Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Duka dan Luka... part 2


__ADS_3

POV. Mira


Lima hari berlalu, suamiku tak kunjung pulang dan tiada kabar berita.


Aku menyesal karena sudah membuat dia tidak betah dirumah dengan mengajaknya selalu bertengkar.


Itu kulakukan karena aku merasa kesal dan cemburu saat dia mengatakan kalau dia baru menyadari cintanya untuk Ani yang sebentar lagi menjadi mantan istrinya.


Jujur saja, aku hanya ingin bang Izal menjadi milikku seorang, dan aku saja yang menjadi istri satu -satunya. Karena aku memang mencintai suamiku dan aku yakin kalau dia juga mencintaiku.


Aku sangat kaget dengan pernyataan cintanya terhadap Ani yang dia katakan waktu itu, sehingga aku illfeel padanya.


Sebelum dia pergi lima hari yang lalu, dia sempat mengatakan kalau dia akan pergi mengunjungi anak-anaknya, karena dia sudah berjanji kepada mereka untuk datang ke kota Sidempuan, dan aku tidak peduli akan hal itu, karena aku yakin kalau dia akan cepat kembali padaku.


Tapi kenyataannya tidak, sekarang aku sedang hamil tua, tinggal menunggu waktu bersalinku tiba, suamiku tak kunjung pulang.


Hari ini, aku berniat pergi ke kantor, tempat suamiku bekerja untuk menanyakan apa bang Izal sudah datang untuk bekerja, mungkin dia sedang marah padaku, sehingga dia tidak mau datang kerumah kami.


Setelah menitipkan putraku ke tetangga, aku bergegas menuju tepi jalan raya untuk menaiki becak motor menuju kantor suamiku.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan kantor suamiku.


" Assalamualaikum", ucapku kepada pak satpam yang berjaga di depan kantor.


" Wa alaikum salam Bu, mau cari siapa ya?", tanyanya.


" Aku mau cari suamiku yang bernama Izal, apa dia masuk kerja pak?", tanyaku penuh harap.


" Ooh..pak Izal katanya cuti selama seminggu Bu, tapi kalau ibu masih merasa kurang jelas, coba ibu tanya ke kantor administrasi yang ada di ujung ruangan itu Bu", ucapnya sambil menunjuk ruangan yang dia sebutkan.


" Iya pak, terima kasih ya pak", ucapku sambil bergegas masuk dalam dan berjalan menuju kantor administrasi.


" Permisi Bu ", ucapku saat sudah ada di depan pintu kantor administrasi, karena pintunya sedang terbuka lebar.


" Iya ada apa bu?", tanyanya.


" Ini Bu, aku mau tanya tentang suamiku yang bernama Izal, katanya dia ngambil cuti ya selama seminggu?", tanyaku.


" Ooh ..ibu istrinya pak Izal?, sebelumnya memang pak Izal ngajuin cuti seminggu, tapi atasan kami memberikan cuti hanya empat hari, sedangkan sekarang sudah lebih satu hari waktu cuti yang diberikan kepada pak Izal, tapi sampai sekarang belum ada kabar dari pak Izal, emangnya pak Izal belum pulang ya Bu?", tanyanya.


" Iya Bu, makanya aku datang kesini, mau menanyakan tentang keberadaan suamiku, tapi ternyata dia juga belum masuk kerja, mungkin dia masih betah di Sidempuan menjenguk anak-anaknya", ucapku.


" Ooh..emang anak-anaknya sama siapa Bu?", tanyanya penasaran.


" Yah..sama ibu kandungnyalah Bu, karena aku adalah ibu tirinya, mana mungkin aku mau merawat anak tiri", ucapku dengan ketus.


" Yah..ga usah sewot gitulah Bu, pantesan pak Izal ga betah dirumah, sikap ibu kayak gitu, kasian banget", ucapbya sambil berlalu.


Aki terdiam mendengar perkataannya yang menyakiti perasaanku itu. Aku berlalu pergi meninggalkan kantor tempat suamiku bekerja tanpa pamit kepada mereka.


Di saat aku sedang menunggu angkutan umum, aku merasakan sakit pada bagian bawah perutku, dan aku merasakan ada air yang mengalir dari kedua kakiku.


Aku merasa panik dan tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


" Ada apa Bu?", tanya pak satpam menghampiriku.


" Sepertinya aku mau melahirkan pak, tolong aku pak, aku tidak tahu harus berbuat apa, keluargaku jauh di kampung, suamiku juga tidak berada disini, tidak akan ada yang menolongku pak", ucapku sambil menangis terisak.


" Baik Bu, tunggu sebentar, aku panggil karyawan yang lain dulu ya", ucapnya sambil berlalu.


Beberapa menit kemudian, ada tiga orang karyawati yang datang membantuku untuk mendapatkan pertolongan.


Mereka membawaku ke puskesmas untuk bersalin. Untunglah, kartu identitasku selalu kubawa di dalam dompetku.


Saat ini, aku sedang berjuang sendirian melahirkan bayiku, sungguh malang nasibku ini, di saat aku membutuhkan bang Izal disisiku, tapi dia sedang bersenang-senang dengan Ani, sungutku dalam hati.


Tiga jam berlalu, akhirnya aku berhasil melahirkan bayiku yang berjenis kelamin perempuan secara normal. Aku melihat wajah bayiku sangat mirip dengan bang Izal.


Aku menangis terharu melihat putriku. Sedih bercampur bahagia, itulah yang aku rasakan saat ini.


Aku mengucapkan terima kasih banyak kepada para karyawati yang menolongku tadi.


Mereka juga membayar biaya persalinanku yang senilai dua juta lima ratus ribu, katanya sebagai bantuan dari kantor tempat suamiku bekerja.


Mungkin mereka juga merasa iba melihatku yang berjuang sendirian.


Aku bertekad, jika aku sudah pulih, aku akan menyusul suamiku ke kota Sidempuan untuk mempertemukannya dengan putri kami, buah cinta kami.


Tunggu kedatangan kami bang Izal, ucapku dalam hati.


Kembali ke topik utama ya guys...


Kondisinya masih koma, dan aku tidak tahu kapan dia akan sadar dari komanya. Mungkin dia sedang berjuang antara hidup atau mati, hanya Allah SWT yang tahu, semoga bang Izal cepat sadar dan sehat kembali, ucapku dalam hati.


Setelah menutup tempat jualanku, aku bergegas menuju sekolah putriku Syakira untuk menjemputnya dari sekolah dengan menaiki motor matic milikku.


Habib, putraku berdiri di depan ku, karena dia sangat suka melihat jalanan yang kami lalui setiap hari.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan sekolah putriku Syakira.


Aku melihat putriku sudah keluar dari ruang kelasnya dan berjalan menghampiri kami.


" Mama .", teriaknya sambil melambaikan tangannya padaku.


" Iya sayang", ucapku sambil membalas lambaian tangannya.


" Ma, kapan kita menjenguk Ayah ke rumah sakit?", tanya putriku.


" Nanti mama akan ke rumah sakit untuk menjenguk ayahmu, tapi Kira sama adek di rumah kakek saja ya, karena anak-anak ga boleh lama-lama di rumah sakit", ucapku sambil mengendarai motor matic milikku dengan pelan.


" Tapi, aku rindu sama Ayah ma!", ucapnya.


" Iya sayang, mama tahu, tapi kondisi Ayahmu masih kritis di ruang ICU, kalau Ayahmu sudah sadar dan sehat kembali, tidak di ruang ICU, mama janji akan membawa kalian menemui ayahmu", ucapku membujuknya.


" Baiklah ma, Kira nurut sama mama deh", ucapnya sambil memeluk tubuhku dari belakang.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di depan rumah pamanku.

__ADS_1


Aku memarkirkan motor maticku di depan rumah pamanku.


Setelah turun dari motor matic milikku, kami bergegas menuju pintu rumah pamanku.


" Assalamualaikum", ucapku sambil mengetuk pintu rumah pamanku.


" Wa alaikum salam", ucap Bibiku sambil membuka pintu rumahnya.


" Cucu nenek sudah datang, ayo masuk, nenek baru bikin kue bolu kukus pelangi tadi, enak lhoo..!", ucap bibiku sambil tersenyum.


" Hooree...makan kue bolu buatan nenek pasti enak", ucap Syakira sambil bertepuk tangan dan di ikuti oleh Habib putraku.


Bibiku tahu kalau anak-anakku sangat menyukai kue bolu, baik yang di kukus atau yang dipanggang.


" Terima kasih ya Bi, atas semua kebaikan dan kasih sayang bibi pada kami", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Iya nak, kita kan keluarga, sudah sepatutnya kita harus saling peduli dan saling menyayangi satu sama lain", ucapnya sambil tersenyum padaku.


" Bi, aku titip Kira sama Habib sebentar ya Bi, karena aku harus ke rumah sakit, menjenguk bang Izal", ucapku.


. " Iya nak, hati -hati dijalan, semoga Izak cepat sadar dari komanya dan sehat kembali ya", ucap Bibiku.


" Aamiin", ucapku sambil tersenyum padanya.


" Kira, mama pergi sebentar ya sayang, jagain adek ya, jangan ngerepotin nenek, ok!", ucapku sambil mengacungkan jempol padanya.


" Ok ma", Jawabnya sambil mengacungkan jempol padaku.


Aku bergegas menuju parkiran motor matic milikku. Setelah menghidupkan mesin motorku, aku melajukannya dengan kecepatan sedang dan melewati jalan pintas, agar cepat sampai di rumah sakit, tempat bang Izal dirawat.


Beberapa menit kemudian, aku tiba di depan rumah sakit. Setelah memarkirkan motor matic milikku di tempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit, aku berjalan menuju ruang ICU.


Saat ini, aku sedang menjenguk bang Izal di rumah sakit. Di saat aku sedang melihatnya dari pintu kaca ruang ICU, aku melihat tubuh bang Izal kejang-kejang, aku panik melihatnya.


Aku segera berlari menuju meja perawat untuk memberitahukan keadaan bang Izal.


" Bu, Ayi ke ruang ICU, bang Izal sedang mengalami kejang-kejang disana", ucapku dengan keras.


Kami segera berlari menuju ruang ICU, sedangkan perawat yang lain memanggil dokter yang bersangkutan.


Setelah kami tiba di dalam ruang ICU, aku melihat bang Izal sudah tidak kejang -kejang lagi, tapi alat -alat medis yang membantu bang Izal untuk bertahan hidup menunjukkan hal lain.


Sang dokter yang sudah tiba di dalam ruang ICU, segera memeriksa detak jantung dan denyut nadi bang Izal.


Aku penasaran dengan keadaan bang Izal, karena melihat kondisinya seperti itu.


Aku bergegas menghampiri dokter yang memeriksa bang Izal.


" Bagaimana keadaan bang Izal dokter?", tanyaku.


" Maaf Bu, kami tidak....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2