Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Duka dan Luka... part.3


__ADS_3

" Bagaimana keadaan bang Izal dokter?", tanyaku.


" Maaf Bu, kamu tidak bisa menyelamatkan nyawa suami ibu, ibu yang tabah ya, ini semua sudah taqdir dari Allah SWT", ucap dokter yang menangani bang Izal.


Aku terdiam mendengar perkataannya. Ketika tersadar, aku bergegas melihat bang Izal.


" Ya Allah, ampunilah semua dosa bang Izal dan terimalah semua amal ibadahnya", ucapku sambil menangis terisak dan memeluk tubuhnya yang sudah terbujur kaku di atas ranjang pasien.


Aku mengambil ponselku dan menghubungi Pamanku dan menyampaikan berita tentang kematian bang Izal.


" Gimana Bu, jenazah akan disemayamkan dimana?", tanya salah seorang suster.


" Jenazah bang Izal akan disemayamkan di rumah pamanku", ucapku sambil menangis.


" Jenazahnya diantar pakai ambulance saja ya Bu", tanyanya lagi.


" Iya suster", ucapku.


Aku menghubungi bang Zainal untuk memberitahukan berita tentang kematian bang Izal, dan mengatakan alamat rumah pamanku padanya, karena jenazah akan disemayamkan di rumah pamanku.


Aku menghubungi atasan bang Izal, pak Mario, dan kepala desanya Gunung Tua, pak Putin dan memberitahukan tentang kematian bang Izal dan alamat pamanku kepada mereka, jika mereka mau melayatnya.


Selesai menghubungi sanak saudara kami, aku bergegas mengikuti para suster yang membawa jenazah menuju ambulance.


Setelah mereka memasukkan jenazah kedalaman mobil ambulance dan memberi tahu alamat lengkap pamanku, aku bergegas menuju parkiran motor matic milikku.


Aku segera menghidupkan mesin motorku dan melajukannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah pamanku dengan melewati jalan pintas.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumah pamanku. Aku melihat para tetangga sudah berdatangan ke rumah pamanku.


" Assalamualaikum", ucapku sambil memeluk anak-anakku yang sudah menungguku di teras rumah pamanku.


" Kenapa mama menangis?", tanya Syakira.


" Ayahmu sudah meninggalkan kita untuk selamanya sayang, Allah SWT lebih menyayangi ayahmu daripada kita", ucapku sambil menangis terisak.


Putriku Syakira juga ikut menangis histeris sambil memanggil ayahnya.


Tak lama kemudian, mobil ambulance yang membawa jasad beng Izal tiba di depan rumah pamanku.


Para petugas rumah sakit bergegas menurunkan jasad bang Izal dan mengangkatnya ke dalam rumah pamanku dan meletakkannya di pembaringan yang sudah disediakan oleh Bibiku.


Aku dan anak-anakku menangis terisak melihat jasad bang Izal. Setelah para petugas rumah sakit pergi, para pelayat mulai berdatangan untuk melayat.


Pamanku mengatakan kalau jasad bang Izal langsung diurus pemandiannya, agar jenazah bisa dikuburkan sebelum tengah malam.


Para tetangga segera membantu para pria untuk mengurus jenazah, dengan menyediakan perlengkapan si jenazah.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, setelah disholatkan, jenazah dibawa ke pekuburan umum yang ada di komplek rumah Pamanku.


Sebelum tengah malam, jenazah sudah selesai dimakamkan.


" Jangan menangis lagi sayang, nanti Kira bisa sakit kalau nangis terus", ucapku membujuk putriku. Sedangkan putraku Habib, sudah ditidurkan oleh Bibiku, karena aku harus membujuk Syakira.


Semenjak putriku mengetahui bang Izal sudah meninggal dunia, dia tidak pernah berhenti menangis, dan membuatku takut, kalau dia akan sakit jika dia terus-menerus menangis.


" Sayang, masih ada mama yang akan menyayangi kalian, mama akan menyayangi kalian dan mengurus kalian dengan baik, apa Syakira ga menyayangi mama lagi?", tanyaku sambil menahan air mataku.


" Mama, Kira sayang sama Mama, mama jangan ninggalin kami ya, kami hanya memiliki mama seorang, Kira hanya sedih dengan kepergian ayah, padahal kita baru saja berkumpul kembali dengan ayah", ucapnya sambil memeluk tubuhku dengan erat sambil menangis terisak.


" Iya sayang, mama tahu, kalau Kira sangat menyayangi Ayah, tapi Allah SWT lebih menyayangi ayahmu nak, apa kamu tidak kasihan melihat ayah terbaring terus di rumah sakit, dan hanya dibantu dengan alat -alat medis, jujur saja sayang, mama juga sangat sedih dengan kepergian ayahmu, tapi kita harus kuat, karena hidup harus terus berlanjut, semua pasti ada hikmahnya sayang ", ucapku sambil membelai rambut putriku dengan penuh kasih sayang.


" Sumber kekuatan mama adalah anak-anak Mama, dan Mama selalu berdoa untuk kebaikan dan kesehatan serta umur yang panjang untuk kalian, anak-anak mama tersayang, jangan bersedih lagi ya sayang, nanti mama juga akan ikut sedih", ucapku sambil menghapus air mata yang mengalir dari kedua mata putriku Syakira.


" Iya ma, Kira ga kan sedih lagi, ga akan menangis lagi, Kira sayang sama Mama", ucapnya sambil tersenyum dan memeluk tubuhku dengan erat.


" Iya sayang, semoga Allah SWT memberikan tempat yang terbaik untuk ayahmu, dan memberikan kekuatan dan ketabahan kepada kita ", ucapku sambil memeluknya.


Waktu berlalu, malam ini kami lalui dengan penuh air mata kesedihan. Duka dan luk datang secara bergantian.


Kami harus kuat dan tabah dalam menjalani ujian hidup ini, karena kami yakin semua pasti ada hikmahnya.


Pagi menjelang, Bibiku membangunkanku untuk sholat shubuh. Selesai sholat shubuh, aku membantu Bibiku memasak dan setelah itu, aku mengurus putraku Habib yang sudah bangun tidur.


Setelah memandikan dan memakaikan pakaiannya, aku menyuapinya sarapan pagi.


" Assalamualaikum", ucap mereka bersamaan.


" Wa alaikum salam", ucapku sambil mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di atas tikar yang masih tergelar di ruang tamu.


" Maaf Bu, baru pagi ini kami tiba dirumah duka ini, karena kami datang dari Medan kesini sebagai perwakilan dari kantor tempat suami ibu bekerja ", Ucapnya.


" Ooh, iya pak, tadi malam sebelum tengah malam jasad bang Izal sudah dimakamkan", ucapku menjelaskan.


" Iya Bu, Ibu yang tabah ya, dan sebagai rasa peduli kami, perusahaan memberikan bantuan kepada ibu dan anak-anak ibu, semoga bermanfaat ya Bu!", ucapnya.


" Silahkan di minum tehnya pak ", ucap Bibiku sambil meletakkan nampan yang berisi minuman ke depan mereka.


" Terima kasih Bu, kami tadi sempat sarapan dan minum teh sebelum kesini", ucapnya.


" Walau begitu diminum saja pak", ucapku menimpali.


" Baik Bu ", ucapnya sambil meneguk tehnya.


" Terima kasih banyak ya pak atas bantuannya ", ucapku terharu.

__ADS_1


" Kalau begitu, kami pamit pulang ya Bu, karena perjalanan kami sangat jauh ke Medan ", ucap salah satu teman kerja bang Izal yang melayat.


" Tolong disampaikan kepada pak Mario atas bantuan dan kebaikannya kepada kami", ucapku.


" Iya Bu, kami pergi ya Bu", ucap mereka bersamaan sambil meninggalkan rumah pamanku.


Beberapa menit kemudian, ada seorang wanita yang datang ke rumah pamanku.


" Assalamualaikum", ucapnya.


" Wa alaikum salam", ucapku sambil bergegas mendekatinya.


" Mira ", ucapku tercengang melihatnya.


" Iya ini aku, Mira", ucapnya sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah pamanku tanpa idzinku.


" Kenapa kamu datang kesini?", tanyaku.


" Tega kamu ya, kamu tidak memberi tahu aku kalau bang Izal meninggal dunia", ucapnya sambil sibuk mendiamkan bayinya yang sedang menangis, mungkin dia sedang lapar atau haus.


" Yah, terserah akulah, emangnya kamu itu orang penting?", tanyaku dengan nada tinggi.


" Iya, bang Izal adalah suamiku, sedangkan kamu hanyalah mantan istrinya ", ucapnya.


" Hey, jangan sembarang ngomong ya, kami belum sah bercerai, belum ketuk palu, sebenarnya kami sudah mau rujuk sebelum bang Izal kecelakaan, karena dia bilang, dua mau meninggalkan kamu, dan dia sangat menyesal menikah denganmy", ucapku lagi agar dia tidak besar kepala.


" Ada apa ribut -ribut?", tanya pamanku.


" Wanita ini paman, datang ke rumah paman, langsung bikin onar, ga tau diri banget jadi orang ", ucapku kesal.


" Kamu ada urusan apa datang ke rumah saya?", tanya pamanku dengan tegas.


" Aku ingin meminta hak ku sebagai istrinya bang Izal", ucapnya.


" Hak apa ?, dan Izal sudah meninggal dunia, dan dia tidak meninggalkan harta atau wasiat apapun kepada kami", ucap pamanku


" Dia kan punya mobil, dan aku ingin menjual mobil itu untuk membantu biaya hidupku dan anak-anakku", ucapnya dengan percaya diri.


" Mobilnya sudah saya jual, dan saya bayarkan untuk pengobatannya selama di rumah sakit, di ruang ICU, kamu pikir ada yang gratis di dunia ini", ucapku dengan jutek padanya.


" Apa tidak ada sisa dari penjualan mobilnya?", tanyanya lagi


" Emang kamu ya dasar wanita tidak tahu diri, bukannya sedih bang Izal meninggal dunia, tapi akmu hanya mempermasalahkan uang dan hanya uang", ucapku geram.


" Iya, untuk apa aku bersedih untuk pria yang tidak bertanggung jawab seperti itu", ucapnya berlalu pergi meninggalkan rumah pamanku.


" Astaghfirullah, ajaib banget ya ni orang, cuma mentingin diri sendiri aja", ucap Bibiku sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


" Iya Bi, emang manusia ajaib tu, ntar kena karma, baru tau rasa dia tu", ucapku sambil berlalu menuju dapur untuk mengambil makanan, karena perutku sudah mulai keroncongan.


Bersambung....


__ADS_2