perusahaan banget sih. Semua pasti di ceritain ke kak Rendi. Jangan-jangan malem pertama kita juga kak Rendi tau ya.." Queen jadi kesal. Kenapa Aska selalu saja bercerita pada temannya yang satu ini. Kenapa Aska selalu melibatkan orang ini dalam dunianya, sekalipun tentang asmara.


"Ck. Gua juga berharap kayak gitu Queen. Pengen denger gua juga, gimana dia bisa naklukin lu di atas kasur. Sampe perut lu ngebuncit gitu." Sarkas Rendi.


"Udah sono make baju. Apa perlu gua yang makein?"


"Dih, punya temen sendiri masih di embat aja kak. Haha.." Queen sama sekali tidak merasa cemas ataupun takut dengan ucapan Rendi. Ia tau lelaki itu hanya bercanda. Queen segera berbalik hendak menutup pintunya.


"Oh ya Queen."


"Apa?"


"Ambilin aku minum dong. Aus nih. Capek abis teriak-teriak." Rendi mengusap kulit tenggorokannya.


"Iya bentar."


"Tadi dia nunduk abis gua omelin, jangan-jangan dia kebauan lagi sama nafas gua." Lelaki itu berucap pelan pada dirinya sendiri.


Ada sedikit rasa malu saat ia mengingat itu. Rendi melirik setiap jajaran pintu di kanan dan kiri tubuhnya berdiri.


"Ngeri juga ya, kalo tinggal di kontrakan yang berderet gini. Satu gosip bakal cepet nyebar kalo gini keadaannya mah. Sih Queen kuat banget ngadepin omongan orang. Pasti sakit ati tuh anak."


"Kak. Minumnya." Suara Queen mengejutkan lamunan Rendi.


"Kayak setan aja lu, ngagetin orang segala."


"Lah?" Queen yang tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Rendi, hanya bisa bertanya sendiri dalam hati, dan sedikit mengumpat 'nggak jelas'.


Rendi menegak habis air putih dingin bawaan Queen tadi.


"Queen. Kamu nggak usah dengerin info dari orang. Masalah itu karena aku. Si Aska cuma korban dari kelicikan cewek yang mau gua deketin." Rendi bicara serius kali ini. Meski keduanya duduk di pelataran teras depan pintu Queen. Namun Rendi tak sungkan berbicara blak-blakan tentang apa yang terjadi. Toh. Pasti tetangga Queen sudah pada mendengar beritanya.

__ADS_1


Queen hanya tertunduk, menyelami isi hatinya yang masih terluka.


"Lu tau sendiri kan, Aska tuh nggak ngerti apa-apa tentang cewek. Ya jadi gitu, dia nggak bisa ngeliat permainan dari lawan jenisnya." Queen masih tak berkomentar.


"Ya.. gua sih berharap, rumah tangga lu dalam keadaan baik. Kalo sampe kenapa-kenapa, gua bakalan nyesel seumur hidup Queen. Mungkin, gua bakalan nemenin si Aska yang menjomblo sampe hari tuanya." Rendi mencoba menarik simpati Queen, dengan mendramatisir keadaan.


"Sampe hari tua? Maksudnya?"


"Yaiyalah. Lu tau kan si Aska tuh cinta mati seumur hidup sama lu. Kalo sampe lu pergi pas dia belum tua, berati dia bakalan melajang sampe dia tua, kalo dia belom mati." Satu tabokan keras Queen mendarat di lengan Rendi.


"Jangan gitu dong do'a nya sama temen sendiri. Amit-amit dah." Queen mengusap perut buncitnya berulang-ulang.


"Lah.. gua dengernya lu mau minta pisah sama si Aska? Sekarang gua baru ngomong kayak gitu, lu udah amit-amit. Emang nggak kasian sama isi di perut elu itu?" Rendi menunjuk dengan tatapannya.


"Ya.. kasian sih kak. Tapi aku juga nggak sanggup nahan sakit kayak gini." Queen membuang nafasnya kasar.


"Iya gua paham. Lebih sakit lagi nanti, pas anak lu lahir terus kaga ada bapaknya. Gua sih percaya lu bakalan cepet dapet lelaki laen. Tapi tetep aja Queen, yang namanya bapak kandung sama bapak sambung mah beda."


Kata-kata Rendi sangat menggugah pemikirannya. Meskipun niat Queen lepas dari kesakitan ini sudah bulat, tapi sekarang Queen mendapatkan pandangan baru tentang kerasnya kehidupan.


Rendi melihat rasa putus asa dari dalam manik mata Queen. Melihat wanita muda yang tengah hamil itu, hatinya juga mengiba. Dari dalam hati Rendi berjanji, akan membalas kesakitan Queen, pada wanita yang telah melakukannya.


"Ngomong-ngomong lu udah makan belum? Udah siang juga ini." Rendi mencari-cari sesuatu yang sedari tadi tidak ia sadari keberadaanya.


"Hp gua kemana ya Queen?" Ia terus merogoh dua saku di celana pendeknya. Sambil melihat ke arah jalanan kontrakan Queen.


"Lah.. aku nggak tau kak. Dari tadi aku nggak ngeliat kak Rendi mainin Hp nya."


"Ya ampun." Rendi menepuk keningnya sendiri. "Ketinggalan di kamar ini mah. Gara-gara sih Aska ngebangunin gua pake berita yang nggaj enak di denger, gua ampe lupa ngebawa dia."


Queen tersenyum melihat kelakuan Rendi yang benar-benar lelaki konyol di matanya.


"Udah sana, kamu masuk. Biar aku jagain disini sampe suami kamu pulang. Panas gini, ntar kamu gosong, suaminya marahnya sama aku."


"Oke. Aku masuk ya kak." Queen masuk ke dalam sebentar kemudian keluar lagi, sambil membawa camilan snack ringan untuk Rendi.


Queen tau, menunggu itu membosankan, apalagi tanpa handphone di tangan di tambah entah kapan Aska akan pulang.


Jadi Queen berinisiatif memberikan cemilan juga remote tv pada Rendi, agar Rendi tidak boring. Pintu juga tidak Queen tutup. Karena Rendi menunggunya di luar sambil duduk di bawah depan pintu.

__ADS_1


Sebenarnya Queen juga tidak akan pergi, sebelum Aska mengabulkan permintaannya tentang perpisahan mereka.


🙃🙃😉


__ADS_2