Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Bisakah...?


__ADS_3

Maaf ya guys telat update nya, soalnya ada acara keluarga..


terima kasih atas dukungannya dan komentar positif nya..


love you all...


Saat ini, kami sedang menjenguk bang Izal di rumah sakit, walau kami hanya bisa melihatnya dari kaca pintu ICU, setidaknya anak-anakku masih bisa melihat ayahnya.


Aku melihat kondisi Bang Izal masih sama seperti kemarin, dia masih dalam keadaan koma. Dia hanya bisa bertahan untuk hidup dengan bantuan alat-alat medis.


" Ayo sayang, kita ke kantin rumah sakit untuk makan siang", ucapku sambil menggenggam tangan kedua anakku.


Kami berjalan berdampingan menuju kantin rumah sakit. Setelah makan siang, kami segera kembali ke ruang ICU. Di saat kami sedang berjalan menuju ruang ICU, seorang perawat menemui kami.


" Apa nama ibu adalah ibu Ani?", tanyanya.


" Iya, saya sendiri, ada apa ya?", tanyaku penasaran.


" Pak Izal sudah siuman Bu, dan dia dari tadi menanyakan ibu?", ucapnya.


" Alhamdulillah, akhirnya bang Izal sadar juga", ucapku dengan rasa syukur.


" Ayo kita ke ruang rawat inap nomor sebelas, pak Izal sekarang ada disana Bu", ucapnya.


" Baiklah, ayo kita segera ke kamar itu", ucapku sambil menggenggam tangan kedua anakku.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan kamar tersebut.


" Assalamualaikum ", ucap kami secara bersamaan.


" Wa alaikum salam ", jawab bang Izal dengan suara yang lemah.


" Aayaaah", teriak Syakira sambil berlari menuju tempat tidur pasien.


" Sya..Ki..Ra", ucap bang Izal terbata-bata.


" Ayah baik-baik saja sayang, jangan menangis ya", ucapnya sambil tersenyum.


" iya Yah, Kira pikir ayah akan meninggalkan kami seperti dulu lagi", ucapnya.


" Insha Allah, ayah ga akan pernah meninggalkan kalian lagi seperti dulu", ucap bang Izal langsung menatap kearahku.


Aku hanya diam membisu mendengar ucapannya. Karena aku juga bingung dengan perasaanku sendiri, dilain sisi, aku tidak ingin hidup bersamanya lagi, dan di lain sisi, aku tidak ingin melihat anak-anakku bersedih, bisakah hubungan kami menjadi baik, jika hatiku tidak mau menerima dia lagi?, ucapku dalam hati.


" Habib, sini nak", panggil bang Izal dengan suara parau.


Aku membawa Habib mendekati bang Izal.


" A..yah", ucap Habib pelan.


" Iya nak, ini ayah, panggil ayah sayang", ucapnya sambil menangis.

__ADS_1


Mataku berkaca-kaca saat melihat adegan mengharukan antara ayah dan anak-anakku ini, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ini semua sudah menjadi suratan takdir yang harus kami jalani.


Selesai memeluk anak-anaknya, bang Izal memanggilku.


" Sini dek, duduk di kursi ini", ucapnya sambil tersenyum dan menunjuk kursi yang ada di dekat tempat tidur pasien.


Aku melangkahkan kakiku menuju kursi yang ditunjuknya dengan perlahan dan dengan perasaan was-was, aku takut, bang Izal meminta hal yang tidak bisa kupenuhi.


Aku bergegas duduk di kursi yang ditunjuknya.


" Ada apa bang?, Abang ga usah banyak berpikir atau bergerak dulu, abang baru siuman", ucapku berusaha mengalihkan pikirannya.


" Iya dek, aku sudah tahu kondisi Abang Giman, Abang ingin menanyakan hal penting padamu ", ucapnya.


Aku terdiam sejenak dan menatap wajahnya yang masih pucat. Aku takut, jika menghindari hal ini, bang Izal akan semakin kepikiran dan membuat dia susah sembuh.


" Baiklah, Abang mau menanyakan hal penting apa padaku?", tanyaku.


" Bisakah adek memaafkan semua kesalahanku dari lubuk hati yang terdalam?", tanyanya sambil menatap mataku.


Aku terdiam sejenak dan mencoba memikirkan jawaban yang tepat untuknya, dan tidak mempengaruhi kondisinya.


Beberapa menit kemudian, aku menjawab pertanyaan bang Izal.


" Aku sudah memaafkan Abang dari lubuk hatiku yang terdalam", ucapku dengan tersenyum padanya.


Dia menghela nafasnya panjang dan membalas senyumanku.


" Jika aku meminta adek untuk kembali hidup bersamaku, bisakah adek memenuhi permintaanku?", tanyanya kembali.


" Bisakah Abang memberikan aku waktu untuk berfikir, karena jujur saja, aku ingin mengambil keputusan yang tepat untuk hidup ku kedepannya, dan aku tidak ingin menyesali keputusanku sendiri, dan kuharap Abang tidak akan kecewa dan benci padaku, apapun keputusanku nantinya", ucapku dengan penuh keyakinan.


" Baiklah dek, aku akan menunggu keputusanmu, semoga Allah membuka pintu hatimu lagi untukku", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Ya udah, Abang istirahat dulu, kata perawat tadi, Abang harus banyak istirahat ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya, tapi aku minta, adek ga usah memberi tahu Mira soal kecelakaanku ini, karena dia sedang mengandung, aku tidak mau, dia khawatir dengan keadaanku", ucapnya sambil mencoba memejamkan matanya untuk beristirahat.


Aku terdiam mendengar perkataannya, dalam kondisi seperti ini, dia masih memikirkan kondisi istri simpanannya itu, sesaat aku lupa akan siapa diriku baginya selama ini, aku pikir dia sudah berubah dan tidak peduli lagi dengan Mira, tapi sebaliknya diluar dugaanku.


Memang kamu bukanlah milikku, ucapku dalam hati sambil berjalan menuju pintu kamar pasien sambil menggenggam tangan kedua anakku.


Aku ingin mengantarkan kedua anakku ke rumah pamanku, karena anak-anak tidak boleh lama-lama berada di rumah sakit.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah pamanku dengan menaiki becak motor.


" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumah pamanku.


" Wa alaikum salam", ucap Bibiku sambil membuka pintu rumahnya.


" Gimana keadaan Izal nak?", tanya Bibiku.

__ADS_1


" Alhamdulillah, bang Izal udah siuman Bi, dan sekarang dalam proses pemulihan", ucapku.


" Jam berapa kamu ke rumah sakit lagi nak?", tanya Bibiku.


" Nanti jam lima sore Bi, aku titip Syakira sama Habib disini ya Bi, aku sebentar saja ke rumah sakit untuk melihat bang Izal, anak-anak ga boleh lama-lama berada di rumah sakit, kata perawat tadi", ucapku sambil duduk di kursi tamu.


" Ya udah, kamu istirahat dulu sebentar, Bibi nengok adekmu dulu ya di kamar, dia lagi main sendiri soalnya, kalau Pamanmu tadi keluar , ada urusan penting katanya ", ucap Bibiku sambil berlalu menuju kamar tidurnya.


Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju kamar tidur kami untuk melihat anak-anakku yang sudah terlebih dahulu ke kamar kami.


" Kira, lagu ngapain nak?", tanyaku.


" Ini lagi main boneka ma sama adek ", ucapnya.


" Ntar lagi, mama mandiin ya sayang, karena mama mau kerumah sakit lagi nengokin ayahmu", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya ma, Kira janji akan jagain adek dengan baik ma, tapi mama jangan lama-lama ya dirumah sakit, Kira takut, kalau mama lama di rumah sakit, adek nangis ga liat mama", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Iya sayang, mama sangat bahagia memiliki kalian di hidup mama ini", ucapku sambil mencium pipinya.


" Iya ma, kami juga sangat bahagia memiliki mama menjadi mama kami, mama yang cantik, sabar menghadapi kenakalan kami dan merawat kami dengan penuh kasih sayang ", ucapnya sambil memeluk tubuhku.


Aku tersenyum bahagia mendengar ucapannya tentangku, padahal selama ini, aku masih merasa kurang sabar dalam merawat dan membesarkan mereka, tapi aku bersyukur, Allah SWT memberikan aku anak-anak seperti mereka.


Beberapa menit kemudian, aku memandikan mereka di kamar mandi. Setelah memandikan dan memakaikan pakaian mereka, aku bergegas menuju kamar tidur Bibiku.


Di saat aku sedang mengobrol dengan Bibiku, ponselku berdering keras.


" Assalamualaikum", ucapku setelah telepon seluler kami tersambung.


" Wa alaikum salam, Bu Ani, kami minta ibu segera datang ke rumah sakit, karena kondisi pak Izal, kembali kritis, sekarang sedang dalam perawatan dokter di ruang operasi ", ucap si perawat.


" Baiklah, aku akan segera kesana ", ucapku sambil mengakhiri sambungan telepon kami.


" Bi, aku harus ke rumah sakit sekarang, katanya kondisi bang Izal kembali kritis, aku tidak tahu apa penyebabnya ", ucapku.


" Iya nak, segeralah kesana, anak-anakmu akan bibi jaga dengan baik, kamu fokus dulu sama Izal ya", ucap Bibiku.


Aku bergegas menuju parkiran motor matic milikku. Agar tiba lebih cepat di rumah sakit, aku mengambil jalan pintas, dan untuk menghindari razia atau lampu lalu lintas.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumah sakit, aku segera memarkirkan motor matic ku ke tempat parkir yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


Aku segera masuk kedalam rumah sakit, dan berjalan menuju ruang operasi. Aku bertanya kepada seorang suster yang lewat dari ruang operasi.


" Kak, pasien yang ada di kamar sebelas sudah selesai di operasi?", tanyaku.


" Iya Bu, dari tadi kami menunggu kedatangan ibu, karena kami ingin memberitahukan kondisi pasien yang ada di kamar nomor sebelas, kebetulan aku yang menjadi suster di kamar tersebut. Sekarang pasien berasa di ruang ICU", ucapnya menjelaskan.


" Baiklah Bu, terima kasih atas informasinya ", ucapku sambil tersenyum padanya dan berlalu pergi menuju ruang ICU.


Setibanya di ruang ICU, aku melihat bang Izal yang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Kondisinya kembali kritis sana seperti sebelumnya.

__ADS_1


Bagaimana bisa, dia kembali kritis, padahal tadi dia sudah baik-baik saja, ucapku dalam hati.


Bersambung...


__ADS_2