
Maaf ya guys, telat update nya, ini episode terakhir untuk season ini ya guys, nanti kita lanjut season 2.
Terima kasih atas dukungannya dan komentar positif nya ya guys..
Love you 💓💓 All...
Aku melihat wajah putriku yang bingung mendengar perkataanku tentang Syifa. Tapi, dia tetap saja bahagia melihat adiknya itu.
Waktupun berlalu, malam ini, kami akan mengadakan acara tahlilan yang terakhir untuk almarhum bang Izal.
Rencananya, kami akan mengumumkan tentang kehadiran anggota keluarga kami yang baru, yaitu: Syifa, putriku.
Aku berjanji pada diriku, akan menyayangi Syifa sama seperti aku menyayangi putriku Syakira dan putraku Habib.
" Bi, apa lagi yang kurang untuk acara tahlilan nanti, agar bisa kupersiapkan semuanya Bi?", tanyaku.
" Bibi rasa semuanya sudah lengkap nak, karena para tetangga kita tadi sudah menyiapkan semua keperluan untuk acara tahlilan nanti, sekarang mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mengganti pakaian ", ucap Bibiku menjelaskan.
" Baiklah Bi, kalau semua sudah selesai, aku akan memandikan Habib dulu ya Bi, karena Syakira sudah mandi terlebih dahulu, kalau Syifa dilap pake air hangat aja, karena sudah terlalu sore, jika harus dimandikan", ucapku sambil berlalu menuju kamar mandi untuk memandikan putraku Habib.
Selesai memandikan dan memakaikan pakaian putraku, aku bergegas menuju dapur untuk mengambil air hangat untuk melap badannya Syifa.
Aku berjalan perlahan menuju ruang tv dengan membawa mangkok berisi air hangat untuk melap badannya Syifa sambil menggenggam tangan Habib.
Setelah melap badannya Syifa dan memakaikannya baju bayi, dan memakaikannya topi bayi, karena aku takut dia masuk angin jika kepalanya terbuka.
" Bi, aku bingung dengan tanggal lahirnya, tanggal berapa ya kubuat, karena aku tidak tahu pastinya kapan, jika aku mengurus akta kelahirannya, repot ntar urusannya", ucapku khawatir.
" Tenang aja nak, ntar pamanmu yang ngusrusin, Pamanmu kan banyak relasi di kantor Capil", ucap Bibiku.
" Ooh, syukurlah kalau begitu Bi, semoga saja urusannya dipermudah oleh Allah", ucapku.
" Aamiin", ucap Bibiku.
" Jadi, tanggal berapa kita buat tanggal lahirnya Bi?", tanyaku.
__ADS_1
" Ya udah, tanggal hari ini aja nak, tanggal 12 bulan 12, kebetulan tanggal cantik juga nak", ucap Bibiku sambil tersenyum padaku.
" Ooh!, iya Bi, karena tanggal hari ini, Syifa resmi menjadi anggota keluarga kita yang baru", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Ma, adek Syifa udah mandi?", tanya putriku Syakira.
" Iya sayang, kakak udah boleh cium adek kok, tapi pelan-pelan ya sayang, agar adeknya ga merasa terganggu", ucapku.
" Iya ma, tapi adek kok bobo terus kerjanya, ga mau main sama kakak dan Habib ", ucapnya sambil mencium pipinya perlahan.
" Adek kan masih bayi, jadi harus banyak bobo biar cepat besar dan bisa main sama Kakak dan Habib", ucapku menjelaskan.
" Ooh!, iya ma, aku senang banget punya adek cewe ma, jadi Kira sekarang punya dua adek, satu cewe dan satu cowo", ucapnya sambil tersenyum bahagia.
Kamipun tersenyum bahagia mendengar ucapannya.
Setelah sholat Maghrib, aku meminta Syakira dan Habib untuk makan malam, agar tidak merepotkan jika para tetangga dan alim ulama yang akan menghadiri acara tahlilan setelah sholat isya nanti.
Setelah mengurus kedua anakku, aku memberikan Syifa susu formula dengan menggunakan DOT. Mungkin karena kenyang, Syifa tertidur lelap di pangkuanku.
Waktu berlalu, setelah sholat isya, para tetangga dan alim ulama sudah berdatangan ke rumah pamanku.
Setelah semuanya sudah hadir, salah satu alim ulama memulai acara tahlilan malam ini. Setelah acara tahlilan, pamanku memberikan sebuah pengumuman tentang kehadiran anggota keluarga kami yang baru, yaitu: Syifa.
Pamanku menjelaskan secara detail tentang latar belakang Syifa dan tujuan kami merawat dan membesarkannya. Pamanku juga memperlihatkan surat yang ditulis oleh ibu kandungnya kepada alim ulama yang hadir, sehingga mereka percaya akan kebenaran tentang Syifa.
" Kalian harus menyimpan surat tersebut sebagai bukti bahwa ibu kandungnya sudah menelantarkan bayinya, dan sebagai jaga-jaga kalau ibunya suatu saat nanti datang ingin mengambil putrinya kembali", ucap salah satu alim ulamanya.
Kami terdiam mendengar perkataannya, karena kami tidak terpikirkan hal itu, dan syukurlah alim ulama itu mengingatkan kami, ucapku dalam hati.
Setelah acara tahlilan dan pengumuman selesau, para tetangga dan alim ulama yang hadir kembali ke rumah masing-masing.
Aku bergegas ke kamar tidur untuk memeriksa keadaan anak-anakku, dan ternyata mereka sudah tertidur lelap di atas tempat tidur kami.
Aku tersenyum bahagia melihat mereka. Setelah memeriksa keadaan anak-anakku, aku bergegas menuju ruang tamu untuk membantu Bibiku untuk merapikan dan BBM membersihkan rumah serta mencuci peralatan makan yang sudah kotor.
__ADS_1
Alhasil, kami menyelesaikan pekerjaan rumah dan mencuci piring yang kotor tepat jam sebelas malam.
" Bibi duluan tidur aja, aku yang akan membereskan sisanya Bi", ucapku sambil tersenyum padanya.
" Baiklah nak, Bibi tidur duluan ya, kamu cepat tidur juga, semuanya bisa dilanjutin besok pagi", ucapnya.
" Iya Bi", ucapku.
Beberapa menit kemudian, selesai menyusun piring dan tikar, aku bergegas menuju kamar tidur kami untuk beristirahat. Akupun tertidur lelap sambil memeluk tubuh anak -anakku.
Aku terbangun karena suara tangis putriku Syifa, mungkin dia merasa haus, aku segera membuatkan susu formula untuknya. Setelah minum susu, dia kembali tertidur lelap.
Begitulah aktivitasku setiap malam, terkadang aku merasa lelah juga, tapi saat menatap wajahnya, lelahku hilang seketika.
Waktu berlalu dengan cepat, saat ini, kami sudah berada di rumah kami yang ada di Sadabuan.
Karena Syifa masih kecil, untuk sementara waktu, aku berhenti berjualan, karena aku ingin fokus mengurus anak-anakku.
Aku memeriksa tabunganku di rekening bank milikku, masih mencukupi untuk kebutuhan hidup kami selama beberapa tahun kedepan.
Bayangkan saja, dari hasil penjualan mobil, sumbangan dari sekolah Syakira, sumbangan dari kantor bang Izal, dan sumbangan khusus dari bang Zainal, semua ku totalkan hampir tiga ratus juta, belum lagi uang yang kudepositkan di Bank A, senilai seratus juta.
Aku juga memperoleh uang bulanan dari depositku. Aku juga berencana untuk mendepositokan senilai seratus juta lagi ke bank B, agar uang bulananku bertambah, sehingga aku tidak perlu khawatir akan biaya hidup dan sekolah anak-anakku nantinya.
Aku bersyukur kepada Allah, di saat aku dalam keadaan sulit seperti ini, Allah SWT selalu memberikan aku solusi untuk meringankan bebanku.
Benar kata-kata orang bijak, jika kita berpasrah diri dan berprasangka baik kepada Allah SWT, niscaya Allah akan selalu memberikan kita pertolongan-Nya.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi dan melindungi keluarga kecilku ini, walau aku seorang single mother, aku akan berusaha memberikan kasih sayang seorang ayah untuk anak-anakku.
Masalahnya, siapa yang akan menjadi jodohku kelak, hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui, yang penting paling utama bagiku, adalah kebahagiaan anak-anakku.
The End...
Tunggu kelanjutan season 2 nya ya guys, dijamin makin seru dan menguras air mata...
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya dan komentar positif nya ya guys...