
Saat itu suamiku masuk ke dalam kamar kami untuk menanyakan apa aku mau bakso rudal, karena penjual bakso keliling sedang menunggu di depan rumah.
" Adek mau makan bakso keliling ?, penjualnya lagi nunggu di depan rumah", tanya suamiku sambil tersenyum.
" Ga lah bang, adek masih kenyang, lagian bakso keliling belum tentu bagus untuk aku konsumsi karena aku sedang hamil sayang", ucapku sambil tersenyum.
" Baiklah, Abang sama temen Abang aja yang makan bakso", ucap suamiku sambil berlalu.
" Bang, belikan sama Marni Udah?", tanyaku.
" Iya udah, dia lagi makan baksonya di dapur, kalau ayah ga mau makan bakso", jawabnya sambil tersenyum dan keluar menuju teras.
Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur. Aku teringat saat kami dalam perjalanan pulang dari Sidempuan. Saat minibus yang kami tumpangi mengisi BBM di SPBU, aku melihat bang Zainal Abidin di sebuah mobil Alphard.
Saat itu, aku baru tahu kalau bang Zainal Abidin itu adalah orang berada dan pejabat. Aku melihat seragam yang dikenakannya, mungkin dia anggota DPR atau apalah itu. Tapi, dari sikapnya yang ramah dan sopan, serta rendah hati, hal itu yang lebih berharga dibandingkan dengan yang dimilikinya.
Dia tidak melihatku, karena dia fokus menyetir mobil. Aku tidak menceritakannya kepada suamiku, karena takut dia cemburu dan curiga karena berfikiran negatif.
Adzan magrib mulai berkumandang. Saat itu, suamiku sudah àda di dalam kamar, dan bersiap -siap untuk sholat ke Masjid di kampung kami ini.
Awalnya aku merasa heran, tumben bang Izal sholat ke masjid untuk shalat Maghrib berjamaah, tapi aku mengurungkan niatku untuk bertanya padanya, bahkan sebaliknya aku merasa bahagia, suamiku mau menjadi muslim yang bertaqwa.
Ketahuilah, semakin baik dan dekat seorang manusia dengan Allah, Tuhan semesta alam, semakin baik pula hati dan sikapnya.
Beberapa menit kemudian, setelah aku selesai sholat Maghrib, suamiku kembali dari masjid, dan aku menyambutnya dengan mencium tangannya, dan suamiku mencium keningku. Hatiku merasa nyaman dan bahagia dengan sikap manisnya.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi pernikahan kami, ucapku dalam hati.
" Adek mau ikut ke loket untuk mengambil tiket kita untuk pulang ke Medan besok malam?", tanya suamiku.
" Ga bang, adek istirahat aja di rumah, karena badan adek masih pegal-pegal, karena mengemas barang bawaan kita besok", ucapku dengan manja.
" Baiklah sayang, nanti setelah membeli tiket, Abang nongkrong bentar di warung dekat masjid ya dek, adek tidur aja duluan", ujarnya.
" Iya sayang, tapi Abang pergi setelah kita makan malam ya", ucapku.
Kamipun bergegas menuju dapur untuk makan malam. Ayah mertuaku sudah makan malam terlebih dahulu, tadi selesai sholat Maghrib, sedangkan adik iparku, sedang makan di dapur.
Aku mengambilkan makanan dari lemari, dan menghidangkan makanan tersebut di atas meja makan dan menyendokkan nasi dan lauk pauknya ke atas piring suamiku dan piringku.
Kamipun makan malam dengan lahapnya.
__ADS_1
Setelah kenyang, aku membersihkan meja aku dan mencuci peralatan makan kami.
Suamiku berpamitan untuk pergi ke loket bus Bayang Pane, membeli tiket untuk tiga orang.
Aku mengantarkan suamiku sampai ke teras. Setelah dia pergi, aku masuk ke dalam rumah dan bergegas ke kamar tidur kami untuk istirahat.
Aku duduk di pinggir tempat tidur sambil bersandar ke dinding, dan memainkannya hp ku. Akupun merasa bosan, dan aku segera keluar dari kamar tidur menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan shalat isya.
Selesai sholat, aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Kupejamkan mataku sambil membaca doa untuk memohon ampunan Allah SWT dan perlindungan Nya, dari gangguan syaitan atau jin. Itu semua kulakukan setiap saat aku hendak tidur.
Aku tidur nyenyak malam ini, sampai aku tidak menyadari jam berapa suamiku kembali ke rumah.
Pagi yang cerah, aku melakukan aktivitasku seperti biasanya. Selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga, aku membangunkan Suamiku. Selang beberapa menit, akhirnya suamiku banget juga. Kulihat dari gerak- geriknya, sepertinya dia pulang larut malam.
Jujur saja, aku tidak menyukainya begadang tanpa alasan yang positif, baru aja kemaren aku kagum melihat perubahannya yang shalat berjamaah ke masjid, sekarang kebalikannya, sholat subuh pun jadinya dia malas, karena begadang.
Selesai sholat, suamiku kembali tidur, karena dia masih mengantuk. Aku membiarkannya saja, agar tidak ada keributan pagi ini.
Sekarang pukul delapan pagi, aku sudah sarapan terlebih dahulu, sebelum membangunkan suamiku untuk sarapan pagi.
Setelah dia bangun, aku membiarkannya sarapan sendiri. Aku melakukan aksi protes dengan caraku sendiri, jika kubiarkan saja, nanti dianya semakin ketagihan dan terus begadang dengan teman - temannya.
Aku duduk di teras rumah, sambil melihat orang yang lalu - lalang lewat dari depan rumah kami. Jika aku mengenalnya, aku menyapa dengan ramah, dan sebaliknya.
" Dek, Abang salah apa, kenapa adek ga mau nemenin Abang sarapan pagi?", tanyanya.
Aku diam saja dan mengacuhkannya. Aku beranjak dari tempat dudukku dan bergegas menuju kamar tidur kami.
Aku duduk di pinggir tempat tidur ini sambil memainkan hp ku.
Aku mendengar suara langkah kaki suamiku yang sedang menuju kamar kami, aku langsung pura-pura tidur.
"Adek ga usah pura-pura, Abang tau adek ga tidur", ucapnya.
Aku hanya diam saja. aku terus tidur, walau hanya pura-pura, aku tidak ingin melihatnya.
Cukup lama bang Izal memperhatikan aku, akhirnya dia keluar juga dari kamar.
Ketika kutau dia sudah keluar, aku membuka mataku. Aku tidak tahu kalau suamiku mengintip aku dari jendela kamar tidur kami.
Dia mengendap- endap masuk ke dalam kamar kami, dan mengejutkanku.
__ADS_1
" Beneran kan, adek ga tidur, yang tadi cuma pura- pura", ucapnya sambil tersenyum padaku.
Aku tidak mau tahu dan tidak peduli, karena aku tau, kalau dia memang sudah tahu kalau dia memang bersalah, begadang semalaman sama temennya. Ntah apa yang mereka lakukan selama semalaman.
Aku diam saja dan tidak mau melihat wajahnya. Aku sibuk memainkan hp ku. Aku mainkan game ular cokom yang ada di hp ku, sampai ekornya semakin panjang.
" Adek marah sama Abang, karena begadang semalaman sama temen di warung kopi?", tanyanya padaku sambil menatap wajahku.
Aku diam saja dan hanya memainkan game ular cokom yang ada di hp ku.
" Abang janji, ga akan begadang lagi dek, tadi malam Abang terpaksa, karena Abang jarang ketemu sama mereka, pas semua temenku pada ngumpul, jadi Abang segan untuk menolak ajakan mereka untuk mengobrol", ucapnya menjelaskan.
" Adek jangan marah lagi ya sama abang!", ucapjua lagi.
" Baiklah", jawabku dengan singkat.
Aku bergegas ke luar dari kamar tidur kami, menuju kamar mandi untuk buang hajat.
Jujur saja, aku merasa lucu dengan tingkahku yang kekanak- Kanakan ini, tapi mau gimana lagi, aku hanya punya cara protes seperti ini, karena ga mungkin juga aku demo sambil teriak keras-keras, apalagi cuma masalah sepele, aku hanya ingin memberikan bang Izal pelajaran berharga, kalau begadang semalaman itu tidak baik dan tidak bagus untuk kesehatannya.
Setelah buang hajat, aku bergegas menuju teras rumah. Aku duduk terdiam dan bersandar sambil menatap jalanan yang lengang, karena tidak ada penduduk yang lewat, karena udaranya yang cukup panas.
Lama - kelamaan, aku bosan juga duduk sendirian, akhirnya aku memutuskan untuk tidur siang di kamar tidur kami.
Aku melihat suamiku sudah tidur, dan aku merebahkan tubuhku di sebelah pinggir tempat tidur, agar tidak dekat dengannya.
Tiba-tiba, tangannya yang kekar memeluk tubuhku dengan erat, dan menggeser tubuhku agar mendekat dengannya.
Saat aku ingin menjauh, suamiku langsung ******* bibirku dengan penuh gairah, sampai aku susah untuk bernafas. Aku mendorong tubuhnya, karena aku mulai kesulitan bernafas. Akhirnya dia melepaskan bibirku juga.
Aku tersengal-sengal mengatur ritme pernafasanku.
" Itu hukuman untuk adek, karena mengacuhkan Abang dari tadi", ucapnya sambil memeluk tubuhku.
Aku hanya diam saja mendengar ucapannya.
Kemudian suamiku mulai mencumbuiku dengan penuh gairah, lama-kelamaan aku mulai terpancing dengan sentuhannya, walau hatiku masih kesal, tapi aku harus melayaninya, agar dia tidak kecewa padaku.
Karena menurutku, kewajiban utamaku adalah Melayani kebutuhan seksualnya. Agar dia tidak berpaling pada wanita lain.
Akhirnya, kami melakukan hubungan intim selama satu jam dengan berbagai macam adegan romantis, dan bermandikan keringat untuk menyalurkan hasrat seksual kami untuk mencapai kepuasan maksimal.
__ADS_1
Bersambung...