Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Haruskah...?


__ADS_3

Terima kasih atas dukungannya dan komentar positif nya ya guys...


POV. Mira


Tiga tahun yang lalu, aku sudah menelantarkan putri yang baru saja aku lahirkan.


Aku begitu marah dan putus asa, karena suamiku tidak meninggalkan sepeserpun uang ataupun harta untukku setelah kepergiannya menghadap sang Khalik.


Untuk menghukum istri pertamanya Ani, rivalku sejak sekolah dulu, aku meletakkan tubuh putriku di depan rumah Pamannya setelah acara tahlilan malam itu selesai diadakan.


Hati dan pikiranku sudah dikuasai amarah, sehingga aku bisa dengan tega meninggalkannya di depan rumah itu, tanpa peduli dengan suara tangisnya yang terdengar cukup keras di telingaku.


Saat ini, putriku itu sudah berumur tiga tahun, dan aku tidak tahu, apakah Ani merawatnya atau memberikannya kepada orang lain, akupun tidak perduli, karena bagiku dia hanyalah beban.


" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumah majikanku.


Yah, selama ini aku bekerja sebagai buruh cuci baju dan nyetrika di rumah orang kaya di dekat rumahku, untuk menghidupiku dan putraku dengan bang Fauzi, almarhum suami pertamaku.


Yah, majikanku ini lumayan galak orangnya, jika aku terlambat sedikit saja, nyonya besar itu akan langsung memarahiku.


Terkadang aku sakit hati dengan perkataannya padaku, tapi untuk menghidupiku dan putraku, aku harus bersabar dengan sikap nyonya besar itu, andaikan suatu saat nanti, aku bisa menjadi nyonya besar, ucapku dalam hati.


" Ooh, kamu Mira, ternyata kamu bisa tepat waktu juga ya!", ucapnya sambil berlalu pergi setelah membuka pintu belakang rumahnya untukku.


Yah, aku tidak boleh lewat dari pintu depan rumahnya, karena bisa mengganggu kenyamanan suami dan anaknya, tapi aku tahu maksudnya apa, dia takut aku bisa merebut perhatian suaminya, karena aku jauh lebih cantik dibandingkan dia, sungutku dalam hati.


" Iya Bu, aku tidak terlalu sibuk pagi ini, karena aku tidak mengantarkan putraku Akbar ke sekolahnya, sekarang dia sudah bisa pergi sendiri ke sekolahnya dengan berjalan kaki", ucapku sambil mengikutinya.


" Ooh, syukurlah kalau putramu rajin sekolah walau berjalan kaki, tapi kalau kamu mau, di gudang yang di belakang, ada sebuah sepeda bekas, bisa anakmu pergunakan untuk ke sekolahnya, karena masih layak pakai ", ucapnya sambil duduk di kursi meja makan.


" Terima kasih Bu, nanti saya akan bawa ke rumah saya, Akbar pasti akan senang melihat sepeda itu", ucapku sambil menyetrika di tempat yang tersedia.

__ADS_1


Tumben, nyonya besar hari ini baik, tidak memarahiku dan mau memberikan sepeda untuk putraku, walau hanya bekas, tak apalah, ucapku dalam hati sambil tersenyum sendiri.


" Selama ini, aku memarahimu karena sering terlambat datang, karena aku tidak suka dengan orang yang tidak bisa disiplin. Bagaimana kita bisa menjadi orang sukses, kalau tidak bisa mengatur diri kita sendiri ", ucapnya sambil memakan keripik singkong yang ada di piringnya.


Berarti aku hidup melarat seperti ini, karena aku tidak disiplin dengan diriku sendiri, apa benar begitu ya, tanyaku dalam hati.


" Tapi, ada sebagian orang yang hidupnya melarat atau menderita, karena hasil dari perbuatannya sendiri, sering berbuat jahat kepada orang lain, disebut juga dengan" Karma", apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai", ucapnya lagi.


Aku tersentak mendengar ucapannya itu. Apa benar aku sedang menjalani Karma atas perbuatan jahatku kepada Ani dan putriku, tanyaku lagi dalam hati sambil terus mengerjakan pekerjaanku.


" Nanti selesai menyetrika dan mencuci pakaian yang kotor, kamu langsung pulang aja ya dari pintu belakang, dibawa aja langsung sepedanya yang di gudang, ga usah pamit lagi sama aku kayak kemaren", ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju kamar tidurnya.


Sejujurnya, aku penasaran dengan suaminya, kok dia mau ya menikahi wanita cerewet kayak Mak Lampir gitu, apa matanya udah buta kali ya, sexy ga, wajah pas-pasan, apa suaminya udah ga Waras kali ya, makanya mau sama dia, sungutku dalam hati.


Selesai menyetrika, aku langsung mencuci pakaian yang sudah kotor, yang ada di tempat pencucian pakaian yang ada di dekat dapur.


Setelah mengerjakan semua pekerjaanju, aku langsung pergi menuju pintu belakang, sesuai perintah nyonya besar, dan sekalian mengambil sepeda bekas yang ada di gudang nya.


Aku penasaran dengan isi lemari kayu tersebut, mungkin ada barang -barang berharga di dalamnya, ucapku sambil membuka pintu lemari tersebut.


Ternyata, yang ada hanya pakaian bekas nyonya besar yang ukurannya terlihat kecil dan masih bisa dipakai, dan pas banget dengan ukuran tubuhku.


Aku berinisiatif untuk mengambilnya beberapa stelan berwarna kesukaanku, kuning, merah dan biru.


Nyonya besar mungkin sudah lupa dengan pakaiannya ini, tak apalah kalau aku mengambilnya untuk diriku.


Setelah memasukkannya beberapa stelan ke dalam kantong plastik yang ada di gudang tersebut, akupun meninggalkan gudang dengan menggiring sepeda bekas yang akan aku berikan kepada putraku Akbar.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumahku. Aku segera membuka pintu rumah dan masuk ke dalam sambil menggiring sepeda dan menjinjing kantong plastik yang berisi pakaian bekas nyonya besarku.


Beberapa jam kemudian, putraku pulang dari sekolahnya.

__ADS_1


" Assalamualaikum ma!", ucapnya dengan suara keras.


" Wa alaikum salam nak", ucapku sambil membuka pintu.


" Mama lagi ngapain di dalam?", tanyanya.


" Mama lagi beres-beres rumah aja kok nak", ucapku sambil tersenyum padanya.


Diapun segera masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya.


" Ma, ini sepeda untuk siapa?", tanyanya dengan nada bahagia.


" Menurut Akbar untuk siapa?", tanyaku sambil tersenyum padanya.


" Apa sepeda ini untuk Akbar?", tanyanya dengan mata berbinar.


" Iya nak, cuma Akbar kan anak mama!", ucapku.


" Ga lah ma, Akbar kan punya adik perempuan, tapi diculik oleh orang, nanti kalau Akbar sudah besar, Akbar akan mencari adek", ucapnya sambil menatap wajahku.


Aku terdiam mendengar perkataannya, sampai sekarang, Akbar masih mengingat adeknya, aku sudah berbohong padanya, kalau Adeknya diculik oleh orang lain, mungkin kalau dia tahu kalau aku sudah membuang adeknya, dia pasti akan membenciku, dan aku tidak mau hal itu bisa terjadi, ucapku dalam hati sambil menatap wajahnya yang bahagia karena mendapatkan sepeda.


Sepeda bekas saja bisa membuatnya bahagia seperti itu, apalagi yang baru, maafkan mama ya nak, belum bisa membahagiakanmu sampai saat ini.


Waktupun berlalu. Hari ini adalah hari Minggu. Hari ini, aku tidak bekerja di rumah nyonya besar itu, karena setiap hari Minggu, dia melarangku untuk datang ke rumahnya.


Hari ini, karena putraku sudah memiliki sepeda, aku memintanya untuk menjajakan keripik sambal dan peyek kacang dan peyek udang di sekitar komplek perumahan ini, sebagai tambahan biaya hidup kami.


Akbar pun dengan senang hati mau melakukannya, aku bersyukur karena aku memiliki putra seperti Akbar, yang mau bekerja keras untuk membantuku, walau dia masih anak-anak yang seharusnya lebih banyak bermain dengan teman -temannya, tapi dia lebih suka membantuku daripada bermain.


Akbar adalah harta yang paling berharga bagiku. Putraku, aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untukmu dan maafkan mama sudah memisahkanmu dengan adikmu, ucapku dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2