
Pov..Izal
Setelah aku selesai membersihkan diri, aku langsung menuju kamarku, setibanya di kamar, aku melihat Ani, istriku sudah ketiduran dalam keadaan mengenakan jilbabnya. Kubaringkan tubuhku disampingnya, kuselimuti tubuhnya, mungkin dia sangat lelah, sehingga dia ketiduran, Ani tidak menyadari kalau aku sudah berbaring disampingnya.
Kupandangi wajahnya yang cantik dan menurutku juga manis, kulitnya kuning langsat, matanya agak sipit, matanya indah bagiku, bibirnya yang agak mungil tebal, semakin cantik saat dia tersenyum padaku. Ukuran tubuhnya tidak terlalu tinggi,tapi ideal bagiku, dan juga ramping. Saat pertama bertemu dengannya, aku begitu terpesona melihatnya, senyumannya, tatapannya, suaranya, aku menyukainya. Sebenarnya, aku belum mencintainya, tetapi aku sangat menyukainya. Aku sengaja berpakaian seperti gembel, karena aku mau mengetahui karakter kepribadiannya.
__ADS_1
Ternyata dia menyambutku dengan baik, dia tidak mempermasalahkan penampilanku. akupun semakin menyukainya. Apalagi setelah berbicara dengan pamannya waktu aku bertemu dengannya, pamannya menceritakan semua hal tentangnya, bahkan Ani tidak pernah menceritakannya padaku, mungkin karena kami belum pernah bertemu, dia belum mau terbuka tentang kehidupan pribadiny, sehingga ku mengetahui tentang semua kehidupannya dari cerita pamannya. Aku semakin menyukainya dan ntah kenapa di saat pamannya bertanya tentang keseriusanku, aku langsung mengatakan kalau aku serius padanya, karena aku tidak akan mau melepaskan wanita berharga seperti Ani. Aku membutuhkan pendamping hidup seperti Ani, cantik fisiknya, cantik juga hatinya. Kulihat dari matanya, ada cinta untukku. Akupun memberanikan diri mengutarakan isi hatiku kepada keluarganya terlebih dahulu, sebelum aku melamarnya secar langsung.
Bak gayung bersambut, ternyata Ani menerima lamaranku, bagiku dia adalah wanita yang tepat untukku, setelah kekasihku Mira, menikah dengan pria lain, pilihan orang tuanya. Aku sangat bahagia, Ani menerima lamaranku, bahkan Ani jauh lebih cantik, baik dan segalanya dari Mira. Mungkin suatu saat nanti Ani bisa menggantikan tempat Mira dihatiku, dan aku tidak akan BB pernah menceritakannya kepada Ani, hanya Allah dan aku yang tahu.
Saat ini, Ani sudah sah menjadi istriku, dan malam ini aku ingin meminta hakku padanya sebagai suami, karena sudah kewajiban nya untuk melayani aku, tapi ketika kulihat dia tertidur lelap, aku kasihan padanya, jika harus mengganggu tidurnya. Biarlah ku tahan dulu nafsuku ini, tapi malam semakin larut,, akupun belum bisa tidur, perlahan kuberanikan untuk menyentuh wajahnya, kucium keningnya, kemudian kusentuh pipi dan bibirnya yang menurutku sangat menggoda imanku, saat aku selesai menciumnya, tiba-tiba dia terbangun, dan Akupun memeluk tubuhnya, kemudian aku tersenyum melihatnya. Ani mengerti maksudku, karena ini adalah malam pertama kami. Akupun menyentuh tangannya, dan berbisik," Adek bersedia kan melayani Abang,? ",Ani hanya tersenyum menjawabku. Akupun memulai ritual malam pertama kami, dengan melepaskan jilbab yang ada di kepalanya, setelah jilbabny *** a terlepas, ku geraikanlah rambut hitamnya yang lurus, dan panjang, membuat Ani semakin cantik dimataku, kemudian kucium kedua tangannya, lalu kening dan pipinya, serta tak lupa si bibir manisnya. Ani tersenyum malu padaku, kudengar suara detak jantungnya yang berdetak kencang, tubuhnya agak tegang, mungkin ini baru pertama kali untuknya, sedangkan aku sudah pernah melakukannya dengan Mira, tapi tidak sampai ke hubungan zina atau hubungan suami istri, karena aku masih ingat dosa, takut akan laknat Allah.
__ADS_1
POV. Ani
Pagi pun tiba, aku masih tertidur lelap, aku ketinggalan sholat shubuhku, dan aku sangat sedih, tapi ini semua demi kebahagiaan suamiku, dan aku wajib melayaninya, karena aku akan berdosa besar jika menolak ajakannya untuk berhubungan suami istri. Aku melihatnya terlelap, mungkin karena lelah semalaman tidak tidur. Aku bergegas turun dari tempat tidur, di saat mau berdiri, bagian bawahku terasah sakit, dan aku tiba-tiba terduduk di atas tempat tidur, secar perlahan aku mencoba berdiri kembali, dan berjalan perlahan, untuk menuju kamar mandi.
Setelah masuk kamar mandi, akupun membersihkan tubuhku dengan menggunakan air dan sabun. Selesai mandi dan berpakaian di kamar kami, aku menuju dapur untuk memasak, dan kudapati adik iparku sedang mencuci piring. Kuperhatikan rumah kami sudah bersih, senangnya punya adik ipar yang baik dan rajin, ucapku dalam hati. Aku m noelihat didapur masih ada makanan semalam yang diasingkan adik iparku, sedangkan ayah mertuaku sedang bersantai di kedai kopi depan rumah, adik iparku memberikan gerakan pantomimik saja padaku, dari situlah baru ku tahu bahwa adik iparku tuna rungu.
__ADS_1
Aku panaskan makanan gulai ayam yang diasingkan oleh adik iparku, setelah agak dingin, kutaruh ke sebuah mangkuk kaca yang sudah kuletakkan di atas meja. Setelah selesai, aku meletakkan peralatan dapur yang sudah kupakai ke kamar mandi, agar di cuci adik iparku. Aku segera menuju kamar kami, aku melihat bang Izal, masih tidur lelap. Aku segan membangunkannya, kemudian Kubaringkan tubuhku di sampingnya, kutatap serta kuperhatikan lekuk wajahnya, dan aku senyum sendiri, mengingat pertempuran kami semalam. Bang Izal, sangat lihai dan penuh semangat, sehingga membuatku sangat lelah, tapi sangat memuaskan, dan aku bahagia, bisa melayani bang Izal dengan bahagia, di saat aku sedang melamun, tiba-tiba tangan bang Izal sudah memelukku dan mengunciku di pelukannya, sambil berbisik," Sayang, udah lama bangun ya,?, sekarang udah wangi, Abang jadi pengen lagi nih! ', " ayo kita makan dulu, nanti kita lanjutkan lagi, aku sudah lapar," jawabku gugup, tapi bang Izal, tidak peduli, akhirnya kami mengulang pertempuran yang seperti semalam kami lakukan. Aku hanya pasrah dan mengikuti permainannya saja, agar bang Izal tidak kecewa. Sepengetahuanku, istri harus selalu melayani suaminya, selagi masih bisa dan melakukan kewajibannya sesuai kemampuannya. Setelah 1 jam bertempur, kami ketiduran kembali karena merasa lelah. Bang Izal menghajarku habis-habisan sampai aku tidak bisa luput dari terkamannya.
Sekarang sudah jam 1 siang, aku terbangun karena laparnya perutku ini, seharusnya aku lebih dulu makan pagi tadi, sehingga sekarang jadi double laparnya, sampai - sampai, mataku berkunang - kunang, dan kepalaku pusing, akhirnya aku jatuh pingsan di kamar mandi saat membersihkan tubuhku. Selama beberapa menit, aku terbangun, aku sudah berada di atas tempat tidur, dan kulihat bang Izal tersenyum setelah aku siuman, dia memberikan aku minum air putih, dan menyandarkan tubuhku ke dinding, segera menyuapiku perlahan, sambil berkata," maafkan abang ya sayang,".….