
Queen berdiri di samping jendela dalam kamarnya, menatap penuh harap ke arah luar. Harapan yang akan membuat masa depannya terasa semu tapi sangat ia inginkan saat ini.
Aku berharap hari ini akan turun hujan..
Pintanya sedari tadi. Queen terus mengulangi kalimatnya lagi dan lagi, pada siapapun ia berinteraksi, Queen tak pernah lupa mengatakannya.
Rindi yang selalu menjadi pelampiasan atas rasa apapun yang Queen rasakan, kali ini sungguh tidak bisa menahannya lagi.
Pemikiran bodoh macam apa yang sedang bersarang dalam kepala Queen. Hari ini adalah hari yang sangat ia dan kekasihnya nantikan, tapi mengapa ia malah ingin membatalkannya.
Tak tahan lagi, Queen akhirnya menelfon Aska.
"Mas.." Sapanya saat panggilan tersambung.
"Kenapa Ra? Saya bentar lagi sampe." Aska yang tengah dalam perjalanan, menghentikan laju motornya demi menerima panggilan dari gadis calon masa depannya.
"Aku kayaknya nggak jadi ke Bandung deh, lain kali aja lah ketemu mamanya." Nada Queen lemah. Aska dapat merasakan kegelisahan dari suara Queen.
"Kapan lagi ada kesempatannya Ra.. Nanti kita nggak bisa nikah kalo nggak ada restu dari kedua belah pihak. Kamu mau jadi simpenan kamar saya selamanya?" Mencoba menenangkan seorang gadis yang dalam masa mood swing itu, sangat tidak mudah.
Apapun perkataan kita, nggak akan masuk kedalam akal sehatnya.
"Aku nggak masalah mas, yang penting kamu masih terus sama aku." Queen tertunduk, hatinya bergetar merasakan kegelisahan yang begitu mendalam.
"Nggak bisa dong Ra. Saya jadi nggak bisa bebas peluk kamu dong.. selain dilarang sama agama, nantinya juga bakal di tuduh kumpul kebo dan melakukan tindakan perzinahan. Kalo saya di pecat secara tidak hormat, gimana saya bisa kasih makan kamu nantinya?" Aska berusaha memberi penjelasan seringan mungkin. Tapi isi setiap kepala seseorang selalu berbeda.
"Kita juga udah hampir ngelakuinnya kan mas! Uang aku cukup kok kalo cuma buat makan kita berdua, lebih dikit mungkin."
'heuh'. Aska membuang nafasnya berat. Bagaimana cara membuat gadisnya kembali semangat lagi.
"Kamu dimana sekarang?" Tanya Aska akhirnya, setelah mereka hening tanpa suara.
"Di kamar aku."
"Oke, kamu duduk manis disana, tunggu saya pulang ya sayang.. baru kita obrolin lagi. Boleh?" Aska berkata lembut, meminta pendapat Queen.
"Boleh. Aku tunggu ya mas.."
"Iya sayang.." Aska mengakhiri sambungannya. Melanjutkan kembali perjalanannya, sesegera mungkin ia ingin cepat sampai di kontrakan mereka.
***
Selama hampir enam bulan perjalanan kisah mereka, baru kali ini Aska mengalami dampak dari periode bulanan Queen. Siapa yang mengira kalau hormon seorang wanita saat akan datang bulan, bisa meningkat tanpa tau batasannya.
Begitu juga Aska, seorang lelaki yang tak pernah mendengarnya. Harus memiliki kesabaran yang ekstra saat kekasihnya sedang dalam masa ini.
Ada yang bilang penyebabnya adalah stress yang tinggi. Dan Aska percaya pada teori itu. Hubungan Queen yang kaku dengan mamanya, dan mereka akan bertemu, maka itu adalah kunci utama dari perubahan gejolak Queen yang agak ekstrim.
Tin.. tin.. Aska membunyikan klaksonnya saat tiba di depan pintu kamarnya. Melihat Queen yang tengah berdiri menatapnya dari balik jendela, Aska ikut menatapnya sembari duduk di atas motor dengan memeluk helm yang tadi ia kenakan.
Wajah tegas dengan pandangan lekat menatap, Queen sungguh tidak tahan untuk tidak menghampirinya.
Senyum Aska mengembang, tubuh gadisnya sudah berdiri di ambang pintu meski senyumannya masih memudar.
Aska beranjak, menarik pergelangan tangan Queen, memaksanya untuk mengikuti arah langkah kaki ke dalam kamar Aska.
"Kamu duduk disini, sambil temenin saya kemas sebentar." Aska mendudukkan tubuh Queen diatas pinggir ranjangnya.
Queen hanya mengikuti setiap arahan dari Aska. Tubuh Queen terasa kaku bagaikan boneka hidup. Memperhatikan setiap gerak tubuh lelakinya kesana kemari, mengemas beberapa barang yang akan di bawanya. Pikiran Queen benar-benar kosong.
"Hayuk." Aska yang sudah berdiri tegak di hadapan Queen. "Kamu udah siap belum? Nanti kemaleman nyampenya." Ajak Aska seraya menarik tangan Queen untuk berdiri.
"Aku nggak bawa apa-apa, lagian cuma ketemu mama doang kan terus balik lagi. Ngapain kamu bawa banyak-banyak." Mereka berjalan keluar. Aska mengunci pintu kamarnya, tak terkecuali dengan Queen, kemudian beranjak pergi masuk kedalam mobil Aska.
***
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, Queen dan Aska tiba di Bandung. Mereka segera bergegas menuju hotel tempat dimana mama Queen berada.
__ADS_1
Aska memberanikan diri serta memberikan kepercayaan penuh pada Queen, bahwa mamanya pasti akan merestui hubungan mereka.
Tapi sekali lagi, kenyataan tak selalu sejalan dengan harapan. Seberapapun banyaknya Queen berdoa tadi, supaya perjalanan ini tidak sampai terjadi, nyatanya Tuhan telah menetapkan jalan bagi hubungan mereka.
Begitu juga kali ini, Saat Aska dengan sopan menyapa wanita mulia dalam keluarga Queen ini, sikapnya sangat berbanding terbalik dengan harapan mereka sebelumnya.
Hanya tatapan tajam dari ujung rambut hingga bawah kaki yang Aska terima. Dan itu sangat membuat Queen dan Aska merasa tak nyaman.
"Dia pacar aku mah, tolong hargai kami." Pinta Queen dengan sedikit ketus.
"Malam Tante.." Aska mengulurkan tangannya untuk berjabat, untungnya wanita karir itu masih mau membalas jabatan tangan Aska, andai tidak, entah bagaimana respon Queen saat emosinya meledak.
"Aku boleh duduk, atau aku harus berdiri terus?" Queen bertanya dengan nada sedikit mengancam.
"Duduk!" Perintah mama Queen.
Aska dan Queen duduk bersebelahan dalam satu sofa, sedangkan mama Queen duduk dalam sofa tunggal di dekat Queen.
"Kenapa malam-malam mau bertemu?" Mata mama Queen memicing menatap lekat ke arah Aska.
"Kita nggak punya banyak waktu!" Queen menjawab, yang malah mendapat lirikan tajam dari mamanya.
"Mama nggak tanya kamu." Queen berdecak kesal.
"Kenapa harus bertemu malam-malam?" Mama Queen mengulangi pertanyaan yang di tujukan untuk Aska.
Meskipun detak jantung Aska berdebar cepat, namun sebisa mungkin Aska berusaha bersikap tenang, agar gadisnya tidak ikut gelisah. Bagaimanapun sikap, perilaku dan pembawaan Aska kali ini akan berdampak pada emosi Queen selanjutnya.
"Sebelumnya saya minta maaf pada Tante, sudah mengganggu waktu istirahatnya." Aska berusaha bersikap se sopan mungkin.
" Kalau udah tau ganggu, kenapa masih datang?"
"Ma!!" Queen menyela, nadanya sedikit tinggi.
Aska segera menggenggam tangan Queen, berusaha menenangkannya.
"Apa? Berani betul kamu berteriak sama mama?" Melihat situasi yang semakin panas, Aska kembali bersuara.
"Maaf sebelumnya Tante, sebenarnya saya yang meminta Queen untuk bertemu dengan Tante. Selama berhubungan dengan Queen saya belum pernah bertemu dengan orang tuanya. Jadi tujuan saya kesini adalah untuk melamar Queen." Meskipun suara Aska lembut, tapi Queen sampai tertegun mendengar ketegasan dalam kalimat lelakinya.
Queen jadi teringat saat dimana ia meminta izin untuk memenuhi kesepakatannya dengan Agung tempo hari lalu. Sekali lagi, Queen dapat melihat keseriusan dalam wajah Aska.
"Apa? Ulangi sekali lagi?" Pinta mama Queen.
"Saya mau melamar Queen, saya harap Tante mau memberi restu untuk hubungan kami!" Tutur Aska. Queen hanya diam, memandangi wajah tegas nan serius kekasihnya.
"Kamu siapa? Punya apa kamu, berani-beraninya minta restu saya?"
"Saat ini saya memang belum jadi siapa-siapa Tante, tapi saya punya semua yang Queen butuhkan." Jawab Aska berani.
"Apa yang Queen perlu sudah saya penuhi semua. Bagian mana yang kamu bilang, kamu bisa penuhi? Kamu nggak pantas untuk dia. Nggak sepadan!!" Suara mala Queen mulai meninggi, seolah terpancing dengan pernyataan Aska.
Ternyata insting seorang Ibu memang kuat dan benar adanya. Inilah yang Ibu Aska takutkan. Seorang wanita karir yang sukses, tak akan semudah itu mau melepaskan anak semata wayangnya, terlebih Queen adalah pewaris tunggal dari kedua orangtuanya.
Aska menghembuskan nafas pelan dan tersembunyi. Beban berat mulai terasa di dada Aska.
Queen yang memperhatikan mulai gelisah dan khawatir, tentang pertanyaan-pertanyaan mamanya yang seperti menyudutkan Aska.
"Saya rasa, Queen tidak sepenuhnya membutuhkan tentang materi, ada hal lain yang selalu Queen dan saya butuhkan." Aska masih tidak kehilangan nada sopan dan wibawanya.
Dia adalah calon seorang imam. Pantang baginya memperlihatkan rasa takut dan lemah di depan wanitanya. Kecuali bersikap lemah dan mengalah kepada wanitanya. Bukan orang lain.
"Maksud kamu?" Mama Queen tidak ingin mengerti.
"Mas Aska bisa kasih apa yang mama dan papa lupa kasih ke aku mah." Queen berusaha membela.
"Apa? Apa yang mama nggak bisa kasih ke kamu?" Queen mendesis, membuang arah pandangnya dan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Mama keterlaluan." Queen memberi jeda. "Kalau cuma uang, mas Aska bisa kasih ke aku semua uang yang dia punya. Dia juga selalu pastiin aku makan dengan baik dan benar dengan uangnya, dia mau turutin apapun yang aku ucap, dengan uangnya. Dia -"
"Ayolah Queen, kamu bukan anak kecil juga, yang hal sepele kayak gitu aja harus mama ingatkan." Mama Queen menyela. "Lagipula apa pekerjaan kamu?" Sekali lagi, mata itu memicing ke arah Aska.
"Saya seorang polisi muda dengan pangkat rendah dengan penghasilan masih di bawah uang jajan Queen." Aska menjawab tanpa canggung.
"Mas.." Queen tak suka.
"Apa? Polisi? Berapa gaji polisi muda setingkat kamu? Bagaimana cara kamu hidupin anak saya nanti?"
"Ha? Anak?" Queen tersenyum sarkas, mengulangi ucapan mamanya.
Sedangkan mama Queen yang mendengarnya, hanya melirik tanda tak mengerti dengan perilaku Queen.
"Kamu bisa keluar nggak? Mama mau bicara sama dia sebentar!" Pinta mama Queen, menunjuk Aska dengan jari telunjuknya di hadapan Queen.
"Enak aja! Aku dateng sama mas Aska. Kalau keluar juga harus sama mas Aska." Tantang Queen.
"Kamu denger?" Mama Queen menatap Aska. "Queen benar-benar sudah tidak mau mendengar saya, dan itu pasti karena kamu!"
"Ma!! Aku begini karena sikap kalian selama ini ke aku, bukan karena mas Aska." Queen berteriak tak kalah histeris dengan mamanya.
"Tante." Aska menyela. "Saya rasa waktunya sudah tidak tepat. Kalau Tante butuh ketenangan saya dan Queen akan pamit sekarang." Aska mencoba menenangkan keadaan.
"Saya cuma minta Queen yang keluar, bukan minta kalian pulang! Tapi kalau kalian mau pergi sekarang silahkan.. Saya tidak akan mau terima kalian lagi." Mama Queen melipat tangannya di depan dada sambil bersandar di sofa.
"Itu lebih baik Tante.. dari pada saya harus biarin Queen di luar sendirian." Aska menggenggam tangan Queen, menoleh ke arahnya. " Pamit sama mama kamu Ra.." Pinta Aska.
"Nggak.." Jawab Queen.
"Ira.." Titahnya tegas namun lembut. Queen berdecak.
"Aku pamit mah, semoga kita bisa ketemu lagi." Queen mencium punggung tangan mamanya.
"Kami permisi Tante.." Pamit Aska, seraya menggandeng tangan Queen berjalan keluar dari kamar hotel tempat mama Queen menginap.
Sedangkan mama Queen terdiam, merasakan gelenyar hangat dalam hatinya. Putrinya mencium punggung tangannya lagi, rasa haru membuatnya terpaku menatap kepergian putri semata wayangnya yang selalu ia rindukan setiap malam.
Melihat tangan putrinya yang sudah di genggam oleh kekasihnya, mengingatkan ia pada saat ia juga menggenggam tangan kecil itu, mengantarkannya pertama kali, masuk ke sekolah taman kanak-kanak.
Kenangan-kenangan mulai bermunculan dalam ingatan mama Queen. Setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya kelak.
Rasa rindu pada putrinya selama bertahun-tahun harus berakhir seperti ini. Pertemuan yang sudah ia nantikan, sedikit berbeda dengan bayangannya.
Queen terlalu cepat membawa Aska ke hadapannya. Apalagi Aska berkata langsung ingin melamar Queen, membuat hati kecilnya terkejut bukan main. Hal apa yang membuat mereka begitu mendesak meminta restu darinya. Mama Queen masih memikirkannya.
Bagaimanapun kerasnya hati seorang wanita yang sudah berjuang mandiri selama bertahun-tahun, pastinya masih bisa luluh, oleh kelembutan dari orang terkasih. Lebih rentan dari kebanyakan hati seorang lelaki.
Kapan terakhir kali putrinya itu mencium punggung tangannya, bahkan ia sendiri sudah tidak mengingatnya. Yang ia tau, sikap dan perilaku Queen benar-benar berubah semenjak perceraian mereka dulu.
Sikap egois mereka salam membuat keputusan, meninggalkan jejak luka mendalam dalam hati Queen kecil. Merubahnya menjadi sikap manja keras kepala yang haus akan kasih sayang.
Tapi, mendengar lelaki tadi bersuara lembut namun tegas meminta putrinya dengan nama yang bahkan terdengar asing di telinga mama Queen, membuat dirinya sedikit tersadar. Sedalam apa hubungan mereka, seberapa jauh mereka telah melangkah, hingga putrinya menjadi lebih patuh menuruti permintaan lelakinya.
Mama Queen mulai merasa penasaran dengan keseharian yang Queen dan Aska lakukan. Ada sedikit harapan, dimana nantinya ia bisa kembali memeluk putri kecilnya yang dulu dengan kehangatan. Berbicara santai, tanpa ada satupun nada tinggi yang keluar dari ucapan mereka masing-masing.
Mengatakan keseluruhan isi hati mama Queen yang sebenarnya. Tidak ingin Queen terus larut dalam kesalahpahaman tentang kejadian beberapa tahun silam.
Mama Queen berharap, Queen sudah bisa menerima penjelasannya dengan usianya yang sudah dewasa, dan dengan didampingi lelaki yang selalu bersikap tenang.
Tapi, meski hatinya sudah bisa menerima hubungan mereka, Mama Queen masih harus tau, sejauh mana kekasih putrinya itu serius dengan hubungan mereka.
Ia tidak ingin tertipu dengan pembawaan Aska yang hanya baik di depan. Dirinya juga sangat tidak ingin dan tidak berharap Queen merasakan getirnya kegagalan dalam rumah tangga.
Hanya itu doa yang selalu Mama Queen ucapkan tentang masa depan seorang Queeneira Wijaya..
**Semoga ini pertanda baik ya guys.. maap juga kemarin absen. Akunya yang lagi mood swing, terus ngeliat like nya dikit. haha.. parah ya aku.**
__ADS_1
🙃🙃😉