Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
rengekan Queen


__ADS_3

Aska dan anggota timnya tengah berpatroli malam di kawasan sekitaran Jakarta Barat. Dengan beberapa motor trail, satu mobil polisi dan satu kendaraan pribadi. Aska ikut di dalam mobil polisi, meski hanya ia dan satu orang temannya di balik kemudi.


Aska tengah berkomunikasi via radio yang menjadi alat penghubung antar anggota, saat dering ponsel dalam saku celananya. Panggilan video call dengan nama Queen tertera di layar, tanpa pikir panjang Aska segera mengangkatnya.


"Hai Ra.." Wajah cantik gadisnya yang hadir di hadapannya kini membuat semangat Aska kembali menguar.


"Hai juga mas Aska.. jawab Queen dengan senyum.


"Kenapa Ra?" Aska melirik jam digital pada dashboard mobil. "Kok belum tidur sih?" Meski kesal, tapi Aska menahan dalam nada suaranya.


"Tadi aku udah mau tidur, terus Rindi telfon"


"Ada apaan telfon malem-malem?"


"Mau ajak berangkat bareng di reuni besok." Wajah Queen terlihat seperti mencari sesuatu di dekat Aska.


"Kenapa sih celingukan gitu?" Aska mengarahkan layar ponselnya mengelilingi isi dalam mobil. Dan satu teman lelakinya yang tengah mengemudi tertangkap mata Queen.


"Kamu di mobil berduaan doang mas? Sama cowok lagi." Ledek Queen.


"Kenapa emang?" Aska bingung. Sedangkan teman Aska di sampingnya hanya tersenyum kecil tanpa suara mendengar sekaligus melihat wajah Aska yang bersemangat bicara dengan gadis di layar ponselnya.


"Nggak pa-pa, awas yang ketiganya setan lho mas!"


"Ini setannya lagi telfon." Jawab Aska dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.


"Mas Aska iiih..." Queen merengek.


Entah karena cuaca yang cerah, atau karena keadaan yang mendukung tentang janji Aska tadi siang, sinyak kali ini sangat bagus. Wajah cantik Queen terlihat jelas tanpa putus-putus atau jeda.


"Becanda sayang.." Aska masih dalam tawanya.


"Wuih.. sayang tau-taunya.." Teman Aska yang bernama Iptu Fikri Nasution menyela ucapan Aska.


Aska menoleh, dengan dahinya yang mengernyit. "Kenapa?"


Dijawab dengan gelengan kepala beberapa kali oleh temannya.


"Kamu telfon malem gini kenapa Ra?" Aska mulai tak nyaman dengan sikap Fikri.


"Cuma mau bilang, besok sore aku ada acara reuni mas.. aku lupa kasih tau kamu." Jelas Queen, nadanya rendah. Ada rasa takut dalam hati Queen saat menjelaskan kepada lelakinya.


"Hem.. saya kirain kamu mau ngecek keadaan saya disini."


"Nggaklah.. aku percaya kok. Tadi sore nggak mandi gitu, pasti jujur." Queen tertawa puas.


"Ya udah ya yank.. lanjut nanti kalo saya udah pulang."


Queen mengernyit, mendengar kata kata Aska. Bukan karena dia curiga. Melainkan ini udah kalinya ia di panggil seperti itu.

__ADS_1


"Oh.. oke. Selamat malam mas Aska. Selamat bertugas." Senyum Queen membuat Aska tersenyum.


"Eh, ucapan juga buat temen saya yang jomblo ini dong.." Aska mengarahkan layar ponselnya ke arah Fikri.


"Siapa namanya?" Queen bingung. Terlihat jelas lelaki itu canggung.


"Fikri dek.." Jawabnya.


"Oh.. Selamat bertugas ka.."


Setelah mendengar kalimat terakhir Queen, Aska melambaikan tangan kepada Queen, sambil menunggu gadisnya yang mengakhiri sambungannya.


"Kok lu manggil dia dek? Emang dia adek elu?" Aska ketus.


"Dia dedek manis gitu. Masa gua panggil mbak." Tawa Fikri pecah, sampai saat konvoi motor trail yang berada di depan mereka berhenti.


Aska, Fikri dan anggota lainya turun, mendekat ke arah kerumunan. Sudah selarut ini kenapa masih ada yang kumpul-kumpul.


Mulai terlihat sesosok tubuh anak ABG tengah tersungkur di penuhi dengan darah segar dari beberala luka di sekujur tubuhnya.


Dengan cepat beberapa anggota membawa korban ke rumah sakit terdekat. Jika harus menunggu ambulans, komandan takut nyawa korban tidak sempat di selamatkan.


Aska mulai sibuk, mengurai kemacetan karena beberapa orang yang berhenti, memarkirkan kendaraannya di sembarang tempat, hanya karena ingin melihat.


"Melihat? Udah nggak bisa bantu, malah ngeliatin doang orang lagi sekarat." Komandan Aska tengah mencak-mencak kepada orang-orang yang masih berkerumun.


***


Semalam saat video call, Queen masih terlihat berada di kamarnya. Tapi pagi ini kamar Aska tampak kosong. Itu juga membuat hati Aska ada sedikit rasa tak nyaman.


"Mas Aska.." Sapa Queen dari ambang pintu.


"Apa sayang?" Aska menjawab seraya berjalan masuk tanpa melihat kearah Queen.


Queen cemberut, tak suka. Lalu ia masuk mengikuti langkah lelakinya yang menuju dapur. Betapa terkejutnya Aska, saat ia membalikkan tubuhnya melihat Queen sedemikian dekat, bahkan hampir menabraknya tadi.


"Saya mau mandi Ra, jangan ikut!" Wajah Aska tampak terkejut.


"Siapa yang mau ikut, aku kira mas Aska mau ambil piring. Aku liat ada makanan di atas meja tadi." Bela Queen yang juga terkejut mendengar penuturan Aska.


"Huhf.." Aska membuang nafasnya. "Saya kirain.."


"Apa? Aku nggak kayak gitu ya mas.." Queen mencebik, berbalik dan berjalan kearah depan tv.


"Ini weekend kan yank? Kok kamu udah rapih gitu?" Tanya Aska, mengikuti Queen duduk di sofa sebelahnya.


"Anterin aku beli kado ya mas.. please.." Queen bergelayut manja di lengan Aska. Tatapannya memohon.


"Jangan gini Ra.. saya belum mandi dari kemaren." Aska mendorong kening Queen dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Jorok banget!!" Queen menjauh dari aska, terdengar suara tawa Aska kemudian.


"Emang siapa yang ulang tahun?" Aska menaikan satu kakinya, memiringkan tubuh menghadap Queen.


"Temen SMA aku. Rindi bilang udah beli kado, terus dia ngajakin aku berangkat bareng, padahal aku belum beli kadonya. Jahat banget kan dia sekarang semenjak ketemu sama bang Is.." Rengek Queen.


Aska gemas melihat bibir Queen yang mengerucut. Dibelainya rambut Queen pelan.


"Setiap orang itu punya masa depannya masing-masing sayang.. kamu nggak tau kan pendapat dia semenjak kamu jalan sama saya? Tapi dia tetap ada buat kamu." Aska menasehati gadisnya yang mulai merasa kehilangan sahabatnya.


"Iya sih.. makannya mas Aska buruan.." Queen masih merengek dengan suara khas manjanya.


"Buruan apa?" Aska masih membelai pucuk kepala Queen lembut.


"Buruan nikahin aku, biar aku nggak ngerasa kesepian.. ya mas ya.." Seketika gerakan tangan Aska berhenti, kaku di atas kepala Queen.


Rengekan gadis manjanya kali ini benar-benar membuat pikirannya berhenti tiba-tiba.


Andai saja yang diminta adalah bakso seukuran kepala. Dimana pun jauhnya Aska tetap akan mengatakan 'iya'. Tapi ini soal pernikahan..


Astaga!! Bagaimana sebenarnya pendapat Queen tentang pernikahan. Tidak taukah ia apa yang menantinya saat nanti ia sudah menjadi seorang istri polisi. Menjadi ibu bhayangkari.


Queen menggerakkan tangan Aska, menggoyang nya layaknya bocah minta mainan.


Aska tersadar, senyumnya kaku ia paksakan. Tangannya juga kembali mengusap lembut rambut Queen, dari atas hingga kebawah. Sampai di ujung rambut Queen, Aska mengangkat beberapa helai, menatap lekat rambut Queen yang ia pegang.


"Kamu tuh kayak simpanan yang lagi minta dinikahin resmi." Canda Aska. Itu hanya sebagai pengalih perhatian Queen.


"Emang. Aku kan udah kayak simpanan mas, di simpen di dalem kamar mas terus." Bela Queen.


"Saya enggak ya Ra.." Aska tak suka mendengarnya, "Kan kamu yang seenaknya keluar masuk kamar saya." Raut wajah Aska sedikit terlihat marah.


"Oh jadi mas Aska nggak suka dengan kelakuan aku yang satu itu. Jadi selama ini mas Aska nggak terima. Kenapa diem aja. Harusnya ngomong kalo nggak suka." Queen marah. Pandangannya menyalak, dengan nada tinggi Queen berspekulasi.


"Ck. Bukan gitu Ira!" Aska mencoba menahan marahnya, ia sadar kata katanya tadi salah. "Ya udah, kasih tau mama kamu dimana. Kita temuin beliau nanti" Aska frustasi, bangun dari duduknya melewati Queen ke arah dapur.


"Kenapa harus temuin mama aku?" Queen semakin tak suka. Hubungannya dengan mamanya memang tidak terlalu baik, semenjak kedua orang tua mereka berpisah dulu.


"Tanpa restu mama kamu, saya nggak bisa nikahin kamu!" Jawab Aska tegas dan jelas dari arah belakang.


Queen terdiam seketika di tempat duduknya, hatinya terasa tercubit mendengar ucapan kekasihnya.


Begitu juga dengan Aska yang saat ini tengah berada di dalam kamar mandi, menyandarkan tubuhnya di balik pintu.


Ia sadar betul perbedaan antara keluarga Queen juga dirinya. Hal inilah yang menjadi pembatas hati Aska, merasa tak bisa memiliki Queen. Itu juga yang membuat Aska selalu merasa takut akan kehilangan Queen..


**please minta like nya ya.. kalo mau bersedekah poin or koin terima kasih banget akunya.


Maaf, ini kesiangan.. dan mungkin akan ada up lagi hari ini kalo senggang nanti.**

__ADS_1


🙃🙃😉


__ADS_2