
POV. Azan
Namaku Azam Siddiqi, umurku sekarang 24 tahun, aku belum menikah.
Beberapa tahun yang lalu saat masih sekolah Menengah Atas, aku bertemu dengan seorang gadis, yang menurutku cantik dan manis. Pertama kali aku melihat wajahnya di depan sekolah kami dulu. Saat itu turun hujan, aku melihatnya berlari kenang menembus air hujan yang sangat deras, aku melihat jalan didepannya ada sebuah lubang kecil, mungkin dia tidak melihat lubang kecil di depanny karena terburu-buru.
Menurut firasatku dia akan langsung terjatuh, jika menginjak lubang itu, aku segera memanggilnya untuk memperingatkannya, tapi dia tidak mendengar suarakua, mungkin karena hujan yang turun dengan derasnya.
Aku bergegas berlari untuk menyelamatkannya agar tidak terjatuh, walau nantinya aku akan basah kuyup.
" Awaas .. hati- hati ada lubang didepanmu!!", ucapku sambil berteriak memperingatkannya, tapi terlambat sudah, saat dia melihatku sambil berlari, akhirnya dia terjatuh disebabkan lubang kecil itu, karena aku sudah dekat dengannya, aku menahan tangannya agar tidak terjerembab ke lumpur yang àda karena hujan deras yang turun, seketika itu, aku menggandeng nya untuk berteduh ke bawah garasi sepeda motor yang ada di sekolah, karena hanya itu tempat berteduh yang paling dekat menurutku.
" Terimakasih banyak sudah mau menyempatkanku, sehingga aku tidak terjatuh ke lumpur, tadi, kalau sempat terjatuh tadi, terpaksa aku yg harus pulang ke rumah dan mengganti baju, ini bajuku hanya basah sedikit karena pertolonganmu", ucapnya dengan sopan.
" Tidak àpa- apa, kita sesama manusia harus saling tolong- menolong selagi bisa", jawabku sambil tersenyum.
" Kenalin namaku Ani, nama kamu siapa?", tanyanya padaku,
" Namaku Azam, kelas X IPA 2", jawabku dengan singkat.
" Aku kelas X IPA 1", jawabnya dengan tersenyum manis padaku.
Aku terpesona melihat senyumannya yang manis itu, dan menurutku dia juga cantik. Aku langsung bertanya kepadanya," Kamu punya nomor handphone ga?, biar kita bisa sering mengobrol!".
Dia pun tersenyum dan menjawab" Aku tidak punya handphone, tapi kalau mau sering ngobrol, ga apa-apa, pas istirahat atau pulang sekolah, gimana ?".
" Oke deh kalo gitu", ujarku sambil mengacungkan jempol ku.
Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi..
__ADS_1
Hujan pun sudah mulai tidak deras, hanya gerimis saja, Kami bergegas masuk ke ruang kelas kami masing- masing yang tidak jauh jaraknya dari tempat kami berteduh untuk memulai pelajaran.
Hari demi hari, kami semakin dekat, setiap istirahat jam pelajaran, kami mengobrol di kantin sekolah, dan sama - sama pulang, setelah jam pelajaran selesai. Kami hanya teman biasa sebelumnya, tapi saat diadakan MOS ( Masa Orientasi Siswa) di sekolah dan menginap satu malam di sekolah, kamipun semakin dekat, tapi sebagai sahabat.
" Azaaam..!", panggil Mira padaku,
" Apa Mira?", sahutku dengan baik padanya, karena ku tahu dia teman dekat Ani di kelas X IPA 1. Namun, aku tidak terlalu suka dengan sikapnya yang kecentilan, suka ngurusin urusanku dengan Ani, menurutku dia hanya manusia bermuka tiga, bisa berubah kayak bunglon setiap hari, dia sangat suka memanfaatkan kebaikan hati Ani.
" Kirim salam dari Ani, katanya dia kangen sama kamu zam", ujarnya sambil berteriak dan membuatku malu di depan teman-teman sekelasku. Aku hanya diam menanggapi perkataannya itu. Aku tahu maksudnya apa, tapi aku tidak perduli apa yang akan dikatakan orang lain tentang aku dan Ani, karena aku memang menyukainya.
Akhirnya, ada kakak ospek yang mendengar ucapannya Mira itu, sehingga aku dan Ani di panggil ke e ruang guru, dan kami di nasehati, agar tidak pacaran di sekolah.
" Apa benar, kalian pacaran di sekolah ini?" tanya ibu guru pada kami berdua,
kamipun menjawab sambil tertunduk malu," tidak Bu, kami hanya berteman saja",
" Ya sudah, kalau hanya berteman, ingat tidak boleh pacaran di sekolah ya nak, yang bagus- bagus aja sekolahnya, biar jadi orang sukses dan membanggakan orang tua di masa depan y !," ucap ibu guru menasehati kami. Kamipun dipersilahkan untuk keluar dari ruang guru, dan bergegas bergabung ke kelompok kami masing-masing.
" Ani ..!", teriakku saat melihatnya di taman sekolah kami,
" Apa zam ?, nanti kita di hukum kalau ketahuan ngobrol, apa kamu ga kasihan sama aku?", ujarnya dengan wajah khawatir sambil melihat kanan kiri, takut ketahuan kakak ospek atau ibu guru.
" Besok setelah selesai ospek, kita ngobrol sebentar ya, tunggu aku di halte di depan foto copy Beginning y ni", ucapku dengan penuh harap pàdany,
" Baiklah", jawabnya dengan terburu-buru pergi.
Keesokan harinya, selesai ospek, aku bergegas menuju halte tèmpat kami janjian, dan cukup lama aku menunggu Ani disini, akhirnya Ani datang juga.
" Ani,,!", panggilku sambil tersenyum padanya, aku pikir dia tidak akan datang menemuiku disini, dan dia pun tersenyum melihat reaksiku.
__ADS_1
" Maaf ya zam, agak lama datangnya, karena aku harus akting pura- pura sakit perut dulu, agar Mira, mau pulang duluan, dan aku harus membeli obat terlebih dahulu, aku tidak mau dia memberikan masalah lagi, bikin aku pusing ngeliatnya, tapi sebenarnya dia baik kok", ucapnya padaku,
" Ga apa-apa Ni, yang penting kamu datang menemuiku disini", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Emang mau ngomong apa sama aku zam?", tanyanya padaku.
" Sebenarnya aku memiliki perasaan yang lebih dari seorang sahabat padamu Ni, mulanya aku hanya menyukaimu, lama-kelamaan aku mulai mencintaimu, aku tidak mau kamu bisa atau disakitin oleh siapapun, aku tulus padamu Ni", ujarku sambil menggenggam dan menunggu jawaban darinya. Aku melihat Ani terkejut mendengar ungkapan perasaanku padanya, mungkin dia tidak menyangka perasaanku ini padanya.
" Berikan aku waktu untuk memikirkannya zam, karena jujur saja aku kaget mengenai perasaanmu padaku, aku juga tidak mau mengambilnya keputusan secara terburu-buru kalau tentang urusan soal hati, harus dipikirkan matang-matang", ucapnya padaku sambil menatap mataku.
Aku terkesiap melihat tatapannya itu, awalnya aku hanya ingin mengetesnya saja, tapi melihat tatapan seriusnya padaku, membuatku yakin kalau dia juga mencintaiku.
" Aku tunggu besok, setelah pulang sekolah disini ya Ani, dan aku harap kamu tidak membohongi perasaanmu sendiri," ucapku dengan penuh keyakinan.
Kamipun pulang ke rumah masing-masing.
Aku tidak sabar untuk mendengar jawabannya akan perasaanku padamu esok hari sepulang sekolah.
Keesokan harinya, sepulang sekolah, aku kembali menunggunya di tempat kemaren kami bertemu. Aku melihat Ani dari kejauhan tampak tersebut padaku.
Setelah dia duduk di sampingku, aku segera bertanya kepadanya" bagaimana Ni, apa kamu mau menerima cintaku?",
" Baiklah zam, kita jalani saja hubungan cinta ini seperti air mengalir, kalau kita memang jodoh, tidak akan ada hal apapun yang akan memisahkan kita", ucapnya padaku sambil tersenyum manis.
" Terimakasih, sudah mau menerima cintaku, dan aku akan berusaha untuk selalu membuatmu bahagia Ni", ucapku dengan penuh keyakinan padanya.
" Aku tidak butuh janji manis saja zam, yang aku butuhkan adalah bukti dan kesetiaan, dan aku membenci pengkhianatan zam, ingat perkataanku ini zam, dan ada satu hal lagi, kita bersikap seperti biasa saja, agar orang lain tidak tahu tentang hubungan kita ini, karena kita masih sekolah, gimana zam,?" ucapnya padaku,
" ok lah kalau begitu", ucapku sambil mengacungkan jempol ku...
__ADS_1
" Hari ini, kita resmi pacaran ya Ni", ucapku dengan penuh semangat padanya, dan Ani hanya tersenyum melihat tingkahku. ku
Bersambung...