Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Duka yang mendalam...


__ADS_3

Akupun memegang tangaƱnya untuk memeriksa denyut nadinya yang ternyata sudah tidak ada lagi denyutan.


" Kira jagain adek ya, Mama mau manggil Tante Dewi tetangga kita", ucapku sambil bergegas menuju pintu rumah kami dan berlari menuju rumah kak Dewi.


" Kak Dewi", panggilku.


" Iya dek, ada apa ?", tanyanya.


" Ayo ke rumahku kak, tolong periksa dulu adik iparku", ucapku sambil memohon padanya, karena dia bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta yang ada di kota Medan ini.


" Ayo dek", ucapnya sambil bergegas berjalan menuju rumah kami.


Beberapa menit kemudian, kami sudah ada di dalam kamar adik iparku.


Aku melihat kak Dewi memeriksa detak jantung dan denyut nadinya adik iparku.


" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un", ucap kak Dewi sambil menutupi seluruh tubuhnya adik iparku dengan selimut yang ada ditubuhnya.


Kami serentak menangis mengetahui bahwa adik iparku sudah meninggal dunia.Aku bergegas mengambil ponselku untuk menelpon suamiku.


" Bang, cepat pulang, adik Marni penyakitnya kambuh lagi", ucapku berbohong setelah jaringan telepon seluler kami tersambung, karena takut dia panik dan terburu-buru mengendarai mobilnya.


" Iya, aku akan pulang sekarang", ucapnya sambil mematikan sambungan telepon seluler kami.


Beberapa menit kemudian, para tetangga sudah berdatangan kerumah kami. Jasad adik iparku sudah disemayamkan di ruang tamu, agar pelayat lebih mudah untuk melayat.


Rencananya, adik iparku akan dikebumikan di pemakaman umum agak jauh dari komplek perumahan ini.


Beberapa menit kemudian, suamiku tiba di rumah kami dengan terheran-heran.


" Ada apa ini?", tanyanya dengan nada tinggi.


" Kamu yang sabar ya nak, adik kamu sudah berpulang ke Rahmatullah", ucap kepala lingkungan komplek perumahan ini.


Suamiku bergegas masih kedalam rumah dan mendapati jasad adiknya yang sudah terbujur kaku di atas kasur.


Dia menangis terisak melihat jasad adiknya. Kamipun menangis terisak melihat jasad adik iparku, begitu juga dengan Putriku Syakira.


" Sebaiknya jasad adik kalian segera dimandikan dan dikafani, agar tidak kemalaman untuk dikebumikan ", ucap salah seorang ustadz.


" Iya nak, ini semua sudah taqdir dari Allah SWT, kita harus ikhlas menerimanya dengan lapang dada dan tabah, kalau soal perlengkapan untuk si mayit, sudah tersedia di persatuan STM kita, jadi kalian tidak perlu khawatir ", ucap salah seorang tetangga kami.


" Iya Bu, bagaimana baiknya saja, kami serahkan semuanya kepada kalian ", ucap suamiku sambil menghapus air matanya.


Waktu berlalu, jasad adik iparku sudah selesai dikebumikan, dan malam ini kami langsung mengadakan wirit Yasin untuk almarhumah adik iparku.


Aku masih teringat perbincangan kami terakhir kalinya di rumah sakit.


Aku mengucapkan terima kasih padanya karena sudah membantuku selama ini dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan aku meminta maaf padanya, jika kami belum bisa membahagiakannya, dan dia mengatakan tidak apa-apa, karena dia

__ADS_1


melakukannya dengan ikhlas, Ucapnya dengan menggunakan bahasa isyarat, kamipun berpelukan sambil menangis terisak di ruangan rumah sakit itu.


Air mataku bercucuran saat mengingat semua yang kami lakukan bersama.


Begitu juga dengan putriku selalu mengingat Tantenya yang sering mengurus keperluannya sehari-hari.


Aku melihat wajah suamiku yang penuh duka. Sebenarnya, aku tidak tega melihatnya bersedih, tapi aku tidak tahu cara yang bisa untuk menghiburnya.


" Bang, makan dulu, sejak tadi siang, Abang belum makan", ucapku sambil menyodorkan sepiring nasi ramas ke depannya.


" Abang tidak lapar dek", ucapnya sambil menatap dinding dengan tatapan mata yang kosong.


" Abang harus makan, kalau Abang tidak makan, nanti Abang masuk angin atau sakit perut", ucapku membujuknya sambil menyuapinya.


" Habib dan Syakira, udah makan?", tanyanya sambil mengunyah makanan yang kusuapkan ke dalam mulutnya.


" Udah bang, sekarang Abang harus habisin makanannya, biar lebih sehat dan kuat ", ucapku sambil terus menyuapinya.


Dia tersenyum mendengar ucapanku, dari sekian lama setelah penghianatannya, baru kali ini, aku melihat senyuman tulus darinya, sama seperti waktu pertama kali kami bertemu dulu.


Tapi, apa hendak dikata, hatiku sudah lama dia hancurkan sampai berkeping-keping, sampai rasa cinta yang dulu masih ada, telah pupus tanpa sisa, mungkin inilah taqdir yang harus kami jalani.


Cinta yang bertepuk sebelah tangan, tidak akan pernah berhasil walau apapun usaha yang kita lakukan, di dalam hati bang Izal hanya ada nama Mira, bukanlah namaku, ucapku dalam hati.


Waktu berlalu, hari berganti hari, minggu berganti bulan, sudah dua bulan berlalu semenjak kepergian adik iparku.


Aku terpaksa menggaji seorang wanita yang separuh baya untuk membantuku mengerjakan pekerjaan rumah, karena aku kerepotan untuk berjualan di toko peralatan menjahit yang sedang kurintis.


" Iya nak", ucapnya sambil berjalan mendekatiku.


" Tolong bantu aku membersihkan rumah ya Bu, setelah menjemukan pakaian, karena aku masih mengurus Habib, agar kami bisa cepat berangkat ke toko kami", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya nak, kalau soal pekerjaan rumah, kamu tenang saja ya, ibu tidak akan mengecewakan kalian", ucapnya sambil tersenyum padaku dan berlalu menuju dapur untuk membersihkannya dan mencuci peralatan makan dan peralatan masak yang sudah kotor.


Setelah mengurus Habib dan memasukkan semua keperluannya untuk aku bawa ke toko ke dalam sebuah tas yang berukuran sedang.


Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan mengganti pakaianku.


Saat ini, aku memakai gamis berwarna merah maroon dengan jilbab pashmina berwarna hitam. Setelah semua pekerjaan rumah tangga selesai dikerjakan Bu Imah, kami keluar dari rumah secara bersamaan, karena Bu Imah akan pulang ke rumahnya yang terletak tujuh rumah dari rumah kami, sedangkan aku akan berangkat ke toko kami.


Sejak kepergian adik iparku, aku melihat sikap suamiku berubah padaku dan anak-anak kami, dia terlihat sangat perhatian dan peduli kepada kami, bahkan dia menyempatkan diri untuk menjemput Syakira ke sekolahnya di jam istirahatnya waktu siang hari, baru diantarnya ke toko kami.


Di toko kami, aku dibantu seorang pekerja perempuan yang baru tamat SMA. Dia tidak melanjutkan kuliah, karena kekurangan biaya, jadi dia berniat untuk menabung terlebih dahulu agar bisa kuliah.


" Assalamualaikum dek", ucapku setelah tiba di depan toko kami, karena aku melihatnya dia sedang duduk menungguku di emperan toko kami.


" Wa alaikum salam kak", jawabnya sambil tersenyum dan membantuku untuk membuka pintu toko kami setelah kuberikan kunci pintu toko padanya.


Setelah pintu terbuka, kami masuk ke dalam toko, dan dia mulai membersihkan toko dan merapikan barang jualan kami.

__ADS_1


Aku sangat senang melihatnya yang bekerja dengan sepenuh hati dan sabar dalam melayani para pembeli. Omset penjualan kami rata-rata di atas lima juta rupiah perhari, itu semua berkat dan rahmat-Nya kepada kami, agar usaha kami tetap berjalan dan sukses.


Suamiku mengurangi uang belanjaku, dari tiga juta menjadi satu juta, karena hasil dari toko, aku yang mengelolanya.


Siang hari pun tiba, saat ini, aku sedang menunggu kedatangan suamiku untuk mengantarkan putriku Syakira dari sekolahnya.


Beberapa menit kemudian, aku melihat mobil suamiku terparkir di depan toko kami.


Aku terdiam melihat wanita yang dia bawa ke toko kami bersama putriku Syakira dan juga putranya.


Untuk apa bang Izal membawa wanita jal* Ng itu kemari, tanyaku dalam hati dengan perasaan was-was.


" Assalamualaikum", ucap putriku sambil mencium tanganku.


" Wa alaikum salam nak", ucapku sambil mengelus kepalanya.


" Kira makan siang dulu ya di dalam sama kak Shakila", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya ma, lagian Kira sudah lapar banget ma", ucapnya sambil berlalu pergi menuju ke dalam toko kami.


Sedangkan kami sudah duduk di kursi yang ada di teras toko kami.


" Gimana dek penjualan hari ini?", tanya suamiku basa-basi untuk memulai pembicaraan kami.


" Apa maksudnya ini kamu membawa si Mira kesini", tanyaku tidak sabar.


" Gini dek, Abang mau jelasin sesuatu hal yang penting kepada Adek", ucap suamiku memulai pembicaraan.


" Kami sudah lama menikah Ani, dan kamu harus menerima aku sebagai madumu, karena aku sedang hamil anak bang Izal ", ucapnya sambil tersenyum penuh kemenangan dan mengelus perutnya di depanku.


Aku hanya diam membisu, karena aku sudah lama mengetahui penghianatan suamiku, tapi mengapa hati ini merasakan sakit, padahal aku sudah berusaha untuk tegar dan menutup pintu hatiku untuk bang Izal, apa karena akhir-akhir ini, sikapnya berubah padaku, sehingga aku mulai berharap lebih, betapa bodohnya aku, aku pikir hubungan kami masih bisa diperbaiki dan masih bisa untuk dipertahankan, ucapku dalam hati sambil menatap wajah suamiku yang santai tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


Mungkin dia sedang sangat bahagia, karena istri simpanannya sedang hamil anaknya, ucapku dalam hati.


" Iya dek, kamu harus mau menerima Mira sebagai madumu, dan aku akan berusaha bersikap adil pada kalian", ucap suamiku sambil menatap wajahku.


"Apa kalian sudah selesai?", tanyaku.


" Iya dek, kamu mau kan menerima Mira sebagai madumu", ucap suamiku tanpa rasa bersalah.


" Aku harus memikirkan semua hal yang harus aku putuskan, sama seperti dulu saat kamu melamarku untuk menikah, aku memikirkannya selama seminggu lebih, karena aku tidak mau mengambil keputusan yang salah di dalam hidupku, dan sekarang, aku juga harus memikirkannya dengan matang, agar aku tidak mengambil keputusan yang salah lagi, dan aku harap kalian pergi dari sini sekarang juga, karena aku tidak ingin anak-anakku mengetahui masalah ini", ucapku sambil berlalu pergi menuju ke dalam toko kami.


Merekapun pergi dari toko kami dengan menggunakan mobil inventaris suamiku.


Aku mengambil ponselku dan mengirimkan SMS pada suamiku untuk tidak pulang ke rumah selama seminggu ini, agar aku bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat untuk kami, dan diapun menyetujuinya.


Aku terduduk lemah di atas lantai toko kami ini, karena aku tidak menyangka, pernikahan kami akan berakhir di usia pernikahan kami yang hampir delapan tahun.


Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, waktu tidak bisa diulang kembali, inilah taqdir dari Allah SWT yang harus aku jalani.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2