Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Akhirnya...


__ADS_3

Malam yang gelap di kota kecil ini, hanya dipenuhi suara hiruk-pikuk kendaraan yang lalu - lalang, setelah melewati malam yang panjang, dan penuh keringat, Kamipun tertidur lelap sambil berpelukan.


Pagi buta yang masih gelap, Aku terbangun karena suara alarm yang sudah kuatur, takut kebablasan tidurnya, jadi ketinggalan sholat shubuhku. Aku bergegas ke kamar mandi, selesai membersihkan diri, aku mengambil wudhu, dan melaksanakan kewajibanku sebagai muslim yang taat kepada Allah SWT.


Rencananya, hari ini kami akan ke sidimpuan, untuk mengambil barang-barangku yang masih ada di rumah pamanku. Dari Sidimpuan, kami akan merental mobil untuk membawa barang-barang kami ke kota Medan, karena besok bang Izal harus melapor ke atasannya, bahwa masa cutinya telah berakhir, otomatis besok pagi kami harus tiba di kota Medan.


Aku membangunkan bang Izal untuk segera membersihkan dirinya dan melaksanakan sholat subuh, aku ingin bang Izal secara perlahan menjadi suami yang sholeh, yang taat kepada Allah SWT, agar kehidupan rumah tangga kami senantiasa di ridhoi oleh Allah SWT. Bang Izal tersenyum melihatku yang masih mengenakan mukenah, selesai sholat shubuh. Diapun bergegas bangkit dan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya, kemudian segera mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Aku sudah menyatakan bajunya dan kain sarungnya serta sajadah dan pecinya. Setelah di kamar kami, bang Izal segera memakai pakaian yang sudah disediakan, mulai melaksanakan sholat subuh.


Aku bergegas ke dapur untuk memasak makanan untuk kami sekeluarga. Tugasku hanya memasak, karena ada adik iparku yang rajin membersihkan piring kotor, rumah dan halaman rumah kami. Aku merasa terbantu olehnya, walau keadaannya yang kurang sempurna, tapi dia selalu berusaha mandiri.


Aku juga heran dari kemaren aku tidak melihat ayah mertuaku, mungkin dia sudah kembali ke pemondokan tempat orang tua agar lebih dekat dengan Allah SWT, dan lebih khusyuk beribadah, karena menurut cerita bang Izal hanya sesekali ayah mertuaku datang ke rumah ini untuk suatu acara atau ada keperluan di rumah ini, sekalian menjenguk adik iparku disini, terkadang aku merasa kasihan melihat adik iparku tinggal sendiri disini, pernah ku usulkan ke bang Izal agar adik ipar dibawa juga ke Medan, tapi bang Izal bilang kalau adik iparku lebih suka tinggal dirumah ini walaupun hanya sendiri.


Aku hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh bang Izal, karena dia yang lebih tahu karakter dari adik iparku itu. Selesai memasak, aku membersihkan rumah, karena adik iparku belum bangun, dia lumayan rajin shalat juga, karena aku sering melihatnya melaksanakan sholat lima waktu disaat aku melewati kamarnya. Mungkin hari ini dia lagi malas atau lagi menstruasi bulanan.

__ADS_1


Selesai membersihkan rumah, aku menemui suamiku di kamar kami, kulihat dia kembali tidur dengan nyenyaknya, aku menggelitik telapak kakinya, agar dia terbangun, karena dia sudah berjanji untuk membantuku mengemasi barang-barang kami. Dia tidak bereaksi dengan gelitikkanku di telapak kakinya, aku mencari cara yang lain agar dia segera terbangun. Aku menaiki tubuhnya dan mencium bibirnya, tapi tetap tidak bereaksi, ketika aku lengah, dia langsung memeluk tubuhku dengan erat dan membaringkan tubuhku, sekarang posisi kami jadi terbalik, sekarang tubuh bang Izal berada diatasku dan menyerangku dengan ciuman yang penuh nafsu. Aku hanya ingin pasrah dan mengikuti permainannya, ini kesalahanku sendiri yang telah memancing birahinya.


Setelah satu jam bertempur, kami menyudahinya karena kelelahan, maklumlah masih pengantin baru. Selesai mandi bersama di kamar mandi dan penuh dengan aksi yang hot, kami segera ke kamar kami untuk berpakaian. Aku sangat lapar dan lelah, tapi aku heran dengan bang Izal, aku tidak pernah melihatnya kelelahan, permainannya selalu bersemangat, terkadang aku jadi kewalahan melayaninya, tapi aku juga tidak mau mengecewakannya. Kami makan bersama di dapur, kami makan dengan lahapnya karena sangat kelaparan akibat ulah kami sendiri.


Selesai makan, aku menaruh piring kami yang kotor di sebuah baskom kecil, nanti adik iparku yang akan mencucinya.


Kami segera mengemasi barang-barang yang kami perlukan, tidak terlalu banyak, hanya ada dua koper besar, kami tidak membawa semuanya, karena sewaktu-waktu kami akan pulang ke rumah kami ini. Jadi kami tidak kerepotan membawanya. Selesai berpamitan dan memberikan uang belanja untuk satu bulan kepada adik ipar, kamipun berangkat dengan menaiki minibus. Setiap bulan, kami akan mengirimkan uang belanja adik ipar dan ayah mertuaku melalui kantor pos. Aku tidak keberatan dengan hal itu, karena merupakan kewajibannya juga untuk menafkahi keluarganya. Rezeki dari Allah SWT akan terus datang berlipat-lipat, jika kita membantu orang lain, apalagi keluarga kita sendiri, jangan takut harta atau uangmu akan berkurang, karena Allah SWT Maha Kaya dan Maha Kuasa.


Setelah menempuh beberapa jam di perjalanan, akhirnya kami tiba di rumah pamanku. Saat itu nenekku masih dirumah paman, aku bergegas masuk ke dalam rumah dan mencari nenekku, karena aku sangat merindukannya. Aku memeluk dan mencium pipinya, seraya berkata," ternyata nenek masih disini, dan aku senang sekali bertemu lagi dengan nenek," kemudian nenekku berkata," Nenek menunggu kalian, karena nenek sudah tahu sebelumnya dari suamimu, kalau kalian akan berangkat ke Medan dan menetap disana.


Aku segera menemui paman dan bibiku dan menyalami mereka satu persatu, karena saking rindunya dengan nenekku, aku jadi lupa menyapa paman dan bibiku. Pamanku memberikan aku sebuah map biru, akupun bertanya padanya apa isi dari map biru itu, pamanku hanya menjawabku dengan singkat, buka saja nak, !.


Aku membuka map biru itu denga cepat, dan kulihat kertas yang berisikan berkas -berkas mutasiku untuk kuliah di Medan, agar aku tetap bisa menyelesaikan kuliahku, semoga Allah SWT semakin mempermudah jalanku untuk mencapai cita-citaku.

__ADS_1


Aku berterima kasih banyak kepada pamanku karena mau mengurus mutasi kuliahku ke Universitas Negeri di kota Medan. Bibiku memanggil kami untuk makan siang bersama, karena saat ini sudah waktunya makan siang, kebetulan paman, bibi dan nenek memang sengaja menunggu kami, dan aku sangat bahagia mengetahuinya, aku pikir mereka tidak peduli padaku, sehingga aku merasa hanya sebatang kara di dunia yang fana ini, sungguh menyedihkan hati. Nenek berkata, " ini semua adalah kejutan kami untukmu dan ini juga ide dari Izal, suamimu. Kamu juga harus berterima kasih padanya,semoga pernikahan kalian senantiasa diberkahi dan diridhoi Allah SWT, amin...!"


Selesai makan siang, aku membantu bibiku membersihkan dapur, selesai membantu bibiku, aku bergegas mengambil wudhu di kamar mandi, karena aku belum sholat Dzuhur. Selesai melaksanakan kewajibanku kepada Allah, aku segera mengemas barang-barangku yang masih berada di rumah pamanku ini.


Nambah dua koper besar lagi barang bawaan kami. Untunglah bang Izal merental mobil untuk membawa kami dan barang-barang bawaan kami ke Medan, katanya biar tidak merepotkan dan melelahkan, dan cepat sampai di rumah kontrakan kami di Medan, karena bang Izal sudah menyuruh bawahannya jauh hari untuk mencarikan rumah kontrakan untuk kami.


Jam 4 sore, mobil yang dirental suamiku sudah tiba di depan rumah pamanku, supir mobil rentalnya segera mengambil barang bawaan kami dan menaruhnya di bagasi mobil. Aku sempatkan terlebih dahulu untuk sholat ashar, kamipun berpamitan kepada keluargaku. Selesai berpamitan, kamipun masuk ke dalam mobil dan meminta supir untuk berangkat.


Kami berdua duduk di belakang supir, karena aku tidak mau duduk sendiri di belakang.


Aku menaruh kepalaku di pangkuan bang Izal, sambil menatapnya, dan berkata, " makasih ya sayang atas kejutannya, aku sangat bahagia dengan kejutan yang abang berikan padaku,", bang Izal langsung mencium keningku kemudian pipi dan ******* bibirku sampai aku tidak bisa bernafas dibuatnya, sehingga aku terbaik dibuatnya, dan dia hanya tertawa melihat reaksiku itu, akupun mencubit tangannya pelan, karena malu dengan pak sopir. Pak sopir hanya berdehem, menandakan kalau dia tidak keberatan dengan ulah kami dibelakangnya.


Aku berbisik ke telinga bang Izal, sabar ya sayang, nanti kita lanjutkan di rumah...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2