Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Lagi dan lagi...


__ADS_3

Malam pun tiba, saat adzan magrib berkumandang, kami terbangun dari tidur kami yang lelap, karena kelelahan akibat percintaan kami.


" Bang, bangun donkz, udah Maghrib nih!", ucapku sambil menggoyangkan tubuhnya agar terbangun.


" Ntar lagi dek, masih ngantuk", ucapnya.


" Mandi yuk!", ucapku sambil membuka selimutnya.


" Duluan aja ya dek", ucapnya sambil menarik selimutnya kembali.


Akupun bergegas beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang terasa pegal -pegal dan lengket.


Selesai mandi, aku merasakan tubuhku terasa segar. Aku segera melaksanakan sholat Maghrib di tempat yang sudah disediakan di dalam kamar penginapan dan ada mukenahnya juga.


Selesai sholat, aku menikmati minuman dan cemilan yang sudah disediakan di atas meja.


Jujur saja, aku sangat lapar saat ini, bang Zain masih tidur.


Yah, untuk mengganjal perut yang lapar, aku menyantap beberapa roti dan keripik pisang.


Perutku lumayan kenyang setelah menyantap makanan dan minuman tersebut.


Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju tempat tidur.


" Bangun sayang, udah malam nih!", ucapku.


Bang Zain mulai mengerjap-ngerjapkan matanya dan menggeliat di atas ranjang.


" Sini sayang, cium Abang dulu", ucapnya sambil menarik tubuhku ke pelukannya.


" Wanginya istri Abang nih!", ucapnya sambil menciumi wajahku.


" Sana mandi dulu bang, biar segar, dan sholat juga, keburu habis waktunya untuk sholat Maghrib", ucapku.


" Iya, ntar lagi sayang, Abang masih pengen nyium adek", ucapnya sambil menciumi leherku.


" Adek lapar lho bang, kita belum makan malam!", ucapku sambil melepaskan pelukannya.


Bang Zain pun melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul yg tujuh lewat seperempat jam.


" Maaf ya sayang, Abang lupa mesan makan malamnya, tunggu Abang telpon dulu pake telpon penginapannya ya, adek mesan makanan apa sayang?", tanyanya.


" Adek mesan ikan nila manis pedas, ifu mie goreng telur, sama jus jeruk hangat, itu aja sayang ", ucapku.


" Siap nyonya Zain", ucapnya sambil mencium keningku.


Bang Zain beranjak dari tempat pembaringannya dan duduk di samping nakas dan mulai menghubungi resepsionis untuk memesan makanan dan minuman kami.


Setelah memesan makanan dan minuman kami, dia berjalan menuju lemari untuk mengambil tas nya.


" Dek!", panggilnya.


Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari, tempatnya berdiri.


Setelah mendekatinya, akupun memeluk tubuhnya dengan erat dari belakang.


" Ada apa sayang", ucapku sambil tersenyum.


Diapun melepaskan pelukanku dan mencium keningku dan pipiku.


" Ini buat adek", ucapnya sambil tersenyum dan memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah.


" Apa ini bang?", tanyaku.


" Buka aja sayang!", jawabnya.


Akupun membuka kotak kecil berwarna merah tersebut dan aku sangat terkejut bercampur bahagia melihat isinya.

__ADS_1


Isinya adalah satu set perhiasan berlian yang sangat indah dan menakjubkan, pasti harganya sangat mahal, ucapku dalam hati.


" Apa ini tidak terlalu berlebihan sayang?", tanyaku.


" Tidak sayang, ini sudah lama Abang beliin khusus untuk kamu, hanya saja, Abang ingin memberikannya untuk adek pada momen yang tepat seperti saat ini", ucapnya sambil memakaikan perhiasan tersebut.


Aku melihat pantulan wajahku yang bahagia di depan cermin yang ada di pintu lemari pakaian penginapan ini.


"Terima kasih ya sayang", ucapku sambil tersenyum padanya dan mencium pipinya.


" Ada satu lagi hadiah dari Abang, dan harus adek pakai ya!", ucapnya sambil mengambil sebuah kantong plastik hitam dari dalam tasnya.


" Apa itu bang ?", tanyaku.


" Ambil aja dari dalam kantong plastiknya dek!", ucapnya sambil menyodorkan kantong plastik hitam tersebut.


Karena penasaran, aku buru-buru mengambil isi kantong plastik hitam tersebut.


Aku melihat isinya berupa gaun malam transparan yang berwarna putih beserta pakaian dalam berbahan brokat berwarna putih juga.


Aku kaget melihat gaun malam tersebut dengan mulut yang sedikit terbuka.


" Kapan Abang beli gaun malam ini?", tanyaku.


" Aku membelinya secara online dek, barangnya nyampe dari Jakarta sehari sebelum kita akad nikah", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Apa harus adek pakai gaun malam ini bang?", tanyaku dengan wajah yang memerah.


" Harus donk sayang, biar malam ini kita makin hot bercintanya!", ucapnya sambil memeluk tubuhku dan mencium bibirku.


" Baiklah, adek pakai dulu ya!", ucapku sambil berjalan menuju kamar mandi.


" Kenapa harus ke kamar mandi dek, disini aja sayang, ngapain malu lagi sama Abang, semua bagian tubuh adek, udah Abang lihat kok!", ucapnya sambil tersenyum padaku.


Akupun segera melepaskan piyamaku dan memakai gaun malam tersebut tanpa memakai pakaian dalamnya.


" Adek sangat cantik dan seksi", ucapnya sambil mencium bibirku.


Akhirnya kami berciuman di depan lemari pakaian tersebut sampai kami kehabisan nafas masing -masing.


Bang Zain mengangkat tubuhku dan menggendongku menuju ranjang.


Dia meletakkan tubuhku secara perlahan ke atas ranjang dan mulai mencumbuiku.


Akhirnya kami melakukan percintaan kembali dengan penuh gairah dan saling memuaskan satu sama lain.


Di saat kami selesai bercinta, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar kami.


" Siapa ya ?", tanyaku.


" Layanan kamar Bu, pesanan ibu sudah selesai, ini sudah kami bawa Bu!", ucapnya.


" Tunggu ya sebentuk", ucapku sambil beranjak menuju pintu kamar, karena suamiku sedang tertidur lelap sehabis bercinta.


Setelah mengambil makanan dan minuman yang pelayan kamar bawa dan menaruhnya di atas meja dekat sofa, aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.


setelah itu, aku membangunkan suamiku untuk menikmati makanan dan minuman yang sudah kami pesan.


" Bangun sayang, makanan dan minumannya udah diantar, apa Abang ga lapar, udah dua ronde lho!", ucapku.


" Iya sayang, adek duluan aja, Abang bentar lagi ya!", ucapnya sambil memeluk bantal guling didekatnya.


Akupun bergegas menuju sofa untuk menikmati makanan dan minuman yang kupesan.


Beberapa menit kemudian, aku selesai menyantap ikan nila pedas manis kesukaanku dan sepiring nasi putih, serta jus jeruk hangatnya.


Jujur saja, tenagaku terkuras habis, karena percintaan kami sejak tadi sore.

__ADS_1


Bang Zain gagah juga ternyata, ucapku sambil tersenyum mengingat percintaan kami barusan.


Karena bosan, aku menghidupkan televisi untuk menonton film kesukaanku.


Di saat TVnya sudah kuhudupkan, ada sebuah berita yang menggemparkan dunia.


Kata pembaca berita tersebut, ada sebuah kapal tengker yang meledak dua hari yang lalu, dan para awak kapal yang meninggal dunia dan yang selamat belum teridentifikasi, karena banyaknya jumlah korban yang tewas di saat ledakan tersebut.


Aku langsung teringat dengan Azam, apakah itu kapal tengker tempat Azam bekerja?, apa dia selamat?, semoga Allah SWT senantiasa melindunginya dimanapun dia berada, ucapku dalam hati.


Aku menjadi merasa bersalah, karena tidak menepati janjiku padanya.


Maafkan aku Azam, ucapku dalam hati sambil berjalan menuju ranjang setelah mematikan televisi.


Aku duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah suamiku yang masih terlelap.


Aku tidak tahu, apakah aku mencintaimu atau tidak, yang aku tahu, kamu adalah suamiku, dan aku akan berusaha untuk mencintaimu dan menjadi istri yang baik dan setia padamu, ucapku dalam hati sambil tersenyum melihat wajahnya yang menggemaskan saat tertidur lelap.


" Kenapa dek?", tanyanya tiba-tiba sehingga membuatku terkejut.


" Ga ada apa-apa bang", jawabku.


" Wajahmu kok sedih gitu, apa kamu memikirkan anak-anakmu?", tanyanya.


" Iya bang, tapi sepertinya mereka akan baik-baik saja bersama paman dan bibiku", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Kamu memang benar-benar wanita idamanju, ibu dan istri yang baik, bahkan saat bahagia seperti ini, adek masih memikirkan keadaan anak-anak, padahal mereka bersama kakek neneknya!", ucapnya.


" Iya bang, aku hanya memikirkan Syifa, aku takut dia tidak bisa tidur nyenyak, jika tidak melihatku sebelum tidur ", ucapku.


" Tenang saja sayang, kan ada Syakira yang jagain Syifa, padahal Syifa bukanlah anak kandungmu, tapi adek menyayanginya sama seperti Syakira dan Habib ", ucapnya.


" Iya bang, Syifa tidak tahu apa-apa tentang hal itu, bahkan Syakira dan Habib juga sama, mereka tidak tahu kalau Syifa bukanlah anak kandungku, tapi aku sangat menyayangi Syifa sama seperti kakak dan abangnya", ucapku.


" Padahal ibu kandung Syifa yang sudah membuat rumah tangga adek hancur dan menelantarkan bayinya sendiri ", ucapnya sambil memeluk tubuhku.


" Syifa tidak berdosa dalam hal itu bang, ibunya yang bersalah dan tidak punya hati, dia sanggar menelantarkan bayinya sendiri, tapi itu semua hanylah masa lalu, dan sampai kapanpun, aku tidak akan melepaskan Syifa untuk kembali padanya ", ucapku sambil membalas pelukannya.


" Iya sayang, kalau dia datang untuk merebut Syifa dan ingin menyakitimu, dia akan kubuat menyesal seumur hidupnya ", ucapnya sambil mencium keningku.


" Ya udah sayang, aku harap dia tidak akan pernah datang menemuiku sampai kapanpun", ucapku sambil memeluknya erat.


" Adek udah selesai makan?", tanyanya.


" Iya sayang, maaf ya sayang, adek duluan makan, habis adek lapar banget ", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Ga apa-apa sayang, adek temanin Abang makan ya!", ucapnya sambil melepaskan pelukannya dan beranjak dari tempat tidur.


" Iya sayang, ayo adek temanin", ucapku sambil berjalan bersama-sama menuju sofa.


Selesai menyantap makanan dan minumannya. Kami bersantai di atas sofa tersebut sambil mengobrol tentang rencana kami selanjutnya.


Malam semakin larut, kami bergegas menuju tempat tidur untuk beristirahat.


" Sayang, gaun malamnya di pakai lagi donk, biar makin enak bobonya!", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Baiklah sayang", ucapku sambil melepaskan piyamaku dan memakai gaun malam yang diberikannya kepadaku.


" Gitu kan adek makin cantik dan seksi, tapi makenya di kamar tidur aja ya sayang, itupun Kaka Abang minta ya!", ucapnya.


" Iya sayang", ucapku sambil memeluknya erat.


" Ayo sayang, kita tidur, besok pagi kita harus kembali ke rumah besok siang ", ucapku sambil tersenyum padanya dan memeluknya.


" Iya sayang ", ucapnya sambil mencium bibirku dengan penuh gairah.


Akhirnya, kami tidak tidur, malahan kami bercinta lagi dan lagi, sampai akhirnya kami tertidur lelap sambil berpelukan sampai pagi tiba.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2