Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Anugerah yang tak terduga...


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, beberapa bulan pun berlalu.


Tak terasa sekarang putriku berumur lima tahun. Putriku Syakira menjadi anak yang lincah, pintar dan sangat suka berdandan.


Apapun yang aku lakukan saat merias wajahku, dia juga akan melakukan hal yang sama, seperti saat ini. Aku sedang merias wajahku dengan menggunakan skin care yang biasa kupakai, karena aku ingin pergi mengantarkan hasil jahitan pakaian yang dipesan oleh langgananku yang ada di komplek perumahan ini.


" Mama, aku cantik kan sama kayak mama?", ucapnya dengan nada manja.


" Iya sayang, bahkan putri mama lebih cantik daripada mama", ucapku menyenangkan hatinya.


" Yeee.... kalau begitu, Syakira maunya adek laki-laki aja, biar tetap Syakira yang paling cantik", ucapnya sambil melompat di atas tempat tidur kami.


" Jangan lompat-lompat nak, ntar jatuh gimana?", ucapku.


Akhirnya dia pun berhenti.


" Aku maunya adek laki-laki ya ma?", ucapnya sambil menatapku.


" Emangnya Syakira tahu dari mana akan punya adek?", tanyaku.


" Dari ayah ma, katanya bentar lagi aku akan punya adek, dan aku maunya adek ganteng ya ma", ucapnya sambil memeluk tubuhku.


" Berdoalah kepada Allah SWT sayang, biar dikasih adek ganteng ", ucapku sambil mengelus rambutnya.


" Iya ma, aku akan berdoa setiap hari agar dikasih adek ganteng ya ma ", ucapnya sambil berlari sana-sini.


Kamipun keluar dari kamar tidur menuju ruang tamu. Aku melihat adik iparku sedang menonton televisi sambil memakan keripik sambal.


Aku mengatakan kepadanya bahwa kami akan mengantarkan pesanan dengan bahasa isyarat padanya, dan dia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.


Aku menggenggam tangan putriku Syakira, agar dia tidak berlari dan tidak terjatuh, karena putriku ini lumayan aktif.


Beberapa menit kemudian kami tiba di depan rumah langgananku.


" Assalamualaikum kak", ucapku sambil memeluk pintunya.


" Wa alaikum salam ", ucapnya sambil membuka pintu rumahnya.


" Ayo masuk dek", ajaknya.


" Ga usah kak, kami disini aja, ini pesanan Kakak udah selesai, jadi kami tunggu disini aja, kalau Kakak mau mencobanya dulu, pas atau tidak ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ooh.. baiklah dek, tunggu disini ya, kalian duduk aja di kursi teras itu", ucapnya sambil berlalu pergi ke dalam kamarnya.


Beberapa menit kami, dia datang mendekati kami.


" Semuanya pas kok dek, tapi kakak mau menjahitkan celana panjang Kakak yang koyak, ada sepuluh buah, bisa dek ?", tanyanya.


" Bisa kak, sini biar kubawa sekalian kak,upah perbuahnya sepuluh ribu ya kak, dua hari lagi kuantar kesini ", ucapku menjelaskan.

__ADS_1


" Baiklah dek, tunggu sebentar ya, biar kuambil ", ucapnya sambil tersenyum dan masuk lagi ke dalam kamarnya.


Beberapa menit kemudian, dia datang dengan membawa plastik hitam yang berukuran besar yang isinya adalah celana panjangnya yang koyak.


" Ini dek, sekalian ini upahnya semua sama baju yang udah adek kasih tadi", ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku.


Aku menerima uang yang diberikannya sambil mengucap terima kasih padanya.


" ini untuk jajan putrimu ya", ucapnya lagi sambil memberikan uang sepuluh ribu rupiah sebanyak dua lembar kepadaku.


" Ga usah kak, yang Kakak kasih ini aja udah lebih dari cukup kak, lagian Kakak udah baik banget sama aku, karena mempromosikan jahitanku kepada teman kerja dan tetangga Kakak disini, semoga Allah SWT memberikan Kakak rezeki yang berlimpah ya kak, karena kebaikan hati Kakak ", ucapku terharu.


" Itu semua Kakak lakukan dengan ikhlas dek, murni untuk membantu adek, terima kasih atas doanya, dan sudah sewajarnya kita sesama manusia harus saling tolong-menolong dan saling menyayangi satu sama lain, apalagi kita sudah lama kenal, dan menurut Kakak, adek juga orangnya baik, suka membantu orang lain juga", Ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Terima kasih ya kak", ucapku sambil tersenyum dan pergi meninggalkan rumahnya.


Karena aku tidak mau menerima uang yang diberikannya untuk jajan putriku, dia memberikan sebungkus roti kepada putriku, itu lebih baik menurutku, karena aku tidak mau putriku mengetahui nilai uang.


Kamipun berjalan beriringan dengan membawa plastik hitam yang berisi celana panjang yang akan kujahit.


Alhamdulillah ya Allah, atas semua rezeki yang engkau berikan kepada kami, ucapku dalam hati sambil tersenyum bahagia.


Lima belas menit kemudian, kami tiba di depan rumah kontrakan kami, dan kami segera masuk ke dalam rumah, karena aku melihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumah kami.


" Assalamualaikum", ucapku sambil menggenggam tangan putriku.


Aku melihat suamiku sedang duduk santai sambil merokok di ruang tamu.


" Itu mobil kantor dek, mobil inventaris, Abang naik jabatan menjadi koordinator" ucapnya sambil tersenyum bahagia.


" Alhamdulillah, selamat ya sayang", ucapku sambil memeluknya.


" Iya sayang, dan malam ini kita rayakan dengan makan malam di restoran bintang lima ya", Ucapnya sambil tersenyum.


" Ga usah sayang, adek lebih suka makan di warung ayam peecak ", ucapku menolaknya secara halus.


" Baiklah, sesuai permintaan nyonya Ratu", ucapnya sambil mencubit hidungku.


Aku tersenyum bahagia mendapatkan perlakuannya itu, dan aku bersyukur, rumah tangga kami tetap harmonis sampai sekarang.


Waktu berlalu, kami sedang bersiap-siap untuk makan malam diluar, tentunya adik iparku juga ikut, karena kami sudah memiliki sebuah mobil inventaris dari kantor suamiku.


Malam ini aku memakai gamis warna peach senada dengan warna jilbabku. Putriku Syakira in memakai gaun warna pink dengan pita berwarna pink juga, dan adik iparku memakai pakaian kemeja batik lengan panjang dan rok panjang, sedangkan suamiku memakai kaos distro berwarna coklat dan celana panjang jeans.


Setelah bersiap-siap, kami keluar dari rumah, aku mengunci pintu rumah kami. Kemudian, kami masuk ke dalam mobil, suamiku segera menghidupkan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan restoran sederhana.


" Kita makan disini aja ya sayang" ucap suamiku sambil tersenyum.

__ADS_1


" Terserah Abang aja deh", ucapku sambil melepaskan sabuk pengamanku.


Aku melihat putriku tertawa gembira bersama adik iparku yang duduk di belakang kami.


" Ayo sayang, kita keluar dari mobil", ucapku sambil mengulurkan tangan kepada putriku.


" Ayo ma, Kira mau mesan nasi goreng sosis aja ya ma", ucapnya manja.


" Iya putriku yang cantik, makan yang banyak ya, biar makin gede ya", ucapku sambil menggenggam tangannya menuju ke dalam restoran.


Setelah kami semua duduk di kursi yang disediakan, kamipun memesan makanan yang kami inginkan kepada pelayan yang sedang berdiri di depan kami sambil menuliskan pesanan kami.


Beberapa menit kemudian, makanan yang kami pesan dihidangkan di atas meja.


Sebelum menyantap makanan, kami berdoa menyampaikan rasa syukur kami kepada Allah SWT terlebih dahulu.


Setelah menyantap makanan kami dengan lahapnya, suamiku membayar semua tagihan makanan dan minuman kami.


Kami bergegas beranjak dari tempat duduk kami, dan berjalan perlahan menuju parkiran mobil.


Suamiku membukakan pintu mobil untukku.


Setelah kami duduk dengan tenang, suamiku menghidupkan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


" Sejujurnya aku ga tau bang, ternyata Abang bisa bawa mobil", ucapku memulai pembicaraan.


" Iya dek, dulu Abang sering bawa mobil Bosnya abang di kantor, jadi Abang lumayan mahir mengendarai mobil ", ucapnya menjelaskan.


" Ayah, Kira mau naik odong-odong pake lampu kelap-kelip itu", ucap Syakira sambil menunjuk odong-odong yang sedang ramai di tepi jalan raya.


" Iya sayang, tunggu Ayah parkirkan dulu mobilnya ya" ucap suamiku sambil memarkirkan mobilnya di tepi jalan raya yang lumayan dekat dengan odong-odong.


Kamipun keluar dari mobil, dan berjalan perlahan menuju odong-odong.


Si pemilik odong-odong pun menghentikan laju odong-odongnya untuk menaikkan Putriku ke atas odong-odongnya.


Selama lima belas menit, putriku menaiki odong-odong tersebut, dan si pemilik odong-odong pun menghentikan laju odong-odongnya untuk menurunkan putriku Syakira atas permintaan suamiku.


Kamipun kembali ke dalam mobil, aku melihat adik iparku sudah tertidur lelap di atas kursi mobil, mungkin dia kekenyangan dan kecapean menunggu kami, sehingga dia ketiduran, pikirku sambil tersenyum melihatnya.


Beberapa menit kemudian, kamu tiba di depan rumah kontrakan kami. Aku segera keluar dari mobil untuk membukakan pintu rumah, sedangkan suamiku memarkirkan mobil ke samping rumah kami, yang kami fungsikan sebagai garasi mobil.


Suamiku membangunkan adik iparku, dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah dan tidur di kamarnya, sedangkan putriku Syakira sedang tidur pulas di dalam gendongannya.


Suamiku meletakkan tubuh putriku ke atas tempat tidur kamar kami.


Setelah membersihkan tubuhku di dalam kamar mandi, dan mengambil wudhu untuk sholat isya. Aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk beristirahat.


Malam ini, kami tertidur lelap dengan penuh kebahagiaan, semoga kebahagiaan kami selamanya, doaju dalam hati sambil tersenyum dalam tidurku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2