Sebatang Kara...

Sebatang Kara...
Wisata Alami...


__ADS_3

Hari ini, tepat pukul sembilan pagi, kami bersiap-siap untuk pergi ke wisata Aek Sijornih. Selesai berkemas keperluan kami, karena rencananya kami akan menginap satu malam di penginapan wisata Aek Sijornih untuk satu malam.


Setelah berpamitan kepada paman dan bibiku, kami berangkat menuju wisata Aek Sijornih dengan menaiki motor matic milik bibiku. Aku memeluk tubuh suamiku dengan erat, agar tidak terjatuh, karena di jalan hitam menuju tempat wisata Aek Sijornih ini, banyak terdapat lubang yang besar dan lubang kecil, di tengah ataupun di pinggir jalan.


Suamiku melajukan motornya dengan kecepatan sedang, agar kami bisa menikmati pemandangan alam yang indah dan udara yang segar, karena masih banyak pepohonan di pinggir jalan hitam menuju tempat wisata Aek Sijornih.


Selama tiga puluh lima menit di perjalanan, akhirnya kami tiba di depan wisata Aek Sijornih. Suamiku memarkirkan motor matic kami di depan penginapan yang ada di seberang jalan wisata Aek Sijornih.


Kami membooking satu kamar. Setelah pemilik penginapan memberikan kunci kamar kami. Kami bergegas menuju kamar kami untuk meletakkan perlengkapan kami yang ada di tas ransel.


Setelah mengganti pakaian kami di kamar, kami bergegas menuju tempat wisata Aek Sijornih. Suamiku membayar tiket masuk. Harga tiketnya masih ramah di kantong. Sambil bergandengan tangan, kami menuju pemandian air terjunnya.


Kami memasuki airnya yang jernih dan agak dingin, tapi menyegarkan. Kami mandi selama satu jam. Aku merasa lapar dan haus. Aku mengajak Suamiku untuk makan dan minum di sebuah warung makan di pinggir air terjun.


" Sayang, ayo makan siang di warung itu", ucapku sambil menunjuk warungnya.


" Adek sudah lapar?", tanya suamiku.


" Iya bang, perutku udah mulai keroncongan, mungkin karena kedinginan, jadi mudah lapar" ucapku manja.

__ADS_1


" Ayo sayang, biar Abang temenin, walau sebenarnya Abang belum lapar", ucap. suamiku sambil menggenggam tanganku untuk memegangiku agar tidak tergelincir.


Kami berjalan menuju warung makan.


" Bu, menu makanan dan minumannya apa aja?", tanyaku.


" Ada ikan mas holat, ayam Kalasan, sambal terasi dan sayur asem", ucap si penjual menjelaskan menunya.


" Kami mesan ikan mas holat, sambal terasi sama sayur asemnya ya Bu", ucapku sambil tersenyum.


Kami segera duduk di bangku yang kosong yang ada di samping warung.


Beberapa menit kemudian, pelayan warung mengantarkan pesanan kami. Karena sudah merasa sangat lapar, aku langsung menyantap makanan dengan lahapnya, sedangkan suamiku memandangiku yang sedang makan.


" Bukan aku aja yang lapar, anakmu yang àda di dalam perut juga ikut kelaparan", ucapku sambil menyantap makanan.


Selesai makan dan membayar tagihan makanan, kami mandi bersama di air terjunnya kembali.


" Halo Ani", ucap seorang wanita padaku ketika aku sedang asyik mandi bersama suamiku.

__ADS_1


Aku melihat wajahnya dengan seksama, dan mencoba mengingat siapa dia.


" Sombongnya sekarang ya, gak kenal lagi sama aku, temanmu waktu di Pramuka dulu, waktu pelantikan Bantara di Madrasah, dulu kita satu tim, tapi lain kelas", ucapnya mengingatkanku.


" Ooh... kamu Gita kan, pacarnya si Faris teman sekelasku dulu di Madrasah?", ucapku setelah ingat padanya.


" Iya Ani, akhirnya kamu ingat juga sama aku. Kamu kesini sama siapa ", tanyanya.


" Aku kesini bersama suamiku", ucapku sambil memeluk pinggang suamiku.


" Iisshh... mesranya, jadi pengen deh punya suami lagi", ucapnya sambil tertawa.


" Emang kamu udah pernah menikah?", tanyaku.


" Iya, dulu aku menikah dengan pacarku Faris, singkatnya, kami kawin lari, tapi setelah dua tahun pernikahan kami, kami bercerai, karena dia lebih memilih orang tuanya dan keluarganta daripada aku, karena orang tuanya dan keluarganya, tidak pernah menyukaiku, walau apapun pengorbanan yang aku lakukan demi dia dan keluarganya, tapi cinta kami lemah, sehingga aku memutuskan untuk berpisah dengannya", ucapnya sedih.


" Sabar ya Gita, mungkin Faris bukanlah jodohmu dunia dan akhirat, tapi yakinlah Allah SWT sudah menyiapkan jodoh yang tepat dan terbaik untukmu", ucapku menguatkannya.


" Kamu gimana dengan suamimu, apakah pernikahan kalian bahagia?", tanyanya padaku.

__ADS_1


" Aku..


Bersambung...


__ADS_2