
Namaku Siti Khairani, ayahku yang memberikan nama itu padaku,sampai sekarang aku tidak mengingat wajahnya,karena ayahku meninggalkan kami sewaktu kami masih kecil,dan belum mengetahui apa-apa,sedangkan ibuku,karena tidak sanggup merawat kami,dan tidak terima ditinggalkan ayahku, diapun meninggalkan kami,pergi jauh,entah kemana,mungkin dia sudah menikah lagi saat ini, akupun tidak mau tahu tentang hal itu, untunglah masih ada nenekku yang menyayangi dan mau merawat kami,sehingga kami bisa tumbuh dewasa dan berkembang,walau tanpa asuhan dan kasih sayang dari orang tua kami. Kami juga sangat menyayangi nenek,karena hanya dialah yg menyayangi dan melindungi kami. Saat kecil,aku sering di hina dan dibully teman-temanku saat sekolah,sudah hal biasa bagiku,karena memang benar yang mereka katakan aku tidak punya ayah dan ibu,dan hany mengharapkan belas kasihan dari keluarga dan orang lain, karena kami memag tidak berdaya,itulah kenyataannya, walau seperti itu keadaannya,kami tidak pernah mengemis pada orang lain,tapi ada juga saudar yang lain yang memberikan sedekahnya pada kami,katanya walau orang tua kami masih hidup,kami bisa juga disamakan dengan anak yatim-piatu, karena nenekku yang merawat dan membesarkan kami.
Saat ini umurku sudah 23 tahun,tepat tanggal 10 Oktober 2012, adalah hari pernikahanku. Setelah selesai berhias,aku keluar dari kamar,baju pengantinku yang berwarna putih,sangat pas di tubuhku yang ramping ini,warna kulitku yang kuning langsat,seakan menyatu dengan warna bajuku,para tetangga juga tidak menyangka kalau aku bisa secantik ini,mungkin karena aku biasanya hanya memakai bedak tipis,dan tidak pernah memakai lipstik,hanya lipgloss saja,dan jilbab selalu kupakai,kemanapun aku pergi. Kata mereka aku cantik dan juga manis,aku merasa risih mendengarnya, karena aku tidak merasa seperti yang mereka katakan,aku tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi,aku selalu merasa rendah diri dan juga rendah hati,itulah diriku.
Ketika aku mengintip calon suamiku dari jendela,aku begitu terpesona melihatnya,membuat jantungku berdetak kencang,semakin jatuh cinta padanya.
Setelah mempelai pria duduk di depan penghulu, akupun segera dibimbing nenekku untuk duduk disamping calon suamiku. Dia terpaku melihatku,mungkin dia juga tidak menyangka aku bisa secantik sekarang, tinggi badanku yang ideal, dan wajahku yang dipoles makeup, menjadikan aku terlihat lebih cantik.
Pak penghulu menyuruh bang Izal untuk mengambil wudhu,agar akad nikah agar bisa segera dimulai. Bang Izal pun berdiri dan segera mengambil wudhu di kamar mandi,setelah selesai,dia segera kembali ke ruang akad nikah,dan duduk di sebelah kananku. Ternyata dia juga merasa gugup,sama seperti yang aku alami,aku sempat melihat tangannya gemetaran saat berjabatan tangan dengan adikku,yang sudah terlebih dahulu duduk di sebelah pak penghulu,dan mereka saling berhadapan dengan kami.
Saya terima nikah dan kawinnya Siti Khairani bin Zulkarnain dengan seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah...
tuuunai...
__ADS_1
dengan satu tarikan nafas,bang izal begitu lancar dan fasih,mungkin dia sudah lama latihan mengucapkan ijab Kabulnya..
Sah..
Sah...
Sah...
kata bapak penghulu dan para saksi,dan tamu undangan yang hadir.
Kami semua pun turut hikmat dalam doa bersama itu,dan meng-aminkan setiap doa yang diucapkan oleh bapak penghulu. Selesai berdoa, akupun menyalami bang Izal yang sudah sah menjadi suamiku,dan aku sangat bahagia,tapi aku melihat bang Izal biasa saja,tidak seperti aku yang selalu tersenyum bahagia melihatnya. Terbersit di pikiran ku saat itu,apakah dia tidak bahagia dengan pernikahan kami ini,?,ataukah dia menyesal menikahiku yang tidak punya hati dan tidak punya apapun,?,aku memang tidak pernah bertanya padanya,apakah dia mencintaiku atau tidak,?,karena menurutku dia memiliki perasaan yang sama denganku,aku mencintainya dengan tulus dan apa adanya,tapi perasaan itu segera kutepiskan dari pikiranku,mungkin dia sedang banyak pikiran,aku memang tidak pernah bertanya apa pekerjaannya,karena sepupunya dulu bercerita bahwa bang Izal hanyalah tukang panen buah sawit di kampungnya,karena itulah aku tidak menanyakannya lagi pada bang Izal,apa pekerjaannya, yang aku tau,dia pasti seorang pria yang bertanggung jawab dan akan menyayangi dan melindungi aku sepenuh hatinya.
Selesai acara ijab kabul,para tetangga pun mulai menata piring,gelas,dan cuci tangan, akupun membantu mereka menatanya,dan menata makanannya,yang sudah dibagikan ke piring kecil dan piring besar. Seperti itulah acara pernikahanku yang sederhana,sebagai seorang gadis,aku sama seperti mereka yang sering mengkhayalkan pernikahan yang meriah, dan yang akan menikahiku adalah seorang pangeran berkuda putih,tapi itu hanyalah khayalan belaka, khayalan seorang gadis polos sepertiku,yang sering mendengar cerita Cinderella,yang tidak mungkin terjadi di kehidupan nyata.
__ADS_1
Selesai menikmati hidangan yang kami sediakan,bapak penghulu dan para tetangga lainnya meninggalkan rumah pamanku,sambila membawa bingkisan nasi bungkus yang sudah disediakan diatas meja. Selesai makan,aku bergegas ke kamar untuk mengganti pakaianku,yang lumayan berat dan ribet. Sekarang aku memakai pakaian gamis batik berwarna gold bercampur hitam,dengan jilbab berwarna gold. Baju ini dibelikan oleh bibiku yang dari sipirok,beserta pakaian dlam yang baru,serta bed cover warna pink kesukaanku, aku bahagia menerima pemberian paman dan bibiku,yang kukira tidak akan memberikan kado apapun padaku,pantas saja kemaren barang bawaan mereka sangat banyak,sedangakan bibiku yang disidimpuan ini membelikan aku peralatan dapur lengkap. Akutidak menyangka bibiku telah menyiapkan kado berharga seperti itu, mungkin aku sudah salah menilai mereka,yang kupikirkan hanya nenekku diduni ini yang menyayangi dan memperhatikan kami,ternyata paman dan bibiku juga mempunyai perhatian padaku.
Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada paman dan bibiku,hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membalas budi baik mereka padaku. Selesai berkemas,aku menemui bang Izal suamiku,dan dia sedang mengobrol dengan paman dan nenekku. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan,sesampainya, aku duduk disebelah nenekku,dan menanyakan apa yang mereka bicarakan,dan nenekku hanya tersenyum,dan berkata,"hanya membicarakan tentang kalian saja,setelah ini mau tinggal dimana,dan kelanjutan kuliahmu gimana,hanya itu saja cucuku,".
Aku tersenyum mendengar ucapan nenekku, seketika itu aku merasa sedih karena akan tinggal jauh dari nenekku,dan jarang bertemu nantinya,aku segera memeluknya dan mencium pipinya. Setelah lama bercerita dan bersenda gurau, akhirnya rombongan yang datang bersama bang Izal pun mengajak kami untuk segera berangkat agar tidak kemalaman dijalan. Akupun segera menyalami paman dan bibiku sambil memeluk mereka,dan adikku juga, yang terakhir adalah nenekku,aku menangis memeluknya sambil berpamitan padanya, nenek dan semua yang masih berada disitu juga ikut menangis,karena terharu.
Bang Izal dan rombongan lainnya ikut berpamitan kepada keluargaku,dan semua yang masih ada dirumah pamanku. Kamipun menaiki mobil minibus yang sudah terparkir di depan rumah pamanku,dengan berat hati aku meninggalkan keluargaku dan ikut bersama suamiku kemanapun dia pergi,aku akan selalu bersamanya.
Beberapa jam kemudian,kami tiba di gunung tua,dirumah orang tua bang Izal. Sudah banyak orang yang menyambut kami di depan rumah,kami turun dari mobil, kemudian melangkah menuju rumahnya bang Izal, yang mungkin juga akan kami tempati. Sesampainya di depan depan rumah,aku menyalami mereka satu-persatu,mereka menyambut aku dengan baik,sambil memperkenalkan diri. Mereka mengajak kami masuk ke dalam rumah,setelah melakukan ritual adat kebiasaan di kampung ini. Kami dipersilahkan duduk di atas sebuah tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan,yang dilapisi kain adat juga,dan kaki kami di selimuti kain panjang berwarna coklat bercorak batik.
Para tetua adat sudah duduk mengelilingi kami,dan memulai acara penyambutan kami. Salah satu tetua adat pun mengucapkan kata sambutan,dan di iringi perkenalan dirinya,dan beberapa nasihat dalam menjalani kehidupan rumah tangga agar sakinah,mawaddah,warohmah,begitu seterusnya sampai acara yang disebut " Marsattan" ini selesai,dan kami menyimak dengan sepenuh hati semua nasihat atau petuah yang diberikan oleh para tetua adat disini. Tepat pukul 11 malam, acara selesai,barulah kami dipersilahkan makan,kebetulan makanan yang akan kami makan bersama yang sudah dimasak di rumah pamanku. Kami makan dengan lahapnya,karena aku memang sudah menahan lapar,mereka tidak kasihan pada kami, yang butuh tenaga juga nantinya untuk memadu kasih, hehehe. Aku jadi senyum sendiri membayangkan apa yang akan kami lakukan nanti di malam pertama. Kami kan sudah dewasa,tentu kami juga sudah sama-sama tahu.
Selesai makan, kamipun dipersilahkan untuk istirahat di kamar yang sudah disediakan. Rumah bang Izal memiliki tiga kamar,dua kamar berukuran kecil,hanya kamar bang Izal yang lumayan besar. Kamar belakang didekat kamar mandi,adalah kamar ayah mertuaku,kamar depan,kami yang menempati,kamar kedua dekat ruang makan adalah kamar adik iparku. Setelah mengganti pakaianku dengan piyama,aku bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahku yang sudah mulai terasa gatal karena pengaruh makeup yang kupakai,selesai membersihkan diri,aku mengambil wudhu untuk sholat isya. Selesai sholat isya,aku menyusul suamiku dikamar,ternyata dia tidak ada di kamar kami, sepertinya dia sedang di kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur, karena merasa lelah,akupu tertidur lelap,dan tidak sadar kalau....
Bersambung...