
Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh jam, akhirnya kami tiba di depan rumah kak Dewi.
Saat ini tepat pukul tiga dini hari. Kami bergegas turun dari mobil dan berjalan menuju rumah kak Dewi.
Setelah kak Dewi membuka pintu rumahnya, kami segera masuk ke dalam rumahnya dan beristirahat di kamar tamunya.
" Maaf ya Ni, ini kamarnya belum dibersihkan, karena selama beberapa hari terakhir, aku berada di rumah kalian", ucapnya.
" Ga apa-apa kak, aku aja yang bersihin kamar ini, paling cuma sebentar, udah selesai, karena cuma debu aja!", ucapku sambil tersenyum padanya.
"Ya udah Ni, spreinya yang baru ada di lemari itu ya!", ucapnya sambil menunjuk lemari yang ada di sudut ruangan kamar tidur ini.
Àku segera membersihkan kamar, karena anak-anakku sedang beristirahat di ruang tv. Sedangkan suamiku, sedang beristirahat di ruang tamu bersama supirnya pak Darma.
Selesai membersihkan kamar, aku masukkan ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar untuk membersihkan tubuhku yang terasa lengket, karena berkeringat.
Selesai mandi dan berpakaian, aku keluar dari kamar untuk menemui anak-anakku dan suamiku. melihat mereka sudah tertidur lelap di depan televisi, sedangkan suamiku tertidur lelap di atas sofa.
Karena merasa mengantuk dan capek, akhirnya aku kembali ke kamar tamu untuk beristirahat.
Beberapa jam kemudian, pagi pun tiba.
Saat ini pukul lima pagi, adzan shubuh sedang berkumandang.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan shalat subuh. Setelah sholat, aku keluar dari kamar untuk membangunkan suamiku untuk sholat shubuh.
" Bang, bangun, Uda adzan shubuh nih!, Abang sholat ya!, adek udah sholat duluan, adek mau tidur lagi di kamar", ucapku sambil berlalu menuju kamar tidur.
Suamiku berjalan mengikutiku dari belakang dan bergegas masuk ke dalam kamar dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengambil wudhu.
Setelah mandi, dan berpakaian, suamiku segera melaksanakan sholat subuh di dalam kamar, sedangkan aku sudah rebahan di atas ranjang sambil memperhatikan suamiku yang sedang sholat shubuh.
Aku pun pura-pura tidur, saat melihat dia selesai sholat.
Suamiku berjalan menuju pintu kamar dan mengunci pintu kamar tersebut.
Dia berjalan menghampiriku di atas tempat tidur.
" Dek!", panggilnya sambil duduk di tepi tempat tidur.
Akupun tidak menyahuti panggilannya, karena aku tahu maksudnya apa.
Diapun membaringkan tubuhnya di sampingku dan memeluk tubuhku dari belakang.
Dia membalikkan tubuhku untuk menghadapnya, dan mulai menciumi wajahku.
" Bangun sayang!", ucapnya.
Akupun membuka mataku dan menatap wajahnya yang menggemaskan itu.
" Adek cuma pura-pura tidur kan tadi!", ucapnya.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya itu.
Kami pun saling berpelukan dan berciuman dengan penuh gairah. Akhirnya kami melakukan percintaan kami pagi hari ini. selesai melakukannya di atas ranjang, kami melakukannya di dalam kamar mandi untuk mencapai kepuasan kami masing-masing.
Setelah puas bercinta, kamipun bergegas mandi junub bersama. Selesai mandi, kami keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian kami kembali.
Setelah berpakaian, kamipun beristirahat di atas ranjang.
" Nanti siang, kita jalan -jalan kemana sayang?", tanyaku sambil memeluknya.
" Adek mau kemana?", tanyanya.
" Kita ke Kuala Namu aja dulu, agar anak -anak pernah ngeliat pesawat terbang dari dekat, baru kemudian kita ke kebun binatang!", ucapku sambil tersenyum.
" Ya udah, terserah adek aja, kita bobo dulu ya, Abang masih ngantuk nih!", ucapnya.
__ADS_1
" Oke sayang ", ucapku sambil memeluknya.
Setelah suamiku tertidur pulas, aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar.
Aku keluar dari kamar dengan berjalan perlahan, agar anak-anakku yang masih terlelap tidur di depan televisi.
Aku membuka pintu rumah kak Dewi dengan perlahan, agar tidak menimbulkan suara.
Setelah berada di teras, aku menutup pintu rumah kak Dewi dengan perlahan.
Aku berjalan perlahan menuju taman perumahan yang kutempati dulu, saat masih bersama bang Izal.
Disaat melewati rumah kami dulu, aku berdiri mematung memperhatikan penampilan batu rumah ini.
Model dan warna catnya unik dan menarik. Beberapa menit berlalu, setelah puas melihat rumah tersebut, aku melanjutkan perjalanan menuju taman.
Aku berjalan perlahan menuju taman sambil menghirup udara segar. Sejenak terlintas di ingatanku kenanganku bersama dengan almarhum suamiku, bang Izal.
Yah, saat dia meninggal dunia dulu, kami belum resmi bercerai, jadi dalam status kenegaraan dan agama, kami masih suami istri yang sah. Akta ceraiku saja statusnya Cerai mati bukan cerai hidup.
Beberapa menit kemudian, aku tiba di taman, dan aku duduk di bangku taman yang kosong.
Taman kecil ini sangat banyak berubah. Taman ini terlihat lebih indah dan asri, dibandingkan taman yang dulu. Mungkin, sudah ada yang mengurusnya dengan baik.
Di saat bersantai di bangku taman. Ada penjual bubur kacang hijau panas yang sedang berkeliling dengan gerobaknya.
" Pak!", panggilku.
"Iya Bu!", ucapnya sambil mendekati tempat dudukku sambil mendorong gerobaknya.
" Satu porsi ya pak!", ucapku.
" Iya Bu!", ucapnya sambil menyiapkan pesananku.
" Ini Bu buburnya, dimakana saat masih hangat, enak lho Bu!", ucapnya sambil tersenyum memberikan mangkok yang berisi bubur padaku.
" Terima kasih ya pak", ucapku sambil menerima mangkok tersebut.
Setelah kenyang, aku memberikan mangkok yang sudah kosong tersebut kepada penjual buburnya.
" Berapa bayarannya pak?", tanyaku.
" Satu porsi, tujuh ribu Bu!", ucapnya.
" Tolong bapak bungkusin sepuluh bungkus lagi ya pak, untuk kubawa pulang!", ucapku sambil menyerahkan uang seratus ribuan sebanyak satu lembar.
" Iya Bu", ucapnya sambil sibuk membungkus pesananku.
Setelah penjual bubur menyerahkan pesananku dan uang kembalianku, dia pergi meninggalkan taman dengan perlahan sambil mendorong gerobaknya.
Aku beristirahat sejenak untuk menyenangkan hati dan pikiranku.
Terkadang, hati ini terasa perih disaat aku teringat dengan bang Izal, tapi aku harus ikhlas dan sabar dalam menjalani ujian hidup ini.
Semoga rumah tanggaku dengan bang Zain bisa bertahan sampai maut memisahkan kami, walau aku belum tahu pasti, apa aku sudah mencintainya atau belum, tapi aku nyaman dan bahagia hidup bersamanya, ucapku dalam hati.
Entah dimana kamu Azam, apakah kamu masih hidup atau tidak?, semoga saja kamu bukan salah satu korban dari kapal tengker yang meledak waktu itu, ucapku dalam hati.
Benar kata pepatah, lebih baik dicintai daripada mencintai, karena jika dicintai, otomatis kita akan mencintai, tapi jika kita mencintai seseorang, belum tentu dia mencintai kita.
Aku melihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Aku bergegas menuju rumah kak Dewi.
Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumah kak Dewi sambil menjinjing bungkusan plastik hitam yang berisi bubur kacang hijau hangat.
" Mama!", panggil Syifa dan Syakira dari teras rumah.
" Iya sayang", ucapku sambil tersenyum dan mendekati mereka.
__ADS_1
" Mama bawa apa?", tanya Syifa.
" Ooh, ini bubur kacang hijau hangat, Syifa mau sayang?", tanyaku.
" Iya ma, Syifa mau makan bubur, Syifa udah lapar ma, bibi Dewi masih tidur di kamarnya!", ucapnya.
" Ya udah, ayo masuk ke dalam, mungkin bibi Dewi masih capek, sehingga dia belum bangun dari tidurnya ", ucapku sambil menggenggam tangannya masuk ke dalam rumah.
" Papa udah bangun belum?", tanyaku pada Syakira.
" Kayaknya belum ma", jawabnya.
" Kira bantu mama ya sayang nuangin buburnya ke piring, piringnya tujuh buah aja ya, ntar kalau kurang, bisa ditambah", ucapku sambil tersenyum.
" Iya ma, ma nima bangunin papa aja dulu, biar kita sarapan bubur kacang hijaunya sama-sama", ucapnya.
Akupun berjalan menuju kamar tamu. Setelah membuka pintu kamar, aku membangunkan suamiku. Setelah dia bangu, aku keluar dari kamar dan berjalan menuju kamarnya kak Dewi untuk membangunkannya.
" Kak Dewi!", panggilku sambil mengetuk pintu kamarnya.
" Iya Ni, bentar ya!" ucapnya.
" Kami tunggu di ruang tv ya kak, kita sarapan bubur bersama", ucapku sambil berlalu pergi menuju ruang tv.
" Udah selesai sayang?", tanyaku pada Syakira.
" Iya ma", ucapnya.
" Habib, sana panggil pak Darma, kita sarapan bersama disini ", ucapku.
" Iya ma!", ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang tamu untuk menemui pak Darma.
Beberapa menit kemudian, kami sudah berkumpul di ruang tv dan menyantap sarapan bubur kacang hijau.
Lumayan buat mencegah maag ku kambuh, ucapku dalam hati.
" Ma, buburnya enak banget ma, Habib boleh nambah kan ma?", tanyanya.
" Iya ambil aja nak, itu ada tiga bungkus lagi di atas meja", ucapku.
" Bawain kesini ya dek, plastiknya, kakak mau nambah juga ", ucap Syakira.
" Emang Tante Ani beli buburnya dimana?", tanya Dewi.
" Ooh, tadi aku jalan-jalan ke taman, dan duduk di bangku taman sambil menikmati pemandangan dan menghirup udara segar. Jadi, saat aku lagi santai sendiri di taman, penjual bubur kacang hijau ini lewat sambil mendorong gerobaknya, jadi aku makan satu porsi, dan kubungkuskan sepuluh bungkus untuk kubawa pulang ", ucapku menjelaskan.
" Ooh, gitu toh ceritanya!", ucapnya sambil tersenyum padaku.
" Untunglah ada bubur ini Bu, kalau ga, udah pingsan aku karena kelaparan ", ucap Habib sambil terus menyantap buburnya.
Kamipun tertawa melihat tingkahnya tersebut.
" Pelan-pelan aja nak makannya, ntar keselek ", ucapku mengingatkan putraku.
" Maaf ya semuanya, seharusnya sebagai tuan rumah, aku mengurus kalian dengan baik, tapi malah aku yang diurusin sama kalian", ucap Dewi dengan raut wajah bersalah.
" Ga apa-apa kok Wi, namanya aja kita kan keluarga, harus saling tolong-menolong dan saling menyayangi ", ucapku sambil tersenyum padanya..
" Emang Dewi ini ga beres ngurusin kita, masa kita dibikin kelaparan, ga dikasih makan", ucap suamiku.
" Maaf ya om, ntar aku masakin makanan yang enak-enak ya om!", ucapnya untuk membela diri.
" Awas ya kalau ga enak", ucapnya sambil tertawa.
Kamipun tertawa melihat wajah Kak Dewi yang ketakutan. Akhirnya dia pun ikut tertawa bersama kami.
Masa yang lalu telah berlalu, dan saat ini kita harus selalu bahagia dan bersyukur kepada Allah SWT, karena atas idzinnya, aku bisa menikah dengan bang Zainal, dan memiliki anak -anak yang baik, semuanya harus disyukuri.
__ADS_1
Jadikanlah masa lalu sebagai pelajaran dan motivasi untuk menjadi manusia yang lebih baik dan berakhlak.
Bersambung...