
Kamipun makan siang bersama di dalam rumah makan.
Selesai makan siang, kami beristirahat sejenak di tempat duduk yang disediakan, sambil menunggu bang Raka selesai membayar tagihan makanan kami.
" Soer ini kita kemana lagi kak?", tanyakubpada kak Khadijah.
" Kakak juga kurang tau daerah wisata di kota Brastagi ini dek, coba kakak tanya pelayan rumah makan yang tadi!", ucapnya sambil beranjak menemui pelayan yang sedang membersihkan meja.
" Dek, kalau boleh tau, apa ada tempat wisata yang lain selain perkebunan jeruk dan strawberry yang ada di sekitar lokasi ini?", tanya kak Khadijah.
" Kalau setau ku kak, ga seberapa jauh dari sini ada wisata air terjun dan perkebunan teh", ucapnya.
" Terima kasih ya dek atas informasinya ", ucap kak Khadijah sambil tersenyum dan berjalan menuju ke tempat dudukku.
" Gimana kak, apa ada tempat wisata yang lain?", tanyaku.
" Katanya ada wisata air terjun dan perkebunan teh di sekitar daerah ini, tapi menurutku kita ke perkebunan teh saja, karena kondisimu yang hamil besar gitu, bahaya dek", ucap kak Khadijah.
" Baiklah, gimana baiknya aja, kita bilang dulu sama bang Izal dan bang Raka ", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Lagi ngomongin kita ya dek", ucap bang Raka sambil menghampiri kami.
" Ga lah bang, ke geeran banget si Abang ini", ucap kak Khadijah.
" Jadi ngomongin apa donk?", tanya suamiku padaku.
" Ini ngomongin tempat wisata selanjutnya, kita rencananya mau ke perkebunan teh yang ada di sekitar daerah ini, gimana menurut abang?", tanyaku.
" Emang Adek ga capek beraktivitas terus?", tanya suamiku khawatir.
" Ga sayang, malahan aku senang dan merasa semakin sehat, karena bergerak terus, kita kan ga jalan kaki bang", ucapku sambil tersenyum.
" Baiklah kita ke perkebunan teh itu, sekalian beli oleh -oleh, karena besok pagi kita akan pulang ke Medan ", ucap suamiku sambil menggenggam tanganku.
" Let's go..", ucap kak Khadijah semangat.
Kami berjalan beriringan menuju parkiran mobil yang àda di penginapan.
Kami segera masuk kedalam mobil setelah bang Raka membuka pintu mobil.
Bang Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju perkebunan teh.
Di dalam perjalanan menuju ke perkebunan teh, kami melihat penjual buah-buahan.
Bang Raka menepuk mobilnya di depan penjual buah.
" Buah jeruknya berapa sekilo ?", tanay kak Khadijah.
" Kalau buah jeruk yang besar sepuluh ribu sekilo, kalau yang kecil ini, lima ribu sekilo, dan yang jeruk Sunkistnya, lima belas ribu rupiah per kilo nya nak!", jawabnya.
__ADS_1
" Ani mau berapa kilo dek?", tanya kak Khadijah padaku.
" Aku beli Sunkist nya lima kilogram, jeruk besarnya sepuluh kilogram kak", ucapku sambil memberikan uang pada kak Khadijah.
" Bu, kami beli Sunkist nya sepuluh kilo, masing-masing plastik berisi lima kilogram, dan jeruk besarnya masing-masing plastik berisi sepuluh kilo",ucap kak Khadijah.
Aku melihat si penjual buah terlihat sibuk mengemas buah yang kami beli.
Setelah memberikan buahnya pada kak Khadijah, kak Khadijah memberikan uang seratus ribuan sebanyak tiga lembar.
" Kembaliannya untuk ibu aja sebagai sedekah ya Bu", ucap kak Khadijah sambil tersenyum.
" Terima kasih ya nak", ucap penjual buah sambil tersenyum padanya.
Kamipun melanjutkan perjalanan, lima belas menit kemudian kami tiba di perkebunan teh.
Saat ingin masuk ke dalam perkebunan, ada beberapa preman yang menghadang mobil kami.
Mereka mengetuk kaca mobil yang àda di sampingku dan kak Khadijah.
" Ada apa ya bang, kok mereka menghadang kita?", tanyaku.
" Jangan - jangan begal bang", ucapku khawatir.
"Tenang saja dek, mungkin mereka hanya ingin minta uang rokok ", jawab suamiku.
Saat bang Izal sudah keluar dari mobil dan berjalan menghampiri mereka, aku mengunci pintu mobil.
Kami memperhatikan bang Izal dari dalam mobil.
Tiba-tiba saja ada seorang preman yang menyerang suamiku dari belakang, otomatis aku berteriak di dalam mobil dan ingin keluar membantu suamiku, walau dengan perut besar seperti ini, aku akan berusaha untuk membantunya.
Untunglah suamiku bisa mengelak. Dia tidak terkena tinju si preman lontong, bisanya cuma menyerang dari belakang, dasar pecundang.
Bang Raka pun keluar dari mobil untuk membantu suamiku melawan kelima preman itu.
Disaat mereka sedang berkelahi dengan hebatnya, aku memikirkan sebuah ide.
Aku ingat beberapa meter dari tempat kami ini ada beberapa penduduk yang sedang berkumpul di sebuah warung kopi.
" Kak, aku cari bantuan dulu ya, aku takut mereka tidak mampu mengalahkan kelima preman itu, kakak disini aja, kabari aku kalau ada sesuatu yang penting", ucapku bergegas mengendap-endap keluar dari mobil, karena aku takut para preman melihatku dari mobil.
Untunglah pintu mobil tidak dikunci bang Raka, ucapku dalam hati.
Selama lima menit aku berlari kecil untuk meminta pertolongan kepada para penduduk yang kulihat tadi. Akhirnya aku ketemu juga dengan mereka saat mereka ingin bekerja kembali ke kebun teh.
" Tolong pak, suami saya diserang para preman di dekat jalan masuk ke kebun teh, mungkin mereka ingin membegal kami pak, tolong pak, aku takut suamiku kenapa - Napa", ucapku ngos-ngosan.
Mereka langsung berlari menuju tempat kejadian perkara, sambil membawa kayu dan parang. Aku mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
Aku tahu bang Izal tidak mempunyai ilmu bela diri, tapi kalau bang Raka, aku tidak tahu, karena itulah aku takut mereka tidak bisa mengalahkan kelima preman itu.
Kulihat dari kejauhan, mereka berdua mulai kewalahan menghadapi kelima preman itu, untung saja para penduduk tiba tepat waktu untuk membantu suamiku dan bang Raka.
Mereka segera menghajar para preman itu, dan mengikat mereka satu-persatu dengan tali yang ku ambil dari bagasi mobil.
Aku melihat wajah suamiku yang lebam dan tangannya berdarah terkena sabetan senjata tajam, sedangkan bang Raka, tidak jauh berbeda dengan suamiku, hanya saja kakinya terlihat berdarah terkena sabetan senjata tajam.
Seorang penduduk yang bertugas sebagai penjaga keamanan perkebunan memberitahukan kepada kami, kalau dia sudah melaporkannya ke polisi melalui via telepon.
" Memang komplotan preman ini sudah lama meresahkan penduduk sekitar perkebunan ini nak, tapi kami belum ada bukti yang kuat, sehingga kami tidak bisa melaporkan mereka ke pihak yang berwajib", ucap si petugas keamanan.
" Tadi kami sedang musyawarah di warung kopi pinggir jalan tadi untuk mendiskusikan cara menangkap mereka, untung saja adek menemui kami disana pas kami selesai musyawarah", ucap seorang pria, mungkin pekerja perkebunan teh tersebut.
" Terima kasih banyak ya pak atas bantuannya", ucapku sambil membopong suamiku ke sebuah batu besar yang ada di dekat mobil kami.
Kulihat bang Raka tertatih berjalan menuju mobil, mungkin dia ingin memeriksa keadaan kak Khadijah.
Aku mengeluarkan kotak P3K yang ada di bagasi mobil bang Raka, dan mengobati luka sabetan senjata tajam yang ada di tangan suamiku, dan mengolesinya dengan Betadine.
Aku melap wajahnya dengan menggunakan sapu tangan yang sudah kubasahi dengan air mineral.
" Adek ga usah khawatir, Abang baik- baik saja, terima kasih sayang sudah mencari bantuan untuk kami, seandainya para penduduk tidak datang tepat waktu, Abang tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya", ucapnya sambil memelukku.
" Iya bang, untung saja aku tiba di tempat mereka tepat waktu sebelum mereka bubar, adek tidak tau mau cari bantuan kemana", ucapku sambil memeluknya erat.
" Aaniii...." teriaj bang Raka dari dalam mobil.
Aku terkejut mendengar panggilannya, dan bergegas menghampirinya ke mobil.
" Ani, lihat Khadijah, dia pingsan, aku tidak tahu harus berbuat apa?", ucapnya khawatir.
" Mungkin kak Khadijah syok melihat kalian tadi terkena senjata tajam bang, kita harus membawanya kerumah sakit terdekat, karena aku juga tidak tahu harus berbuat apa, mana Kaki Abang terluka, gimana ini", ucapku bingung.
Aku bergegas menemui suamiku dan menceritakan tentang kak Khadijah yang pingsan di dalam mobil.
Aku menemui petugas keamanan perkebunan untuk meminta bantuan lagi.
" Pak, tolong bantu kami, kakakku di dalam mobil pingsan, dan kami harus membawanya ke runah sakit terdekat, dan cuma bang Raka yang bisa bawa mobil, tapi kakinya sedang terluka", ucapku khawatir.
" Tenang saja nak, biar bapak yang menyetir mobilnya ke rumah sakit, jaraknya hanya setengah jam dari sini, nanti polisi juga harus menemui kalian untuk mencatat laporan kalian tentang kejadian ini", ucapnya.
" Iya pak, kami mau melaporkan mereka, karena mereka sudah mengancam nyawa kami", ucap bang Izal antusias.
" Kalian juga nanti haru di visum untuk dijadikan bukti bahwa kalian memang menjadi korban penganiayaan para begal itu nak, jadi kita harus bergegas ke rumah sakit", ucap petugas keamanan sambil berjalan menuju mobil kami.
Di saat kami sudah di dalam mobil, kami melihat....
Bersambung....
__ADS_1