Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Pesta pernikahan... Part. 2


__ADS_3

Aku sangat terkejut melihat jari-jari tangan kak Khadijah hampi terpotong semua, karena diamputasi.


" Kenapa bisa terjadi seperti ini kak?", tanyaku penasaran,


" Saat itu, aku belum tahu, rasa gatal yang ada di jari-jari tanganku adalah penyakit kusta, aku juga tidak tahu penyebabnya apa, kata dokter tempat aku berobat, katanya penyebab penyakit ini adalah bakteri. Aku terlambat untuk mengobatinya ke dokter.


Setelah parah, dan tidak bisa diobati dengan salep biasa, barulah aku berobat ke dokter spesialis kulit. Kata dokter yang merawatku, aku kurang bersih mencuci tanganku, sehingga bakteri atau kuman yang ada di tanganku melekat dan mulai menggerogoti sel-sel kulit tanganku. Makanya dokter menganjurkan kita, kalau cuci tangan harus pakai sabun, biar kuman atau bakteri yang menempel di jari tangan kita mati", ucapanya dengan raut wajah sedih.


" Calon suami kakak tahu tentang penyakit kk ini?", tanyaku lagi.


" Iya dek, dia tahu tentang penyakit ku ini, dia mau menerima aku apa adanya", jawabnya dengan tersenyum.


" Syukurlah kak, semoga pernikahan kakak sakinah, mawadah, warahmah", ucapku sambil memeluknya.


Saat kami mengobrol di kamar kk Khadijah, suamiku memanggil namaku,


" Dek, lagi ngapain disini?", tanyanya di balik pintu,


" Ini lagi ngobrol sama kak Khadijah bang", ucapku sambil tersenyum.


" Ada apa bang ?", tanyaku padanya,


" Keluar dulu baru abang bicarakan sama adek", ucapanya.


Ketika hendak berdiri untuk membuka pintu kamar, Najwa udah duluan membuka pintu kamar, dia cukup lama mematung di depan pintu menatap wajah suamiku, tentu saja aku cemburu melihat reaksinya itu. Aku langsung berdiri di depannya, dan menarik tangan suamiku menuju kamar tamu.


Aku tidak suka melihat bang Izal hanya diam saja melihat reaksi Najwa yang memandangi wajahnya tanpa berkedip, mungkin dia baru pertama kali melihat pria tampan kali ya, secara semenjak kami menikah, tubuh suamiku menjadi padat berisi dan berotot, karena sering olahraga malam denganku sampai berkeringat. Makanya dia sampe terpesona kayak patung melihat suamiku.


Setibanya di kamar tamu, aku mengunci pintu kamar dari dalam.


" Abang kok diam aja dipandangi kayak gitu sama si cewe ganjen itu?", tanyaku dengan nada emosi.


" Abang sengaja dek, pengen nengok reaksi adek gimana kalau aku dipandangi seperti itu sama wanita lain ?", jawabnya sambil tersenyum menggodaku.

__ADS_1


" Aku gak sukalah bang, ada yang mandangin Abang kayak gitu, apalagi di depan mataku sendiri, bilang aja Abang juga suka dipandangin sama cewek moontoox kayak si ganjen itu kan ?", tanyaku lagi dengan emosional.


Bang Izal langsung memelukku dengan erat, karena emosiku mulai meluap-luap, ntar meletus kayak Gunung berapi, kan ngeri juga, berantem di rumah orang. Kemudian di mencium keningku pipiku dan bibirku cukup lama, dan berbisik" Ga ada yang bisa gantiin posisi Adek di hati Abang, Jagan marah gitu, ntar kita jadi malu kalau berantem di rumah family kita sendiri ", ucapnya sambil mengelus wajahku, kemudian perutku, agar aku ingat kalau aku lagi hamil, dan tidak boleh emosional, takut berpengaruh nantinya ke kandunganku.


Aku langsung istigfar dan duduk di tepi tempat tidur, sambil menghela nafas panjang dan mengeluarkannya dari mulutku.


" Jangan marah lagi ya sayang", ucapnya menggenggam tanganku.


" Adek minta maaf ya bang, Adek terlalu emosional karena rasa cemburu yang tak menentu, mungkin karena hormon kehamilanku juga ya sayang ?", ucapku merasa bersalah padanya,


" Ga apa-apa sayang, ga perlu minta maaf, Abang juga minta maaf kalau adek tersinggung dengan ucapan Abang barusan", ucapnya sambil tersenyum.


Kami pun berpelukan cukup lama, terasa nyama, jika kita memeluk orang yang kita cintai.


" Ani .!", panggil kak Khadijah sambil mengetuk pintu kamar kami.


" Iya kak..!, tunggu sebentar", sahutku setengah berteriak,


" Kalian baik-baik saja kan dek..?", tanyanya padaku setelah pintu kamar kubuka.


" Apa kamu mau makan mie goreng, ini bibi masak tadi siang", ucapanya dengan tersenyum padaku.


" Ga usah kak, nanti kalau makan mie goreng, ya mau makan nasi lagi, nanti malam aja, kalau masih ada, ini Adek mau mandi dulu, udah sore kak", ucapku sambil tersenyum.


" Ya udah, nanti habis mandi, temenin kakak di teras ya, sambil ngobrol", ucapnya sambil berlalu pergi.


" Sayang, yuk mandi bareng sama adek?", tanyaku pada bang Izal.


" Ayo sayang, dengan senang hati tentunya", ucapanya sambil menggendongku ke kamar mandi yang ada di kamar tamu ini.


Cukup lama kami berada di kamar mandi, karena kami harus memadu kasih terlebih dahulu, agar kami lebih menyatu dan makin bahagia, dan selesai mandi, kami berpakaian di dalam kamar.


" Tengok ni bang, udah nambah lagi kan tanda merah buatan abang di leherku..!", ucapku kesal, udah rambutku masih basah karena keramas, malu pula ga berjilbab, ntar dilihat orang, malu donk.

__ADS_1


Bang Izal hanya tersenyum menanggapi ucapanku.


" Ga usah keluar kamar dulu dek, sebelum rambut Adek kering, ntar rusak rambutnya, kalau masih basah, udah di ikat dan ditutupi pake jilbab", ujarnya sambil tersenyum.


Terpaksa, aku harus dikamar, sampe rambutku kering, karena ga bawa hairdryer, jadi lama keringnya. Kemudian bang Izal membantuku mengeringkan rambutku dengan memakai handuk kecil, aku duduk didepannya, agar dia lebih mudah mengeringkan rambutku.


" Seharusnya, kalau ga dirumah sendiri atau di hotel, kita ga usah berhubungan intim ya bang, kan jadi repot kalau kayak gini", ucapku sambil tersenyum,


" Ga bisa gitulah sayang, kalau lagi kepengen gimana, tadi Adek yang ngajakin mandi bareng, berarti Adek lagi kepengen kan Abang cumbuin, Abang juga pengen, yah sekalian aja di lama-lamai bercintanya biar makin nikmat dan puas, Adek suka kan?", ucapnya sambil mengelus rambutku.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.


Setelah rambutku lumayan kering, barulah aku keluar dari kamar menggunakan jilbabku, karena takut tanda merah buatan suamiku dilihat orang rumah ini.


Aku bergegas menuju teras untuk menemui kak Khadijah, dan aku lihat dia sedang mengobrol dengan si Najwa. Sebenarnya, aku enggan bergabung dengan mereka, karena aku tidak menyukai Najwa, tapi apa boleh buat, aku harus menjaga perasaan kak Khadijah.


" Dek, sini gabung sama kita", ajak kak Khadijah memanggilku.


" Iya kak", Jawabku sambil tersenyum.


" Aku pikir, kamu sudah pulang ke rumah mu Wa..?", tanyaku pada Najwa.


" Rencananya, aku mau nginep disini Ni, mau nemanin kak Khadijah, karena besok dia akan menikah, jadi ini malam perpisahan kami, karena selama ini aku sering nemanin kak Khadijah dirumah ini", ucapanya sambil tersenyum.


" Emangnya rumahmu dimana Wa..?" tanyaku lagi.


" Ga jauh kok Ni, hanya jarak 20 meter dari rumah ini, makanya orang tuaku tidak keberatan aku nginap disini, dan mereka juga kenal baik dengan kak Khadijah,m", jawabnya dengan tersenyum.


" Emang suamimua kerja apa Ni?, keren juga ya suamimu itu Ni..!", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Aku langsung terdiam dan tidak menanggapi pertanyaannya, karena aku mulai mencium aroma Pelakor dari arah pertanyaannya. Kubuat saja dia penasaran, biar pingsan aja dia sekalian saking penasarannya ngurusin suami orang, sungut ku dalam hati.


Aku hanya diam membisu, kemudian...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2