Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Ujian yang butuh kesabaran...


__ADS_3

Disaat aku masuk ke dalam kamar kami, aku melihat bang Izal sedang tertidur pulas sambil mulutnya terbuka. Aku jadi tertawa melihatnya.


Akupun merebahkan tubuhku di sampingnya. Tanpa terasa, aku tertidur lelap di sampingnya.


Sore ini kami berencana untuk jalan-jalan disekitar komplek rumah ini. Selesai mandi, kami bergegas keluar dari rumah dan mengunci pintu rumah.


"Bang,aku heran melihat sikapnya Mira kemaren sewaktu dia datang kerumah kita!", ucapku sambil menggenggam tangannya.


" Emang gimana sikapnya adek perhatikan?", tanya bang Izal.


" Menurut firasatku, dia mempunyai niat yang tidak baik pada kita, bukannya sok udzon ya bang, tapi perasaanku mengatakan seperti itu", ujarku pada bang Izal.


" Sayang tidak usah berpikiran negatif sama orang yang penting kita selalu hidup bersama dan bahagia", ujar bang Izal.


Aku hanya diam membisu mendengar ucapannya. Mungkin aku tersenyum paranoid melihat Mira, Karena masa lalu atau bisa juga karena hormon kehamilanku.


Semoga tidak ada yang bisa memisahkan kami didunia ini, selain Allah SWT., ucapku dalam hati.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di taman komplek ini, kami mencari tempat duduk yang kosong. Setelah mendapatkan tempat duduk, kami memanggil penjual bakso keliling yang kebetulan lewat.

__ADS_1


" Baang..!", panggil bang Izal, si penjual bakso keliling mendengar panggilan bang Izal, segera menghampiri kami.


"Mesan apa bang", tanya si penjual bakso.


" Apa aja yang abang jual?", tanya bang Izal lagi.


" Ada bakso cilok, bakso pentol, bakso bakar, dan bakso kuah," jawab si penjual bakso.


Bang Izal menanyakan apa yang ingin aku makan, " aku mau bakso pentol sana bakso bakar, masing-masing 10 ribu ya bang", ucapku,


" sama pesanannya ya bang," ujar bang Izal kepada si penjual bakso.


Kami lupa menaruh air minum, terpaksa hamu membelinya terlebih dahulu di warung. Aku duduk sendiri sebelum bang Izal kembali dari warung.


" Ani!", panggil Raka dari belakangku, aku segera membalikkan tubuhku untuk melihat siapa yang memanggil namaku,


" Raka ya?", tanyaku padanya, " ternyata kamu masih ingat denganku, aku pikir kamu sudah lupa, Ani kesini sama siapa?", " sama suamiku, dan dia sedang membeli minuman di warung sana", ucapku sambil menunjuk warungnya.


"ooh..itu suamimu,?, warung itu adalah warung ibuku, sudah lama kami berjualan disini," ujarnya lagi,

__ADS_1


"OOO... berarti kamu tadi lihat kami lewat ya ?" tanyaku lagi,


" iya ni", jawabnya lagi.


Aku melihat bang Izal tersenyum dan mendekati kami, " Sayang, ini minumannya", bang Izal memberikan minum yang sudah dia belikan padaku.


" makasih sayang", ucapku sambil tersenyum, aku pikir bang Izal akan marah padaku, ternyata sebaliknya.


" Kenalin, namaku Izal, suaminya Ani", ujar bang Izal kepada Raja sambil menyalaminya, Raka pun menyambut jabat tangan dari bang Izal,


" Nama saya Raka, dan rumah saya adalah warung tempat abang tadi beli minuman" jawab nya dengan tersenyum pada bang Izal.r


Raka pun pamit pulang ke rumahnya, dan kami pun mempersilahkannya, setelah dia pergi, kamipun menyantap bakso yang sudah kami beli tadi dengan lahapnya.


Selesai makan bakso dan minum air putih, kami istirahat sejenak sambil melihat pemandangan di sekitar taman dan udaranya juga cukup segar.


Hari semakin sore, bang Izal mangajakku untuk pulang ke rumah kami. Sambil bergandengan tangan, kami berjalan kaki menuju rumah kami.


Kami tiba di rumah, saat adzan magrib berkumandang, kami bergegas masuk ke dalam rumah...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2