
Aku terdiam saat mendengar suaranya, apakah dia benar seseorang yang kukenal.
" Ani", ucapnya lagi.
Ternyata benar, dia seorang yang kukenal, dia adalah Putri, teman lamaku sewaktu di kampus.
" Iya saya sendiri, kamu Putri kan?", tanyaku.
" Iya Ni, aku pikir kamu udah lupa sama aku Ni, ternyata kamu masih ingat sama aku, aku sering hubungi nomor handphonemu yang lama, tapi tidak pernah aktif, ternyata kamu ganti nomor handphone yang baru", ucapnya.
" Iya Put, aku memang ganti nomor handphone, karena aku ingin menghindari bang Izal, aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya", ucapku.
" Iya Ni, aku juga sudah tahu tentang masalah yang kamu alami dengan suamimu Izal, dan aku tidak menyangka Izal akan berbuat seperti itu padamu", ucapnya.
" Iya Put, namanya taqdir, mau gimana lagi, aku hanya bisa pasrah dan berserah diri kepada Allah SWT, mungkin dia bukanlah jodohku yang sebenarnya ", ucapku.
" Iya, mungkin kamu berjodoh dengan pria yang lebih baik dan lebih mencintaimu Ni", ucapnya.
" Iya Put, mungkin Allah SWT sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukku, dan aku tidak tahu siapa itu, dan aku hanya menunggu sampai pria itu datang ke dalam kehidupanku", ucapku.
" Kamu ga marah kan Ni, kak Khadijah cerita tentang masalahmu padaku, karena aku terus memaksanya, aku pengen banget ketemu sama kamu, dan bercerita tentang semuanya padamu, bahkan tentang bang Azam ", ucapnya.
" Emangnya, kamu ketemu dimana sama kak Khadijah?", tanyaku.
" Kemaren, kak Khadijah datang untuk periksa kandungan ke rumah sakit tempatku bekerja, i rumah sakit umum tempat kak Khadijah melahirkan anak pertamanya dulu, kita juga bertemu saat itu, sekarang kak Khadijah sedang mengandung anak keduanya ", ucapnya menjelaskan.
" Syukurlah, Kak Khadijah sedang mengandung, semoga kandungannya sehat ", ucapku mendoakannya.
" Aamiin, Ooh ya, apa kamu ga ni penasaran tentang bang Azam?", tanyaku.
" Ga lah Put, kamu bilang dulu Azam sudah menikah dan hidup bahagia dengan istrinya", ucapku.
" Maaf ya Ni, dulu aku berbohong padamu, sebenarnya bang Azam belum pernah menikah, aku kesal dengannya, setiap kali kami mengenalkan seorang gadis padanya, dia selalu menolak, dia bilang, dia tidak ingin menikah, itu saja, akhirnya, saat kamu bertanya tentang bang Azam, aku jadi berbohong padamu, agar kamu tidak memikirkannya lagi", ucapnya.
" Ooh, gitu ya Put, aku tidak marah padamu, karena itu adalah hak mu, hanya saja waktu dirumah sakit, aku hanya iseng saja menanyakan Azam, gimanapun juga, kami dulu pernah pacaran, jadi aku penasaran aja dengan kabarnya, sekarang dia dimana sekarang?", tanyaku.
" Dia sekarang lagi bekerja di luar negeri, di kapal tengker orang asing, kadang dalam setahun dia hanya pulang sekali saja, kadang ga pulang", ucapnya.
" Ooh...", ucapku singkat.
" Apa mungkin dia masih mengharapkanmu Ni?", tanyanya.
" Aku tidak tahu Put, itu masalah hatinya, hanya Allah dan dia yang tahu", ucapku.
" Seandainya bang Azam datang melamarmu , apa kamu mau menikah dengannya?", tanyanya.
" Aku belum tahu Put, kalau dia memang jodohku, Allah pasti akan membuka pintu hatiku untuknya, tapi untuk saat ini, aku hanya ingin fokus merawat dan membesarkan anak - anakku", ucapku.
" Iya Ni, itu memang benar, jika kalian memang berjodoh, kalian pasti akan dipersatukan oleh Allah SWT ", ucapnya.
" Maaf ya Put, nanti kita lanjutin ngobrolnya, aku mendengar putraku sedang menangis", ucapku.
__ADS_1
" Iya Ni, nanti aku telpon lagi ya, terus semangat ya say, assalamualaikum ", ucapnya.
" Wa alaikum salam Put, kapan -kapan kamu datang ke rumahku ya ", ucapku sambil mengakhiri sambungan telepon seluler kami tanpa menunggu jawabannya.
Aku buru-buru masuk ke dalam rumah untuk melihat putraku.
" Anakku Habib tersayang, kenapa kamu menangis?", ucapku.
" Adek nangis karena ga ngeliat Mama", ucap putriku.
Aku langsung menggendong Habib untuk mendiamkannya.
" Kira mandi dulu ya Ma", ucapnya.
" Iya sayang, sekalian mengambil wudhu ya sayang, habis mandi langsung sholat ashar", ucapku sambil mencium pipinya.
" Iya Ma", ucapnya sambil berlalu pergi menuju kamar mandi.
Setelah Habib tidak menangis lagi, aku memberikannya minum air mineral, agar dia lebih tenang.
" Ma, aku udah selesai mandi, mama bisa memandikan adek", ucap Syakira.
" Iya nak, mama mandiin adek dulu ya ", ucapku sambil berlalu menuju kamar mandi dengan menggenggam tangannya Habib.
Selesai memandikannya, aku memakaikan baju piyama warna hijau.
" Anak mama paling ganteng sedunia ", ucapku sambil tersenyum padanya dan mencium pipinya.
" Iya sayang ", ucapku sambil memeluknya dan mencium pipinya.
Tidak terasa malam pun tiba, setelah sholat isya dan makan malam bersama, kami istirahat sejenak sambil menonton televisi.
Aku melihat anak -anakku mulai mengantuk, dan akhirnya aku mengajak mereka untuk tidur di kamar Setelah mematikan televisi.
Kami tidur sambil berpelukan sampai malam berlalu.
Pagi pun tiba...
Seperti biasa, aku melakukan aktivitasku sebagai seorang single mother. Aku mengurus anak-anakku dengan baik dan penuh kasih sayang, memang terkadang terasa berat, tapi aku harus tetap kuat dan tabah dalam menjalani kehidupan ini.
Saat ini, aku sudah di warung kecilku ini untuk melayani pembeli, sedangkan anakku Habib sedang duduk di kursi untuk menemaniku dan putrikub sedang sekolah.
" Permisi Bu, apa ibu menjual rokok?", tanya seorang pria yang berseragam tentara.
" Maaf ya pak, saya tidak menjual rokok , yang ada hanya senbako dan makanan ringan", ucapku sambil tersenyum ramah.
" Ooh iya Bu, kalau ga ada rokok,aku beli makanan aja, ada kue kering atau basah Bu?", tanyanya.
" Ada pak, silahkan dipilih pak, ada di toples putih model petak yang ada di depan bapak", ucapku sambil menunjuk toplesnya.
" Anak ibu, baik ya, duduk diam seperti itu nemanin mamanya jualan, emang ayahnya dimana Bu?", tanyanya.
__ADS_1
" Ooh, ayahnya ada di Medan pak, bekerja", ucapku singkat.
" Ini Bu kuenya, tolong dihitung berapa totalnya", ucapnya sambil memberikan kantongan plastik yang berisi kue basah.
" Ooh.. totalnya lima belas ribu rupiah pak", ucapku setelah menghitung jumlah kuenya dan menyerahkan kantong plastik padanya.
" Terima kasih ya Bu", ucapnya sambil memberikan uang lima belas ribu rupiah padaku.
" Sama-sama pak", ucapku sambil tersenyum ramah.
Dia pun berlalu pagi meninggalkan warungku.
Tak terasa, hari beranjak siang, aku melihat jam di tanganku menunjukkan pukul sebelas siang, saatnya menjemput putriku Syakira ke sekolahnya, ucapku dalam hati.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan sekolah putriku.
" Mama ..!", ucap putriku sambil berlari menghampiriku.
Aku memperhatikan wajahnya, agak sembab, apa dia habis menangis, tanyaku dalam hati.
" Ayo sayang, kita pulang", ajakku.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah kami.
" Kira, apa tadi bertengkar dengan teman Kira di sekolah?", tanyaku sambil membantunya mengganti pakaiannya, sedangkan putraku Habib sibuk menonton televisi.
" Iya ma, Dia bilang Kira ga punya ayah, karena setiap hari, Mama terus yang jemput Syakira ke sekolah", ucapnya.
Aku terhenyak mendengar ucapannya.
" Jadi Kira ngomong apa?", tanyaku.
" Kura bialangkah kalau Kira itu punya ayah, dia bekerja di Medan ", ucapnya.
" Iya nak, bialang aja seperti itu, karena kenyataannya memang ayah Kira bekerja di Medan kan sayang ", ucapku menghiburnya.
" Iya, tapi mereka ga percaya Ma, katanya Kita berbohong, Mama telpon Ayah aja Ma, suruh datang kesini, biar teman-teman Kira percaya kalau Kira memang punya Ayah ", ucapnya.
Aku terdiam sejenak mendengar ucapannya.
Ternyata figur seorang ayah sangat penting untuk anak-anak. Apalah hendak dikata, aku dan ayahnya tidak bersama lagi.
" Sabar ya sayang, nanti mama akan menelpon ayahmu untuk datang menemui kalian", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Hooree...", ucapnya sambil memeluk tubuhku dan tertawa bahagia.
" Ayah akan datang kesini kan ma?", tanya Putriku dengan wajah yang bahagia.
" Insha Allah, ayahmu akan datang", ucapku sambil tersenyum padanya.
Bersambung...
__ADS_1