
POV. Ani
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kontrakan kami. Aku bergegas turun dari sepeda motor dan membuka pintu rumah kami, dan bergegas masuk.
" Adek kenapa mukanya suntux banget kelihatan sejak pulang dari kampus", tanya bang Izal sambil menghampiriku.
Aku hanya diam membisu, tidak menjawab dari suamiku. Bang Izal segera memesan makanan kesukaanku untuk menu makan siang kami, karena menurutnya aku sedang kelaparan, makanya diam membisu dari tadi.
" Jangan galau lagi sayang, ntar lagi makanannya akan diantar, sabar ya sayang, Abang mandi dulu, sekalian mau sholat Dzuhur, adek udah sholat Dzuhur belum ?," tanyanya lagi padaku, Karena aku hanya diam, akhirnya bang Izal pergi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Aku masih teringat dengan perkataan Azam sewaktu di kampus tadi, bahwa dia tidak pernah menghianati cintaku. Jujur saja, dia adalah cinta pertamaku, dan aku belum bisa melupakannya. Setelah kejadian waktu itu, aku sudah menutup pintu hatiku untuknya.
Sekarang hanya bang Izal, yang ada di hati ku, dan aku memang mencintainya dengan sepenuh hatiku.
Kalau saja, waktu itu aku tidak mempercayai perkataannya si Mira, mungkin kami masih bersama sampai saat ini, tapi kami terpisah satu sama lain, karena kesalah pahaman yang disebabkan oleh temanku sendiri.
__ADS_1
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, karena sifat keras kepalaku, aku jadi berpisah dengan Azam, tapi semuanya sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur.
Aku menghela nafas ku dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku kembali berpikir positif, kami terpisah, karena dia bukanlah jodohku, itu intinya saja.
Aku bergegas ke kamar mandi untuk menemui suamiku. Akhirnya, aku bisa terlepas dari kegalauan ini. Aku melihat suamiku sedang memakai sabun, aku bergegas melepaskan pakaianku, dan membantunya memakai sabun untuk bagian belakangnya.
" Sini kubantu bang", bisikku sambil mengusapkan sabun ke bagian punggungnya.
Suamiku menggenggam tanganku, dan dia membalikkan tubuhnya, dan dia langsung memeluk tubuhku dan langsung mencium keningku, pipiku, dan bibirku.
Selesai mandi, kamipun keluar dari kamar mandi dan berpakaian di kamar tidur. Selesai sholat Dzuhur, aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, karena aku sedikit lelah dengan aksi hot yang kami lakukan di kamar mandi.
" Sayang, makanannya sudah diantar, apa Abang taruh aja di dapur atau abang bawa ke kamar?", tanya bang Izal dengan tersenyum padaku.
" Bentar lagi ya sayang, aku rebahan dulu, ini gara-gara Abang sih, aksinya terlalu hot, badanku jadi pegal semua nih..!", ucapku dengan nada manja,
__ADS_1
" ok lah kalau begitu ratuku", ucap bang Izal sambil mencubit hidungku pelan.
Beberapa menit setelah istirahat, kami bergegas ke dapur untuk makan siang. Saat makan siang, bang Izal muntah, gara mencium ada bau bawang putih di sambal terasi yang dia makan. Aku mencium sambal terasi yang dia makan, bau nya seperti biasa, tidak ada yang beda dari yang kemarin yang kami pesan di tempat yang sama juga. Aku tersenyum melihatnya," Sabar ya sayang, mungkin ini abang yang lagi ngidam, bukannya adek", ucapku menggodanya,
" Emang ada ya sayang, kalo istrinya hamil, suaminya yang ngidam", tanyanya dengan wajah pucat sehabis muntah.
" Ya ada-lah yang, contohnya abang kan!, adek yang lagi hamil, Abang yang ngidamnya, kan bagus bang, biar sama-sama ngerasain sakitnya mau punya anak, biar nantinya Abang makin sayang sama adek dan anak kita", ucapku dengan penuh semangat,
" Iya sih dek, ga apa-apalah kalau abang yang ngidam, biar anak kita tetap sehat di dalam perut adek, kalau adek yang ngidam, ga mau makan, kasihan juga sama anak kita, jadi kita nutrisi", ucapanya dengan tersenyum melihatku.
Selesai menyantap makan siang, kami istirahat di ruang tv, sambil nonton tv.
Saat kami sedang mengobrol sambil nonton TV, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah kami, aku bertanya pada suamiku, " Siapa ya bang datang bertamu siang- siang gini, ga tau apa orang lagi istirahat" gerutuku sambil bergegas menuju pintu rumah.
Aku mengintip dari jendela kaca, ternyata....
__ADS_1
Bersambung...