
Mencintai seseorang dengan tulus, bukanlah hal yang mudah. Bukan pula sesuatu yang bisa di prediksi atau di rencanakan. Apapun itu, semua yang bersumber dari dalam hati, yang melibatkan emosi, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi. Terutama dalam sebuah relationship.
Queen dan Aska memang baru menjalani pernikahan selama beberapa bulan. Aska juga baru mendapat kabar gembira, bahwa wanita yang selalu ia utamakan, tengah berbadan dua. Hal yang sangat di harapkan oleh Queen.
Aska juga sama sekali tidak mengira, bahwa wanitanya kali ini, bisa berubah sikap dan perilaku dengan sangat drastis. Berbanding terbalik dengan dirinya yang malah berada di posisi Queen sebelumnya.
Aska yang tadi memaksa pulang lebih awal dari jam tugas biasanya, karena menginginkan makan camilan yang mengenyangkan dengan rasa durian. Yaitu martabak. Harusnya ia tidak perlu repot-repot harus pulang dulu, apalagi jarak antara tempat tugas dengan rumahnya lumayan, bahkan bisa di bilang cukup jauh. Di jaman yang serba canggih, simpel dan mudah ini, Aska harusnya bisa memanfaatkan teknologi yang ada. Yang sudah susah payah di ciptakan oleh pemuda berbakat milik Indonesia.
Tapi, ada rasa dalam keinginan yang aneh dan tak dapat di gantikan dengan apapun. Aska ingin mendapatkan, serta membelinya langsung di tempat, di temani sang Istri, Queeneira Wijaya. Lelaki itu sadar, Queen sangat membutuhkan waktu istirahat yang cukup di tengah kehamilan yang masih sangat muda. Tapi Aska tidak bisa menahan keinginannya. Ia tetap ingin mendapatkannya bersama Queen, meski entah di mana mereka bisa mendapatkan panganan yang biasa di jajakan sehabis waktu Maghrib itu.
Meski sebelumnya, Aska sudah berjanji kepada Queen, bahwa ia akan membawa mobilnya dengan kecepatan standar dan hati-hati, tanpa ingin membuat Queen merasakan sesuatu yang akan menyakitinya juga isi dalam perutnya yang masih datar.
Dengan seluruh kesabaran yang Queen terima dalam waktu sekejap menjadi ibu rumah tangga, dan kesabaran Aska yang memang sudah terlatih sejak kecil, Queen dan Aska masih belum juga mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sudah hampir dua jam mereka berkeliling daerah di kawasan pinggiran IbuKota, namun masih belum mendapatkan juga.
Melihat Queen yang sudah sangat kelelahan, Aska akhirnya meminta Queen untuk menghubungi Rendi. Lelaki itu tengah bertugas patroli saat ini, dia juga bisa di bilang seorang casanova yang royal pada setiap gadis yang merangkulnya dari belakang, di atas jok motornya. Atau gadis yang mengisi kekosongan di bangku penumpang samping, saat ia sedang mengemudi. Yang jelas, apapun permintaan gadis yang tengah bersamanya, Rendi selalu bisa memenuhinya, meskipun bisa di bilang itu sangat susah.
"Halo, Kak Rendi.." Queen langsung berucap setelah panggilannya tersambung.
"Iya, kenapa Queen?" Rendi sedikit terkejut mendengar suara wanita dari nomor lelaki yang ia simpan di kontaknya. Dan Rendi bisa langsung menebak nama pemilik dari suara tersebut.
"Em.. gini ka. Aku mau minta tolong dong, kayaknya mas Aska ngidam deh. Dia kepengen makan martabak durian. Padahal ini masih sore. Dari tadi kita udah muter-muter, tapi masih belum nemuin tukang martabak yang udah buka. Kira-kira kakak tau nggak dimana tempat yang ada?"
Queen menjelaskan panjang lebar. Sesekali matanya melirik sedikit ke arah sang suami yang tengah menyetir dengan wajah suram dan tatapan yang tajam ke arah Queen.
Jangan lupakan, Aska juga menjadi begituan posesif saat ini. Entah sejak ia resmi berstatus pacaran, atau saat mereka sudah menikah, atau saat Queen tengah berbadan dua. Yang jelas, Queen merasa memiliki seorang bodyguard sekarang. Yang benar-benar bodyguard baginya.
"Ngidam? Siapa?" Rendi setengah tak percaya dengan pendengarannya.
"Iya. Aku hamil, mas Aska yang ngidam." Queen mengernyitkan keningnya. Sedikit menjauhkan ponsel milik Aska dari telinganya. Krena suara tawa Rendi yang begitu keras dengan suar lelaki yang dalam. Rendi puas mendengarnya.
Dalam ingatannya, sejak mereka menikah, Aska selalu menentang keinginan Queen untuk hamil, ia takut akan membuat Queen kehilangan masa mudanya. Tapi kebanyakan teman Aska menilai, bahwa Aska hanya takut pada permintaan aneh-aneh Queen nantinya, saat wanitanya tengah merasakan ngidam. Sialnya, saat ia mengizinkan dan membantu Queen untuk hamil, malah dirinya yang terkena periode aneh itu. Aska ikut mengalami rasa mual dalam perutnya. Juga lidahnya yang kadang ingin merasakan sesuatu dengan waktu, dan kondisi yang tidak sesuai.
"Iya, kak. Jadi, bisa tolong di kasih tau dimana ada yang udah buka. Biar kita nggak repot-repot ngelilingin daerah kota tang-sel. Aku juga udah capek soalnya."
"Ira.." Suara tegas Aska mengejutkan dirinya. Lelaki itu tak suka, jika wanita miliknya berkeluh-kesah pada pria lain, sekalipun itu sahabatnya sendiri.
"Ada. Bilang sama suami lo, suruh ke arah lampu merah pasar lembang, terus lurus ke arah karang tengah, nah sekitar lima ratus meter jaraknya, sebelah kanan nanti ada yang buka." Jelas Rendi.
"Ada tukang martabak rasa durian disana?"
"Bukan. Tukang kue serabi solo berbagai rasa." Jawab Rendi cepat.
Queen mencebik kesal. Dirinya benar-benar sedang tidak ingin bercanda kali ini.
"Kak Rendi.." Lirih Queen putus asa. "Aku bilangnya tukang martabak, kenapa di kasih tau nya tukang serabi sih.."
"Lu beli serabinya buat gue. Nah, sebelahnya ada tuh makanan yang lu cari. Inget ya, serabinya yang rasa original aja. Gue lebih suka yang ori. Hahaha.." Tawa Rendi kembali menggelegar di telinga Queen.
"Siapa yang mau nganterin, aku nggak mau." Ketus Queen.
"Nggak usah repot-repot, biar gua aja yang kesono nanti, abis gua ganti ship nanti." Queen melirik ke arah Aska, meminta persetujuannya. Meskipun Queen tidak menyalakan pengeras suara di ponsel, tapi Aska bisa mendengar suara Rendi. Dan Aska mengangguk tanda setuju dengan permintaan Rendi. Hitung-hitung sebagai rasa terima kasihnya atas petunjuk Rendi. Yah.. meskipun mereka belum tau itu benar atau salah. Tapi Aska yakin, temannya yang satu ini tidak akan berbuat iseng lebih dari ini. Apalagi sampai membohongi.
***
Dan benar saja, akhirnya, berkat petunjuk Rendi. Aska berhasil mendapatkan apa yang ia mau. Setelah berputar-putar sekian lama, larut dalam macetnya jalanan yang kian parah di penuhi oleh kendaraan bermotornya, Aska dan Queen akhirnya sampai juga di tempat kediaman mereka. Tak lupa Aska juga membeli makanan permintaan yang Rendi sebutkan.
Lelah menghantui keduanya. Queen seketika duduk di sofa bersandar pada punggung sofa dengan mata yang terpejam. Rasa lelah dan letih seolah menenggelamkan seluruh semangatnya saat ini. Aska yang sejak tadi selalu bersemangat untuk mendapatkan makanannya juga, kali ini ia nampak tidak tertarik. Lelaki itu meletakkan makanannya di atas meja, kemudian ikut merebahkan tubuhnya di sofa dengan kepala yang berpangku pada pangkal paha Queen.
"Aah.." Nafas berat terhembus kasar dari bibir Aska. Ia seperti melepaskan sesak yang ada di dadanya.
__ADS_1
Queen yang tersentak kaget kontan membuka matanya, menatap ke lelaki di dekatnya. "Kok enggak di makan sih mas? Susah payah loh dapetinnya." Queen mengingatkan. Tapi reaksi yang Aska berikan sungguh di luar dugaan.
Ia mengangkat arah pandangnya pada Queen, dengan cengiran kuda yang nampak tak bersalah Aska memperlihatkan deretan giginya. "Hehe.. kayaknya udah nggak kepengen deh." Queen mendengus kasar. Rasa kecewa dan kesal masuk memenuhi isi kepala juga hati Queen.
Tidak ingatkah Aska bagaimana perjuangan keduanya mendapatkan apa yang ia inginkan, hingga dengan santainya ia berucap tidak menginginkannya lagi, hanya setelah mencium aroma khas dari toping jajanannya kali ini.
"Tapi Ra.." Aska berguling kesamping, mengangkat tubuhnya duduk di dekat Queen. "Mungkin kalo di temenin sama es kelapa muda enak kali ya, apalagi yang masih di dalam batok kelapanya. Wuih.. kayaknya seger banget tuh.." Pandangan Aska jauh menerawang, ia mencoba mendeskripsikan khayalannya pada Queen.
"Ah.. kalo kamu mau beli sendiri aja lah mas.. aku udah capek." Tutur Queen enggan, kalimat penolakannya membuat Aska merajuk. Dengan kasar ia mengambil bantal sofa lalu memeluknya erat dengan wajah tertekuk.
Queen menggeram kesal. Ia benar-benar tak berdaya pada tingkah polah suaminya kali ini. Rasanya sikap dewasa dan pengertian Aska berpaling sepenuhnya pada Queen. Bisa di katakan sikap mereka seperti tertukar.
"Ya udah.. kita minta kak Rendi aja yang beliin. Kan sekalian dia mau kemari ya kan mas?" Usul Queen. Sontak raut wajah Aska berubah, berbanding terbalik dengan saat Queen menolaknya.
"Oke.. aku telfon dia dulu ya Ra.." Aska sangat antusias. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dari saku celana samping, mencari kontak Rendi dan kemudian menekan tombol hijau.
tut..tut..tut...
Aska sempat berdecak kesal karena Rendi yang terlalu lama menerima panggilannya. Sampai Aska hendak mematikannya, barulah ia mendengar suara lelaki itu.
"Halo Queen.. ada apa?" Rendi yang lebih dulu membuka suara.
"Queen? gue lakinya. Kenapa lo?" Sentak Aska kesal. Tiba-tiba selentingan memory tentang percakapan Queen dengan Rendi tadi melintas di benak Aska. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa dia harus meminta Queen yang menelfon Rendi. Harusnya tadi dia saja yang berbicara dengan Rendi. Dasar..
"Woy.. santai bos.. mentang-mentang lagi ngidam, sensinya udah kayak ibu hamil aja." Tidak sadarkah Aska, bahwa dirinya yang lebih dulu melakukan panggilan.
"Ada apaan telfon gue? Gua udah otw ke tempat lu nih. Bentaran lagi nyampe."
"Baguslah.. sekalian beliin kelapa muda ya, sebuletan.. jangan lu beli yang bungkusan." Titah Aska, seraya melirik wanita yang berada di sebelahnya.
"Banyak banget sih maunya lu As.. jadi kasian gua sama my Queen." Kekeh Rendi di ujung telfon.
"Nggak Rendi, nggak Fiki, sama aja dua-duanya. Masih belom sadar apa dia, kalo kamu punya aku!" Aska merebahkan kembali kepalanya di atas pangkuan Queen. "Tunggu aja, ampe baby kita keluar ya Ra.. biar mereka nggak seenak jidatnya selalu ngomong kamu punya mereka." Aska membuka kaos milik Queen sebatas perut. Mengusapnya perlahan, lalu mengecup kecil dengan lembut dan hati-hati.
"Sehat-sehat ya sayang di dalam sana.. jangan bikin bunda susah.. dan nanti, kalo kamu udah besar, kita tunjukin ke mereka, kalo bunda Queen itu punya kita." Aska kembali mengecup kecil. Menutupnya sesudah puas berinteraksi dengan isi perut Queen. Yang mana masih berupa janin.
"Queen?" Salahkah pendengaran Queen? Ia mengulangi kalimatnya. Sejak kapan lelakinya menyebut nama Queen, apalagi sedang berkomunikasi dengan calon buah hati mereka.
"Cuma aku yang boleh manggil kamu Ira.. don't share white anyone.." Senyuman manis itu kembali terulas di wajah lelah suaminya.
"Tapi dia anak kamu mas Aska.. calon buah hati kita.. kok pelit gitu sih?"
"Haha.. Nggak pa-pa lah.. dia harus hormat sama kamu. Sama kayak kamu yang cuma boleh nurut sama aku. Dengerin semua ucapan aku. Manja dan cerita cuma sama aku, bukan kayak tadi, malah curhat sama Rendi. Aku nggak suka." Aska yang menatap Queen dari bawah dengan tajamnya, membuat pipi Queen bersemu. Lelakinya benar-benar posesif kali ini.
"Kamu tau mas.. kenapa temen-temen kamu suka banget ngeledek kamu, bilang kalo aku ini kayak masih bebas milik orang?" Aska tidak menjawab. Hanya pandangannya yang tak teralihkan sedikitpun dari manik mata Queen. "Itu karena sikap dominatif kamu. Kamu pengen banget nunjukin ke mereka kalo aku tuh punya kamu. Padahal mereka tau, tapi karena sikap kamu yang selalu kepancing sama ucapan mereka, mereka jadi suka banget usilin kamu." Queen mengusap rambut pendek Aska. Pelan dan mengulang.
Ada ketenangan di hati Aska saat ini. Wanitanya jadi lebih bisa menyikapi lebih baik dari dirinya. Aska menyentuh tangan Queen, menariknya hingga mendekat ke wajah. Lalu mengecup punggung tangan Queen dekat jemarinya.
"Kamu yang sekarang luar biasa Ra.. aku suka."
Baru saja mereka terhanyut dengan suasana yang seperti penuh mantra dan magis. Ada rasa hangat dalam hati keduanya, dan jika saja tidak ada interupsi di daun pintu mereka, mungkin saja Aska sudah menyerang tubuh Queen lagi saat ini.
Tapi keinginannya ia urungkan. Aska lebih memilih membuka daun pintu yang terus di ketuk dengan kerasnya. Tanpa perlu menebak siapa pemilik ulah yang tak sabaran ini, Aska sudah tau kalau itu adalah Rendi. Dan berharap ia datang dengan membawa pesanannya tadi.
"Lama banget sih lu, ngapain aja?" Ketus Rendi, yang tak dapat sepatah kata pun dari Aska. Tanpa mempersilahkan tamunya untuk masuk, Aska malah masuk lebih dulu. Ia duduk di lantai, di samping kaki jenjang Queen yang masih duduk di sofa. Rendi mengekorinya masuk tanpa ragu. Berdecih pelan melihat tingkah Aska yang menurutnya mirip anak baru gede.
Bayangkan saja, selama ia mengenal Aska sejak masuk akademi kepolisian, sampai saat ini sudah berlalu selama bertahun-tahun dan Rendi tidak pernah melihat Aska bersama atau berdekatan dengan wanita lain secara intens. Meskipun beberapa wanita pernah berusaha dekat dengan dirinya. Tapi itu hanya sebatas salaman atau gandengan tangan, itupun karena para gadisnya yang lebih agresif. Sekarang, di hadapannya Aska bersandar pada kaki mulus nan putih Queen yang berada di samping tubuhnya, sambil memegang satu tangan Queen, meletakkannya di atas dada bidang Aska, seperti memeluk.
"Woi As.. nggak usah gitu juga lah.. manja lu ngelebihin anak tanggung yang baru kenal pacaran tau nggak." Tawa Rendi sarkas menatap Aska. Ia duduk pada sofa single dekat mereka.
__ADS_1
"Aku buatin minum untuk kak Rendi dulu ya?" Queen menarik tangannya dari genggaman Aska. "Mau minum apa kak?" Queen hendak berdiri, saat Aska mencegahnya.
"Nggak usah Ra, biar dia ambil minum sendiri, kamu kan masih capek." Sergah Aska.
"Yailah As.. dimana-mana juga tamu tuh harus di hormatin, di persilahkan masuk, suruh duduk, di ambil minum, sukur-sukur sambil di sediain cemilannya.. Oiya.." Rendi teringat akan pesanan makanannya. "Titipan gua mana?" Queen tersenyum, ia membuka bungkusan yang tadi dirinya dan Aska beli.
"Ini kak.. yang original."
"Oke.. mantap! Makasih ya Queen yang baik.." Senyuman usil milik Rendi di barengi dengan tatapan Rendi penuh misteri.
"Gue tang beliin, nggak usah ge'er lu." Aska menendang pelan tulang kering milik Rendi.
"Sakit woy.." Rendi mengusap-usap kakinya bekas tendangan Aska. "Teh anget aja Ra, buat temen makan serabinya."
"Oke.." Queen berdiri, hampir meninggalkan mereka, tapi jemari Queen kembali di sentuh Aska. Mata mereka beradu, pada Queen yang meminta penjelasan dari Aska.
"Jangan lama-lama ya Ra.." Lirihnya lembut.
Astaga...
Rendi sampai hampir bangkit dari duduknya, ingin sekali ia menjitak kepala Aska sekali. Namun kencang. Tapi Queen seolah sudah memiliki kesabaran ekstra. Dia hanya tersenyum sambil lalu, pergi kebagian paling belakang kontrakan mereka.
"Mana pesenan gua?" Todong Aska.
"Nih!" Rendi menyerahkan kantung plastik berisi air juga buah kelapa yang sudah terpisah dari batoknya.
"Kok gini Ren? Gua kan bilangnya sebuletan.. Bukan yang udah di kerok begini!" Sungut Aska.
"Lah.. lu nggak bilang sama batoknya. Lagian kan ribet As kalo sama batoknya.. Gimana ngebukanya.." Rendi membela diri.
"Tapi kalo kayak gini udah nggak wangi lagi Ren..ah elu."
Hati Aska sangat kecewa, mendapati pesan anya tidak sesuai dengan harapan. Padahal ia sudah membayangkan makan martabak durian yang tadi ia beli bersama istri tercinta dengan di temani minum air kelapa langsung dari batoknya.
"Minum aja lah.. nggak usah ngambek-ngambek segala. Manja lu lebih parah dari si Queen dulu tau nggak! Nyesel gua nyuruh lu buru-buru dapetin anak. Kalo sih Queen yang ngidam mah, enak aja gua nolongnya. Lah ini mah bapaknya, males banget gua ngeladeninnya." Rendi mencaplok satu serabi tanpa di beri gula. Menelannya bersama rasa kesal melihat sikap manja Aska. Baginya Aska sangat tidak cocok jika terus-terusan ngambek hanya karena masalah sepele.
"Tapi gua lagi kepengen banget Ren.. nggak ngertiin banget sih lu. Terus lu gunanya apa disini?"
Rendi tersungut, ia bangkit setelah menelan seluruh isi dalam mulutnya tadi.
"Mau kemana kak?" Queen yang baru saja datang dari kegiatannya meracik teh manis untuk Rendi tadi.
"Mau beliin kelapa buat bayi gede kamu." Sungut Rendi. Queen segera meletakkan tehnya di atas meja.
"Nggak usah kak. Ini aja nggak pa-pa, nanti nggak usah make gula lagi, kan rasanya jadi sama kayak masih di dalam batok. Alami."
Senyum Rendi mengembang. Akhirnya ada malaikat turun membela dirinya.
"Ini aja martabaknya nggak di cuil sedikitpun sama mas Aska. Itu cuma kepengennya doang, kalo udah ngeliat bentukannya juga paling udah." Queen membuka bungkusan yang berisi martabak keinginan Aska tadi. Menyuguhkannya di hadapan Rendi.
"Tapi Ra.. saya mau.."
"Nanti kita ketempatnya langsung aja ya mas.. lebih enak kalo makan di tempatnya." Bujuk Queen, yang langsung memotong ucapan lelakinya.
Mau tidak mau Aska harus mengikuti ucapan Queen. Dari pada perdebatan mereka lebih panjang nantinya.
"Lo tau nggak As, ngeliat Queen yang sekarang. Gua jadi nyesel nggak ngerebut dia dari elu kemaren-kemaren."
🙃🙃😉
__ADS_1