
Hari berganti hari, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun.
Tak terasa, putriku Syakira sudah lulus sekolah dasar.
Hari ini, kami akan ke sekolahnya untuk mengambil ijazah Kelulusannya.
" Ma, kita berangkat jam berapa ke sekolahku?", tanya Syakira.
" Emangnya jam berapa dibilang gurumu kemarin?", tanyaku.
" Paling lambat, katanya jam dua belas siang ma", ucapnya.
" Sekarang sudah jam berapa?", tanyaku sambil sibuk mengurus putriku Syifa.
" Sekarang sudah jam sembilan ma, Habib sudah selesai bersiap -siap, katanya dia juga mau ikut ke sekolah ma", ucapnya menjelaskan.
" Iya sayang, Syifa udah mau siap juga nih, tinggal dipakein bedak, biar wangi dan syaantiik", ucapku.
" Iya ma, aku juga udah siap -siap nih", ucapnya sambil menyusul kami ke kamar tidurku.
" Syaantiik banget adeknya kakak", ucapnya memuji Syifa.
" Makasih kak atas pujiannya", ucap Syifa sambil tersenyum padanya.
" Sama-sama adekku sayang", ucap Syakira sambil mencubit hidungnya Syifa.
" Aduuh!, Atit kak", ucapnya sambil tertawa.
" Kalau aku, ganteng kan kak!", ucap Habib sambil bergaya di depan kami ala artis India Salman Khan.
" Wow!, Adeknya kakak keren banget, apalagi pakai kaca mata hitam, ntar ada cewe yang naksir lho di sekolahan!", ucap Syakira sambil tersenyum padanya.
" Mantap donk sayang, kalau ada yang naksir sama anak ganteng mama, biar rumah kita makin ramai, apa Habib mau mama jodohin sama anak teman Mama?", tanyaku menggodanya.
" Ya ampiiiun ma, Habib masih kecil ma, masih sekolah, masa mau dijodohin segala", ucap Syakira protes.
Kamipun tertawa bersama mendengar ucapan Syakira.
Tok..tok
" Assalamualaikum", ucap seorang pria.
" Wa alaikum salam", ucapku sambil membuka pintu.
" Ooh!, bang Zainal rupanya, silahkan masuk bang!", ucapku.
" Iya Ni", ucapnya.
" Ooh ya, kalian mau pada kemana nih?", tanyanya.
." Kami mau ke sekolah om", ucap Syakira sambil meletakkan segelas air putih di atas meja ruang tamu.
" Makasih ya nak", ucapnya sambil meneguk air putih yang diberikan oleh Syakira secara perlahan.
" Jadi, gimana nih, kami mau berangkat, takut telat ke sekolahnya Syakira mau ngambil ijazah Kelulusannya", ucapku.
" Sabar donk ma, Om Zain masih istirahat", ucap Putriku Syifa.
Aku terdiam mendengar perkataannya, karena menurutku Syifa selama ini memang selalu membela bang Zainal, ataukah Syifa memang menginginkan kasih sayang seorang ayah, padahal aku sudah berusaha selama ini untuk memberikan kasih sayang seorang ayah dan ibu untuk anak-anakku, ucapku dalam hati.
Aku melihat bang Zainal tersenyum melihat wajahku yang kesal.
" Gimana kalau Abang antar aja ke sekolahnya Syakira, habis dari sekolahbya, kita jalan-jalan keliling kota, sekalian makan bakso kesukaannya Syifa", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Hooree!, naik mobil lagi sama Om Zain", ucap Habib dan Syifa sambil bersorak kegirangan.
Otomatis, aku hanya mengikuti kemauan mereka, karena aku tidak ingin melihat anak-anakku bersedih.
" Ayo om, kita pergi", ucap Habib dan Syifa sambil menggenggam tangannya bang Zainal menuju mobilnya.
__ADS_1
Aku dan Syakira mengikuti mereka dari belakang. Setelah mengunci pintu rumah, aku menyusul anak -anakku ke dalam mobil.
Aku, Habib dan Syakira duduk di belakang bang Zainal dan Syifa duduk di samping bang Zainal.
Bang Zainal pun menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju sekolahnya Syakira.
" Kira mau ngelanjutin sekolahnya kemana nak?", tanyanya.
" Kata mama,Kira ngelanjutin ke pesantren Tahfidzul Qur'an om", ucap Syakira.
" Ooh, TU kan maunya mama kamu, tapi kalau mau kamu kemana?", tanyanya lagi.
" Ooh, aku ikut kata mama aja om, karena menurut Kira, apapun yang dipilihkan oleh mama, pasti itu yang terbaik om, ga mungkinlah om, mama menjerumuskan anaknya ke jalan yang salah", ucapnya sambil memeluk tubuhku.
Aku tersenyum mendengar ucapan Syakira dan akupun membalas pelukannya.
" Habib juga mau ke pesantren om, kalau udah tamat sekolah kayak kak Syakira", ucapnya sambil tersenyum.
" Emangnya Habib mau ke pesantren?", tanya bang Zainal.
" Iya om, biar mama bangga sama Habib, bisa hafidz Qur'an tiga puluh juzuk", ucapnya dengan bangga.
" Aamiin ", ucapku sambil tersenyum melihat tingkah putraku Habib yang menggemaskan.
Beberapa menit kemudian, kami sudah tiba di depan sekolah.
" Dek, aku dan Syifa tunggu di dalam mobil aja, kalian ga lama kan di dalam?", tanyanya.
" Iya bang, kami ga lama kok di dalam", ucapku sambil berlalu menuju ke dalam sekolah sambil menggandeng tangan Habib dan Syakira.
Aku melihat dari kejauhan wajah bahagia Syifa yang asyik ngobrol dengan bang Zainal.
" Ma, kayaknya Syifa sayang banget ya sama om Zain", ucap Syakira.
" Iya sayang, mungkin karena adekmu tidak pernah merasakan kasih sayang dari almarhum ayahmu, sehingga dia sangat respect dengan bang Zainal ", ucapku sambil tersenyum padanya.
." Iya nak, entahlah, mama ga ambil pusing dengan hal itu, yang penting mama lihat adekmu bahagia ", ucapku.
" Aku juga sayang kok sama om Zain ma", ucap Habib menimpali.
" Apa kamu lebih sayang sama om Zain daripada mama?", tanya Syakira dengan nada ketus.
" Aku lebih sayang sama Mama dink, tapi kak om Zainq baik kok orangnya, sayang juga sama kita dan mama", ucapnya.
" Sok tahu kamu, masih kecil juga, masih ingusan lagi, ya udah ma, jodohin aja nih bocah sama cewe Bonengan yang ada di kelasbya nanti ", ucap Syakira sambil tertawa.
" Mama, Habib masih mau sekolah ma ", ucapnya mulai menangis.
" Udah sayang, Kakak cuma bercanda kok ", ucapku sambil membujuknya agar tidak menangis
" Kita ke ruang mana nak untuk mengambil ijazah mu?", tanyaku pada Syakira.
" Ke ruang tata usaha aja ma, kira tengok teman-teman Kira menuju ke ruang tata usaha itu ma", ucapnya sambil menunjuk ruangannya.
Kami pun bergegas menuju ruang tata usaha tersebut.
Ruangannya agak ramai, karena banyak orang tua siswa yang berdatangan untuk mendampingi anaknya masing-masing.
Satu jam kemudian, barulah kami selesai mengurus pengambilan ijazah dan melegalisir ijazahnya untuk keperluan pendaftaran ke sekolah lanjutan tingkat pertamanya.
Setelah berpamitan dengan para guru dan staf tata usahanya, kami bergegas menuju tempat parkir mobilnya bang Zainal.
Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan mobilnya bang Zainal.
" Kok lama dek?", tanya bang Zainal.
" Iya bang, ramai banget tadi, jadi antri", ucapku sambil duduk di bangku mobilnya.
" Udah selesai urusannya?", tanyanya lagi.
__ADS_1
" Udah om", ucap Syakira.
" Emangnya Syifa kenapa bang?", tanyaku.
" Karena kalian lama, dia ngajak Abang untuk menyusul kalian ke dalam sekolah, pas kami mau turun dari mobil, kalian udah datang, tapi saat ini, princess Syifa sedang merajuk" ucap bang Zainal sambil tersenyum.
" Ya udah, kita langsung jalan -jalan aja om, biar Syifanya ga merajuk lagi, dan jangan lupa beli es krimnya ya om", ucap Habib sambil tersenyum bahagia.
" Let's go everybody ", ucap bang Zainal sambil menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
" Rencananya kemana nih om?", tanya Syakira.
" Kira maunya kemana untuk ngerayain Kelulusannya", tanya bang Zainal.
" Ke wisata Sibio-bio yuk om, udah lama ga kesana", ucap Syakira.
" Iya om, kita ke Sibio-bio aja", ucap Habib dan Syifa menimpali.
" Tanya mama kalian dulu mau kemana!", ucapnya.
" Aku ikut kalian aja mau kemana", ucapku sambil tersenyum.
Lima puluh menit kemudian, kami tiba di wisata Sibio-bio.
Kami turun dari mobil, sedangkan bang Zainal memarkirkan mobilnya ke tempat parkiran yang disediakan.
Kami berjalan kaki menuju gazebo yang sudah disediakan oleh pemilik wisata Sibio-bio tersebut.
" Kalian mau mesan makanan dan minuman apa?", tanyaku kepada anak-anakku satu persatu.
" Aku mau ayam penyet pake kentang goreng ma", ucap Syifa.
" Aku mau ikan nila bakar ma" Ucap Syakira.
" Aku mau ayam peecak ma", ucap Habib dengan semangat.
" Bang Zainal mau mesan apa?", tanyaku ketika dia sudah duduk di dekatku.
" Aku mesan ayam peecak aja dek", Ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Samain aja ya dek, minumannya jus jeruk hangat aja lima gelas ya dek", ucapku kepada pelayan yang sedang berdiri menulis pesanan kami.
Selesai menulis pesanan kami, diapun pergi menuju tempat kerjanya.
" Ma, kami ke taman dulu ya", ucap Syakira.
" Iya sayang, jagain adek-adekmu ya", ucapku.
" Iya ma", ucap Syakira sambil menggenggam tangan kedua adeknya, Habib dan Syifa.
Di saat menunggu pesanan kami diantar. Aku sibuk memainkan game ular cokom yang ada di ponselku.
Sebenarnya, aku ingin menghindari tatapan mata bang Zainal padaku.
Bang Zainal mendekatiku dengan duduk di sampingku.
" Dek, ada yang mau Abang ngomongin sama adek", ucapnya.
Aku terdiam mendengar perkataannya, dan aku tahu maksudnya apa.
" Mau ngomong apa bang?", tanyaju pura-pura tidak tahu.
" Adek berhenti dulu main gamenya, abang mau ngomong serius nih!", ucapnya.
Aku terpaksa menghentikan aktivitasku, karena aku tidak ingin menyinggung perasaannya karena selama ini dia sudah baik padaku dan anak-anakku.
" Dek, aku ingin...
Bersambung...
__ADS_1