
Waktu terus berputar. Hari berganti hari, sudah lima hari ini Bang Izal aktif bekerja.
Oleh - oleh Sambal Taruma yang kami bawa dulu sudah habis dibagikan kepada teman kerja bang Izal dan para tetangga kami.
Hari ini adalah hari Jum'at, biasanya suamiku cepat pulang ke rumah kami. Saat aku membersihkan rumah, suamiku sudah àda di depan pintu rumah kami sambil memanggilku.
" Assalamualaikum..dek, Abang udah di depan nih", panggilnya padaku.
Aku bergegas menuju pintu rumah untuk membukakannya pintu.
" Wa alaikum salam bang", jawabku sambil membuka pintu.
" Adek lagi ngapain sekarang ini", tanyanya.
" Adek lagi membersihkan rumah, karena banyak debu", ucapku.
" Emangnya Marni dimana?", tanyanya lagi.
" Ooh.. Marni lagi tidur siang di kamarnya", jawabku sambil memberikannya segelas air putih.
" Emang Marni ga mau bantu adek ngerjain tugas rumah tangga?", tanya suamiku sambil meminum air putih yang kuberikan.
" Mau bang, dia yang cuci piring sama menjemur pakaian yang sudah ku cuci, terkadang dia membantuku membersihkan rumah", ucapku sambil tersenyum.
" Ooh.. baiklah sayang, kalau Marni malas membantu adek, biar Abang nasehatin", ucap suamiku sambil tersenyum padaku.
" Ga bang, Marni orangnya rajin kok", ucapku sambil tersenyum.
" Abang tadi sholat Jum'at di masjid yang ada di dekat kantor ya?", tanyaku.
" Iya sayang, tadi abang sholat Jum'at di masjid yang ada di dekat kantor bersama teman kerja yang lain.
" Apa si Mira masih gangguin Abang ke kantor?", tanyaku penasaran.
" Ga lah sayang, ga mungkin dia berani datang ke kantor, apalagi suaminya Fauzi, satu kantor denganku" ucap suamiku sambil berlalu menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Aku menunggu suamiku di kamar tidur kami sambil memainkan hp ku.
" Adek masak apa hari ini?" tanya suamiku.
__ADS_1
" Seperti biasa bang. Abang ga ada nyembunyikan sesuatu dari adek kan?, karena setahu ku Mira itu keras kepala dan tak punya malu", tanyaku curiga.
" Ga boleh so udzon lho sayang, apalagi adek lagi hamil sekarang" ucap suamiku sambil menggenggam tanganku dan mengelus perutku dengan penuh kasih sayang.
Di saat tangan suamiku mengelus perutku, bayiku menendang dari dalam perutku, sontak saja membuatku kaget, begitu juga dengan suamiku, dia tersenyum bahagia, mendapat respon tendangan dari buah cinta kami.
" Itu tandanya anak kita mendengar pembicaraan kita sayang, jadi Abang ga boleh berbohong atau berbuat yang tidak baik di luar sana " ucapku sambil memeluknya erat.
" Ga mungkinlah sayang, Abang berbuat seperti yang adek katakan itu, makanya adek harus selalu berfikiran positif, agar yang terjadi hal positif juga ", ujarnya sambil memeluk tubuhku dengan erat.
" Ya udah sayang, kita makan siang yuk, Abang belum makan siang kan?", tanyaku sambil menggenggam tangannya untuk menuju dapur.
" Adek masak makanan kesukaan Abang, Sambal terasi, tahu tempe goreng dan ikan mas holat, khas Padang bolak ", ucapku sambil menghidangkan makanan di atas meja makan.
" Adek dapat dari mana bahan makanan untuk bikin holatnya?", tanyanya penasaran.
" Tadi ada tetangga yang baru pulang dari kampung, ternyata kita satu kampung dengan mereka, tapi mereka berada di pedalaman, nama desanya Garoga sayang, jadi dia banyak bawa bahan makanan untuk bikin holatnya, dia membagikannya ke para tetangga juga, tadi pagi setelah Abang berangkat kerja", ucapku dengan penuh semangat.
Semoga saja suamiku menyukai masakan holat buatanku, karena aku hanya belajar sekilas dari bibiku melalui telepon.
Aku memperhatikan wajahnya di saat dia memakan masakanku, dari ekspresinya, kulihat cukup enak dan tidak mengecewakan. Barulah aku mulai memakan makanan yang ada di piringku.
Kami makan siang bersama dengan lahapnya, walau baru pertama kali aku memasak holat, rasanya lumayan enak dan gurih.
" Udah bang, tadi siap sholat Dzuhur", ucapku sambil membersihkan meja. Nanti, yang mencuci piring yang kotor adalah tugas Marni.
Karena kandunganku semakin besar, aku semakin kesusahan untuk duduk lama.
Aku merasa terbantu juga dengan kehadiran Marni, karena dia juga sifatnya rajin dan bersih.
Selesai membersihkan meja makan, kami duduk santai di ruang tv untuk menonton film sinetron kesukaanku. Sedangkan suamiku menaruh kepalanya di pangkuanku sambil mengelus perutku dan menciumnya.
Aku biarkan saja, sampai dia puas. Lucunya, tangannya mulai meraba-raba ke bagian yang lain yang lebih sensitif, membuatku merasa geli dan langsung mencubit hidungnya.
" Abang jangan buat macam- macam ya, malu donk, nanti tiba-tiba Marni keluar dari kamar gimana?!", ucapku sambil tersenyum dan mencubit hidungnya.
" Makanya udahan nonton film sinetron yang membosankan itu, mendingan kita praktek adegan romantis sampai bermandikan keringat, gimana sayang?", ucapnya sambil mengelus perutku.
" Abang ini ga ada capeknya ya, tadi malam kita kan udah bercinta sampai dua ronde lagi, sekarang pun mau main lagi, adek capek lho sayang, lagian film sinetron, episodenya lagi seru- serunya nih", ucapku sambil tersenyum.
__ADS_1
" Sayang, dosa lho nolak ajakan suami", ucapnya sambil mencium tanganku.
Aku cemberut mendengar ucapannya, selalu aja jurus andalannya keluar, kalau kubilang capek. Jadinya, mau tak mau, aku harus menuruti kemauannya.
Suamiku mematikan televisi, dan menggandengku menuju kamar tidur kami.
" Adek tau ga, semenjak adek hamil besar gini, Abang rasa adek semakin cantik dan seksi, jadinya juniornya Abang pengen terus, mau gimana lagi sayang", bisiknya sambil mencumbuiku di atas tempat tidur.
Aku hanya tersenyum mendengar rayuan mautnya. Akupun terbawa suasana, dan membalas semua cumbuannya. Kami semakin bergairah di siang menjelang sore hari ini.
Kami bercinta dengan penuh gairah dan bermandikan keringat sampai kami mencapai kepuasan maksimal.
Akhirnya, kami sama-sama terkulai lemas sambil berpelukan di bawah selimut.
Suamiku mencium keningku dan berbisik padaku, " Terimakasih ya sayang udah mau mengandung penerus keturunan untuk keluarga Abang", ucapnya sambil mengelus perutku dan mencium keningku.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya, Karena aku merasa lelah dan mengantuk, akibat ulah kami yang terlalu bergairah dalam bercinta.
Kami terlelap sambil berpelukan di atas tempat tidur, dan di bawah selimut, karena kami tidak memakai pakaian apapun saat ini.
Dua jam berlalu, kami terbangun, karena suara ketukan pintu kamar kami. Ternyata adik iparku yang mengetuk pintu kamar kami.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan sekaligus mengambil wudhu untuk sholat ashar.
Selesai sholat, aku membangunkan Suamiku untuk mandi dan sholat ashar. Setelah dia bangun dan menuju kamar mandi, aku menyiapkan pakaiannya di atas tempat tidur, dan aku keluar dari kamar menuju ruang tamu untuk menemui adik iparku.
Aku kaget melihat tamu kami yang sudah duduk di kursi tamu sambil minum teh manis hangat.
" Kak Khadijah, kapan datang ?", tanyaku sambil menghampirinya dan memeluknya.
" Baru saja dek, kakak datang sama bang Raka, tapi dia lagi ke warung beli rokok", ucapnya menjelaskan.
" Padahal, kami baru mau pergi ke rumah kakak besok sepulang bang Izal kerja, tapi berhubung kakak Uda duluan kesini, yah mantap juga, karena aku udah kangen banget di kakak", ucapku sambil tersenyum dan menggenggam tangannya.
" Iya dek, kakak jugalah udah kangen banget sama adek, makanya Kakak datang berkunjung hari ini, kakak takut adek datang ke rumah kakak dengan kondisi hamil besar seperti ini, naik sepeda motor pula, bahaya' juga dek dengan kondisi hamil besar gini", ucapnya khawatir.
" Iya kak, makasih banyak atas perhatian dan pengertian kakak", ucapku sambil tersenyum.
" Suamimu mana dek, apa masih sibuk kerja?", tanyanya padaku sambil celingak-celinguk mencari bang Izal.
__ADS_1
" Bang Izal masih di kamar kak, tadi dia sibuknya ngerjain aku kak", ucapku keceplosan. Otomatis aku menutup mulutku dan tertawa cengengesan.
Bersambung...